Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Awal yang Baru
Pernikahan itu berlangsung sempurna. Matahari tenggelam di ufuk barat, melukis langit dengan gradasi jingga dan keemasan. Para tamu sudah pulang, meninggalkan rumah pantai yang kini dipenuhi sisa-sisa kebahagiaan—pita-pita yang bergantung di teras, bunga-bunga yang mulai layu, dan tawa yang masih terngiang di udara.
Arthur berdiri di teras belakang, menatap laut yang mulai gelap. Helena berdiri di sampingnya, bersandar di bahu Arthur. James sudah tertidur di kamarnya, kelelahan setelah seharian menjadi pendamping ayah dan ibunya.
"Hel, kita berhasil," bisik Arthur, suaranya pelan. "Kita benar-benar berhasil."
Helena mengangkat wajahnya, menatap Arthur. "Kita berhasil, Arthur. Meskipun jalan kita penuh duri, akhirnya kita sampai di sini."
Arthur menarik Helena lebih dekat, memeluknya erat. "Aku tidak akan pernah berhenti bersyukur untuk hari ini. Aku tidak akan pernah berhenti bersyukur bahwa kamu mau memberiku kesempatan kedua."
Helena tersenyum, mencium pipi Arthur. "Aku juga bersyukur, Arthur. Bersyukur bahwa kamu tidak pernah menyerah mencariku. Bersyukur bahwa kamu rela mempertaruhkan nyawamu untuk James. Bersyukur bahwa kamu tetap mencintaiku setelah semua yang terjadi."
Arthur menunduk, menatap mata Helena. "Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Hel. Bahkan saat kamu menghilang, aku tetap mencintaimu. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan bahwa aku masih mencintaimu."
Helena mengusap wajah Arthur. "Sekarang kamu bisa menunjukkannya. Dan aku berjanji, aku akan mempercayaimu."
Malam itu, mereka berdiri di teras, menikmati keheningan yang damai. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada cinta yang telah menunggu selama lima belas tahun.
---
Keesokan paginya, Arthur bangun lebih awal. Dia berjalan ke dapur, menyiapkan sarapan untuk Helena dan James. Dia memasak telur orak-arik, membuat roti panggang, dan menyiapkan segelas jus jeruk. Saat Helena bangun dan masuk ke dapur, dia tersenyum melihat Arthur yang sibuk di depan kompor.
"Kamu sudah bangun lebih awal?" tanya Helena.
Arthur menoleh, tersenyum. "Aku ingin membuat sarapan untuk istriku. Ini hari pertama kita sebagai suami istri. Aku ingin hari ini menjadi spesial."
Helena tertawa. "Kamu sangat manis, Arthur."
Arthur berjalan mendekat, mencium kening Helena. "Kamu pantas mendapatkan yang terbaik, Hel. Dan aku akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu."
James muncul dari kamarnya, menguap lebar. "Pa, Ma, aku mencium bau telur!"
Arthur tersenyum. "Ayo, Nak. Sarapan sudah siap."
Mereka bertiga duduk di meja makan, menikmati sarapan buatan Arthur. Suasana terasa hangat dan penuh kebahagiaan.
"Pa, apa rencana kita hari ini?" tanya James.
Arthur menatap Helena, lalu menatap James. "Bagaimana kalau kita pergi ke pantai? Kita bisa berenang, bermain pasir, dan mungkin membangun istana pasir."
James melompat kegirangan. "Ya! Aku suka ide itu!"
Helena tersenyum. "Kita akan pergi ke pantai setelah sarapan."
---
Mereka menghabiskan pagi itu di pantai. Arthur dan James bermain bola voli di tepi pantai, sementara Helena duduk di atas pasir, menikmati pemandangan. Sesekali, dia menoleh ke arah Arthur dan James yang tertawa lepas, dan dia merasa bahwa hidupnya benar-benar sempurna.
"Apa kamu bahagia, Hel?" tanya James, berlari mendekat dan duduk di samping Helena.
Helena mengusap rambut James. "Aku sangat bahagia, Sayang. Mama tidak pernah bisa membayangkan akan semanis ini."
James menatap Helena. "Aku juga bahagia, Ma. Aku senang bisa punya ayah yang mau bermain denganku. Aku senang bisa punya keluarga yang utuh."
Helena memeluk James. "Kamu pantas mendapatkan ini, James. Kamu pantas mendapatkan keluarga yang bahagia."
Arthur berjalan mendekat, duduk di sisi lain Helena. "Kalian berdua sedang membicarakan apa?"
James tersenyum. "Kami bilang kami bahagia, Pa."
Arthur mengangguk, tersenyum. "Aku juga bahagia, Nak. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan sebahagia ini."
---
Sore harinya, mereka kembali ke rumah. Helena mulai menyiapkan makan malam, sementara Arthur dan James menonton televisi di ruang tamu.
"Pa, besok aku kembali ke sekolah," kata James. "Aku sudah libur cukup lama."
Arthur menatap James. "Aku akan mengantarmu, Nak. Aku ingin menjadi ayah yang selalu mengantar dan menjemputmu."
James tersenyum. "Kamu sudah menjadi ayah yang baik, Pa. Aku sangat beruntung."
Arthur menatap James, dan air matanya hampir tumpah. "Kamu juga anak yang baik, James. Aku sangat bangga padamu."
---
Malam tiba. Helena dan Arthur duduk di teras belakang, menatap bintang-bintang. James sudah tertidur di kamarnya.
"Arthur, aku ingin berterima kasih," kata Helena. "Terima kasih sudah menjadi ayah yang luar biasa untuk James. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik untukku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak menemukan kami."
Arthur menggenggam tangan Helena. "Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak menemukanmu, Hel. Kamu dan James adalah alasan aku hidup."
Helena tersenyum. "Kita akan menghadapi masa depan bersama, Arthur. Apapun yang terjadi."
Arthur mengangguk. "Kita akan menghadapi semua bersama, Hel. Sebagai keluarga."
Helena menatap Arthur. "Arthur, aku punya satu permintaan."
Arthur menatap Helena. "Apa itu?"
Helena tersenyum. "Aku ingin kita membuat album. Album kenangan. Mulai dari foto-foto lama saat James masih kecil, foto-foto saat kita bertemu, dan foto-foto saat pernikahan kita. Aku ingin James bisa melihat perjalanan kita."
Arthur tersenyum. "Itu ide yang bagus, Hel. Kita akan membuat album itu bersama."
---
Keesokan paginya, Helena membuka album foto lama yang dia bawa dari Surabaya. James duduk di sebelahnya, menatap foto-foto itu dengan penuh rasa ingin tahu.
"Ma, ini foto aku saat masih bayi?" tanya James.
Helena tersenyum. "Iya, Sayang. Kamu sangat kecil saat itu."
Arthur duduk di sisi lain, menatap foto-foto itu. "Aku belum pernah melihat foto-foto ini sebelumnya."
Helena menatap Arthur. "Aku menyimpannya selama ini. Aku tidak pernah tahu apakah suatu hari nanti aku akan bisa menunjukkannya kepada kamu."
Arthur mengusap foto-foto itu, merasakan kehangatan yang tidak bisa dijelaskan. "Terima kasih, Hel. Terima kasih sudah menyimpannya. Terima kasih sudah menjaga James dengan baik."
James tersenyum. "Pa, Ma, aku ingin kita membuat foto bersama. Foto keluarga yang baru."
Arthur dan Helena mengangguk. Mereka berjalan ke teras belakang, meminta bantuan Aldi untuk mengambil foto. Mereka berdiri di depan rumah, dengan pemandangan laut yang indah di belakang mereka.
Aldi tersenyum, mengangkat kamera. "Keluarga Fernando, silakan tersenyum."
Arthur memeluk Helena, dan Helena memeluk James. Mereka tersenyum lebar, dan Aldi menekan tombol kamera.
Klik.
Foto itu menangkap momen kebahagiaan yang telah mereka tunggu selama lima belas tahun. Sebuah keluarga yang akhirnya bersatu.