Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Fajar belum sepenuhnya menyingsing di ufuk timur ketika mobil sedan hitam berpelat nomor resmi militer memasuki gerbang utama Istana Blackwood. Cahaya temaram abu-abu menembus keheningan lorong-lorong batu yang masih dingin dan sepi.

Belum ada aktivitas pelayan maupun penghuni istana di jam-jam rawan tersebut; hanya langkah kaki teratur para pengawal perimeter yang sesekali terdengar dari kejauhan.

Arthur melangkah menyusuri koridor utama dengan tubuh tegap yang menyimpan keletihan fisik dan mental. Di dalam saku jas militernya, sebuah lembaran laporan resmi dari divisi intelijen satu terlipat rapi.

Nihil.

Seluruh jaringan pelacak tingkat tinggi militer kerajaan tidak menemukan satu pun dokumen resmi, catatan medis lawas, atau silsilah kependudukan yang valid mengenai sosok wanita bernama "Snow". Identitas itu seolah diciptakan dari udara kosong tepat pada hari ia menginjakkan kaki di istana ini. Jejak lima tahunnya terhapus sangat bersih—terlalu rapi untuk ukuran seorang gadis biasa.

Kenyataan itu justru mempertegas kecurigaan di dalam dada Arthur: Snow bukan sekadar gadis miskin yang kurang beruntung. Ia adalah sebuah teka-teki yang sengaja dirancang, bergerak di balik bayang-bayang dengan tujuan yang belum terungkap.

Langkah Arthur berhenti di depan pintu kayu tebal kamar bayinya. Tanpa membuat suara, ia memutar gagang pintu dan mendorongnya pelan.

Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu tidur kecil berwarna kuning hangat di sudut meja. Udara di dalam kamar terasa tenang dan hangat, menyisarkan aroma lembut bedak bayi dan minyak esensial alami.

Di samping boks kayu berukir, sosok Snow berdiri membelakangi pintu. Ia mengenakan gaun malam longgar berbahan katun tipis yang menjuntai hingga mata kaki. Lengan tangannya dengan lembut menimang Ocean yang mulai rewel kecil, mengayunkan tubuhnya dalam irama yang konstan dan menenangkan.

Melihat kehadiran sosok itu, rasa panas yang membakar dada Arthur sejak semalam kembali meluap. Amarah, kerinduan yang terdistorsi, serta rasa penasaran yang teramat sangat menyatu menjadi dorongan dominan yang tak lagi sanggup ia tahan.

Arthur melangkah cepat tanpa suara, memotong jarak di antara mereka. Sebelum Snow sempat berbalik sepenuhnya, Arthur menangkap pergelangan tangan wanita itu dan mendorong tubuhnya secara mendadak ke sudut dinding di samping boks bayi.

Srett.

Tubuh Snow terimpit rapat di antara dinding batu yang dingin dan dada tegap Arthur yang terbungkus kemeja militer. Bayi di dalam dekapannya terlindungi aman di antara dada mereka yang bersentuhan rapat.

Snow tersentak pelan, namun tidak ada jeritan atau kepanikan liar di wajahnya. Matanya yang jernih membelalak tipis, menatap lurus ke dalam sepasang mata kelabu milik Arthur yang kini menyala pekat oleh amarah.

"Ke mana kau selama lima tahun ini?" desis Arthur, suaranya amat rendah, serak, dan penuh dengan penekanan yang menuntut. Napasnya yang hangat dan beraroma alkohol tipis menghantam kulit wajah Snow. "Jawab aku! Ke mana kau menghilang setelah malam itu?!"

Snow tetap bungkam. Bibirnya terkatup rapat, pandangannya tidak berkedip sedikit pun meski cengkeraman tangan Arthur di pergelangan tangannya makin mengetat.

"Siapa pria yang sudah menyentuhmu?!" lanjut Arthur dengan nada yang kian terdesak, tatapannya menyapu setiap inci garis wajah wanita di hadapannya. "Di mana anakmu sekarang?! Besok, bawa bayimu ke istana ini! Bawa dia kemari!"

Snow masih tidak bersuara, hanya hela napas pelannya yang naik turun seirama dengan ketukan dada Arthur.

"Aku tidak ingin mendengar bayi kandungmu mati kelaparan di luar sana hanya karena ibunya sibuk menyusui putraku!" sergah Arthur lagi, menyudutkan tubuh Snow makin rapat ke dinding hingga tak ada celah tersisa di antara mereka. "Katakan sesuatu, Snow! Bicara! Katakan padaku siapa dirimu sebenarnya!"

Tangan Arthur yang bebas terangkat, mencengkeram rahang halus Snow dengan tekanan yang menuntut, memaksa wanita itu untuk terus menatapnya. Namun, alih-alih memberikan jawaban atau pembelaan, Snow hanya menatap Arthur dalam keheningan yang menyiksa.

Tiba-tiba, Ocean yang berada di antara dekapan mereka mulai mengeliat rewel. Suara lenguhan kecil sang bayi memecah ketegangan yang membakar di antara kedua orang tuanya. Bibir kecil Ocean bergerak-gerak mencari sumber makanan, terdorong oleh rasa lapar pagi hari.

Snow memalingkan pandangannya sedikit ke bawah, menatap bayinya. Tanpa mengindahkan tekanan tubuh Arthur yang masih menghimpitnya, tanpa sepatah kata pun untuk meminta izin atau merasa malu, Snow menggerakkan jemarinya yang bebas.

Dengan gerakan yang sangat tenang dan kasual, Snow menurunkan kerah gaun katun tipisnya ke bawah.

Sret.

Kain tipis itu terkuak, mengekspos kulit dadanya yang seputih susu di bawah pendar remang lampu malam. Tanpa keraguan sedikit pun, Snow mengeluarkan satu puting dadanya yang merona merah dan penuh oleh asupan alami, lalu mengarahkannya tepat ke bibir kecil Ocean.

Deg.

Seluruh kata-kata yang menumpuk di tenggorokan Arthur mendadak runtuh total. Pria itu gelagapan seketika. Cengkeramannya pada rahang Snow terlepas begitu saja, sementara tubuhnya membeku kaku di tempat.

Mata kelabu Arthur membelalak lebar. Pandangannya terkunci tak berdaya pada pemandangan di hadapannya. Jarak yang hanya beberapa sentimeter membuat Arthur bisa melihat dengan sangat jelas detail kulit halus yang dulu pernah ia sesap di bawah remang lilin Hampshire. Buah dada yang kini tampak lebih penuh dan matang, kontras dengan bayangan ingatan masa lalunya.

Sialan...

Pikiran liar mendadak menghantam kesadaran Arthur bagai ledakan api. Visualisasi memori lima tahun lalu bergetar hebat di dalam kepalanya—teringat bagaimana rasanya menyesap area hangat itu, bagaimana lenguhan halus lolos dari bibir wanita ini saat jarinya menjelajahi lekuk yang sama, dan bagaimana tubuh ini dulu bergerak pasrah di bawah dominasinya.

Sensasi panas yang pekat langsung menjalar turun ke bagian bawah tubuh Arthur, membuat darahnya berdesir hebat dalam dorongan gairah alami yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan. Tangannya yang menganggur di samping tubuh gemetar hebat, menahan kehendak impulsif untuk meremas dan mengklaim kembali aset yang pernah menjadi miliknya itu.

Ocean menyusu dengan tenang, menghasilkan suara tegukan kecil yang amat jelas di tengah keheningan kamar.

Snow perlahan mengangkat pandangannya kembali. Matanya yang bening menatap lurus ke dalam manik mata Arthur yang dipenuhi gejolak liar. Ada kilatan tipis di sudut mata Snow—sebuah pesan tanpa kata yang menyadari sepenuhnya bagaimana kehadiran dan keterbukaannya baru saja melumpuhkan seluruh akal sehat sang calon penguasa.

Arthur mengatur napasnya yang mendadak memburu kasar. Ia mundur satu langkah ke belakang secara mendadak, memutus kontak fisik di antara mereka seolah-olah kulit wanita itu baru saja menyengatnya dengan aliran listrik.

Ia memalingkan wajahnya ke arah pintu, mengepalkan kedua tangannya erat-erat di dalam saku celana untuk menyembunyikan reaksi tubuhnya yang tak terkendali.

"Bawa bayimu kemari besok pagi," ucap Arthur dengan suara yang diusahakan sedingin mungkin, meski getaran serak di tenggorokannya tak sanggup menyembunyikan kekacauan di dalam dirinya. "Ini perintah."

Tanpa menunggu balasan dan tanpa berani menoleh kembali ke arah Snow yang masih menyusui bayinya dengan tenang, Arthur berbalik cepat dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!