Indonesia
NovelToon NovelToon
Gulungan Dewa Naga

Gulungan Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.

Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Waktu berlalu dengan sangat cepat bagaikan pasir yang mengalir di sela-sela jari. Tujuh hari telah berlalu sejak Asosiasi Alkemis meluncurkan "Pil Pengumpul Qi Versi Baru" ke pasaran.

Hasilnya sangat mengerikan layaknya badai puting beliung yang menyapu bersih seluruh padang rumput.

"Pil ini gila banget! Energi murninya dua kali lipat lebih banyak dari pil rumput darah biasa, tapi harganya lebih murah hanya setengahnya!" seru seorang kultivator di tengah lobi pasar.

"Benar! Siapa yang mau membeli rumput darah sialan milik Keluarga Zhao yang mahal itu jika ada pil dewa semurah ini?!" sahut kultivator lainnya sambil memborong lima botol sekaligus.

Berita tentang kemanjuran pil baru itu menyebar cepat hingga ke kota-kota tetangga. Rumput Akar Ungu yang tadinya dianggap gulma beracun kini mendadak menjadi harta karun buruan setiap orang.

Sementara itu, di dalam gudang penyimpanan raksasa milik Keluarga Zhao.

Brak!

Patriark Zhao Tian menendang karung goni berisi Rumput Darah hingga isinya berhamburan ke lantai. Wajah tuanya terlihat sangat pucat dan matanya dipenuhi urat-urat merah karena kurang tidur.

"Berapa banyak kerugian kita minggu ini, Han Sen?" tanya Zhao Tian dengan suara serak yang mengerikan.

Han Sen yang berdiri tak jauh darinya menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab. Ia tidak berani menatap langsung ke arah majikannya itu.

"H-hampir setengah dari total kekayaan kas Keluarga Zhao telah lenyap, Patriark." lapor Han Sen dengan suara bergetar pelan. "Semua Rumput Darah yang kita borong dengan harga tinggi kini bahkan tidak laku dijual setengah harga."

Zhao Tian memejamkan matanya rapat-rapat sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut nyeri. Rencana monopoli yang awalnya brilian kini berbalik mencekik leher keluarganya sendiri.

"Siapa yang meracik formula pil laknat itu dari Asosiasi Alkemis?" desis Zhao Tian menahan murka. "Apakah Presiden Gu tiba-tiba mendapat wahyu dari langit?!"

"Bukan Presiden Gu, Patriark." Han Sen memberanikan diri untuk mengutarakan dugaannya. "Mata-mata kita di dalam asosiasi, Lu Feng, melaporkan bahwa formula aneh itu dibawa masuk oleh Yang Zhen."

Srak.

Sebuah meja kayu jati di dekat Zhao Tian hancur berkeping-keping menjadi serbuk akibat remasan tangannya. Aura membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuh Patriark itu hingga membuat udara di gudang terasa beku.

"Bocah keparat itu lagi." geram Zhao Tian dengan mata menyalang buas. "Dia tidak hanya menghancurkan anakku di arena, tapi sekarang dia memotong urat nadi kekayaanku!"

"Patriark, kita harus mengirim pembunuh bayaran tingkat tinggi sekarang juga!" bujuk Han Sen panik. "Jika bocah itu dibiarkan hidup lebih lama, dia pasti akan menemukan cara untuk menghancurkan rumah ini sepenuhnya!"

Zhao Tian terdiam sejenak, otaknya yang licik kembali berputar menekan amarah liarnya. Ia tahu pembunuhan terang-terangan hanya akan mengundang intervensi dari para tetua Kota Awan Merah.

"Tidak di dalam kota." ucap Zhao Tian akhirnya. "Aku mendengar rumor bahwa bocah itu sedang mencari jalur untuk masuk ke Hutan Kabut Kematian."

Senyum sadis kembali menghiasi wajah rubah tua itu saat sebuah rencana kotor melintas di kepalanya.

"Hutan itu adalah kuburan alami tanpa saksi mata." bisik Zhao Tian. "Hubungi Tiga Iblis Bayangan Malam ini juga. Berikan bayaran berapa pun yang mereka minta untuk memenggal kepala Yang Zhen di dalam hutan itu."

"Saya mengerti, Patriark!" Han Sen menunduk hormat dengan perasaan lega sebelum berlari keluar untuk menjalankan perintah.

Di saat Keluarga Zhao sedang merencanakan pembunuhan brutal, Yang Zhen justru sedang asyik bersantai di pelataran rumahnya yang kini dipenuhi tumpukan koin emas murni.

Wang Hao sedang berguling-guling di atas tumpukan emas itu dengan air mata kebahagiaan yang mengalir deras.

"Zhen, kita benar-benar kaya raya!" teriak Wang Hao kegirangan sambil mencium beberapa keping emas. "Aku bisa membeli seratus porsi daging panggang setiap hari seumur hidupku!"

"Jika kau terus makan seperti babi hutan, kau tidak akan punya umur panjang untuk menikmati uang itu, Hao." tegur Yang Zhen yang duduk santai di atas kursi malas.

Su Lin yang duduk berseberangan dengannya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku norak dari pemuda gemuk tersebut. Gadis jenius itu sudah terbiasa melihat hal-hal mewah di rumah keluarganya.

"Bagian keuntunganmu dari Asosiasi Alkemis benar-benar di luar dugaan, Yang Zhen." puji Su Lin dengan nada pelan. "Langkah monopoli terbalik yang kau lakukan sangat menakutkan."

"Itu karena lawanku kelewat bodoh." jawab Yang Zhen sambil memakan sebutir anggur. "Mereka bermain catur menggunakan bidak kelinci di depanku."

Yang Zhen menatap tumpukan emas itu dengan tatapan menilai yang tajam. Uang ini memang banyak, tapi ini barulah langkah awal dari rencananya yang jauh lebih besar.

"Wang Hao, berhenti memeluk koin emas itu dan dengarkan aku." perintah Yang Zhen tegas.

Wang Hao buru-buru bangkit dan membersihkan pakaiannya yang kotor terkena debu emas. Ia berdiri dengan sikap sempurna layaknya seorang prajurit.

"Siap laksanakan, Bos Besar!" sahut Wang Hao antusias.

"Gunakan seperempat dari emas ini untuk membeli bahan makanan dan perlengkapan bertahan hidup di alam liar tingkat atas." instruksi Yang Zhen. "Kita akan berangkat ke Hutan Kabut Kematian lusa besok."

Mata Wang Hao seketika membelalak ngeri dan wajah gemuknya berubah sepucat kertas.

"H-Hutan Kabut Kematian?" gagap Wang Hao panik. "Tapi Zhen, tempat itu dipenuhi monster level tinggi dan kabut beracun yang bisa membunuh kita dalam sepuluh menit!"

"Kita tidak akan mati jika kau tidak bertindak bodoh di sana." potong Yang Zhen santai. "Dan kau, Su Lin, persiapkan dirimu. Latihan fisikmu yang sebenarnya baru akan dimulai di dalam hutan itu."

Su Lin mengerutkan keningnya, merasa tantangan ini sangat menarik namun juga mengkhawatirkan. Ia tidak takut pada monster, namun reputasi hutan terlarang itu memang bukan sekadar isapan jempol.

"Aku akan menyiapkan diriku." jawab Su Lin mantap tanpa sedikit pun keraguan.

"Bagus." Yang Zhen tersenyum puas. "Sekarang, aku harus pergi menemui seseorang untuk meminjam kunci pintu belakang menuju hutan itu."

Yang Zhen berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan rumahnya. Tujuannya saat ini adalah kompleks kediaman militer Kota Awan Merah yang dijaga sangat ketat oleh prajurit lapis baja.

Tuan Muda Chen Fei adalah target utama yang harus ia temui hari ini. Pemuda itu adalah pewaris tunggal keluarga militer yang menjaga perbatasan terluar hutan tersebut.

Sesampainya di gerbang kediaman militer, dua penjaga berbadan besar langsung menyilangkan tombak mereka untuk menghalangi jalan Yang Zhen.

"Berhenti di sana, bocah!" bentak salah satu penjaga. "Area ini dilarang keras untuk rakyat biasa!"

"Tolong sampaikan pesan ini kepada Tuan Muda Chen Fei." ucap Yang Zhen dengan sangat tenang tanpa terintimidasi sedikit pun.

Ia mendekat dan membisikkan beberapa kata sandi kuno yang hanya diketahui oleh kalangan petinggi militer elit. Mata kedua penjaga itu seketika terbelalak kaget.

"B-bagaimana kau tahu sandi divisi rahasia militer?" tanya penjaga itu dengan nada curiga bercampur takut.

"Sampaikan saja pesannya." jawab Yang Zhen sambil melipat tangannya di dada. "Atau kau ingin Tuan Mudamu kehilangan kesempatan untuk menemukan peninggalan Jenderal Naga Hitam?"

Penjaga itu menelan ludah dan segera berlari masuk ke dalam kompleks kediaman. Hanya butuh waktu lima menit sebelum penjaga itu kembali dengan napas terengah-engah.

"Silakan masuk, Tuan Muda Chen Fei sudah menunggu Anda di paviliun latihan pedang." ucap penjaga itu sambil membungkukkan badannya dengan hormat.

Yang Zhen tersenyum tipis dan berjalan santai menyusuri taman kediaman militer yang tertata rapi. Ia akhirnya tiba di sebuah paviliun terbuka di mana seorang pemuda berbadan tegap sedang berlatih mengayunkan pedang besar.

Pemuda itu adalah Chen Fei. Otot-ototnya terlihat terbentuk sempurna di balik pakaian tempur tanpa lengan yang ia kenakan.

Wush!

Chen Fei menghentikan ayunan pedangnya saat menyadari kehadiran Yang Zhen. Ia menatap Yang Zhen dengan tatapan menilai yang sangat tajam seperti elang yang mengintai mangsanya.

"Kau adalah murid akademi yang baru saja mempermalukan si idiot Zhao Wei itu, bukan?" sapa Chen Fei dengan nada berat yang berwibawa.

"Berita menyebar sangat cepat di kota kecil ini." jawab Yang Zhen santai.

"Dan sekarang kau datang mencariku, membawa nama Jenderal Naga Hitam." lanjut Chen Fei sambil menancapkan pedang besarnya ke lantai batu. "Kau tahu, menyebut nama leluhur keluargaku tanpa izin adalah kejahatan yang pantas dihukum mati."

"Aku tidak datang untuk bermain kata denganmu, Chen Fei." balas Yang Zhen dengan nada meremehkan. "Aku tahu kau sedang mempersiapkan tim rahasia untuk masuk ke Hutan Kabut Kematian besok malam."

Chen Fei menyipitkan matanya tajam. Rencana ekspedisi itu adalah rahasia mutlak yang hanya diketahui oleh tiga petinggi keluarga militer. Bagaimana murid ingusan ini bisa mengetahuinya?

"Kau ingin menumpang ekspedisi rahasia milik militer?" tebak Chen Fei dengan senyum meremehkan. "Kultivasimu memang terlihat lumayan, tapi kau hanya akan menjadi beban dan menjadi makanan monster di hutan itu."

Yang Zhen menghela napas panjang seolah sedang berbicara dengan orang idiot. Ia berjalan mendekati pedang besar Chen Fei yang tertancap di lantai.

"Kau mencoba mencari pedang pusaka milik Jenderal Naga Hitam di reruntuhan hutan itu, kan?" ucap Yang Zhen sambil mengetuk bilah pedang di depannya pelan.

"Masalahnya, peta kuno yang kau miliki itu salah sejak seratus tahun yang lalu." bongkar Yang Zhen dengan sangat santai.

Chen Fei seketika maju selangkah dan mencengkeram kerah baju Yang Zhen dengan kasar. Wajahnya memerah karena emosi dan rasa terkejut yang luar biasa.

"Jangan membual, bocah!" geram Chen Fei. "Peta itu adalah pusaka warisan keluargaku!"

"Jika kau mengikuti jalur di peta itu, kau akan masuk lurus ke sarang Raja Laba-laba Racun tingkat tujuh." ucap Yang Zhen tanpa rasa takut sedikit pun. "Kalian semua akan mati bahkan sebelum mencapai pintu reruntuhan pertama."

Cengkeraman tangan Chen Fei perlahan mengendur. Pemuda militer ini memang pemarah, tapi ia sama sekali bukan orang bodoh. Pengetahuan Yang Zhen tentang peta rahasia keluarganya terlalu spesifik untuk disebut bualan semata.

"Kau... dari mana kau tahu semua itu?" tanya Chen Fei yang kini suaranya melunak.

"Aku punya caraku sendiri." jawab Yang Zhen sambil merapikan kerah bajunya. "Masukkan aku dan dua temanku ke dalam rombongan ekspedisimu."

"Sebagai gantinya," Yang Zhen menatap mata Chen Fei lekat-lekat, "aku akan memandu kalian melewati rute aman yang tidak ada di peta bodohmu itu dan mengantarkanmu langsung ke depan pedang pusaka leluhurmu."

Chen Fei terdiam sejenak, otaknya bekerja keras menimbang risiko dan keuntungan dari tawaran gila ini. Rombongannya memang sudah pernah gagal masuk ke kedalaman hutan itu dua kali dan kehilangan banyak prajurit elit.

"Bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu, Yang Zhen?" tanya Chen Fei meminta jaminan.

"Kau tidak punya pilihan selain mempercayaiku." Yang Zhen menyeringai dengan senyum rubah yang sangat menyebalkan. "Kecuali kau ingin pulang dalam keadaan terbungkus kain kafan."

Chen Fei menatap wajah pemuda yang sedikit lebih muda darinya itu. Ia melihat keyakinan yang luar biasa dalam dan tidak ada sedikit pun keraguan di matanya.

"Baiklah, kesepakatan diterima." ucap Chen Fei akhirnya. "Tapi ingat, jika kau berbohong dan menjebak kami di hutan nanti, pedangku ini yang akan pertama kali membelah kepalamu."

"Pilihan yang sangat bijak, Tuan Muda Chen." balas Yang Zhen santai. "Kita bertemu di gerbang perbatasan barat besok malam."

Yang Zhen berbalik dan berjalan meninggalkan paviliun itu tanpa menoleh lagi. Pintu masuk menuju kebangkitan elemen kedua telah berhasil ia buka dengan negosiasi yang sangat licin.

Di Hutan Kabut Kematian nanti, Yang Zhen akan membuktikan kepada seluruh prajurit militer itu bahwa ia bukanlah sekadar murid akademi biasa, melainkan penguasa mutlak yang mengetahui rahasia terdalam dari alam liar tersebut.

1
Sansalina
Mulai 👍👍👍
Sansalina
Gas Thorrr👍👍👍
Sansalina
Takutnya muridku mati konyol sebelum menguasai es dengan sempurna💪💪💪
alexander
bagus ceritanya
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Buktikan 👍👍👍
Sansalina
Bantai nih keluarganya👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Belum tahu dia👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt 👍👍👍
Sansalina
Gas Thprrr💪💪💪
Dianrp
💪💪💪💪💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!