Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:21.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Satu Panggilan yang Mengubah Segalanya.

Setelah semua prosesi selesai, Wicaksono mengambil sebuah map berwarna hitam dari atas meja. Ia mengulurkannya kepada Aksa. "Ini."

Aksa menatap map tersebut dengan dahi berkerut. "Apa ini?"

"Keperluan bulan madu," jawab Wicaksono datar.

Aksa melirik Aynara sekilas, lalu matanya kembali pada map di tangan Wicaksono. Ia akhirnya menerimanya dengan enggan. "Harus bulan madu juga?"

Wicaksono hanya menatapnya datar. "Namanya juga pengantin baru."

Aksa mendengus pelan.

Di sisi lain, Cepi dan Caca langsung memerhatikan map tersebut dengan rasa penasaran.

Caca bahkan sedikit mendekat. "Bulan madu ke mana, Kek?"

Wicaksono menjawab tanpa ekspresi. "Maldives. Selama tujuh hari."

Mata Caca langsung membesar. "Maldives?"

Cepi ikut terdiam. Tujuh hari di tempat seperti itu tentu bukan perjalanan murah.

Caca melirik Aynara. Kakaknya benar-benar beruntung. Dapat suami dari keluarga kaya, perhiasan berlian, gaun mahal, dan sekarang bulan madu ke Maldives.

Cepi juga merasakan hal yang sama. Namun rasa iri di dadanya jauh lebih kuat. "Kenapa harus Aynara?"

Wicaksono kemudian menatap Aksa. "Sebelum berangkat, antar istrimu ke dokter."

Aksa menghela napas panjang. "Baik."

Aksa tahu, tidak ada gunanya membantah.

Namun Wicaksono belum selesai. "Dan satu lagi."

Aksa kembali menatap kakeknya.

"Kalau dalam waktu dekat Aynara hamil, posisi kamu di perusahaan akan Kakek naikkan."

Aksa mengernyitkan dahi. "Dari manajer menjadi..."

"CEO," jawab Wicaksono tanpa ragu.

Ruangan langsung hening.

Asti yang sejak tadi cemas justru tersenyum. "Itu bagus, Sa."

Baginya, inilah kesempatan putranya membuktikan bahwa ia mampu bertanggung jawab.

Sedangkan Jayadi malah terdiam. Ia tidak terlalu memahami seberapa besar perusahaan keluarga Wicaksono. Selama ini ia hanya tahu keluarga tersebut kaya dan memiliki bisnis besar. Namun, mendengar kata CEO membuatnya semakin sadar bahwa kehidupan Aynara akan benar-benar berubah setelah hari ini.

Caca ternganga. "Jadi kakak bakal jadi istri CEO?"

Sementara Cepi menelan ludah. Pikirannya kembali pada gaun, berlian, bulan madu, dan sekarang jabatan CEO. Semakin banyak yang ia dengar, semakin besar rasa tidak relanya melihat Aynara mendapatkan semua itu.

Berbeda dengan mereka, Aynara justru merasa dadanya semakin sesak.

Hamil?

Ia bahkan belum bisa membayangkan bagaimana harus menjalani satu malam bersama pria yang baru saja menjadi suaminya. Ia menoleh sekilas kepada Aksa. Wajah pria itu tidak banyak berubah. Dingin, angkuh, sombong. Persis seperti yang ia ingat sejak kecil.

Dulu, mereka hanya beberapa kali bertemu ketika masih kecil. Namun sifat Aksa sudah cukup meninggalkan kesan buruk dalam ingatannya. Dan sekarang... Pria itu akan menjadi orang yang tidur di sampingnya.

Aynara menelan ludah, ia segera mengalihkan pandangan. Bagaimana mungkin ia bisa tidur seranjang dengan pria yang bahkan tidak ia cintai?

Sementara di sisi lain, Aksa sama sekali tidak memikirkan hal yang sama. Baginya, bulan madu tujuh hari hanyalah satu lagi kewajiban yang harus dijalani.

Ia bahkan belum tahu bahwa di balik wajah Aynara yang saat ini memerah karena alergi, ada kecantikan yang sebenarnya belum pernah ia lihat.

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, keluarga Jayadi akhirnya diantar pulang oleh orang suruhan Wicaksono.

Asti memilih pergi lebih dahulu karena masih memiliki pertemuan dengan beberapa sosialita yang sudah dijadwalkannya sejak jauh-jauh hari.

Sementara itu, Aksa masuk ke dalam mobil. Aynara duduk di kursi penumpang tanpa mengatakan apa-apa.

Sebelum berangkat bulan madu, Aksa membawa istrinya ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksakan alerginya. Bukan karena ia peduli, tapi karena perintah kakeknya yang tak bisa dibantah.

Mobil perlahan meninggalkan tempat acara. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan di antara sepasang pengantin baru itu. Yang terdengar hanya suara mesin dan pendingin udara yang memenuhi kabin.

Aynara duduk sambil menahan rasa gatal yang semakin menyiksa. Beberapa kali tangannya bergerak hendak menggaruk wajah dan lengannya, tetapi ia tahan. Ia tidak ingin memperburuk kondisinya.

Di sebelahnya, Aksa fokus mengemudi, sesekali ia melirik Aynara. Wajah perempuan itu masih memerah dan sembap. Entah kenapa, setiap kali melihatnya, rasa kesal Aksa kembali muncul.

"Sial banget," umpat Aksa dalam hati.

Hari ini menjadi hari terakhir kebebasannya. Semua gara-gara perjodohan yang dibuat kakeknya. Dan sekarang ia bahkan harus menghabiskan bulan madu bersama perempuan yang sama sekali tidak ia kenal. Aksa mengembuskan napas kasar.

Tak lama kemudian, mobil memasuki area rumah sakit. Setelah menemukan tempat parkir, Aksa mematikan mesin.

Aynara perlahan menoleh, tetapi Aksa tidak melihatnya. Dengan nada dingin pria itu berkata, "Kamu berobat sendiri. Aku tunggu di sini."

Aynara sebenarnya ingin bertanya mengapa Aksa tidak ikut menemaninya. Namun, rasa gatal yang semakin menjadi membuatnya tidak memiliki tenaga untuk berdebat. Ia hanya mengangguk.

"Iya."

Aynara membuka pintu mobil, sebelum turun, ia sempat menatap Aksa sekilas. Pria itu tetap menghadap ke depan, tidak ada ucapan hati-hati. Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana keadaannya. Aynara akhirnya turun dan menutup pintu. Ia berjalan masuk ke rumah sakit seorang diri.

Aksa memerhatikan bayangan Aynara melalui kaca spion sampai perempuan itu menghilang. Ia kemudian bersandar pada jok.

"Setahun," gumamnya pelan. "Hanya satu tahun. Setelah itu, aku akan bebas."

 

Beberapa menit kemudian, Aynara akhirnya kembali. Langkahnya terlihat sedikit lebih ringan setelah mendapatkan obat. Di tangannya terdapat kantong plastik berisi beberapa obat dan hasil pemeriksaan. Ia membuka pintu mobil lalu duduk di kursi penumpang.

"Maaf lama."

Aksa tidak menjawab. Baru saja Aynara memasang sabuk pengaman, ponsel Aksa yang terletak di konsol tengah berdering.

Aksa melirik ponselnya, nama Gunadi muncul di layar. Gunadi adalah orang kepercayaan Wicaksono.

Kening Aksa langsung berkerut. "Ada apa lagi?" gumamnya kesal.

Ia mengambil ponsel tersebut lalu menerima panggilan. Namun, sebelum sempat mengatakan apa pun, suara Gunadi terdengar dari seberang.

"Tuan muda!"

Nada suara pria itu terdengar tergesa-gesa. Aksa langsung mengernyit. "Kenapa?"

"Tuan Wicaksono mengalami kecelakaan," jawab Gunadi cepat.

Aksa seketika menegakkan tubuh. "Apa?"

"Beliau sedang dalam perjalanan menuju Aksara Group ketika mobilnya mengalami kecelakaan. Sekarang beliau sedang dibawa ke RS Aksara Medika."

Untuk beberapa detik Aksa tidak mampu berkata-kata. Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kejengkelan berubah tegang. "Kecelakaan?"

"Iya, Tuan muda."

"Separah apa?"

Gunadi terdiam sesaat. "Kondisinya cukup serius. Kami belum mendapatkan informasi lengkap dari dokter."

Jantung Aksa berdegup lebih cepat, tangannya mencengkeram ponsel. Beberapa saat lalu ia masih mengeluhkan pernikahan yang dipaksakan kakeknya. Sekarang... orang yang memaksanya menikah justru sedang berada di ambang bahaya.

"Aku ke sana sekarang," kata Aksa tegas.

"Baik, Tuan."

Panggilan berakhir. Aksa langsung menyalakan mesin mobil.

Aynara yang tadi mendengar pertanyaan Aksa dan melihat perubahan ekspresi pria itu, dari kesal menjadi khawatir, akhirnya tidak mampu menahan rasa penasarannya.

"Ada apa?" tanyanya pelan.

"Kakek kecelakaan," jawab Aksa tanpa menoleh.

Wajah Aynara ikut berubah cemas. "Parah?"

"Katanya cukup serius." Aksa memasukkan gigi mobil dan segera meninggalkan area parkir. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat dari sebelumnya.

Sekarang ia tidak lagi memikirkan tentang pernikahan, tentang bulan madu, apalagi memikirkan Aynara. Yang ada dalam pikirannya hanya satu. Kakek.

Bagaimanapun kerasnya Wicaksono kepadanya, pria tua itu tetap satu-satunya orang yang selama ini berdiri paling kuat di belakangnya.

Dan sekarang... Aksa tidak tahu apakah ia masih akan sempat mendengar suara kakeknya lagi.

-

...🔸🔸🔸...

..."Kita boleh membenci cara seseorang mencintai kita, tetapi bukan berarti kita siap kehilangan orang yang selama ini diam-diam selalu menjaga kita."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
asih
kamu bakalan mulai pusing Nara setiap Hari bakal ketemu ma Mangan dan suami hahaha membuat hidupmu lebih berwarna 😀😀😀 semangat Nara
Sugiharti Rusli
apa kali ini Nara bisa mengjindari dari si Aksa saat dia mulai bekerja di bagian manajemen🤔🤔🤔
Sugiharti Rusli
bisa saja dia akan memanfaàtkan posisi Nara kelak yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yah si Langlang memang harus menjaga batasannya ssndiri, apalagi setelah Nara tahu pribadi Langlang aslinya
Sugiharti Rusli
karena mau bagaimanapun kehidupan pernikahan Nara dan suaminya sekarang dan ga ada yang tahu, tapi statusnya sekarang seorang istri orang,,,
Sugiharti Rusli
tapi kata" Riva memang benar" menohok sih yah kepada si Langlang tentang mantannya itu,,,
Sugiharti Rusli
oh si Langlang rupanya yang bertemu mereka di meja reswpsionis
Kadek Sri
yang semangat kerjanya ya Aynara, walaupun ketemu Aksa melulu
Hanima
Lanjutt
Cicih Sophiana
Riva emang sahabat setia... setia ngabisin makanan... setia numpang tidur dan setia numpang ke kantor tdk bayar...🫢😂😂😂😂
abimasta
berani melangkah untuk merubah hidup
Hanima
👍👍👍
Hanima
👍👍
Anitha
Aksa kah...?
yang berbicara depan Resepsionis dengan Karyawan?
Sugiharti Rusli
apa laki" itu si Aksa yah, dia mau cari tahu tentang identitas Nara, yang padahal bini nya sendiri😅😅😅
Sugiharti Rusli
kalo dia ga boros,nuang buat bayar kontrakan dan transport bisa dia tabung kan, apalagi dia makan juga gratis pas malam,,,
Sugiharti Rusli
dan Riva juga tipikal teman yang tahu diri lha, sudah dikasih tumpangan gratis, dia juga ikutan sedikit beberes lha di sana yekan🤪🤪🤪
Siti Jumiati
lanjuuuut
Sugiharti Rusli
tapi paling tidak kamu juga ga kesepian di apartemen mewah milik ibu mertua kamu itu sih😁😁😁
Sugiharti Rusli
teman modelan Riva terkadang bisa menghibur, tapi terkadang juga bikin pusing sama ocehanya yah Ra🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!