Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELAK TAWA DI BAWAH POHON
Pagi berikutnya, warna-warni cerah musim dingin seolah kembali menyelimuti langkah kami menuju kampus. Jemari Kaito menaut hangat di antara jemariku, menggenggamnya rapat tanpa jeda sepanjang jalan sebuah kebiasaan manis yang kini menjadi penawar dingin paling ampuh bagiku.
Namun, saat kami tiba di persimpangan koridor biasa titik di mana kami harus berpisah menuju gedung fakultas masing-masing Kaito menghentikan langkahnya. Ia berbalik memutar tubuh, menatapku dengan raut wajah yang sedikit serba salah.
Kedua tangannya terangkat ke udara, menyusun kalimat isyarat secara perlahan:
[Hana... maaf ya, nanti sore aku tidak bisa pulang bersamamu. Ada sesuatu yang harus kukerjakan setelah jam kuliah selesai.]
Membaca isyarat itu, aku sempat terdiam sejenak. Pikiran rasional dan perasaan wanitaku berputar pelan. Sesuatu apa yang membuat Kaito tidak bisa pulang bersamaku?
Namun, bayangan trauma masa lalu bersama Haruto tidak membuatku ragu pada Kaito. Aku percaya sepenuhnya padanya. Kaito bukan pria yang akan menyembunyikan kebohongan jahat di belakangku. Aku menepis jauh-jauh rasa curiga itu, lalu tersenyum hangat sambil menggerakkan tanganku untuk membalas pesan isyaratnya:
[Tidak apa-apa, Kaito. Nanti kalau urusanmu sudah selesai, langsung pulang ya, jangan terlalu malam.]
Kaito menghembuskan napas lega melihat balasanku. Senyuman khasnya terukir kembali. Ia mengulurkan tangan, mengelus puncak kepalaku dengan sangat lembut sebelum akhirnya melambaikan tangan:
[Aku mengerti. Sampai nanti saat makan siang.]
Aku mengangguk pelan, menatap punggungnya yang menghilang di balik belokan gedung Hukum, lalu melangkah menuju ruang kelasku dengan hati yang tenang.
Saat jam istirahat tiba, kami berkumpul kembali di sudut taman belakang kampus—sebuah area tenang dan sepi di bawah rindang pohon besar yang menjadi tempat favorit kami.
Di atas bangku taman yang dingin, kami duduk bersisian menikmati bekal makan siang. Di sela-sela kunyahanku, pandanganku teralih sepenuhnya pada wajah Kaito yang sedang sibuk merapikan kotak bentonya.
Aku menatapnya lekat-lekat, lalu tanpa sadar sebuah senyuman tipis dan hangat terkembang di bibirku.
Ada kebahagiaan luar biasa yang membuncah di dalam dadaku. Kaito yang duduk di sampingku saat ini benar-benar jauh berbeda. Ia tampak begitu ceria, binar matanya hidup, dan pancaran wajahnya terlihat sangat segar jauh dibanding bulan-bulan lalu yang penuh duka saat aku masih terjebak dalam hubungan bersama Haruto. Pria yang dulu menyiksa dirinya dalam diam kini telah kembali menjadi Kaito-ku yang utuh dan bahagia.
Kaito yang merasa terus diperhatikan melirik ke arahku. Menyadari aku sedang memandanginya sambil tersenyum-tersenyum sendiri, Kaito meletakkan sumpitnya.
Ia memiringkan kepala, menatapku heran lalu menggerakkan jemarinya dengan rasa penasaran:
[Kenapa tersenyum seperti itu, Hana? Ada yang aneh di wajahku?]
Aku menggelengkan kepala pelan. Bukannya menjawab, aku malah tertawa kecil tanpa suara menatap wajah bingungnya yang tampak sangat menggemaskan.
Rasa penasaran Kaito makin menjadi-jadi. Gemas melihat reakusiku yang enggan menjawab, Kaito mendadak mendekatkan tubuhnya. Tangan kirinya terangkat, lalu dengan gemas ia mengacak-acak rambutku yang rapi secara perlahan dan lembut.
Sensasi hangat jemarinya di kepalaku seketika membawaku pada kenangan masa kecil. Sejak kami masih sekolah dasar, Kaito memang selalu suka mengacak-acak rambutku setiap kali ia merasa sedikit kesal atau gemas karena diusili olehku.
Aku tertawa makin lebar, berusaha menepis tangannya sambil merapikan rambutku kembali. Kaito ikut terkekeh pelan. Di bawah rindang pohon yang diterpa angin dingin sore itu, gelak tawa kebahagiaan kami pecah bersatu sebuah momen sederhana namun teramat berharga bagi dua hati yang sempat terluka.
Waktu istirahat pun akhirnya berakhir. Bel kampus yang berbunyi menandakan kami harus segera bersiap mengikuti mata kuliah selanjutnya. Kami membereskan kotak makan siang, lalu berjalan bersisian menuju area koridor utama.
Saat tiba di titik perpisahan kami sekali lagi, Kaito menatapku dengan raut wajah penuh perhatian. Jemarinya terangkat menyusun isyarat dengan sedikit kelakar:
[Maaf ya untuk sore nanti aku tidak bisa mendampingimu pulang. Hati-hati di jalan, dan... jangan suka menjahili kucing liar di gang rumah lagi!]
Membaca peringatan jenakanya tentang kebiasaanku yang suka berhenti memberi makan kucing jalanan, aku tertawa kecil. Aku membalas isyaratnya dengan gerakan tangan yang mantap:
[Iya, aku akan langsung pulang dengan hati-hati. Kamu juga jangan terlalu lama menyelesaikan urusanmu, ya!]
Kaito mengangguk paham. Seperti biasa, sebelum benar-benar berbalik, Kaito mengulurkan tangan kanannya, mengelus lembut puncak kepalaku—sebuah gestur penuh kasih sayang yang tak pernah absen ia lakukan.
[Sampai jumpa di rumah, Hana.]
[Sampai jumpa, Kaito.]
Kaito melangkah pergi menuju kelas hukumnya, sementara aku berjalan menuju gedung kuliahku. Meski sore nanti aku harus berjalan pulang sendirian, dadaku tetap dipenuhi oleh kehangatan dan rasa percaya yang amat besar, tanpa menyadari rencana indah yang sedang diam-diam Kaito persiapkan untukku.