"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedondong Dan Mangga Muda
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Dua minggu berlalu…
Dan selama itu juga Asyara selalu waspada akan dirinya sendiri. Setiap pagi ia selalu bangun dan duduk diam, menunggu ada atau tidaknya mual yang datang. Sampai saat ini, tanda-tanda yang dikhawatirkan Asyara tidak muncul sama sekali.
Pagi ini kegiatan itu kembali Asyara lakukan. Sampai sepuluh menit ia terdiam duduk di tepi kasur sampai akhirnya sebuah senyuman mengembang sempurna. “Yes!!”
Asyara meloncat sambil terus meneriakkan kata ‘Yes’. Wajahnya terus tersenyum menunjukkan seberapa senangnya dia. “Eh, bentar… tapi gue… belum dateng bulan!” Ekspresi panik kembali menghampiri wajah Asyara. Ia menggigit kukunya. Rasa takut mulai merayap.
Perlahan kakinya melangkah ke sebelah kasur, melihat ke atas nakas dimana kalender berada. Dengan ragu ia mengambil kalender dan mulai menghitung tanggal menstruasinya. Keningnya berkerut tipis, berganti menjadi ekspresi terkejut bercampur panik yang begitu kentara. “Telat! Gue telat seminggu!”
Asyara mulai mondar mandir di dalam kamarnya. Tangannya gemetar. “Nggak, telat haid itu biasa! Iya… masih seminggu juga kan? Biasanya gue bisa telat sampai sebulan dan ya… bulan depannya gue langsung haid tuh.”
Segala kemungkinan mulai Asyara pikirkan. Mulai dari stress karena skripsinya belum selesai, mungkin saja karena hormon, atau pola hidupnya yang tidak sehat dan kurang berolahraga. Sampai satu kemungkinan terakhir—kehamilan.
Akan tetapi dengan segera Asyara mengesampingkan hal itu. Ia menggelengkan kepalanya. “Gue nggak hamil, gue cuma stress…ya cuma stress. Mending gue healing sekarang, biar pikiran gue happy.”
Asyara mengambil ponselnya di atas kasur. Menghubungi dua sahabatnya, Celine dan Rayna. Mengajak keduanya untuk bermain-main atau sekedar jalan-jalan dengan alasan bahwa ia bosan berada di apartement terus.
Reaksi mereka? Tentu saja semangat. Bahkan Celine menawarkan diri untuk menyetir dan membawakan seluruh barang-barang Asyara. Hal itu sempat membuat Asyara bingung bukan main, namun ia segera menepisnya. Ia memilih bersiap-siap sebelum Celine dan Rayna datang.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Pada akhirnya pilihan ketiganya jatuh kepada salah satu mall besar di jakarta, setelah menghabiskan waktu di taman. Ketiganya memilih untuk shopping lalu bermain arena permainan dewasa dan terakhir makan siang.
Satu persatu toko mereka kunjungi. Toko pakaian, perhiasan, aksesoris. Masing-masing tangan mereka sudah dipenuhi oleh tote bag belanjaan. Namun yang paling banyak memegang tote bag adalah Asyara, Celine dan Rayna sampai terheran dibuatnya.
“Lo kesurupan apa gimana Sya, banyak banget belanjaan lo?” Celine melihat tote bag Asyara lalu melihat miliknya sendiri. Sangat berbanding terbalik. “Rayna aja cuma dua biji, lah lo kenapa banyak banget?”
Asyara terdiam. Langkahnya terhenti, ia melihat tote bag belajaannya. Lalu menatap Celine dan Rayna bergantian dengan cengirannya. “Gue…. gue kebablasan.”
“Nggak biasanya, lagi ada masalah lo?” tanya Rayna menatap Asyara memicing penuh curiga.
“Nggak.”
“Terus?” tanya Celine, “Gue kenal lo nggak sebentar, lo itu nggak terlalu suka belanja. Dan hari ini? Lo keliatan—”
“Nggak, gue nggak papa,” balas Asyara cepat, “Udah ah, kok jadi bahas gue. Kita lanjut happy-happy aja!”
Asyara berjalan lebih dulu. Ia mengatur nafasnya untuk menenangkan dirinya sendiri. Mencoba untuk tidak gugup di hadapan Celine dan Rayna. Tidak lama kedua gadis itu tahu-tahu sudah memeluk lengannya seperti anak ayam. Celine dan Rayna merebut tote bag di tangan Asyara dengan alasan agar Asyara tidak perlu capek membawanya.
Mereka melanjutkan rencana mereka, bermain di arena permainan dewasa sampai puas, hingga jam makan siang tiba, barulah ketiganya selesai. Celine mengajak mereka ke sebuah restoran yang tak jauh dari area mall.
Kemudian mereka memesan ruangan VIP agar lebih leluasa. Sekitar sepuluh menit, Celine dan Rayna sudah menentukan menu pilihan mereka. Lain halnya dengan Asyara yang masih terus membolak-balikkan menu.
“Sya, buruan… kasian mbaknya,” bisik Celine menyenggol lengan Asyara.
Asyara menoleh, “Gue bingung. Nggak selera deh,”
“Hah?” Rayna terkejut, “Dari sekian banyak makanan yang terpampang di sana? Masa nggak ada yang buat lo ngiler sih? Fried Chicken? Steak? Atau nasi goreng deh?”
Asyara menggeleng. Bibirnya mengerucut. Ia menatap lurus ke depan. Satu tangannya tergerak mengelus perutnya. “Gue… mau mangga muda sama kedondong, Terus di cocol kecap sama gula… enak banget kayanya.”
Rayna mengerjap pelan, sementara Celine melongo. Keduanya menatap Asyara yang masih terdiam. Apalagi Celine, ia menatap Asyara lama. Ia jadi teringat dengan tugas yang diberikan Aksa. Celine menutup mulutnya lalu menatap Asyara lagi.
“Jangan-jangan…Asya… Asya hamil?! Dia ngidam?!” Jujur saja Celine sangat tidak tahan untuk mengabari Aksa mengenai hal ini. Jarinya begitu gatal untuk segera mengambil ponsel. Namun ia harus menahan diri demi kelancaran misinya menjaga Asyara.
“Sya, Yakin? Mangga muda sama kedondong itu asem lho, kecut,” ucap Celine, “Lagian mana ada menu begitu di restoran gini Sya. Yang lain aja ya?” bujuk Celine lagi.
“Asyara merengut, “Masa nggak ada? Beneran mbak?” tanya Asyara melihat seorang pelayan wanita yang berdiri di sebelah Celine.
Pelayan wanita itu tersenyum, “Benar mbak, memang tidak ada. Tapi kami punya menu rujak, kalau mbak mau, buahnya bisa di request sesuai permintaan mbak. Lalu untuk sausnya, kami juga akan membuatkan yang sesuai sama mau mbak,” jelas pelayan wanita itu.
“Tuh bisa kok, saya mau itu aja mbak.” Senyum Asyara kembali mengembang sempurna. Moodnya yang sempat memburuk langsung membaik seketika.
“Aneh,” gumam Rayna.
“Sya,” panggil Celine.
Asyara menoleh, menatap Celine.
“Lo, sehat?” tanya Celine, “Maksud gue, lo ada pusing? Mual? Atau, lo ngerasa aneh sama badan lo?”
Asyara mengerutkan keningnya, lalu menggeleng santai. “Nggak, gue baik-baik aja. Kenapa sih?”
“Nggak… nggak papa.” Celine cengengesan. Ia kembali berpura-pura fokus dengan ponselnya. Sesekali ia melirik Asyara yang tampak santai memainkan ponselnya juga. Ia bergumam pelan. “Masa iya Asya nggak ngerasain sesuatu sih?”
Tidak lama kemudian, pesanan mereka akhirnya datang. Celine mengambil nasi goreng seafoodnya, Rayna mengambil steaknya. Dan Asyara? Dengan begitu semangat ia mengambil pesanan mangga muda dan kedondongnya.
Satu demi satu Asyara memakan potongan buah itu dengan cocolan kecap dan gula. Ia makan dengan begitu lahap. Bahkan ekspresi kecut di wajahnya pun sama sekali tak terlihat. Asyara malah terlihat sangat menikmati, seolah memakan buah yang begitu manis.
Celine bergidik ngeri, bahkan ia bisa ikut merasakan bagaimana asamnya potongan buah mangga yang masih terlihat hijau itu. Ia sampai meringis dan berhenti makan akibat melihat bagaimana Asyara dengan santainya melahap buah-buah asam itu.
“Sya… itu asem kan?” tanya Rayna pelan. Ia ikut bergidik melihatnya. “Stop deh Sya, kamu bisa sakit perut. Mending makan nasi dulu ya.”
Asyara menatap Celine dan Rayna, lalu kembali menyuapkan potongan buah kedondong itu. Ia mengerjap polos, lalu menyodorkan potongan buah mangga muda ke Celine. “Kalian mau? Nih cobain, enak loh… asem-asem seger gitu.”
Rayna terdiam. Ia tersenyum, lalu menggeleng. “Nggak Sya, gue—”
“Ish, ini enak guys! Seger banget! Pokoknya cobain!” Asyara menyodorkan mangga muda ke arah Celine, membuat gadis itu meneguk ludahnya susah payah, Namun melihat wajah Asyara yang menatapnya dengan penuh harap, Celine pun akhirnya menerima suapan itu. “Enak kan?”
Celine membelalak. Ia mencoba tersenyum, lalu mengunyahnya perlahan-lahan. Kepalanya mengangguk-angguk menatap Asyara dengan masih tersenyum.
Tak hanya Celine, Rayna sendiri juga ikut kena tumbalnya. Asyara menyuapinya dengan potongan kedondong, dan Rayna terpaksa menerimanya karena Celine menatapnya sambil melotot. “Enak… enwak bangwet sya!” Rayna tersenyum sambil mengunyahnya.
Asyara tertawa kecil. “Apa gue bilang, enak kan? Seger pasti, gue yakin kalian suka. nih makan lagi…”
Rayna dan Celine saling menatap. Saling memelototi satu sama lain. Seolah mengatakan ‘Gue nggak mau, lo aja!’. Namun sayangnya, Asyara lebih dulu memasukkan buah itu ke mulut mereka.
“Enwak!” Celine mengangguk sambil tersenyum. Begitu Asyara beralih pada Rayna, Celine kembali mengeluarkan kunyahan buah mangga itu ke tisu lalu segera membuangnya ke tong sampah.
“Gue udah kenyang, kalian habisin ya.”
“Apa?!”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...