Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
****
Setibanya Lilianne di pelataran parkir usai melangkah keluar dari Soerjoatmodjo Tower, Arya masih terduduk di sofa ruang kerjanya. Pria itu menatap susunan rantang stainless yang kini sudah kosong sepenuhnya. Arya menarik napas panjang, lalu mengusap dadanya pelan seraya meraih gelas kristal kedua untuk meneguk air putih hingga kandas.
Rasa asin yang membakar, manis berlebihan, serta sengatan rasa pedas yang tajam sebenarnya sempat membuat lidah dan tenggorokannya berguncang. Namun, sudut bibir Arya justru terangkat membentuk senyuman miring yang begitu dalam. Sejak awal, ia tahu pasti bahwa Lilianne tidak pernah menginjakkan kaki di dapur seumur hidupnya. Jika masakan tadi terasa sempurna dan lezat ala koki bintang lima, Arya justru akan curiga bahwa istrinya menyuruh koki mansion atau membeli hidangan dari restoran mewah. Fakta bahwa masakan itu terasa begitu kacau dan 'ajaib' justru menjadi bukti otentik bahwa jemari lentik Lilianne sendiri yang meraciknya—meski ada niat jahat untuk menjebaknya.
“Dasar wanita keras kepala,” gumam Arya rendah dengan tawa kecil yang lolos dari tenggorokannya. Pria itu menyandarkan punggungnya pada sofa, menghargai usaha nekat sang istri yang menolak kalah dari tantangannya.
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja berketik pelan. Aldi, sekretaris utamanya, melangkah masuk seraya membawa dokumen persiapan rapat direksi. Raut wajah pria berjas rapi itu tampak sedikit canggung dan ragu-ragu.
"Pak Arya, sepuluh menit lagi rapat evaluasi kinerja anak perusahaan akan dimulai di Boardroom," lapor Aldi sopan.
Arya menegakkan tubuhnya, kembali melangkah menuju meja marmer raksasa untuk merapikan berkas-berkasnya. "Siapkan presentasinya."
Aldi berdiri diam sejenak di depan meja. Pandangannya refleks tertuju pada kerah kemeja sang Presdir. Dasi sutra navy mahal yang dikenakan Arya tampak agak miring, simpulnya kaku, dan letaknya sedikit tidak presisi. Sebagai sekretaris yang selalu memastikan penampilan atasannya sempurna seratus persen sebelum bertemu investor, Aldi memajukan langkahnya dengan cemas.
"Maaf, Pak Arya..." ujar Aldi ragu-garu seraya menggerakkan tangannya. "Apakah perlu saya bantu membenahi dasi Bapak? Posisi simpulnya agak miring—"
"Tidak perlu," pangkas Arya cepat dan dingin.
Langkah Aldi mendadak terhenti di tempat. Pria itu mendongak dan mendapati tatapan mata kelam Arya yang menguncinya rapat—tatapan tajam sarat peringatan yang membuat nyali siapa pun menciut seketika.
"Biarkan seperti ini," pangkas Arya tegas dengan nada yang tak terbantahkan. Bagi Arya, dasi miring ini bukan sekadar aksesoris kaku, melainkan bentuk apresiasi sekaligus tanda wilayah bahwa ia telah dimiliki oleh seorang putri Djojodiningrat.
Aldi menelan ludah dengan susah payah, lalu membungkuk cepat. "Baik, Pak. Mohon maaf."
Tepat saat itu, beberapa staf muda yang tadi ikut diajak makan siang oleh Lilianne melangkah masuk ke area sekretariat luar dengan wajah berseri-seri. Wajah-wajah yang biasanya tegang dan tertekan saat jam kerja kini tampak sangat segar, riang, dan dipenuhi energi baru. Mereka membawa tas belanjaan kecil dari restoran fine dining paling eksklusif di kawasan perkantoran tersebut.
Arya yang melangkah keluar menuju ruang rapat sempat menghentikan langkahnya di depan area meja sekretariat. Netra kelamnya menyapu wajah anak buahnya yang diperlakukan bak raja oleh Lilianne menggunakan Black Card-nya.
Aldi dan staf lainnya yang menyadari presensi Arya langsung berdiri tegap, gemetar takut jika sang Presdir murka karena kartu kredit perusahaan/pribadinya dipakai bersenang-senang saat jam kerja.
"M-maafkan kami, Pak Arya..." bisik Aldi pasrah. "Tadi Ibu Lilianne yang memaksa kami untuk..."
Bukannya marah atau melontarkan nada dingin, Arya justru menyunggingkan senyuman miring yang amat tipis. Pria itu menyisipkan satu tangannya ke saku celana.
"Nikmati saja," ujar Arya tenang seraya menepuk bahu Aldi pelan. "Istri saya memang paling ahli dalam hal menghabiskan uang dan memanjakan orang-orang di sekitarnya. Lanjutkan kerja kalian."
Arya melangkah pergi menuju Boardroom dengan langkah tegapnya, meninggalkan para staf yang bernapas lega sekaligus takjub melihat sisi humanis Presdir mereka yang perlahan muncul sejak menikah.
**
Sementara itu, di sisi lain ibu kota, mobil Aston Martin DBS Superleggera berwarna Royal Maroon milik Lilianne meluncur mulus membelah kawasan pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta Pusat.
Usai memberikan 'pelajaran' pada suaminya lewat masakan ajaib di kantor, rasa puas dan gengsi tinggi Lilianne kembali meluap. Untuk menetralkan kekesalannya pada Arya dan Widya, Lilianne memutuskan untuk mengadakan shopping spree mendadak bersama sahabat-sahabat socialite papan atasnya.
Lilianne melangkah membelah atrium butik haute couture dengan gaya yang teramat memukau. Kacamata hitam oversized bertengger anggun di wajah blasterannya, sementara gaun cream ivory-nya mengayun indah mengiringi dentang high heels-nya.
"Oh my God, Lilianne!" seru Valerie yang sudah menunggu di dalam butik perhiasan mewah bersama dua klan old money lainnya. "Pengantin baru kita akhirnya muncul! Gimana rasanya jadi Nyonya Soerjoatmodjo? Katanya kemarin acara ijab kabul dan resepsimu memecahkan rekor mahar termahal!"
Lilianne melepaskan kacamata hitamnya, lalu duduk di sofa beludru butik seraya menyesap champagne yang disodorkan pelayan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman anggun yang dingin.
"Biasa saja, Val," sahut Lilianne santai. "Cuma hidup di mansion bergaya museum tua dengan suami berumur tiga puluh tahun yang kaku seperti batu."
"Tapi suamimu itu Arya Sena, Li!" timpal sahabat satunya lagi dengan mata berbinar. "Pria paling berpengaruh dan paling tampan di jajaran konglomerat tanah air! Banyak anak socialite yang gigit jari melihatmu bertengger di posisi itu!"
Lilianne hanya tertawa kecil, menikmati tatapan kagum dan iri dari lingkungan sosialnya. Ia kemudian mulai sibuk menunjuk beberapa gaun malam koleksi terbatas dan set perhiasan berlian terbaru untuk dikirimkan langsung ke mansion Arya.
Namun, saat Lilianne melangkah keluar dari butik perhiasan menuju atrium utama area VIP untuk menuju butik sepatu, langkah kakinya mendadak terhenti.
Seorang pria bertubuh jangkung, tegap, dan berparas sangat tampan dalam balutan kemeja kasual premium mendadak berjalan dari arah berlawanan. Pria itu membawa beberapa kantong brand mewah dan tampak sedang berbincang di telepon.
Saat pandangan mereka tak sengaja bertabrakan di udara, langkah pria itu ikut terhenti seketika. Netra cokelat terang pria itu membelalak tipis, memancarkan rasa terkejut dan kerinduan yang sangat jelas tatkala mengenali sosok wanita berambut blonde dan bermata hijau di hadapannya.
"Lilianne?" panggil pria itu dengan suara berat yang teramat familiar di telinga Lilianne.
Dada Lilianne berdesir kaget. Manik hijaunya mekar sempurna tatkala ingatan masa lalunya saat masih berada di London kembali terputar cepat di kepalanya. Pria yang berdiri di hadapannya saat ini bukan sekadar kenalan biasa, melainkan seseorang dari masa lalunya yang pernah mengisi hari-harinya sebelum perjodohan besar dengan Arya Sena terjadi.
"Julian...?" gumam Lilianne pelan, napasnya tertahan sejenak di tengah riuhnya pusat perbelanjaan mewah tersebut.
Pria bernama Julian itu mengulas senyum hangat yang teramat tampan, melangkah satu digit mendekati Lilianne tanpa memedulikan empat pengawal berjas hitam kiriman Arya yang berada di belakang Lilianne langsung memajukan posisi mereka secara siaga. Pertemuan tak terduga di tengah masa awal pernikahan politiknya ini mendadak menghembuskan angin kencang yang siap menguji benteng ego dan hubungan dingin antara Lilianne dan Arya Sena.
Bersambung....
i got you 🔥🔥🔥
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥