Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.DIGIGIT NYAMUK

Pagi hari di penthouse lantai empat puluh dua itu terasa merayap lambat dan kaku. Nadira terbangun oleh suara dentang halus sendok dan piring dari arah dapur bersih. Setelah merapikan seragam putih-abu-abunya, menyisir rambut panjangnya yang berkilau, dan memasang dasi sekolah dengan canggung, ia melangkah keluar kamar.

​Di meja makan marmer berwarna hitam pekat, Abiyasa sudah duduk rapi. Pria itu mengenakan kemeja putih bersih yang pas di badan, celana kain charcoal, dan dasi bernuansa perak. Di tangannya, sebuah tablet bisnis menampilkan grafik saham yang bergerak hijau-merah, sementara secangkir kopi hitam pekat berasap tipis di sampingnya.

​Nadira berdiri mematung di dekat pulau dapur, memeluk tas punggungnya erat-erat.

​"Kenapa berdiri di situ? Duduk," tegur Abiyasa tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya. Suaranya serak khas bangun tidur, namun tetap memancarkan otoritatif yang kuat.

​"I-iya, Pak... eh, Mas... eh, Om?" Nadira menggigit bibirnya, bingung harus memanggil pria di depannya dengan sebutan apa.

​Abiyasa menghentikan gerakan jarinya di atas layar. Ia menurunkan tabletnya perlahan, lalu menatap Nadira dingin. "Di rumah ini, panggil Abiyasa atau Mas Abi kalau di depan keluarga. Di luar, kita tidak saling kenal. Jangan pernah panggil saya 'Om' kalau tidak mau saya potong uang sakumu."

​"Kan emang beda sepuluh tahun," gumam Nadira pelan, nyaris tak terdengar.

​"Kamu bicara sesuatu?"

​"Enggak! Nggak ada!" Nadira buru-burung menarik kursi tinggi di depan meja makan dan duduk dengan kaku. Ia menatap piring di hadapannya yang berisi rosti kentang dan smoked salmon. "Ini... sarapan saya?"

​"Bukan. Itu untuk kucing tetangga," balai Abiyasa sarkastik. "Tentu saja untukmu. Makan cepat, lima belas menit lagi Pak Maman sudah menunggu di basemen."

​Nadira meraih garpu, mencoba mencicipi makanan mahal tersebut. "Mas Abi nggak makan?"

​"Saya cuma minum kopi."

​"Mana bisa kenyang cuma minum kopi hitam pekat begitu? Nanti maag-nya kumat, lho. Ibu saya selalu bilang, sarapan itu paling penting biar otaknya nggak lemot pas mikir," ujar Nadira spontan, kepolosannya mendadak mengalahkan rasa takutnya.

​Abiyasa menatap gadis di hadapannya dengan alis terangkat sebelah. "Otak saya berfungsi sangat baik selama dua puluh delapan tahun tanpa perlu nasehat sarapan dari anak SMA."

​Nadira mencibir pelan, memilih fokus mengunyah makanannya. "Terserah deh. Niatnya kan cuma perhatian."

​"Perhatianmu tidak masuk dalam klausul perjanjian kita, Nadira," balas Abiyasa datar, lalu kembali menatap tabletnya. "Fokus saja pada nilaimu. Kalau nilai ujianmu turun setelah menikah dengan saya, kakek akan bangkit dari kubur untuk memarahi saya."

​"Nilai saya bagus, ya! Saya ini peringkat tiga paralel di IPA," sahut Nadira tak mau kalah. Dada kecilnya mengembung bangga.

​"Bagus. Pertahankan. Karena saya tidak suka berhubungan dengan orang yang tidak kompeten, termasuk dalam urusan akademis."

Abiyasa melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya, lalu berdiri tegak. "Waktu habis. Minum susu di gelasmu, lalu turun ke basemen. Pak Maman pakai mobil Sedan hitam plat B 1088."

​"Dua blok sebelum sekolah, kan?"

​"Pintar," sahut Abiyasa pendek seraya merapikan jasnya yang tergantung di sandaran kursi. Ia berjalan melewati Nadira, namun langkahnya terhenti sejenak di belakang kursi gadis itu. "Satu hal lagi."

​"Apa?" Nadira menoleh.

​"Kancing kerah seragammu terlalu terbuka. Kencangkan."

​Setelah melemparkan perintah itu, Abiyasa berlalu pergi meninggalkan aroma parfum sandalwood yang hangat dan tajam. Nadira seketika meraba kerah bajunya, lalu mencibir ke arah pintu yang sudah tertutup.

​"Dasar manusia es! Posesif padahal nggak cinta," gerutu Nadira seraya menghabiskan susunya dalam satu tegukan besar.

​Dua blok dari gerbang SMA Garuda Mulia, sedan mewah yang ditumpangi Nadira berhenti di tepi jalan yang agak sepi, tepat di samping gerobak bubur ayam.

​"Sudah sampai di sini saja ya, Pak Maman. Terima kasih banyak," ujar Nadira ramah seraya bersiap membuka pintu.

​Pak Maman, sopir paruh baya yang ramah, menoleh dari kursi kemudi dengan raut khawatir. "Neng Nadira yakin mau jalan dari sini? Lumayan jauh lho, Neng. Nanti kalau kecapekan atau terlambat, Pak Abiyasa bisa marah besar sama Bapak."

​"Tenang aja, Pak Maman! Justru kalau mobil ini masuk ke halaman sekolah, besok saya bisa masuk berita acara gosip satu sekolah," pangkas Nadira sambil tersenyum lebar. "Dua blok mah kecil, sekalian olahraga pagi!"

​"Bapak benar-benar mengagumi kesabaran Neng Nadira," bisik Pak Maman pelan. "Pak Abiyasa itu memang agak kaku dan dingin, Neng. Tapi beliau orang baik kok."

​"Dinginnya melebihi kulkas dua pintu, Pak," canda Nadira seraya menyandang tasnya. "Saya berangkat dulu ya, Pak!"

​Nadira berjalan cepat menyusuri trotoar menuju sekolahnya. Udara pagi Jakarta yang mulai hangat menyapa kulitnya. Menghirup aroma jalanan yang familier membuat beban di dadanya sedikit terangkat. Untuk beberapa jam ke depan, ia bukan istri dari CEO Mahendra Group. Ia adalah Nadira, siswi kelas 12 yang bebas.

​Namun, kebebasan itu tak bertahan lama ketika ia baru saja melewati gerbang sekolah.

​"Nadira! Tungguin!"

​Sebuah lengan merangkul bahunya dari samping. Sheila muncul dengan napas terengah-engah dan rambut kuncir kudanya yang bergoyang.

​"Aduh, Sheila! Kaget tau!" Nadira mengelus dadanya.

​"Kamu ya, di-chat dari semalam cuma read doang! Gimana soal acara syukuran di rumah kamu kemarin? Seru nggak? Kenapa aku nggak boleh datang, sih?" cecar Sheila bertubi-tubi tanpa jeda.

​Jantung Nadira mendadak berdegup kencang. Ia teringat kebohongan yang dirancangnya bersama sang ibu untuk menutupi pernikahan mendadaknya.

​"Ah... itu, cuma acara pengajian keluarga kok, Sheil. Luar kota juga pada datang, jadi rumah sempit banget. Makanya Ibu nggak enak kalau ngundang teman-teman," kilih Nadira dengan tawa canggung yang dipaksakan.

​"Ooh, gitu. Eh, tapi kamu kok kelihatan lesu banget? Terus..." Sheila menghentikan langkahnya tepat di tengah lapangan basket, matanya meneliti wajah Nadira dengan cermat.

"...kok leher kamu ada merah-merah gitu di dekat kerah?"

​Nadira seketika membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir. Secara refleks, ia menarik kerah seragamnya setinggi mungkin. Merah-merah? Apakah digigit nyamuk penthouse? Atau...

​"Nyamuk! Iya, nyamuk penthouse... eh, maksudku nyamuk kebun rumah!" seru Nadira panik, suaranya naik satu oktav. "Semalam banyak nyamuk gara-gara jendela lupa ditutup!"

​Sheila picik menatapnya penuh curiga. "Masa sih? Kok kayak..."

​"Pagi, Nadira. Pagi, Sheila."

​Suara bariton yang lembut tiba-kira memotong kecurigaan Sheila. Seorang siswa laki-laki tinggi bertubuh atletis dengan jersey basket bertumpuk seragam sekolah menghampiri mereka. Itu adalah Raka, kapten tim basket sekolah sekaligus ketua OSIS yang sudah terang-terangan mendekati Nadira sejak semester lalu.

​"Eh, Kak Raka!" panggil Sheila, seketika melupakan topik nyamuk. "Pagi, Kak!"

​Raka tersenyum manis, mengabaikan Sheila dan memberikan perhatian penuhnya pada Nadira. "Nad, kamu kelihatan pucat. Sakit?"

​"Enggak kok, Kak. Cuma agak kurang tidur aja," jawab Nadira pelan, merasa makin tidak nyaman.

​Raka merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak susu cokelat dingin, lalu menyodorkannya ke arah Nadira. "Ini, diminum. Biar agak segeran. Nanti siang kamu ada waktu? Aku mau bahas soal dekorasi untuk pensi sekolah. Sebagai seksi acara, aku butuh bantuan anak seni kayak kamu."

​Nadira merasa serba salah. Dulu, ia mungkin akan kegirangan mendapat perhatian dari cowok terpopuler di sekolah. Tapi sekarang? Bayangan wajah dingin Abiyasa dan aturan 'Jaga reputasi' langsung terngiang-ngiang di kepalanya.

​"Maaf banget, Kak Raka," tolak Nadira secantik mungkin. "Susu cokelatnya buat Sheila aja. Terus soal pensi, nanti siang aku ada urusan keluarga yang nggak bisa ditinggal, jadi langsung pulang."

​Raka tampak terkejut dengan penolakan halus namun tegas itu. "Urusan keluarga lagi? Dua hari ini kamu berubah ya, Nad. Kayak ada yang disembunyikan."

​"Nggak ada kok, Kak. Beneran," kelit Nadira makin terdesak. "Yaudah, kita masuk kelas dulu ya. Udah mau bel!"

​Tanpa menunggu respon Raka, Nadira menarik lengan Sheila dan setengah berlari menuju koridor kelas IPA 2.

​Siang harinya, jam menunjukkan pukul dua tepat. Bel tanda berakhirnya pelajaran bergema lega. Nadira dengan cekatan memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas.

​"Nad, beneran nggak mau nongkrong dulu di kafe depan? Ada promo es kopi lho," bujuk Sheila sambil memoles lip balm.

​"Nggak bisa, Sheil. Ibu udah wanti-wanti suruh cepat pulang," jawab Nadira jujur—walau 'pulang' yang dimaksud kini merujuk pada gedung pencakar langit, bukan rumah masa kecilnya.

​Saat berjalan keluar dari gerbang sekolah, ponsel di dalam saku rok Nadira bergetar hebat. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan singkat via WhatsApp.

​[Unknown Number]: Saya sudah minta Pak Maman jemput di tempat tadi. Jangan terlambat. Kita ada acara makan malam dengan lembaga penyalur beasiswa Mahendra Foundation pukul tujuh.

​Nadira menatap layar ponselnya dengan dengusan sebal. Bahkan nama profilnya saja cuma titik. Ia mengetik balasan dengan cepat.

​[Nadira]: Ini Mas Abi? Kenapa nggak kasih tahu dari pagi? Saya kan belum ganti baju, nggak punya baju bagus buat acara formal!

​Balasan masuk dalam hitungan detik.

​[Unknown Number]: Perhatikan caramu membaca situasi. Asisten saya sudah mengantar dua gaun ke penthouse. Pilih salah satu. Pak Maman sudah menunggu.

​"Dasar bos pemaksa!" maki Nadira pelan pada layar ponselnya.

​Ia berjalan menuju titik penjemputan. Benar saja, sedan hitam milik Abiyasa sudah terparkir rapi. Pak Maman membukakan pintu dengan sopan.

​"Langsung ke penthouse, Pak?" tanya Nadira saat sudah duduk di dalam mobil yang sejuk.

​"Iya, Neng Nadira. Pak Abiyasa pesan agar Neng bersiap-siap sebelum jam enam. Nanti beliau sendiri yang akan menjemput Neng ke tempat acara."

​Nadira menyandarkan kepalanya pada kaca mobil, menatap lalu lintas Jakarta yang padat. Kehidupannya yang dulu begitu sederhana kini mendadak dipenuhi oleh jadwal ketat, pakaian formal, dan etika kelas atas yang membingungkan.

​Sesampainya di penthouse, Nadira langsung menuju kamarnya. Di atas tempat tidur berukuran king size, terbentang dua buah kotak hadiah besar berlogo merek desainer ternama. Di dalamnya terdapat dua gaun: satu berwarna hitam elegan dengan potongan bahu terbuka, dan satu lagi berwarna biru navy berlengan panjang yang lebih tertutup namun tetap sangat anggun.

​Nadira memilih gaun biru navy. Ia memoles wajahnya dengan riasan tipis, membiarkan rambut hitamnya terurai bergelombang secara alami.

​Pukul enam lewat lima belas menit, suara pintu utama terkuak. Abiyasa melangkah masuk. Pria itu sudah berganti pakaian menggunakan setelan tuxedo hitam tanpa dasi, memberikan kesan formal namun sangat modern dan maskulin.

​Abiyasa berjalan menuju ruang tengah, dan langkahnya terhenti saat melihat Nadira keluar dari kamar.

​Untuk beberapa detik, ruang tamu yang luas itu diliputi keheningan. Tatapan tajam Abiyasa mengunci figur Nadira dari atas ke bawah. Gadis yang tadi pagi tampak lusuh dengan seragam sekolah bertali dasi miring, kini menjelma menjadi sosok gadis muda yang memikat dan anggun. Gaun biru itu membalut tubuh rampingnya dengan sempurna.

​Nadira yang merasa ditatap begitu intens menjadi salah tingkah. Ia meremas pinggiran gaunnya. "K-kenapa? Jelek ya? Baju ini terlalu dewasa buat saya?"

​Abiyasa berdeham pelan, dengan cepat menguasai kembali ekspresi wajahnya yang datar. Ia berjalan mendekati Nadira, memangkas jarak di antara mereka hingga Nadira bisa mencium wangi maskulin suaminya.

​"Pilihan warna yang bagus," komentar Abiyasa datar. Namun tangannya terangkat, mendekat ke arah wajah Nadira.

​Jantung Nadira meloncat ke tenggorokan. Ia refleks memejamkan mata dan menahan napas, mengira Abiyasa akan menyentuhnya.

​Namun, Abiyasa hanya meraih helai rambut Nadira yang tersangkut di ritsleting belakang gaunnya, lalu merapikannya dengan sangat lembut dan cekatan.

​"Rambutmu tersangkut," bisik Abiyasa tepat di samping telinga Nadira. Suaranya yang rendah membuat tengkuk Nadira meremang. "Dan satu hal lagi untuk acara malam ini."

​Nadira membuka matanya perlahan, menatap iris mata cokelat gelap Abiyasa yang begitu dekat. "A-apa?"

​"Di depan relasi saya malam ini, kamu bukan sekadar siswa SMA," tegas Abiyasa, tatapannya menghangat tipis—sebuah perubahan kecil yang hampir tak terlihat. "Kamu adalah Nyonya Abiyasa Mahendra. Bersikaplah seolah-olah kamu memang pantas berdiri di samping saya."

​Nadira meneguk ludah, membalas tatapan pria keras kepala itu dengan keberanian yang perlahan terkumpul. "Kalau begitu, ajari saya caranya, Mas Abi. Karena mulai malam ini, saya nggak bakal biarkan Anda meremehkan saya lagi."

​Abiyasa menyunggingkan senyum tipis—senyuman pertama yang dilihat Nadira sejak mereka bertemu. "Tunjukkan pada saya kalau kamu bisa, Nadira."

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!