Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Diselingkuhi, Aku Dinikahi CEO Misterius

Setelah Diselingkuhi, Aku Dinikahi CEO Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aren Vely

Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.

Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.

Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.

Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasil yang Mengejutkan

Surat ancaman tanpa nama itu membuat seisi keluarga Wirawan waspada penuh dalam beberapa hari berikutnya. Sistem keamanan rumah diperketat, dan Raka mulai lebih berhati-hati dalam setiap pertemuan bisnis maupun keluarga, termasuk saat harus berhadapan dengan Bagas.

Hasil tes DNA independen akhirnya keluar seminggu kemudian, diserahkan langsung oleh laboratorium forensik ternama yang dipilih kedua belah pihak secara netral. Raka membuka amplop hasil tes itu di hadapan seluruh keluarga — Oma Ratna, ibunya, dan Alya — di ruang keluarga yang dipenuhi ketegangan.

"Hasilnya," kata Raka pelan, membaca dokumen itu dengan seksama, "menunjukkan probabilitas hubungan darah sebesar 99,97 persen. Bagas memang benar anak kandung ayah."

Ruangan itu terdiam. Ibu Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan sejenak, mencoba mencerna kenyataan yang akhirnya terkonfirmasi secara ilmiah. Meskipun sudah menduga kemungkinan itu sejak pertemuan pertama, mendengar konfirmasi resminya tetap terasa seperti pukulan tersendiri.

"Ini tidak mengubah kecurigaan kita soal motif di balik gugatannya," kata Alya hati-hati, mencoba menjaga fokus keluarga pada masalah yang lebih mendesak. "Fakta bahwa dia benar anak kandung ayah, tidak berarti dia tidak sedang dimanfaatkan pihak lain untuk kepentingan yang lebih besar."

Raka mengangguk setuju. "Aku sudah meminta pengacara untuk mengatur pertemuan pribadi dengan Bagas, tanpa kehadiran pengacaranya. Aku ingin bicara dari hati ke hati dengannya, melihat apakah dia bersedia jujur soal keterlibatannya dengan Meridian Capital."

Pertemuan itu berlangsung dua hari kemudian, di sebuah kafe tenang yang jauh dari sorotan publik. Bagas datang sendirian sesuai permintaan Raka, terlihat sedikit gugup namun tetap berusaha mempertahankan sikap tenangnya.

"Aku sudah menerima hasil tes DNA-nya," kata Raka langsung, tanpa basa-basi. "Kau memang benar saudara kandungku. Aku tidak akan menyangkal fakta itu."

"Terima kasih sudah mempercayainya," jawab Bagas, tersenyum lega.

"Tapi aku juga menemukan sesuatu yang lain," lanjut Raka, menatap Bagas lurus-lurus, mengamati setiap perubahan ekspresi wajahnya. "Pertemuan-pertemuanmu dengan eksekutif Meridian Capital, tiga bulan sebelum kau mengajukan gugatan ini. Aku ingin dengar penjelasan jujur darimu, Bagas. Bukan sebagai lawan hukum, tapi sebagai... saudara, jika memang itu yang sebenarnya kau inginkan."

Wajah Bagas berubah pucat mendengar itu, tangannya yang memegang cangkir kopi sedikit gemetar. Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam, seolah bergulat dengan keputusan besar dalam dirinya.

"Aku... aku memang bertemu dengan mereka," akhirnya Bagas mengaku, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Mereka menghubungiku setelah tahu identitas asliku dari catatan pribadi ibuku, yang entah bagaimana bocor ke tangan mereka. Mereka menawarkan bantuan hukum gratis, plus kompensasi besar, jika aku bersedia mengajukan gugatan hak waris ini tepat setelah skandal Vania mereda."

"Kenapa kau setuju?" tanya Raka, suaranya tidak menghakimi, hanya penuh rasa ingin tahu yang tulus.

Bagas menghela napas berat, matanya menerawang penuh penyesalan. "Karena aku marah, Raka. Bertahun-tahun aku dan ibuku hidup pas-pasan, sementara keluarga ayahku menikmati segala kemewahan tanpa pernah tahu keberadaan kami. Saat Meridian Capital menawarkan kesempatan untuk akhirnya 'diakui' sekaligus mendapat kompensasi finansial besar, aku merasa itu adalah keadilan yang pantas aku dapatkan setelah bertahun-tahun diabaikan."

"Tapi kau tidak tahu tujuan sebenarnya mereka menggunakanmu," kata Alya, yang sejak tadi mendengarkan dari kursi seberang, akhirnya angkat bicara.

Bagas menoleh menatapnya, wajahnya penuh keraguan. "Mereka bilang hanya ingin membantu 'meratakan lapangan permainan bisnis', karena katanya Wirawan Group sudah lama memonopoli beberapa sektor secara tidak sehat. Aku... aku memang tidak sepenuhnya memahami detail rencana mereka. Aku hanya fokus pada kesempatan diakui sebagai bagian keluarga ayahku."

Raka menatap Bagas lama, mencoba menilai ketulusan pengakuannya. "Apakah kau bersedia membantu kami mengungkap rencana sesungguhnya Meridian Capital, sebagai gantinya aku akan mempertimbangkan hakmu sebagai bagian dari keluarga ini secara adil, terlepas dari gugatan hukum yang sudah berjalan?"

Bagas terdiam lama, mempertimbangkan tawaran itu dengan serius. Akhirnya dia mengangguk pelan. "Aku bersedia. Aku... aku memang tidak pernah benar-benar nyaman dengan cara mereka mendekatiku sejak awal. Rasanya terlalu licik, dan aku hanya mengabaikan perasaan itu karena terlalu fokus pada kompensasi yang mereka tawarkan."

Pengakuan itu memberikan titik terang baru bagi keluarga Wirawan, meski juga membuka babak baru yang lebih rumit — kini mereka bukan hanya berhadapan dengan gugatan hukum dari saudara tak dikenal, melainkan konspirasi bisnis yang jauh lebih besar dan terencana dari Meridian Capital.

Malam itu, saat Raka menceritakan hasil pertemuannya pada Alya, wajahnya campur aduk antara lega dan waspada.

"Setidaknya sekarang kita tahu siapa dalang sebenarnya," kata Raka. "Tapi ini juga berarti kita menghadapi lawan yang jauh lebih terorganisir dan berpengalaman dibanding Vania. Meridian Capital bukan individu yang bertindak karena dendam pribadi, mereka adalah entitas bisnis dengan sumber daya besar dan rencana yang matang."

Alya menggenggam tangan Raka erat. "Kita hadapi ini bersama, seperti biasa. Satu langkah pada satu waktu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!