Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERGI TANPA PESAN

Sore itu, taman kota tampak lebih sepi dari biasanya. Raka sudah duduk di bangku yang biasa mereka tempati sejak setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan, tangannya menggenggam dua gelas minuman dingin yang mulai berembun karena terlalu lama dibiarkan.

Namun jam empat berlalu. Lalu setengah lima. Laras tidak juga muncul.

Raka mencoba menelepon, namun panggilannya tidak terjawab. Ia mengetik pesan, satu demi satu, dengan kekhawatiran yang semakin membesar di dadanya.

"Laras, kamu di mana? Aku udah nunggu dari tadi."

"Laras, kamu baik-baik aja?"

"Laras, tolong bales, aku khawatir."

Tidak ada balasan. Matahari mulai tenggelam, langit berubah oranye kemudian keunguan, namun bangku di seberangnya tetap kosong. Raka akhirnya memutuskan untuk pergi langsung ke rumah kontrakan Laras, hatinya dipenuhi firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan.

Ketika sampai di sana, ia mendapati rumah itu gelap, pintu terkunci rapat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Raka mengetuk pintu berkali-kali, memanggil nama Laras, namun tidak ada jawaban.

"Nyari siapa, Mas?" Seorang tetangga yang kebetulan lewat menghampirinya, memperhatikan Raka yang tampak gelisah.

"Saya nyari Laras, Bu. Yang tinggal di rumah ini."

Wanita itu mengerutkan kening. "Laras sama keluarganya udah pindah tadi siang, Mas. Kayaknya buru-buru banget, saya lihat mereka angkut barang cuma pakai satu mobil pick-up, nggak banyak yang dibawa."

Raka merasa dunianya seketika runtuh. "Pindah ke mana, Bu? Ibu tau?"

"Nggak tau, Mas. Mereka juga nggak pamit ke tetangga. Tiba-tiba aja siang tadi udah sibuk angkut-angkut barang."

Raka berdiri mematung di depan rumah yang kini kosong itu, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tidak menemukan jawaban. Ia mencoba menelepon Laras sekali lagi, namun kali ini yang terdengar hanya nada bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif.

Malam itu, Raka pulang ke rumah dengan langkah gontai, wajahnya pucat pasi. Ia langsung menuju ruang kerja ibunya, mendapati Ibu Retno sedang duduk tenang di balik meja kerjanya, seolah sudah menduga kedatangan putranya.

"Ma," suara Raka bergetar menahan amarah yang membuncah, "Laras sekeluarga pindah. Nggak ada yang tau ke mana."

Ibu Retno menatap putranya dengan ekspresi yang sulit dibaca—tidak terkejut, namun juga tidak menunjukkan kepuasan yang berlebihan. "Ibu turut prihatin mendengarnya."

"Ibu yang ngelakuin ini, kan?" Raka melangkah mendekat, suaranya meninggi. "Ibu yang bikin mereka pergi!"

"Ibu nggak tau apa-apa soal kepindahan mereka, Raka."

"Bohong!" Raka membanting map yang ia bawa ke atas meja kerja ibunya—map yang sama berisi foto-foto dirinya dan Laras. "Ibu udah nyuruh orang buat ngancem keluarganya. Sekarang mereka ilang gitu aja. Ibu pikir aku bakal percaya ini kebetulan?"

Ibu Retno menghela napas, menatap putranya dengan tatapan yang campur antara kasihan dan tegas. "Raka, mungkin ini yang terbaik. Mungkin gadis itu sendiri yang sadar, hubungan ini nggak akan membawa kebaikan buat kalian berdua."

"Ibu nggak ada hak buat mikir apa yang terbaik buat hidupku!"

"Ibu adalah ibumu, Raka. Tentu saja Ibu punya hak."

Raka menatap ibunya dengan mata yang memerah, campuran antara amarah dan kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Aku nggak akan pernah maafin Ibu kalau ini bener-bener ulah Ibu."

"Ibu bisa terima itu," jawab Ibu Retno tenang, meski ada sesuatu yang bergetar samar di balik ketenangannya. "Yang penting, suatu saat kamu akan sadar, keputusan ini demi kebaikanmu sendiri."

Raka tidak lagi bicara. Ia berbalik, meninggalkan ruang kerja itu dengan hati yang hancur berkeping-keping, tidak tahu harus marah pada siapa, tidak tahu harus mencari ke mana.

Hari-hari berikutnya, Raka mencoba segala cara untuk mencari keberadaan Laras—menghubungi teman-teman kuliahnya, mendatangi kedai kopi tempat Laras bekerja dulu, bahkan mencoba melacak lewat media sosial. Namun semua jalan buntu. Seolah Laras benar-benar menghilang tanpa jejak, membawa serta seluruh keluarganya ke tempat yang tidak diketahui siapa pun.

Sinta, teman kerja Laras di kedai kopi, adalah orang terakhir yang sempat berbicara dengannya sebelum kepergian itu.

"Dia cuma bilang ke saya, dia harus pergi mendadak," kata Sinta ketika Raka mendatanginya, putus asa mencari petunjuk apa pun. "Dia keliatan buru-buru banget, matanya juga sembab kayak abis nangis. Tapi dia nggak cerita alasannya."

"Dia nggak titip pesan apa-apa? Surat, atau apa pun?"

Sinta menggeleng pelan, matanya menyiratkan rasa iba melihat keadaan Raka yang begitu terpukul. "Nggak ada, Mas. Dia cuma pamit, terus pergi gitu aja."

Raka mengangguk lemah, mengucapkan terima kasih dengan suara yang nyaris tidak terdengar sebelum akhirnya pergi meninggalkan kedai kopi itu—tempat yang dulu penuh dengan kenangan indah, kini hanya menyisakan kekosongan yang menyakitkan.

Dalam benaknya, satu pertanyaan terus berputar tanpa henti: kenapa Laras pergi tanpa memberi kabar apa pun, tanpa sepatah kata pun penjelasan, padahal mereka baru saja berjanji untuk bertemu dan bicara langsung hari itu?

Ia tidak tahu bahwa jauh sebelum pertemuan yang direncanakan itu, Bu Marlina sudah kembali mendatangi rumah keluarga Laras dengan ancaman yang jauh lebih tegas dari sebelumnya—ancaman yang menyangkut keselamatan pekerjaan ayah Laras, bahkan reputasi keluarga mereka di lingkungan tempat tinggal, jika Laras tidak segera pergi dan memutuskan segala kontak dengan Raka.

"Kalau kalian nggak pergi hari ini juga," kata Bu Marlina saat itu, suaranya dingin tanpa basa-basi, "saya nggak akan segan-segan pastikan Bapak Slamet nggak akan pernah dapet kerjaan lagi di kota ini. Dan bukan cuma itu—reputasi keluarga kalian juga bisa saya rusak dengan mudah. Pikirkan baik-baik, Larasati. Ini bukan ancaman kosong."

Ancaman itu, ditambah dengan kekhawatiran mendalam pada nasib keluarganya, akhirnya memaksa Laras mengambil keputusan tersulit dalam hidupnya—pergi tanpa sempat memberi penjelasan apa pun kepada Raka, meninggalkan hubungan yang begitu ia cintai demi melindungi orang-orang yang ia sayangi dari ancaman yang begitu nyata dan menakutkan.

Ia tidak sempat menulis surat, tidak sempat mengirim pesan perpisahan, karena waktu yang diberikan terlalu singkat, dan rasa takut yang mencekam membuatnya tidak berani mengambil risiko sedikit pun—takut jika terlambat sedikit saja, ancaman itu benar-benar akan menjadi kenyataan.

Di dalam mobil pick-up yang membawanya pergi jauh dari kota itu, Laras menatap ke luar jendela dengan mata yang sembab, hatinya hancur memikirkan Raka yang pasti sedang menunggu di taman, tidak tahu apa-apa soal kepergian mendadak ini.

Maafin aku, Raka, batinnya, air mata kembali menetes tanpa bisa ia tahan. Aku nggak punya pilihan lain. Aku harus pergi, demi keluargaku. Aku harap suatu saat kamu bisa ngerti, meski aku tau, kamu pasti bakal benci aku karena ini.

Kepergian itu menjadi awal dari kekosongan panjang yang akan menghantui keduanya selama bertahun-tahun ke depan—kekosongan yang lahir bukan dari hilangnya cinta, melainkan dari kesalahpahaman besar yang akan terus tumbuh, dipupuk oleh rasa sakit dan kemarahan yang tidak pernah menemukan penjelasan yang sebenarnya, hingga takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian dalam keadaan yang jauh berbeda dari yang pernah mereka bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!