Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Brak.
Pintu kayu ganda Teater Harapan tertutup rapat dengan sendirinya akibat hembusan angin dari luar.
Kania terlonjak kaget dan langsung memegang erat lengan jaket Reyhan.
"Reyhan, tempat ini benar-benar gelap total."
"Aku bahkan tidak bisa melihat ujung sepatu ku sendiri," keluh Kania dengan suara gemetar.
Reyhan merogoh saku celananya dan menyalakan senter dari ponselnya.
Cahaya putih dari ponsel Reyhan menyorot lurus ke depan, memperlihatkan lobi teater yang hancur berantakan.
Sarang laba-laba raksasa menggantung di langit-langit yang catnya sudah mengelupas.
"Tetap di belakangku dan perhatikan langkahmu, Kania."
"Lantai kayu ini sudah keropos, kau bisa terperosok ke ruang bawah tanah kalau salah injak," peringat Reyhan.
Mereka berdua berjalan perlahan melewati lobi menuju ruang auditorium utama.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki mereka menggema di dalam keheningan gedung tua tersebut.
Tiba-tiba, sebuah suara desingan elektronik yang sangat nyaring terdengar dari atas kepala mereka.
Ngiung.
"Suara apa itu?" tanya Kania panik sambil menutup kedua telinganya.
Srat. Tak.
Lampu sorot panggung berukuran besar yang ada di ujung ruangan tiba-tiba menyala terang benderang.
Cahaya lampu itu menyorot tepat ke arah Reyhan dan Kania yang berdiri di tengah lorong penonton.
"Selamat datang di Teater Harapan, Aktor Kematian."
Suara mekanis dari pengeras suara yang tersembunyi menggema ke seluruh penjuru auditorium.
Itu adalah suara sang pembunuh bertopeng.
"Kau benar-benar repot menyiapkan semua efek panggung murahan ini," sindir Reyhan dengan nada datar.
"Tidakkah kau lelah bersembunyi di balik pengubah suara itu?"
Terdengar suara tawa mekanis yang pelan dan menyeramkan dari pengeras suara.
"Pertunjukan yang bagus membutuhkan tata cahaya dan suara yang sempurna, Reyhan."
"Dan kau adalah tamu VIP ku malam ini."
Kania memberanikan diri untuk mengintip dari balik punggung Reyhan.
"Di mana kau bersembunyi, bajingan?!" teriak Kania.
"Tunjukkan wajahmu kalau kau berani!"
"Ah, Nona Jurnalis yang selalu penuh semangat."
"Wajahku tidak penting, yang penting adalah cerita yang sedang kita tulis bersama hari ini."
Reyhan menyipitkan matanya menatap panggung kosong yang diterangi lampu sorot tersebut.
"Kau bilang ini tempat semuanya bermula."
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Reyhan penuh selidik.
"Aku ingin kau melihat kebenaran dengan mata kepalamu sendiri."
"Pergilah ke ruang ganti nomor empat di belakang panggung."
"Ada naskah terakhir yang harus kau baca sebelum kita bertemu."
Klik.
Pengeras suara itu mati, menyisakan suara dengungan statis yang samar.
Reyhan tidak membuang waktu dan segera berjalan menuju tangga kecil di samping panggung.
"Kau mau menuruti perintahnya begitu saja, Reyhan?" protes Kania sambil setengah berlari mengikuti.
"Ini pasti jebakan lagi seperti di pabrik peleburan logam kemarin."
"Mungkin saja," jawab Reyhan tanpa menoleh.
"Tapi ini satu-satunya cara untuk membongkar identitasnya."
"Kalau kita diam di sini, kita tidak akan pernah mendapatkan jawaban apa pun."
Mereka menaiki panggung utama yang lantainya dipenuhi abu dan sisa-sisa kayu terbakar.
[Ding! Misi Investigasi terpicu.]
[Misi: Temukan kebenaran di balik Tragedi Teater Harapan.]
[Hadiah: Petunjuk identitas asli pembunuh dan Peningkatan Skill Observasi.]
"Bantu aku mencari ruang ganti nomor empat, Kania."
Reyhan mengarahkan senternya ke lorong sempit di belakang panggung.
Lorong itu dipenuhi deretan pintu kayu yang sebagian besar sudah hancur atau hilang.
"Ini nomor satu," tunjuk Kania pada pintu pertama.
Mereka terus berjalan menyusuri lorong yang pengap dan bau hangus itu.
"Ini dia, nomor empat," ucap Reyhan saat berhenti di depan sebuah pintu yang kondisinya paling parah.
Pintu itu separuhnya sudah menjadi arang hitam.
Reyhan mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka sepenuhnya.
Kriet.
Ruangan di dalamnya tidak terlalu besar, hanya ada sisa-sisa meja rias yang terbakar dan cermin yang pecah.
Dinding ruangan ini hangus total, menunjukkan bahwa titik awal kebakaran sepuluh tahun lalu memang berada di sini.
"Bau hangusnya masih tercium padahal sudah sepuluh tahun berlalu," gumam Kania sambil menutup hidungnya.
"Tentu saja, karena ruangan ini sengaja tidak pernah dibersihkan oleh si pembunuh," analisis Reyhan.
"Dia menjadikan ruangan ini sebagai kuil balas dendamnya."
Reyhan mengaktifkan Skill Observasi Tingkat Menengahnya.
Matanya menyapu setiap sudut ruangan yang gelap dan berantakan itu.
"Tidak ada apa-apa di sini, Reyhan," keluh Kania yang sudah mulai lelah.
"Hanya abu dan sampah."
"Pembunuh itu pasti sedang mempermainkan kita lagi."
"Tidak, dia tidak sedang bermain-main."
Reyhan berjalan mendekati meja rias yang sudah menjadi arang tersebut.
Insting observasinya menangkap kejanggalan pada susunan laci meja yang sudah hancur.
Laci paling bawah terlihat sedikit menonjol, namun tidak memiliki gagang tarikan.
"Ada sesuatu di balik panel laci ini," ucap Reyhan yakin.
Reyhan menarik pisau lipat yang ia bawa dan mencongkel sela-sela panel kayu yang hangus itu.
Krak.
Panel kayu itu terlepas, memperlihatkan sebuah kotak besi kecil berkarat yang tersembunyi di baliknya.
"Kau benar-benar menemukannya," kata Kania takjub.
Reyhan mengeluarkan kotak besi itu dan meniup debu tebal yang menempel di permukaannya.
Fuh.
Kotak itu tidak terkunci, jadi Reyhan langsung membukanya.
Di dalamnya, terdapat sebuah buku catatan bersampul kulit cokelat yang kondisinya masih cukup bagus.
"Buku apa itu?" tanya Kania penasaran sambil mendekatkan wajahnya.
"Ini adalah jurnal harian," jawab Reyhan sambil membolak-balik halamannya perlahan.
"Tulisan tangannya rapi, dan ada nama Bintang Sanjaya di halaman pertamanya."
Reyhan mulai membaca beberapa entri terakhir dari jurnal tersebut dengan suara pelan.
"Tanggal 12 Oktober 2016."
"Yayasan Pelita Hati ternyata menggunakan pementasan kami untuk mencuci uang suap."
"Aku menemukan dokumen ganda di ruang administrasi teater hari ini."
Reyhan menatap Kania sekilas.
"Bintang Sanjaya menemukan rahasia mereka secara tidak sengaja," simpul Reyhan.
Kania mengangguk paham.
"Dan itu alasan kenapa dia dibunuh dan teater ini dibakar."
"Terus bacakan, Reyhan, apa yang dia tulis sebelum dia mati?"
Reyhan membalik ke halaman paling akhir yang penuh dengan coretan terburu-buru.
"Tanggal 15 Oktober 2016."
"Mereka tahu kalau aku menyimpan salinan dokumen itu."
"Hendra dan Tirta datang menemuiku hari ini, mereka mengancam akan menyakiti keluargaku."
"Aku harus segera menyerahkan bukti ini ke polisi yang bisa kupercaya."