Indonesia
NovelToon NovelToon
Kepentok Cinta Sama Rival Kantor

Kepentok Cinta Sama Rival Kantor

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Peri Bumi

"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"

Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.

Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.

Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.

Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?

Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.

Simak kisah mereka disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman masa kecil

Sabtu sore, Rain sedang bersantai di apartemen Kenzo, membantu menata beberapa dokumen proyek yang sengaja mereka bawa pulang untuk dikerjakan bersama sambil menonton film ringan. Suasana santai itu tiba-tiba terusik oleh suara pintu apartemen yang diketuk, bukan diketuk pelan seperti tamu formal, tapi diketuk cepat dan tidak sabar, diiringi suara wanita yang memanggil dari luar.

"Kenzoooo, buka dong, ini aku!"

Kenzo bangkit dari sofa, tampak sedikit heran. "Aurel?"

Begitu pintu dibuka, seorang perempuan dengan penampilan modis langsung menerobos masuk, memeluk Kenzo erat tanpa mempedulikan siapa pun di sekitarnya.

"Kangen banget aku, Kenz! Udah lama nggak main ke sini," katanya manja, masih memeluk Kenzo sebelum akhirnya melepaskan diri dan memperhatikan sekeliling ruangan.

Rain, yang duduk di sofa, merasa canggung melihat interaksi itu, terlebih ketika mata perempuan itu akhirnya berhenti padanya.

"Eh, siapa nih?" tanya Aurel, menatap Rain dengan tatapan menilai, meski tetap tersenyum ramah.

"Aurel, ini Rain, pacarku," Kenzo memperkenalkan dengan lugas, tanpa ragu sedikit pun. "Rain, ini Aurel, temen deket dari kecil. Rumah kami dulu bersebelahan."

"Pacar?" Aurel mengulangi kata itu dengan nada yang sulit dijabarkan, terkejut, atau mungkin sedikit kecewa, meski dia buru-buru menutupinya dengan senyum lebar. "Wah, akhirnya Kenzo punya pacar juga. Salam kenal, Rain!"

Rain membalas senyum itu seramah mungkin, meski instingnya langsung menangkap sesuatu yang tidak sepenuhnya nyaman dari cara Aurel memperkenalkan diri.

 

Sepanjang sore itu, Aurel memutuskan untuk "sekalian main" di apartemen Kenzo, duduk di antara Rain dan Kenzo di sofa dengan santainya, seolah kehadirannya adalah hal yang biasa terjadi setiap minggu.

"Kenzo ini dari kecil emang deket banget sama aku," cerita Aurel ke Rain, meski nadanya lebih seperti unjuk kedekatan ketimbang sekadar berbagi cerita. "Orang tua kami udah kayak saudara sendiri. Malah dulu, waktu kecil, aku sama Kenzo tidur sekamar kalau lagi acara keluarga besar."

"Itu kan waktu kita masih TK, Rel," Kenzo menyela, sedikit gusar dengan cara Aurel menceritakan hal itu seolah masih relevan sampai sekarang.

"Tetep aja, itu kan bukti kita deket banget," Aurel membalas cepat, sengaja menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Kenzo sebelum akhirnya duduk tegak lagi, seolah gestur itu adalah hal biasa yang sudah sering dia lakukan.

Rain merasakan sesuatu yang tidak nyaman menjalar di dadanya, tapi berusaha menahan diri, mengingatkan dirinya sendiri bahwa Kenzo sudah jujur sejak awal soal siapa Aurel baginya.

"Aurel ini kayak adik aku sendiri," Kenzo menjelaskan ke Rain, mencoba meredakan suasana yang mulai terasa canggung. "Aku anak tunggal, keluarga Aurel yang paling deket sama keluarga aku sejak kecil. Jadi ya, hubungan kami emang udah kayak kakak-adik."

"Kakak-adik yang deket banget," Aurel menambahkan, tersenyum lebar, seolah sengaja menekankan kata itu.

Rain mencoba tersenyum, meski dalam hati mulai bertanya-tanya, apakah batasan "kakak-adik" yang dimaksud Kenzo benar-benar sesederhana yang dia jelaskan.

 

Menjelang malam, sebelum akhirnya pamit pulang, Aurel sempat menarik tangan Kenzo ke dapur, seolah ingin bicara empat mata, meninggalkan Rain sendirian di ruang tengah selama beberapa menit yang terasa lebih lama dari seharusnya.

Dari kejauhan, samar-samar Rain mendengar suara tawa Aurel, dan sesekali suara Kenzo yang terdengar berusaha menjelaskan sesuatu dengan nada yang lebih tegas dari biasanya.

Begitu Aurel akhirnya pamit pulang, suasana apartemen kembali sunyi. Kenzo duduk kembali di sebelah Rain, tampak sedikit lelah.

"Maaf soal tadi," kata Kenzo, langsung membuka topik tanpa menunggu ditanya. "Aurel emang selalu kayak gitu, dari dulu. Dia nggak pernah benar-benar mikirin batasan."

"Kalian... beneran cuma kayak kakak-adik?" tanya Rain akhirnya, tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama.

"Buat aku, iya," jawab Kenzo tegas, menatap Rain langsung. "Aku anggap dia adik. Titik. Nggak lebih."

"Tapi buat dia?" Rain melanjutkan, suaranya lebih pelan.

Kenzo terdiam sejenak, tampak berpikir keras untuk menjawab jujur. "Aku nggak yakin gimana perasaan dia sebenarnya. Tapi aku udah beberapa kali coba tegasin batasan ke dia, cuma dia selalu anggap enteng, mungkin karena kita udah kenal terlalu lama sampai dia nggak sadar udah kelewatan."

"Kenzo," Rain menghela napas, mencoba menyusun kata-katanya dengan hati-hati agar tidak terdengar seperti menuduh. "Aku percaya kamu. Beneran. Tapi... aku juga nggak bisa bohong, tadi itu bikin aku nggak nyaman."

"Aku ngerti," Kenzo menjawab, menggenggam tangan Rain erat. "Dan aku minta maaf, karena aku sendiri kadang nggak sadar batasan mana yang seharusnya lebih aku tegasin. Aku anak tunggal, Rain. Aku nggak pernah punya pengalaman langsung soal batasan hubungan kayak kakak-adik beneran, jadi mungkin aku terlalu longgar sama Aurel selama ini."

 

Rain terdiam sejenak, mencoba mencerna semua penjelasan itu dengan kepala dingin, meski hatinya masih menyimpan rasa tidak nyaman yang sulit dia hilangkan begitu saja.

"Aku nggak minta kamu putusin hubungan kalian," kata Rain akhirnya, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Aku cuma minta, tolong lebih tegas soal batasan. Bukan buat ngebatasin persahabatan kalian, tapi buat ngehargain hubungan kita juga."

"Kamu benar," Kenzo mengakui, menatap Rain dengan sungguh-sungguh. "Aku janji, mulai sekarang aku akan lebih tegas soal itu. Kamu nggak perlu ragu soal perasaan aku ke kamu, Rain. Tapi kamu juga berhak merasa nyaman, dan itu tanggung jawab aku buat pastiin itu."

Rain tersenyum kecil, meski rasa cemburu yang sempat muncul tidak sepenuhnya hilang begitu saja. "Makasih udah jujur, Kenzo. Aku tahu ini bukan salah kamu sepenuhnya. Cuma... butuh waktu buat aku beneran nyaman sama situasi ini."

"Aku ngerti," jawab Kenzo, merangkul Rain lembut. "Pelan-pelan aja. Aku nggak akan buru-buru maksa kamu langsung baik-baik aja."

 

Beberapa hari kemudian, Aurel kembali menghubungi Kenzo, kali ini mengajak bertemu untuk membahas acara reuni keluarga besar yang akan datang. Kenzo, mengingat janjinya pada Rain, memilih untuk mengajak Rain ikut serta dalam pertemuan itu, sekaligus menegaskan batasan yang selama ini terlalu longgar dia biarkan.

"Aurel," kata Kenzo, begitu mereka bertiga duduk di kafe yang sama tempat mereka biasa bertemu keluarga. "Aku pengen ngomong sesuatu, dan aku pengen kamu dengerin baik-baik."

Aurel menatap Kenzo, sedikit terkejut dengan nada seriusnya. "Ada apa?"

"Aku sayang kamu kayak adik sendiri, dan itu nggak akan berubah," Kenzo memulai, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Tapi mulai sekarang, aku pengen kita lebih jaga batasan. Nggak main peluk-peluk sembarangan, nggak lagi cerita-cerita yang bikin salah paham orang lain. Aku sekarang udah punya Rain, dan aku pengen hargain hubungan kami."

Aurel terdiam cukup lama, ekspresinya berubah-ubah antara terkejut dan sedikit kecewa. "Aku... aku nggak nyangka kamu bakal segamblang ini ngomongnya."

"Aku minta maaf kalau ini kedengeran keras," Kenzo melanjutkan, nadanya tetap lembut meski tegas. "Tapi aku rasa, ini yang seharusnya dari dulu aku lakuin, biar nggak ada lagi kesalahpahaman di antara kita."

Rain, yang duduk di sebelah Kenzo, memperhatikan momen itu dengan perasaan campur aduk, lega karena akhirnya Kenzo benar-benar menegaskan batasan, tapi juga sedikit merasa iba melihat ekspresi Aurel yang jelas-jelas terluka oleh kejujuran itu.

"Aku ngerti," kata Aurel akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, kehilangan nada manja yang biasa dia tunjukkan. "Maaf kalau selama ini aku kelewatan."

"Nggak apa-apa," Kenzo menjawab, tersenyum tipis. "Yang penting sekarang kita udah sama-sama jelas."

Sepanjang sisa pertemuan itu, suasana terasa lebih formal dari biasanya, tapi Rain merasakan sesuatu yang penting telah tercapai, bukan permusuhan, melainkan batasan yang jelas, yang selama ini hilang karena kedekatan yang sudah terlalu lama dianggap wajar tanpa dipertanyakan lagi.

Dalam perjalanan pulang, Rain menggenggam tangan Kenzo erat. "Makasih udah berani ngomong tadi."

"Aku janji sama kamu, kan," jawab Kenzo sederhana. "Dan aku selalu berusaha nepatin janji."

Rain tersenyum, merasakan kepercayaannya pada hubungan mereka semakin kuat bukan karena tidak ada tantangan sama sekali, tetapi karena mereka berdua belajar menghadapi setiap tantangan itu bersama-sama, dengan kejujuran sebagai fondasi utama.

1
Xlyzy
si pandu bad mood parah itu
Xlyzy
Udah jelas ada yang lagi cembokur malah di perjelas Rain ga peka banget sih
-Thiea-
semoga Kenzo beneran niat bantu ya. bukan malah buat jebakan.
Tamaa
Sombong secara tidak langsung
Tamaa
Kasian pandu
Tamaa
Harus niat lah Kamu kan mau ketemu sama calon mertua
-Thiea-
punya masalah kali dia sama kamu. atau dia naksir kamu.😁
-Thiea-
dikira otak gak perlu istirahat. di suruh buat mikir terus.
Miu.Nuha
jadi pingin tahu masa lalu kenzo 😖
se mistery apa dia...
Miu.Nuha
akrab donk, karna rival
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...
Filan
diombang-ambing aja ya, pikirannya ama 2 cowok itu.
Filan
digantung terus...
Filan
hei... kata-katamu itu bisa bikin orang baper dan salah paham. Suka bilang, kalau nggak jangan bikin baper orang.
Myz Pena
ya bener.. makin akrab dan makin asyik.. bentar lagi cinlok tuh 🤣
Myz Pena
sari kayaknya penasaran ,, tapi sungkan mau nanya jadinya hanya bisa senyum2 sendiri
Arni Arlinawati Pratiwi💃
rain peka an orang nya emak suka thor, kebanyakan pada gak peka, dan itu bikin jiwa dan raga emak pengen banget keluarin tokoh nya dari novel, dan bicara sama emak 4 mata.. 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
mantap thorrr.. pembawaan tokoh nya, sama narasi nya emak gak ngerti lagi, harus banyak belajar lagi ini mah.. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
udah lah, ini mah kenzo emang kek gitu kalo lagi kerja dingin nya tuh karena dia emang gak pernah membawa urusan pribadi ke tempat kerja.. tapi ada pengecualian buat rain nih kayak nya, sotoy dulu..
Arni Arlinawati Pratiwi💃
salahin authorrr nya napa kek gituuu.. 🗿 server nya eror nanti aja, ah elah!
Arni Arlinawati Pratiwi💃
sue.. yang kek gini gini benci banget emak, udah lembur ngerjain sampe beres pas mau submit laporan, server tiba tiba nge heng kalo ponsel mah.. nah ini mah urusan nya sama author nya, sini kamu sayang emak ketapel.. 🗿/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!