Indonesia
NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — JURANG NERAKA

Dasar Jurang Neraka diselimuti langit berwarna merah darah yang pekat. Baru sepuluh menit latihan pertama usai, bentangan langit di atas sana mendadak retak hebat.

DUARRR!

Seratus Penegak Langit meluncur turun membelah awan, dipimpin langsung oleh Dewa Eksekusi yang memancarkan aura dingin membunuh. Di saat bersamaan, dari arah berlawanan, kabut hitam menggulung pekat membawa dua ratus prajurit iblis di bawah komando Raja Iblis Mo Tian.

Panel status melayang di udara, memperlihatkan perbandingan kekuatan yang timpang:

KUBU 1: ISTANA LANGIT - 100 ORANG KUBU 2: JURANG SILUMAN - 200 IBLIS KUBU 3: KITA - 3 ORANG

"Kepung seluruh area!" teriak Dewa Eksekusi menggelegar. "Jangan biarkan anak terkutuk itu melarikan diri!"

Mo Tian melayang perlahan, tatapannya tertuju lurus pada Lu Chen. "Anakku. Auramu semakin kuat. Mari ikut ayah, kita kuasai tiga alam."

Lu Chen melangkah maju, berdiri kokoh di hadapan Shen Yue. Liontin Segel Tiga Alam di lehernya memancarkan cahaya tiga warna yang berdenyut terang: Emas, Merah, dan Hitam.

"Tidak," jawab Lu Chen tegas. "Aku punya nama. Aku Lu Chen."

PERTEMPURAN DIMULAI

Xue Ling bergerak paling awal. Pedangnya berkelebat cepat menciptakan badai salju mematikan. "PEDANG SALJU: 99 TEBASAN!"

Dalam sekejap, sepuluh Penegak Langit membeku di tempat dan hancur berkeping-keping.

Shen Yue mengepakkan jubahnya, terbang menyongsong musuh utama. "PEDANG HUKUM: PEMENGGAL DOSA!" Ia berduel satu lawan satu melawan Dewa Eksekusi. Namun, luka lamanya belum pulih sepenuhnya; setiap kali ia mengayunkan pedang, tetesan darah segar mengucur dari bibir dan lengannya.

"Bu, mundur!" teriak Lu Chen cemas melihat kondisi ibunya.

"Tidak," balas Shen Yue tanpa menoleh. "Kau yang harus maju!"

Lu Chen mengepalkan tinjunya erat-erat, membuat Segel Tiga Alam di lehernya memanas hebat.

DARAH IBLIS: 60% DARAH MANUSIA: 39% DARAH DEWA: 1% SEGEL: AKTIF 30%

"SEGEL TIGA ALAM... AKTIF!" teriak Lu Chen penuh amarah.

BOOM!

Ledakan cahaya tiga warna menyembur keluar, menutupi aura iblisnya yang liar dan menggantikannya dengan energi netral yang seimbang.

Ia melesat ke tengah medan laga. Tinju pertamanya menghantam tanah: "TINJU MANUSIA"—menghancurkan lima iblis kelas rendah sekaligus. Tinju kedua dilepaskan dengan elemen iblis: "TINJU IBLIS"—membakar sepuluh Penegak Langit hingga menjadi abu. Tinju ketiga memadukan keduanya: DUAR! Sebuah retakan jurang baru tercipta, menelan puluhan musuh.

Mo Tian tertawa terbahak-bahak melihatnya. "Bagus! Itu benar-benar darahku!"

Dewa Eksekusi melotot tak percaya. "Mustahil... bagaimana bisa manusia rendahan menggunakan kekuatan dewa dan iblis secara bersamaan?!"

Tanpa diduga, dua puluh iblis bayangan menerobos dari belakang, mengincar Shen Yue yang tengah kelelahan.

"IBU!" Lu Chen bertindak dengan refleks kilat, melompat melindungi ibunya.

SRET! SRET! SRET!

Cakar tajam menghujam tubuhnya. Punggung Lu Chen robek seketika, mengucurkan darah campuran hitam dan merah yang pekat.

Shen Yue kehilangan kendali atas emosinya. "PEDANG HUKUM: HUKUM PEMUSNAH!"

SHING! Dalam satu ayunan maut, dua puluh iblis penyerang itu musnah tak bersisa, berubah menjadi debu.

Ia segera merengkuh tubuh putranya yang nyaris ambruk. "Bodoh! Kenapa kau lindungi Ibu?!"

Lu Chen terbatuk, memuntahkan darah segar. "Karena... Ibu adalah segalanya bagiku..."

DARAH IBLIS: 60% -> 65% RISIKO: KESURUPAN TINGGI

Sepasang mata Lu Chen berubah merah sempurna, dan tonjolan tanduk mulai mendesak keluar dari balik rambutnya.

"Lu Chen! Ingat namamu!" teriak Shen Yue dan Xue Ling bersamaan dengan panik.

Lu Chen mencengkeram erat Segel Tiga Alam di dadanya. "Aku... Lu Chen. Fajar..."

SHUUU!

Cahaya dari segel itu kembali berpendar, memaksa darah iblis turun kembali ke ambang batas enam puluh persen. Tanduk di kepalanya perlahan menyusut masuk.

Mo Tian mendengus jijik melihat kegagalan pasukannya. "Cukup sudah permainan bodoh ini."

Ia mendarat di tanah, mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menghancurkan seluruh lembah dalam satu serangan. BOOM!

Shen Yue, Xue Ling, dan Lu Chen menyatukan sisa tenaga untuk menahan hantaman itu. DUAR!

Ketiganya terpental sejauh dua ratus meter, menghantam dinding es dan memuntahkan darah secara bersamaan.

"Guru..." bisik Xue Ling lemah. "Apa rencana kita selanjutnya?"

Shen Yue mengedarkan pandangannya. Langit telah tertutup rapat oleh bala tentara dewa, sementara jalan darat dikepung pasukan iblis. Hanya ada satu jalur tersisa.

"Masuk ke jurang yang lebih dalam," perintah Shen Yue. "Menuju Reruntuhan Kuil Tiga Alam."

Lu Chen mengangguk lemah. Meskipun kakinya sudah gemetar dan hampir tak sanggup berdiri, ia memaksakan diri untuk bangkit. "Ayo maju."

PELARIAN

Mereka berlari menuruni lorong gelap, menembus kedalaman lebih dari seribu meter di bawah permukaan jurang.

Di atas sana, Mo Tian dan Dewa Eksekusi justru saling berbenturan. DUARRR! Dua kekuatan kolosal itu malah saling menghantam karena masing-masing tidak ingin pihak lain mendahului menangkap Lu Chen.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan gerbang batu raksasa yang tertutup lumut tebal. Di atas gerbang terpahat tulisan kuno: KUIL TIGA ALAM - YANG TERBUANG.

Shen Yue mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya untuk mendorong gerbang tersebut. KRAAAK!

Di dalam ruangan yang gelap gulita, terdapat sebuah altar tua. Di atas altar itu tergantung sebuah lukisan dinding besar yang menggambarkan sosok Manusia, Dewa, and Iblis saling berpegangan tangan dalam damai.

"Tempat ini..." bisik Shen Yue terkejut. "Ini tempat penciptaan awal Tiga Alam."

Lu Chen jatuh pingsan di pelukan ibunya. Segel Tiga Alam di dadanya tampak retak tipis, menampakkan beban berat yang baru saja ia lalui.

Di luar gerbang, Mo Tian menghentikan langkahnya saat mendapati penghalang pelindung kuil. "Dia masuk ke tempat terkutuk itu... sial."

Dewa Eksekusi tiba tak lama kemudian, mengerutkan kening. "Kuil Terlarang. Jika anak itu berhasil membangkitkan rahasia di dalamnya... ini bisa menjadi kiamat bagi kita."

Dua pemimpin musuh itu saling melirik tajam, sebelum akhirnya memutuskan mundur ke luar area. "Kepung tempat ini. Jaga setiap jengkalnya!"

Di dalam altar kuil yang sunyi, Shen Yue merawat luka-luka Lu Chen sementara Xue Ling berjaga di ambang pintu masuk.

Dalam tidurnya, Lu Chen terseret ke alam bawah sadar. Ia melihat tiga sosok misterius berdiri di hadapannya: seorang pria bertanduk yang menyerupai Mo Tian, seorang wanita bersinar seperti ibunya, dan seorang pria tua berambut putih yang tidak ia kenal.

Sebuah suara menggema di kepalanya: "Anakku... kaukah kunci keseimbangan itu..."

Lu Chen terperanjat bangun, napasnya memburu. "Bu..." ucapnya terbata-bata. "Aku melihat sesuatu dalam mimpiku. Kita... bukan sekadar anomali."

Shen Yue memeluknya erat, menyalurkan kehangatan. "Iya. Kita adalah keluarga."

Tiba-tiba, suara Mo Tian bergemuruh menembus dinding kuil: "AKU BERIKAN WAKTU TIGA HARI. JIKA KAU TIDAK KELUAR, AKU AKAN MERATAKAN SELURUH JURANG INI!"

Disusul pula oleh suara dingin Dewa Eksekusi dari sisi seberang: "TIGA HARI JUGA BATAS WAKTUKU. JIKA TIDAK MENYERAH, LANGIT SENDIRI YANG AKAN MEMUSNAHKAN TEMPAT ITU!"

Lu Chen perlahan berdiri, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya.

"Tiga hari," ucap Lu Chen dengan tatapan tajam penuh tekad. "Waktu itu cukup bagiku untuk menguasai kekuatan enam puluh lima persen."

Ia menatap lurus ke arah altar kuno di depannya. "Bu. Ajarkan aku cara mengendalikannya. Di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!