Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Diplomasi Skincare di Sakura
"Jarak beribu-ribu kilometer dan perbedaan bahasa bukanlah halangan, selama prinsip pori-pori bersih dan solidaritas tetap dipegang teguh."
"Samson! Lu yakin paspor sama dokumen karantina botol-botol serum ini kagak bakal ditahan di Bandara Haneda?!" cemas Bang Jarot seraya merapikan jas hitamnya yang sudah dipasangi pin logo Perkasa Putra.
Suara hiruk-pikuk Bandara Internasional Haneda, Tokyo, menyambut kedatangan rombongan delegasi dari Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra. Suhu udara dingin khas musim gugur Jepang merasuk hingga ke tulang, membuat siapa saja refleks merapatkan mantel tebal mereka.
Namun, di tengah wisatawan dan warga lokal yang sibuk berlalu-lalang, sosok Samson tetap menjadi pusat perhatian utama. Pemuda tegap setinggi 178 sentimeter itu melangkah anggun mengenakan mantel wol krem berpotongan elegan, dilengkapi syal merah muda dan bando pita penahan poni yang tak pernah lepas dari kepalanya.
"Aduh Bang Jarot sayang, tenang dong! Semua racikan Serum Royal Wijayakusuma kita sudah mengantongi sertifikat uji klinis internasional dan izin edar diplomatik!" balas Samson riang seraya mengoleskan lip balm aroma stoberi ke bibirnya yang mulai kering akibat udara dingin.
Di samping Samson, Kenanga berjalan sigap membawa koper tebal berisi perlengkapan keamanan dan sampel produk. Sementara itu, Papi Joko dan Mami melangkah berdampingan dengan raut wajah bangga bercampur gugup. "Papi... ini beneran kita sudah menginjakkan kaki di Tokyo?" bisik Mami seraya mengamati arsitektur bandara yang sangat modern dan megah. "Daster batik Mami yang ini pantes kagak ya dipakai jalan-jalan di daerah Harajuku nanti?"
Papi Joko tersenyum lembut seraya merangkul bahu Mami erat-erat. "Pantes banget, Mami sayang. Yang penting kita percaya diri dan muka tetap glowing alami."
Namun, suasana tenang di aula kedatangan tidak bertahan lama. Dari arah pintu keluar VIP, muncul rombongan berseragam hitam-hitam yang dipimpin oleh seorang pria paruh baya bertubuh jangkung dengan rambut putih tersisir sangat rapi. Pria itu mengenakan kimono modern serba hitam dan menatap rombongan Perkasa Putra dengan pandangan mata yang sangat tajam dan dingin.
Papi Joko mendadak menghentikan langkah kakinya. Matanya membelalak lebar, memegang kunci pas kecil yang selalu ada di sakunya. "Kenjiro..." gumam Papi Joko dengan suara berat bergetar.
Pria berambut putuh yang dipanggil Kenjiro Takahashi itu melangkah mendekati rombongan Perkasa Putra. Dua orang pengawalnya berbadan kekar berdiri tegap di belakangnya, memberi kesan intimidasi yang sangat kuat. "Sudah tiga puluh tahun, Joko," sapa Kenjiro dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih namun bersuara sangat dingin. "Aku tidak menyangka kamu berani menampakkan wajahmu lagi di Tokyo setelah kekalahan mu di masa lalu."
Bang Jarot yang tidak terima Papi Joko disindir langsung melangkah maju membusungkan dadanya yang bidang. "Hei, Pak Tua Kribo beruban! Lu jangan sembarangan ngomong ya! Pak Joko ke sini bukan buat bernostalgia, tapi buat ngebuktikan kalau produk Perkasa Putra itu kelas dunia!"
Kenjiro melirik Bang Jarot dengan tatapan meremehkan, lalu mengalihkan pandangannya kepada Samson dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Jadi ini anakmu yang digadang-gadang sebagai jenius kecantikan baru dari pasar tradisional?" tanya Kenjiro seraya tersenyum sinis. "Terlalu banyak hiasan dan drama. Di ajang World Beauty & Aesthetic Expo lusa, teknologi laboratorium berbasis reaksi nano milik Takahashi Laboratories akan membuktikan bahwa produk herbal tradisional mu tak lebih dari sekadar ramuan jamu kuno!"
Samson melangkah maju tepat di hadapan Kenjiro. Wajah centilnya mendadak berganti dengan tatapan penuh tekad dan ketenangan luar biasa. Tubuh bidangnya berdiri tegap, memancarkan aura percaya diri yang tinggi.
Samson mengedip-ngedipkan matanya centil dan polos, berusaha memasang raut muka paling menggemaskan yang ia miliki. "Aduh Pak Kenjiro yang terhormat..." sapa Samson dengan nada suara meliuk halus namun penuh penekanan. "Teknologi nano Bapak boleh saja canggih, tapi kalau formula Bapak dibuat tanpa sentuhan ketulusan dan cinta untuk kesehatan kulit, hasilnya cuma bakal jadi lapisan kimia yang kaku! Samson dan tim Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra siap membuktikan kehebatan racikan asli Indonesia di panggung Tokyo!"
Kenjiro tertawa kecil, melambaikan tangannya dingin seraya membalikkan badan. "Kita lihat saja lusa di arena pameran, Samson. Siapkan mentalmu untuk memulangkan impianmu kembali ke bengkel tua itu."
Dengan langkah anggun dan angkuh, Kenjiro dan rombongannya melangkah pergi meninggalkan aula kedatangan.
Kenanga menyipitkan mata seraya mengepalkan tangannya di balik saku mantel. "Orang tua itu benar-benar minta dihajar. Tenang Sam, selama di Tokyo, gue sama anak-anak Serigala Jalanan bakal jagain lu dan sampel racikan kita dua puluh empat jam penuh!"
Setelah melewati urusan bagasi dan pemeriksaan imigrasi yang cukup ketat, rombongan Perkasa Putra akhirnya keluar dari area bandara Haneda. Bus jemputan khusus berstempel panitia festival telah menunggu mereka di pelataran parkir luar.
Di sepanjang perjalanan menuju hotel di kawasan Shinjuku, mata Mami tak henti-hentinya menatap takjub gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di balik rintik gerimis sore. Jalanan kota Tokyo terlihat sangat bersih, tertata rapi, dan dipenuhi oleh jajaran toko-toko kosmetik kelas dunia yang memancarkan cahaya lampu neon memukau.
"Samson, lihat tuh!" seru Mami seraya menunjuk papan iklan raksasa di atas sebuah gedung tinggi. "Gambar Pak Kenjiro dipajang segede gaban di sana! Tulisannya pakai huruf Jepang semua!"
Samson mengamati papan iklan digital tersebut. Di sana terpampang wajah Kenjiro yang tersenyum dingin dengan botol produk perak berteknologi nano di tangannya. Di bawah iklan itu, tertulis jargon megah tentang revolusi kecantikan tanpa bahan organik. "Iklan boleh besar, Mami," sahut Samson lembut seraya merapikan poni di keningnya. "Tapi keajaiban racikan Wijayakusuma milik Papi Joko punya sesuatu yang kagak bisa dibeli pakai modal jutaan yen: ketulusan alami yang meresap langsung ke dalam lapisan epidermis ter dalam!"
Papi Joko yang duduk di samping Samson mengangguk pelan. Tangan tuanya yang biasa berlumur oli mesin kini memegang erat botol sampel racikan mereka. "Papi percaya sama kamu, Sam. Dulu Papi gagal di kota ini karena Papi bertarung sendirian tanpa dukungan keluarga. Tapi sekarang, Papi punya kamu, Mami, Kenanga, Bang Jarot, dan anak-anak geng motor. Kita tidak akan kalah."
"Setuju, Pak Joko!" sahut Bang Jarot keras dari bangku belakang sampai membuat supir bus terkejut dan melirik dari kaca spion. "Kalau ada yang berani nyenggol botol racikan kita selama di Tokyo, rantai besi gue siap bertindak!"
Kenanga yang duduk di sebelah Bang Jarot menyikut pinggang pria berkumis tebal itu pelan. "Sttt! Bang Jarot, ini bus umum Jepang! Suara lu jangan kayak penagih utang di pasar!"
Bang Jarot meringis canggung seraya memegangi pinggangnya. "Aduh, Mbak Ken... refleks ketua geng motornya suka keluar sendiri kalau dengar kata bertarung."
Semua orang di dalam bus tertawa geli melihat tingkah Bang Jarot. Ketegangan usai konfrontasi dengan Kenjiro di bandara tadi perlahan mencair, berganti dengan kehangatan dan rasa optimisme yang membara.
***
Satu jam kemudian, bus tiba di pelataran hotel tempat para peserta pameran menginap. Hotel bintang lima tersebut tampil sangat megah dengan interior paduan kayu tradisional Jepang dan kaca modern.
Namun, baru saja rombongan melangkah masuk ke area lobi, beberapa peserta pameran dari negara lain yang mengenakan jas laboratorium steril tampak memandang heran ke arah rombongan Perkasa Putra. Mereka berbisik-bisik seraya melirik penampilan Samson yang mengenakan bando pita pink, Bang Jarot yang berbadan tegap berkumis lebat, serta Mami yang anggun dengan daster batiknya.
"Lihat tuh..." bisik seorang delegasi dari Eropa dalam bahasa Inggris yang sayup-sayup terdengar oleh Kenanga. "Apakah mereka peserta pameran estetika atau rombongan sirkus?"
Bang Jarot yang mengerti sedikit kata sirkus langsung menggeram pelan dan hendak melangkah maju, namun Samson menahan lengan Bang Jarot dengan jemari lentiknya. "Biarin aja, Bang Jarot sayang," ujar Samson manis seraya tersenyum lebar ke arah para delegasi asing tersebut. "Orang yang belum tahu kualitas pori-pori kita memang biasanya suka menghakimi dari penampilan luar. Nanti di panggung festival, baru kita bikin mata mereka terbuka lebar!"
Samson merapikan tatanan poninya, membusungkan dada bidang 178 sentimeter nya dengan sangat percaya diri, lalu melangkah anggun menuju meja resepsionis untuk mengurus kunci kamar.
Perjalanan baru dan penuh rintangan di negeri orang kini telah benar-benar dimulai. Tim aliansi unik dari pelataran bengkel tua Pasar Subuh ini siap mengukir sejarah baru di panggung estetika dunia!