Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Trang! Trang! Trang!

Kelima pisau lipat stainless steel itu jatuh serentak dan menancap tegak lurus di atas tanah liat alun-alun desa.

Raka sengaja memutus aliran kendali dari sistem gaibnya agar benda itu jatuh dan membuktikan wujud aslinya.

Semua orang di sana bisa melihat dengan jelas pantulan wajah mereka yang ketakutan pada bilah logam yang luar biasa mulus tersebut.

"Itu... logam murni pemotong baja dari alam dewa?" gumam salah satu pemuda desa yang memegang parang berkarat dengan tangan gemetar.

Parang besi milik warga desa di sana semuanya kusam, berkarat, dan penuh bekas tempaan yang kasar.

Melihat pisau lipat Raka yang mengkilap tanpa cacat sedikit pun, mental mereka langsung jatuh sejatuh-jatuhnya.

"Ayo Dukun Mangkubumi, tunjukkan sihir terhebatmu padaku sekarang," tantang Raka melangkah maju mendekati pria tua berjubah bulu itu.

"A-aku tidak takut padamu siluman! Penjaga, cepat tusuk dia pakai tombak!" teriak Dukun Mangkubumi mundur dengan langkah tersandung.

Namun tidak ada satu pun dari puluhan pemuda kekar itu yang berani melangkah maju sejengkal pun.

Melihat logam melayang dari udara kosong sudah cukup untuk membuat akal sehat mereka hancur berantakan.

"Kalian semua tuli ya? Cepat bunuh dia atau leluhur gunung akan mengutuk desa ini!" teriak Kepala Desa Boris ikut panik.

Pemuda yang berdiri paling depan malah melemparkan tombaknya ke tanah dan langsung berlutut.

Klontang!

"Ampuni kami Dewa Api, kami hanya mengikuti perintah kepala desa dan dukun ini," ucap pemuda itu dengan suara bergetar menahan tangis.

Melihat temannya berlutut, puluhan pemuda lainnya langsung ikut menjatuhkan senjata mereka serentak.

Mereka semua bersujud menyembah Raka karena tidak ingin tubuh mereka dipotong-potong oleh logam suci terbang itu.

"Sialan kalian semua pemuda pengecut!" maki Boris wajahnya memerah karena malu dan marah.

Dukun Mangkubumi menggeram marah karena merasa otoritasnya selama puluhan tahun hancur dalam hitungan menit.

"Aku akan menghisap rohmu sendiri siluman!" teriak Mangkubumi nekat mengangkat tongkat tengkoraknya.

Pria tua kurus itu berlari menerjang Raka dan mengayunkan ujung tongkat kayunya yang tajam ke arah kepala Raka.

Wush!

Gerakan dukun tua itu sangat lambat dan mudah dibaca oleh insting jalanan Raka yang sering tawuran.

Raka hanya memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari ayunan tongkat tersebut.

Tangannya bergerak kilat mencabut salah satu pisau lipat stainless yang menancap di tanah.

Sret!

Dengan satu tebasan ringan, pisau lipat super tajam itu membelah tongkat tengkorak sang dukun menjadi dua bagian.

Bruk!

Ujung tongkat berhias tengkorak monyet itu jatuh menggelinding di tanah liat diiringi tatapan syok Mangkubumi.

Pria tua itu menatap sisa tongkat di tangannya yang terpotong dengan sangat mulus seolah baru saja ditebas pedang pusaka.

"T-tidak mungkin, tongkat sakti pelindung rohku putus?" gagap Mangkubumi nyaris pingsan saking syoknya.

Raka tidak membuang waktu dan langsung mencengkeram kerah jubah bulu hitam dukun tersebut.

Ia menodongkan mata pisau lipatnya tepat di depan leher keriput Mangkubumi yang bergetar hebat.

"Dengar baik-baik pak tua, tongkat jelekmu ini tidak ada apa-apanya dibanding mainan dari duniaku."

Raka merogoh sakunya menggunakan tangan kiri dan mengeluarkan korek api gas andalannya.

Cetek!

Api biru kecil menyala tepat di dekat jubah bulu burung kering yang dipakai sang dukun.

"Kau bilang mau membakar Karta hidup-hidup tadi kan? Bagaimana kalau kita mulai dari membakar jubah bulu jelekmu ini?" ancam Raka menyeringai iblis.

Bulu burung kering itu langsung mengeluarkan bau hangus saat tersulut sedikit hawa panas dari korek Raka.

"Ampun! Ampun Tuan Dewa! Tolong jangan bakar hamba!" jerit Mangkubumi histeris ketakutan setengah mati.

Dukun itu meronta keras melepaskan diri dari cengkeraman Raka sampai rela jubah bulunya terlepas.

Ia jatuh bergulingan di tanah lalu lari terbirit-birit meninggalkan alun-alun desa tanpa mempedulikan wibawanya lagi.

"Dasar penipu tua tidak tahu malu," dengus Raka mematikan koreknya dan melempar jubah hitam itu ke tanah.

Kini tersisa Kepala Desa Boris sendirian yang berdiri gemetar mematung di dekat tiang pembakaran Karta.

Semua warganya sudah bersujud pada Raka, dan dukun andalannya baru saja lari ketakutan.

Raka memutar pisau lipat di tangannya dengan gaya kasual lalu menatap tajam ke arah Boris.

"Nah Kepala Desa Boris, sekarang giliranmu. Kau mau lari juga atau mau mencoba mencicipi tajamnya logam suci ini?" tawar Raka santai.

Boris langsung lemas kehilangan tenaga pada kedua kakinya.

Bruk.

Pria paruh baya bersutra kotor itu jatuh berlutut dan menempelkan dahinya ke tanah liat yang kotor.

"Ampuni ketidaktahuan hamba yang buta ini, Yang Mulia Dewa! Hamba sungguh pantas mati!" ratap Boris menangis keras.

"Kau memang pantas mati karena berani menyentuh Karta dan merampas barang milikku."

Raka berjalan mendekati Boris lalu menendang pelan bahu pria itu dengan ujung sepatu kets putihnya.

"Lepaskan ikatan Karta sekarang juga sebelum kesabaranku benar-benar habis."

Boris buru-buru bangkit dan berlari dengan kaki gemetar ke arah tiang pembakaran.

Ia membuka ikatan tali tambang kasar yang melilit tubuh Karta dengan tangan yang sangat panik.

Tubuh Karta yang penuh luka langsung merosot lemas ke tanah namun Raka dengan cepat menangkap bahunya.

"Tuan Dewa... Anda benar-benar datang menyelamatkan hamba lagi," rintih Karta tersenyum lemah dengan darah di sudut bibirnya.

"Tentu saja pak tua, aku ini dewa yang selalu menepati janji bisnis," bisik Raka pelan agar tidak didengar warga lain.

"Lin! Keluarlah sekarang, keadaan sudah aman!" teriak Raka memanggil gadis yang bersembunyi.

Dari balik gubuk kayu di kejauhan, Lin berlari sekuat tenaga sambil menangis tersedu-sedu.

Gadis itu langsung memeluk tubuh ayahnya dengan sangat erat menghiraukan luka Karta yang mengerikan.

"Ayah! Ayah bertahanlah, Lin ada di sini," tangis Lin mengusap wajah ayahnya yang babak belur.

Raka menoleh menatap puluhan warga desa yang masih bersujud mematung di alun-alun tersebut.

Ia tidak bisa membiarkan Karta terus berada di desa ini tanpa perlindungan mutlak dari orang-orang.

1
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!