Indonesia
NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Sudah Puas Memeluknya?

Kartu tanda penduduk di tangan pria itu membuat darah Karina membeku.

Di depan meja resepsionis Hotel Astoria Jakarta, Andri berdiri sambil merangkul pinggang seorang perempuan muda. Jari perempuan itu memainkan kancing kemejanya dengan akrab. Terlalu akrab untuk disebut rekan kerja.

Padahal lima belas menit lalu, suaminya baru menelepon.

"Aku masih di Surabaya. Besok siang baru pulang," katanya dengan suara selembut biasa.

Karina bahkan sempat mengingatkan agar dia tidak lupa makan.

Sekarang Andri menyerahkan KTP kepada resepsionis, menerima kartu kamar, lalu mengecup pelipis perempuan di sisinya.

Suara tawa rekan-rekan kantor di belakang Karina mendadak menjauh. Denting sendok dari restoran buffet lantai enam masih memenuhi lobi, tetapi telinganya berdenging seperti baru dihantam sesuatu.

"Bu Karina, jadi ikut mobil saya?" tanya seorang rekan.

Karina menggenggam tali tasnya sampai buku-buku jarinya memutih. "Nggak usah. Aku sudah pesan Grab. Kalian duluan saja."

Senyumnya terasa seperti retakan di atas kaca.

Satu per satu rekannya pergi. Karina tetap berdiri di dekat pilar marmer, menyaksikan Andri dan perempuan itu berjalan menuju lift. Lengan suaminya tidak pernah lepas dari pinggang ramping tersebut.

Sepuluh tahun.

Mereka pacaran sejak kuliah, menikah setelah lulus, lalu pindah ke Jakarta dengan dua koper dan tabungan yang bahkan tidak cukup untuk uang muka rumah. Karina ikut membayar cicilan mobil, mengurus kebutuhan rumah, dan menelan komentar Mama Kusnadi setiap kali meja makan kembali sepi tanpa tangis bayi.

Delapan tahun pemeriksaan. Delapan tahun obat, vitamin, dan harapan yang selalu runtuh di akhir bulan.

Andri pernah menggenggam tangannya di ruang praktik dokter dan berkata, "Nggak apa-apa. Kita berdua juga keluarga."

Ternyata keluarga baginya bisa diganti di meja resepsionis hotel.

Pintu lift hampir menutup. Karina memaksa kakinya bergerak.

"Andri!"

Suaranya tertahan di tenggorokan. Pria itu menoleh sedikit, seolah mendengar sesuatu. Karina panik dan berbelok tajam.

Tubuhnya menghantam dada seseorang.

Koper beroda jatuh. Karina kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai. Sakit menjalar dari tulang ekornya, tetapi dia tidak sempat mengeluh. Dari sudut matanya, dia melihat Andri masih menoleh ke arah lobi.

Tanpa berpikir, Karina bangkit dan menerjang orang asing di depannya. Kedua lengannya memeluk pinggang pria itu erat-erat. Wajahnya menempel pada kaus hitam yang beraroma cedar dan udara kabin pesawat.

Tubuh yang dipeluknya menegang.

"Tolong," bisik Karina. "Jangan bergerak."

Sebuah tangan terangkat, ragu sesaat, lalu mendarat ringan di punggungnya.

Karina berani melirik dari balik bahu pria itu. Pintu lift telah tertutup. Andri hilang.

Napas yang sejak tadi terjebak di dadanya akhirnya lepas. Bersamaan dengan itu, dia menyadari betapa memalukannya posisi mereka.

Pria yang dipeluknya tinggi sekali. Rambutnya berwarna abu-abu pucat, sebuah anting hitam menghiasi telinga kiri, dan garis tato menyembul dari balik lengan kaus. Wajahnya terlalu tampan untuk seseorang yang baru turun dari penerbangan panjang. Matanya gelap, sedikit malas, tetapi jelas sedang menertawakannya.

"Sudah puas memeluknya?"

Karina tersentak dan langsung mundur. "Maaf. Aku... saya kira kamu orang lain."

"Kalau orang lain, boleh dipeluk selama itu?"

Panas menjalar sampai ke telinganya. "Maafkan saya."

Dia berjongkok hendak mengambil koper pria itu, tetapi tangannya gemetar terlalu hebat. Pemuda tersebut lebih dulu menarik gagang koper, lalu menatap ke arah lift yang baru saja tertutup.

"Kabur dari siapa?"

"Bukan urusanmu."

"Galak juga." Sudut bibirnya naik. "Padahal tadi nempel seperti takut aku direbut orang."

Karina tidak menjawab. Dia menekan tombol lift berkali-kali. Angka digital bergerak lambat dari lantai dua puluh.

Saat pintu terbuka, lift itu kosong. Dia masuk dan memandangi deretan tombol. Andri naik ke lantai berapa?

Sepuluh? Dua belas? Dua puluh?

Karina menekan lantai enam dengan jari dingin, kembali ke restoran tempat acara kantor berlangsung. Begitu pintu lift terbuka, dia bergegas ke toilet perempuan.

Di depan wastafel, wajahnya terlihat seperti milik orang lain. Pucat. Bibir tanpa warna. Maskara di ujung mata mulai luntur meski dia belum menangis.

Jangan menangis sebelum tahu semuanya.

Karina membuka ponsel dan menekan nama suaminya.

Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua baru tersambung.

"Kenapa, Rin? Aku lagi makan sama klien."

Suara Andri terdengar santai. Ada musik pelan di belakangnya.

"Aku cuma kangen," kata Karina, memaksa suaranya tetap ringan. "Kamu benar di Surabaya?"

"Iya. Kenapa sih?"

"Ingat hotel pertama kita waktu honeymoon?"

Andri tertawa kecil. "Tiba-tiba bahas itu."

"Kamar kita waktu itu 1001, kan? Kamu sampai salah masuk lantai."

"Bukan. Yang 1001 itu sekarang. Waktu honeymoon kita 801." Jawaban itu meluncur tanpa curiga. Lalu suaranya berhenti.

Karina menutup mata.

Dari sambungan telepon terdengar suara perempuan, manja dan dekat sekali.

"Aa, makanannya sudah datang. Cepat sini."

Andri buru-buru berkata, "Aku telepon lagi nanti."

Sambungan terputus.

Ponsel nyaris terlepas dari tangan Karina. Dia mencengkeram tepi wastafel. Ubin di bawah kakinya seperti bergerak, tetapi kali ini dia tidak membiarkan dirinya jatuh.

Bertahun-tahun lalu, saat mereka baru menikah, Karina pernah berkata sambil bercanda bahwa pengkhianatan adalah satu hal yang tidak akan pernah dia maafkan.

"Kalau kamu selingkuh, aku akan membuatmu membayar semuanya."

Andri memeluknya dari belakang dan tertawa. "Aku nggak akan sebodoh itu."

Ternyata dia memang sebodoh itu.

Karina membasuh wajah, merapikan rambut, lalu keluar dari toilet. Dia tidak lagi menunggu lift. Angka sepuluh sudah tertanam di kepalanya.

Di lantai sepuluh, lorong berkarpet begitu sunyi sampai bunyi hak sepatunya terdengar seperti hitungan mundur. Nomor kamar berurutan di sisi kanan.

Setiap langkah menarik satu kenangan ke permukaan. Andri menyuapinya bubur saat demam. Andri menunggu di luar ruang pemeriksaan ketika dokter pertama kali menyebut peluang hamilnya nyaris tidak ada. Andri tidur membelakanginya setelah Mama Kusnadi kembali bertanya kapan mereka memberi cucu.

Mana yang sungguh-sungguh? Mana yang sekadar kebiasaan seorang lelaki yang terlalu pengecut untuk pergi?

Karina membuka galeri ponsel. Foto terakhir mereka diambil tiga bulan lalu, pada ulang tahun pernikahan. Andri tersenyum sambil memegang kue murah yang dibeli di minimarket. Di balik foto itu, mungkin sudah ada pesan-pesan yang dihapus, alasan lembur, dan tiket perjalanan yang tidak pernah ditunjukkan kepadanya.

Jempol Karina berhenti di tombol rekam suara. Dia menyalakannya, lalu memasukkan ponsel ke saku blazer. Kalau Andri kembali berbohong, malam ini kebohongan itu akan punya suara.

995.

997.

999.

Di ujung lorong, seorang pelayan mendorong troli keluar dari kamar 1001. Di atasnya ada dua piring steak, sebotol minuman, mawar merah, dan lilin makan malam yang belum sempat padam.

Karina berhenti tepat di depan pintu.

Aroma mentega dan lada hitam dari troli mengaduk perutnya. Pada ulang tahun terakhir mereka, Andri mengaku terlalu sibuk untuk makan malam di luar. Sekarang dia menyiapkan lilin untuk perempuan lain.

Pelayan itu sempat memandang wajahnya, lalu cepat-cepat menunduk. Karina tahu apa yang terlihat olehnya: seorang istri yang datang terlambat ke pesta pengkhianatannya sendiri.

Tangannya terangkat menuju bel kamar 1001.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!