Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Sinar matahari pagi menyinari ruang makan utama kediaman Van Der Berg, namun suasana di dalamnya sama sekali tidak terasa santai.
Clara duduk di kursi kebesarannya, menatap nanar ke arah meja makan. Tidak ada lagi roti panggang selai stroberi atau kopi decaf favoritnya. Sebagai gantinya, meja itu dipenuhi oleh semangkuk besar oatmeal organik, sup kaldu tulang salmon, segelas susu kehamilan bernutrisi tinggi, dan setumpuk buah-buahan segar yang sudah dipotong rapi.
Di sampingnya, Alexio duduk dengan postur tegap layaknya seorang jenderal yang sedang mengawasi medan perang. Pria itu baru saja menyingkirkan tablet gambar milik Clara dari atas meja dan menyerahkannya kepada Reno untuk dijauhkan.
"Alexio," keluh Clara, merengut menatap suaminya.
"Itu tablet dengan layar anti-radiasi. Aku hanya ingin merevisi satu sketsa gaun untuk klien VIP di Dubai. Hanya lima menit."
"Tidak ada sketsa, tidak ada radiasi sekecil apa pun, dan tidak ada pekerjaan yang membuat otakmu stres," jawab Alexio dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
Ia mengambil sendok, mengaduk sup kaldu itu agar sedikit dingin, lalu menyodorkannya ke depan bibir istrinya.
"Buka mulutmu, Moya zhizn. Janin kita membutuhkan asupan protein, bukan gambar gaun."
Clara menghela napas pasrah, membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang penguasa dunia bisnis yang kini mendadak beralih profesi menjadi perawat pribadinya.
Sejak dr. Wijaya mengumumkan kehamilannya kemarin, Alexio benar-benar mengubah mansion ini menjadi benteng dengan protokol keamanan medis tingkat militer.
Lantai marmer yang licin telah dilapisi karpet wol tebal agar Clara tidak terpeleset. Sepatu hak tinggi miliknya disita dan dikunci di brankas. Bahkan, Alexio berencana akan membatalkan seluruh perjalanan bisnisnya ke luar negeri selama tiga bulan ke depan hanya untuk memastikan ia bisa mengawasi Clara dua puluh empat jam penuh.
"Kalau kau terus mengurungku seperti ini, aku bisa mati kebosanan sebelum bayi ini lahir, Sayang," gerutu Clara, meski sudut bibirnya menyiratkan kebahagiaan.
Alexio meletakkan mangkuk yang sudah kosong. Ia mengusap pipi istrinya dengan punggung tangannya, tatapannya melembut.
"Kau adalah hal paling berharga yang kumiliki, Clara. Kehilanganmu lima tahun lalu sudah cukup membuatku nyaris gila. Kali ini, aku tidak akan mengambil risiko sekecil apa pun. Kau dan bayi kita adalah prioritasku, di atas segalanya."
Kata-kata manis yang diucapkan dengan nada posesif mematikan itu selalu berhasil membungkam protes Clara. Wanita itu akhirnya hanya bisa tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Sementara itu, di kedalaman ruang bawah tanah mansion, suasana yang jauh lebih gelap dan berbahaya sedang berlangsung.
Di dalam laboratorium rahasia, Ken dan Key sama sekali tidak menyentuh sarapan mereka.
Layar monitor raksasa di hadapan mereka tidak lagi menampilkan data saham atau grafik fashion. Layar itu kini dipenuhi oleh deretan kode pelacak militer dan peta satelit global yang terpusat pada satu titik: Eropa Timur.
Ken mengetik dengan kecepatan kilat, keningnya berkerut tajam di balik kacamatanya.
"Enkripsi mereka menggunakan sistem algoritma Hydra. Setiap kali aku mencoba memecahkan satu node IP, alamat itu membelah diri menjadi tiga server palsu di negara yang berbeda. Mereka bukan peretas bayaran biasa, Key. Ini standar intelijen negara."
Key, yang sedang membongkar dan memodifikasi sebuah drone tempur mini di meja kerjanya, mendengus dingin.
"Tidak ada sistem yang tidak bisa ditembus di dunia ini, Kak Ken. Gunakan metode Trojan balik," saran Key, merakit sebuah chip mikro menggunakan pinset.
"Biarkan mereka mengira mereka berhasil menembus firewall lapis kedua kita, lalu sisipkan malware pelacak milikku ke dalam paket data yang mereka tarik."
Ken mengangguk, menyetujui taktik jebakan sang adik. Jemarinya kembali menari di atas keyboard. Beberapa saat kemudian, sebuah bunyi beep panjang terdengar, disusul dengan munculnya sebuah dokumen rahasia berlogo singa Van Der Berg dari arsip sepuluh tahun lalu yang terkunci rapat.
"Aku berhasil membedah lambang ular kobra bermahkota yang mereka kirim semalam," ucap Ken, matanya membaca cepat dokumen yang baru saja terbuka.
"Itu bukan sekedar logo geng jalanan. Itu adalah lambang Bratva Volkov, sindikat mafia paling mematikan dan tertutup di Rusia."
Key menghentikan aktivitasnya, matanya memicing menatap layar. "Bratva Volkov? Apa hubungannya dengan Papa?"
"Sepuluh tahun lalu, sebelum Papa bertemu Mama, Van Der Berg Group berekspansi ke pasar Eropa Timur," Ken membacakan riwayat dokumen tersebut dengan nada datar.
"Bratva Volkov mencoba memeras dan menyabotase jalur logistik Van Der Berg. Sebagai balasan, Papa tidak bernegosiasi. Papa menghancurkan seluruh basis finansial mereka, membantai para pemimpinnya dalam satu malam, dan melumpuhkan sindikat itu hingga ke akar-akarnya."
"Oh," Key tersenyum miring, sebuah senyuman kejam yang seratus persen diwarisi dari gen Alexio.
"Pantas saja mereka menyebutnya 'hutang darah'."
"Pemimpin mereka yang sekarang diyakini adalah Dmitri Volkov, putra dari pemimpin yang dieksekusi Papa," lanjut Ken.
"Dan sepertinya, Tuan Dmitri baru saja membangun kembali kerajaannya dari abu, dan tujuan pertamanya adalah membalas dendam pada Papa."
Tiba-tiba, radar udara di layar monitor paling kiri berkedip merah. Alarm senyap menyala, menandakan adanya benda asing yang melanggar batas zona udara mansion Van Der Berg.
"Ada drone siluman tak teridentifikasi memasuki perimeter udara mansion dari arah utara," lapor Ken cepat.
"Ukurannya sangat kecil, lolos dari radar sensor konvensional penjaga keamanan di luar."
Key langsung melompat dari kursinya, matanya berbinar memancarkan bahaya.
"Urusan udara adalah spesialisasi ku. Jangan biarkan benda kotor itu mendekati jendela kamar Mama dan calon adik bayi kita!"
Key menekan sebuah tombol merah di meja kerjanya. Dari atap laboratorium yang tersembunyi, empat buah micro-drone pemangsa buatan Key melesat ke udara dengan kecepatan tak kasat mata.
Dalam hitungan detik, di atas langit-langit mansion yang cerah, drone siluman penyusup itu langsung disergap.
Micro-drone milik Key menembakkan gelombang elektromagnetik jarak dekat (EMP), menggoreng seluruh sirkuit drone musuh tersebut tanpa suara ledakan yang berarti, lalu mencengkeram badannya yang mati total dan membawanya turun langsung ke laboratorium.
Begitu bangkai drone musuh itu tiba di meja kerja Key, kedua anak jenius itu langsung membedahnya.
"Bukan drone peledak," gumam Ken setelah memindai benda tersebut.
"Ini drone pengintai. Mereka sedang memetakan tata letak mansion kita."
Key menarik sebuah chip kecil dari dalam badan drone tersebut, matanya menyipit tajam.
"Kak Ken... mereka tidak sedang mencari kelemahan di sistem keamanan fisik Mansion ini."
"Lalu apa?"
Key menatap kakaknya dengan raut wajah yang kini sepenuhnya berubah serius dan dingin.
"Mereka mencari kelemahan psikologis Papa. Dan saat ini, kelemahan terbesar sekaligus harta paling berharga Papa... adalah Mama dan adik bayi di dalam perutnya."
Ken mengatupkan rahangnya erat-erat. Aura di sekitar bocah itu mendadak berubah menjadi sangat mengintimidasi.
"Kita tidak boleh memberitahu Papa dulu," putus Ken.
"Jika Papa tahu Volkov mengincar Mama yang sedang hamil, Papa akan kehilangan akal sehatnya dan membumihanguskan Eropa Timur. Itu akan memicu perang terbuka yang bisa membuat Mama stres."
"Setuju," Key mengangguk mantap, mengepalkan tangan kecilnya.
"Untuk saat ini, kita yang akan menjadi perisai bayangan Mama. Kita hancurkan mata-mata Kobra ini satu per satu sebelum mereka menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan monster yang salah."
Bersambung...
semoga cepat hamil lg agar keluarga Alexio semakin ramai 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰
semangat up thourr,, slalu setia menunggu 💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥
semangat thourr,, sehat slalu dan murah rezeki nya Aamiiin 🤲🤲🤲💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥