Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.
Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?
Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesan Pertama
Mobil berhenti di samping rumah keluarga Senja. Mereka turun bersamaan, selanjutnya Rafka menyalami satu persatu Om atau Tante Senja yang ia temui atau berpapasan. Sampai depan pintu masuk.
Senja tertawa saat kembali menemui susunan duduk mereka, sama seperti kemarin dan Rafka di belakang menatap bingung. “Kalian ini lagi simulasi nikah massal kah?” gadis itu melangkah masuk, tidak lupa mempersilahkan Rafka.
“Wih.. di bawa beneran pawang barunya” nyeletuk Riri membuat Senja memutar mata malas.
“Ngapain sih duduk nya begini, sini yang cewe kita merumpi” Ajak Senja mengambil posisi duduk yang pas untuk berkumpul di temani minuman serta camilan lainnya. Rafka sendiri memilih mendekati Wisnu yang juga memanggil nya mendekat. Sekalian berkenalan dengan yang lainnya.
“Pesan seblak yuk?” ajak Luna kakak sepupunya yang langsung di setujui sama yang lain.
“Aku ngga suka seblak kak” Protes Senja. Untuk makanan yang tercampur dan pedas itu cukup buat Senja menderita jika memakannya, itulah yang membuat Senja kurang suka. “Mie Ayam aja, enak”
Mereka sontak mencebik kurang suka “Seblak itu enak, Senja. Kamu aja yang ngga bisa makan, setiap makan keselek mulu!”
“Ya bukan mau ku juga keselek, itu karena apasih yang nyengat itu. Ngga enak!”
“Ya sudah, kamu Bakso Aci aja. Jangan Mie ayam elah, ngga bosan apa?!”
Senja cemberut “Ya sudah, Bakso Aci! Kita makan di sini?”
“Di rumah kak Luna aja. Jangan di sini, di omelin bentar beli makanan di luar” setelah semua setuju mereka mulai mencari penjual yang buka di hari Lebaran sekarang.
Senja hanya diam, soal milih-milih ia serahkan pada Sepupu dan Kak Hiza yang handal semua. Ngomong-ngomong tentang Kak Hiza, si Bumil lah yang paling Excited entah suaminya tau atau tidak dengan rencananya sekarang. Senja sendiri tidak mau ambil pusing, mungkin ini salah satu ngidamnya. Asal tidak berlebihan seharusnya aman kan? Senja juga tidak yakin.
Disaat yang lain sibuk dengan kemauan masing-masing Senja justru semakin diam. Perutnya semakin nyeri sekarang. Sakitnya sudah dari Pagi tadi, Senja tau kenapa ia mengalami nyeri seperti ini. Sudah mau tanggalnya kena. Tapi sakit sekarang lebih parah dari sebelumnya. Sakit sekali.
Dengan pelan Senja mendekatkan diri ke dinding guna menyandarkan diri di sana, karena yang terdekat tepat di samping Rafka, maka mau tak mau ia tetap mendekat. Toh Rafka cowok yang melamarnya kemarinkan? Calon Suami lah istilahnya.
Begitu Senja tepat di sampingnya, Rafka menoleh menatap wajah Senja yang tengah menutup mata. Sesekali alisnya mengkerut seperti menahan sakit. “kenapa?” tanya Rafka pelan membuat Senja membuka matanya.
“Nyeri perut sama sakit pinggang, mau jatuh tempo” suara Senja tak kalah pelan nyaris tak terdengar.
“Bawa obat nyeri? Atau minum sesuatu?” Tanya Rafka lagi, ia mengerti tanpa perlu di jelaskan detail lagi.
Gadis itu menggeleng “Hilang sendiri nanti, mau tidur ajalah” sesaat ia terdiam, teringat sesuatu membuatnya bergerak beranjak. Tapi gerakannya di hentikan Rafka.
“Mau kemana?”
“Mau ambil tasku” Senja menunjuk dimana tasnya berada. Rafka tak menjawab pria itu justru sudah berdiri mengambil tas milik Senja.
“Ini” Senja mengerjap pelan. Oke kesan pertama untuk Rafka dari Senja adalah Peka dan punya inisiatif tinggi. Karena Senja tidak kunjung mengambil tas yang ia ulurkan, Rafka pun menaruh di pangkuan Senja lalu kembali duduk di tempatnya semula.
“Oh iya, terima kasih” Rafka menggangguk pelan. Senja mulai mencari sesuatu di dalam tasnya.
Ketemu, tangannya mengeluarkan Hand Warmer - Penghangat Tangan Instan yang selalu ia bawa kemana-mana. Dia sering memakai itu apalagi di kondisinya sekarang. Cukup meringankan rasa nyeri yang menderanya. Hangatnya tetap terasa meski hanya di tempelkan di baju.
Rafka yang hanya diam memperhatikan sedari tadi. Setau dia, perempuan jika sudah tanggalnya, akan galak jadi diam lebih baik sekarang. Dia juga masih harus memahami sifat dan sikap Senja yang mudah sekali berubah dalam hitungan detik.
Cukup lama mereka berdiam. Rafka membiarkan Senja istirahat sejenak. Istirahat di ruang yang rame tidak lah mudah. Dan dia kembali masuk dalam pembicaraan laki-laki.
“Hiza, Senja sama Rafka sudah datang?” itu suara Bunda, Wanita paruh baya itu baru saja keluar ke tempat anak muda berkumpul. Karena yang ia temui hanya Hiza.
Hiza menoleh “Sudah, Bun. Itu mereka” Bunda mengikuti arah tangan Hiza. Benar itu dua manusia yang sedang dicari.
“Senja, itu Rafka kenapa ngga di ajak makan? Dari tadi sampe-nya?” Tanya Bunda sembari menghampiri mereka. “Kenapa? Perutnya sakit?”
Mendengar suara Bunda, Senja langsung membuka matanya “Bunda.. iya Perut Senja nyeri tadi. Tapi sudah mendingan kok sekarang”
“Makan dulu sana, Cuma di rumah tadikan Sarapan sekarang sudah hampir siang tuh. Sana masuk ajak Rafka sama yang lain. Ke sini tuh makan!” Bunda sudah beranjak tak memedulikan wajah Senja yang sudah ia manyun-manyunkan. “makan Wisnu, Hiza!. Kalian juga duduk aja dari pagi di sini ngga beranjak” tolong di ingat, Bunda juga ibu-ibu yang suka mengomel pada umumnnya. Dan omelan Bunda hanya di balas cengengesan dan tuduh-menuduh oleh sepupu kurang ajar nya itu.
Senja menghela nafas pelan “Ayo makan” Ajak Senja “Ayo makan weh, kalian ini parah betul” Like Mother Like Son! Sekarang ialah yang melanjutkan omelan Bundanya.
Dara mencebik “Kita kan makan Seblak nanti. Sudah di pesan ini”
Senja berkacak pinggang “Itukan buat kita, lah terus cowo sama suami kalian itu? Gigit jari doang? Ajak dulu mereka makan baru kita ke rumah Kak Luna!”
Hiza dan Luna mengangguk setuju “Eh iya, kasian mereka. Parah memang Dara ini. Suami sendiri ngga di urus! ” Dara melempar tisu ke arah Luna. “sembarangan kalau ngomong”
Tak mempedulikan sepupunya yang ribut, Senja justru kembali mendekatkan diri ke Rafka “Mau makan apa? Eh liat sendiri aja ya ke dalam, ayo!” entah sadar atau tidak tapi Senja sudah menarik tangan Rafka untuk mengikutinya. Di depan mereka ada pasangan Wisnu dan Kak Hiza.
“Mau pergi ya nanti?” Tanya Rafka. Senja mengangguk “Iya, kerumah Kak Luna, mereka mau makan Seblak jadi kesana deh kita. Kamu di sini ngga papa kan? Ada bang Wisnu kok”
“Oh, Girl Time?” Senja mendengus, mana ada Girl Time. Para laki-lakinya kaya cacing kepanasan pasti langsung nyusul. Ngga pernah berhasil setiap mereka mengadakan acara khusus perempuan.
“Ngga juga” Rafka menatap bingung “Nanti kamu tau sendiri. Oh iya Kunci mobil titip ya”
Di tempat makanan yang sudah tersaji rapi di tempat, Senja hanya mempersilahkan Rafka memilih. Ia setia menemani di samping, sesekali tangannya menyomot makanan yang ia suka. Meski kena tegur Rafka bahkan Pria itu menawarkan untuk di taruh di piringnya. Tapi senja menolak, hanya satu atau dua saja tidak banyak.
Setelah memastikan Rafka dapat tempat duduk dan melahap makanannya. Senja dan yang lainnya bergegas ke Rumah Luna, tidak jauh dari rumah tantenya. Jalan kaki pun bisa. Karena cuaca cukup terik mereka memutuskan memakai motor saja. Saling berboncengan.
Di lihat dari aplikasi pesanan, makanan mereka dalam proses pengantaran ke alamat tujuan. Itu sebabnya mereka buru-buru. Khawatir duluan sampai kurir nya di banding mereka.
Di rumah tante Senja. Bunda memindai mencari keberadaan sang Putri dan Menantunya. Tapi yang di temukan hanya para laki-laki. Kemana semua gadis-gadis itu. “Mana calonnya Senja, Kak? Katanya datang?” itu adek Iparnya Bunda yang bertanya.
“Itu yang di samping Wisnu. Pakai kemeja Navy” tunjuk Bunda.
“Ganteng loh, Kak. Senja ketemu dimana?”
Bunda menghela nafas. Ketemu apaan. Langsung di lamar gitu kok. “Tetangga. Kemarin langsung datang ngelamar” Ipar Bunda terkejut
“Bagus dong. Bearti dia sudah mantap. Ngga ngajak pacaran aja” Bunda membenarkan itu, tapi entahlah, Bunda hanya bisa mendoakan yang terbaik. Ia juga menyukai Rafka dan mendukung hubungan anaknya “Doakan yang terbaik saja” Bunda jalan menuju Wisnu dan Rafka.
“Wisnu, mana istrimu? Senja juga mana?” Ibu tiga anak itu mendudukkan dirinya di samping Wisnu.
“Ke rumah Luna. Mau nyeblak mereka” Wisnu melahap makanannya tampak seperti buru-buru, mengundang kernyitan sang Bunda.
“Kamu kenapa makannya kaya ngga pernah makan gitu? Pelan-pelan, Bang. Keselek nanti” Bunda sendiri menatap ngeri ke arah Wisnu. Tangannya bahkan sudah meraih air gelasan dan menancapkan sedotan. Jaga-jaga saja kalau anaknya keselek.
Wisnu menelan makanannya supaya bisa menjawab Bundanya “Itu menantu Bunda susah di kasi tau, lagi hamil juga malah makan seblak” Nadanya sewot sekali. Tampak jelas di wajah calon Ayah itu tidak menyetujui kemauan Hiza.
“Loh, Hiza juga? Jangan berlebihan makannya, bang. Kasi tau Hiza baik-baik ya” Meski tidak membenarkan keinginan menantunya. Tapi Bunda tetap harus menasehati Putranya agar tidak kelepasan memarahi istrinya.
“Lagian, di sini banyak makanan, kok malah beli makanan di luar. Bingung Bunda tuh sama para gadis di sini. Rafka di tinggal lagi kasian. Sabar ya, Raf. Di temani Wisnu dulu” Bunda jadi tidak enak hati juga pada Rafka. Di ajak kesini eh malah di tinggal. Senja-senja.
Rafka tersenyum “Ngga papa, Bun. Senja juga sudah ngomong tadi” Ah betapa beruntungnya jika Senja berhasil dengan Rafka nanti. “Gahez dimana, Bun?”
“Ada. Di kamar sepupunya dia. Kumpul sendiri juga. Kalau di sini kan yang sudah berumur. Mereka yang masih pelajar punya perkumpulan sendiri. Eh kenapa kamu keselek, makanya makan jangan buru-buru!” Wisnu berakhir keselek sendiri mendengar Bundanya bilang berumur. Yang benar saja, ia masih muda.
“Bunda sembarangan banget kalau ngomong! Berumur tuh Bunda. Kita juga masih muda!” Sewot Wisnu, Rafka dan Bunda tertawa mendengar layangan protes Wisnu.
“Loh, maksud bundakan kalian sudah ada yang nikah. Cuma beberapa aja yang belum. Sudah kerja semua. Itu biar beda aja penyebutannya” Wajah Wisnu masih penuh dengan rasa tak terima. Hal itu justru semakin membuat Bunda tertawa.
“Tuh, Ka! Kamu di bilangin berumur sama Bunda. Baru sehari ikut keluarga sini sudah di katain aja” kompor Wisnu seakan tak terima kesal sendiri.
Bunda membelalakkan mata “dih, Bunda bilangin kalian bukan Rafka, ya!” tangan Bunda terulur memukul pelan bahu anak sulungnya. Rafka hanya tertawa menanggapi, mendengarkan perdebatan Ibu dan Anak itu juga seru. Ya setidaknya itu bisa bikin Rafka terhibur. Tidak ada Senja yang bisa ia jaili atau jadi bahan perhatiannya.