Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Sepatu dari Dua Arah

Dua minggu kemudian, Pak Darto membangunkan Laras dengan semangkuk mi instan yang diberi telur dan sawi terlalu banyak.

"Selamat ulang tahun, Nduk."

Laras mengucek mata. "Ini pagi-pagi kenapa makan mi?"

"Biar panjang umur."

"Kalau mau panjang umur, harusnya saya dikasih buah."

Pak Darto mendecakkan lidah. "Dikasih mi protes. Dikasih bengkel juga paling protes karena bau oli."

Di meja ada kue kecil buatan Mbah Surti, kartu dari Nadia, dan sebuah gantungan kunci berbentuk roda gigi. Tidak mewah, tetapi rumah itu terasa lebih penuh daripada biasanya.

Pak Darto duduk di seberang. "Enam belas tahun lalu, Bapak nemu kamu demam tinggi dekat terminal. Jadi tanggal itu yang kita pakai."

Laras berhenti mengaduk mi.

Setiap ulang tahun selalu mengingatkannya bahwa tanggal lahir sebenarnya mungkin berbeda. Namun tangan kasar Pak Darto yang mendorong mangkuk hangat ke arahnya membuat pertanyaan itu tidak terasa mendesak.

"Yang penting saya ketemunya sama Bapak," katanya.

Pak Darto batuk kecil, lalu pura-pura sibuk mengambil kerupuk.

Nadia datang sebelum jam sekolah membawa gelang dari tali sepatu yang ia anyam sendiri. Warnanya hitam-merah dan simpulnya tidak terlalu rapi.

"Ini biar kamu punya aksesori yang nggak terlalu cewek," katanya.

Laras langsung memasangnya. "Kalau putus pas berantem, jangan nangis."

"Makanya jangan berantem terus."

Mbah Surti muncul belakangan dengan kue bolu yang bagian atasnya sedikit gosong. Rayhan menancapkan enam belas lilin, tetapi hanya ada dua belas di bungkus. Empat sisanya diganti batang korek api yang belum dinyalakan.

"Yang penting niat," katanya serius.

"Yang penting rumah ini nggak kebakar," balas Laras.

Mereka menyanyikan lagu ulang tahun terlalu cepat. Pak Darto salah masuk nada, Mbah Surti memukul mejanya supaya semua mengikuti tempo, dan Rayhan tertawa sampai lilin keburu meleleh. Untuk beberapa menit, Laras tidak memikirkan tanggal lahir asli atau keluarga yang tidak pernah datang mencarinya. Rumah kecil itu sudah cukup ramai untuk membuat masa lalu kehilangan suaranya.

Sepulang sekolah, Galih menunggu di depan kelas dengan kotak sepatu putih.

"Apaan?" tanya Laras.

"Buka di rumah."

"Bom?"

"Kalau bom, gue nggak akan berdiri sedekat ini."

Di dalam kotak ada sepasang sepatu olahraga putih dari toko lokal. Ukurannya tepat. Pada tutup bagian dalam, Galih menulis pendek: Biar nggak pakai sandal jepit terus.

Nadia memekik lebih heboh daripada orang yang menerima hadiah. "Dia tahu ukuran kaki kamu!"

"Paling lihat pas olahraga."

"Lihat ukuran kaki orang itu bukan kebiasaan normal."

Galih sudah pergi sebelum Laras sempat mengucapkan terima kasih dengan benar.

Di Gang Mawar, kabar tentang sepatu itu menyebar lebih cepat daripada azan dari tiga musala. Rayhan datang ke rumah Pak Darto, melihat kotak putih di meja, lalu bertanya siapa yang memberi.

"Galih," jawab Laras santai.

Rayhan mengangguk. Wajahnya tenang, tetapi malam itu ia membongkar kaleng biskuit di bawah ranjang Mbah Surti. Isinya uang receh dan lembaran kecil yang ia kumpulkan dari sisa uang jajan.

Keesokan harinya, selepas sekolah, Rayhan tidak pulang.

Pukul lima, Mbah Surti sudah berdiri di depan warung sambil memaki setiap motor yang lewat. Pukul enam, Pak Darto ikut mencari ke sekolah dan rumah teman. Laras menelepon nomor yang diberi Yanti, tetapi tidak aktif.

Saat langit benar-benar gelap, Rayhan turun dari angkot di ujung gang. Seragamnya kusut. Di tangannya ada kantong toko dari sebuah mal di kota.

Mbah Surti langsung menjewer telinganya.

"Kamu ke mana saja, Le? Mau bikin Mbah mati berdiri?"

"Beli sesuatu."

"Beli apa sampai lupa pulang?"

Rayhan melepaskan diri lalu berlari ke rumah Pak Darto. Napasnya tersengal ketika menaruh kotak sepatu di depan Laras.

"Buat kamu."

Laras menatap kotak itu, lalu wajah pucat Rayhan. "Lo pergi sendiri ke kota cuma buat ini?"

"Tadinya mau beli di dekat sini. Nggak ada ukuran kamu."

Sepatu di dalamnya berwarna hitam dengan garis putih. Merek yang cukup mahal untuk ukuran anak Gang Mawar. Label harganya sudah dicopot, tetapi Laras tahu nilainya jauh di atas semua uang jajan Rayhan selama berbulan-bulan.

"Ray, ini kebangetan. Balikin."

"Nggak bisa."

"Bisa. Besok kita ke tokonya."

"Uangnya udah jadi sepatu. Kalau dibalikin, aku nggak punya hadiah."

"Gue nggak minta hadiah."

Rayhan mengangkat mata. "Tapi aku mau kasih."

Kalimat itu sederhana. Keteguhan di wajahnya membuat Laras kehilangan jawaban.

Mbah Surti tiba di belakang sambil terengah. "Sepatu bisa dicari lagi! Kalau kamu hilang, Mbah nyarinya ke mana?"

Rayhan menunduk. "Maaf, Mbah."

Pak Darto memeriksa rute yang ditempuhnya. Rayhan naik angkot dua kali, salah turun, lalu berjalan hampir satu kilometer ke mal. Pak Darto tidak memuji keberaniannya. Ia menjelaskan risiko tersesat dan membuat Rayhan berjanji tidak pergi sejauh itu tanpa orang dewasa.

"Niat baik tetap harus pakai akal, Le," katanya.

Rayhan mengangguk. "Iya, Pak."

Malam itu, dua kotak sepatu diletakkan berdampingan. Galih memilih putih, sesuai kebutuhan Laras untuk sekolah. Rayhan memilih hitam, karena pernah melihat Laras berhenti di depan etalase dan memandangnya agak lama.

"Dua-duanya bagus," kata Pak Darto.

"Yang satu bikin saya bisa ganti-ganti," jawab Laras.

Rayhan tidak mengatakan apa-apa. Ia menatap kaki Laras, menunggu pilihannya.

Hari Senin, Laras memakai sepatu putih dari Galih ke sekolah. Rayhan mengetahuinya dari Nadia yang mampir ke warung dan tanpa sengaja bercerita.

Sepanjang sore, Rayhan murung. Ia menjawab Mbah Surti seperlunya lalu duduk mengerjakan soal tanpa membalik halaman.

Laras datang menjelang Magrib. Ia membawa kotak hitam di bawah lengan.

"Kenapa nggak dipakai?" tanya Rayhan, suaranya datar.

Laras duduk di bangku warung. "Sayang dipakai sekolah. Putih gampang dicuci. Yang ini buat main basket sama lari."

"Oh."

"Oh doang?"

Rayhan masih menahan diri. "Aku pikir kamu nggak suka."

Laras membuka kotak. Pada bagian dalam lidah sepatu, ia sudah menulis namanya dengan spidol hitam: LARAS.

"Kalau nggak suka, ngapain gue kasih nama?"

Wajah Rayhan akhirnya cerah.

Laras mengenakannya sore itu dan mengajaknya berjalan sampai ujung gang. Ukurannya sedikit kebesaran, tetapi Rayhan sudah menyelipkan alas tambahan dari toko.

"Kok tahu ukuran gue?"

"Aku ukur sandal kamu pakai penggaris."

Laras tertawa. "Kalian berdua sama-sama aneh."

"Kalian?"

"Lo sama Galih."

Senyum Rayhan turun setengah tingkat.

Malamnya, Laras menyimpan sepatu hitam itu di bagian paling atas lemari, terbungkus kertas agar tidak terkena debu bengkel. Sepatu putih Galih tetap di dekat pintu untuk dipakai besok.

Ia tidak menyadari bahwa memilih mana yang dipakai dan mana yang disimpan justru memperlihatkan hadiah mana yang paling takut ia rusakkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!