Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Nggak Sudi Datang ke Pesta Kalian
Dan Rendra melihat Laras duduk sebagai istri Mayor Bramantyo Adiningrat.
Tak ada satu pun sopir yang membunyikan klakson.
Dua mobil pengantin diam saling berhadapan, hanya dipisahkan beberapa meter aspal dan tatapan puluhan tamu yang mulai berkumpul di teras gedung.
Vania turun lebih dulu.
Gaunnya berkilau dengan payet, roknya lebar sampai seorang pendamping harus mengangkat ujung kain. Ia tersenyum ke arah tamu, tetapi pandangannya tidak pernah lepas dari mobil hitam di depannya.
Bu Marni menyusul dengan kebaya merah terang. "Kenapa mereka berhenti di jalur kita?"
Pengelola gedung berlari menghampiri. "Maaf, Bu. Mobil catering menutup jalur kiri. Rombongan aula utama sudah tiba lebih dulu. Kami akan pindahkan kendaraan itu."
"Aula utama?" Bu Marni mengulang.
Di belakang mobil Laras, kendaraan terus masuk. Ratih turun dari mobil kedua. Beberapa perwira menyusul, lalu Pak Sutrisno dan para pekerja peternakan yang sudah berganti pakaian bersih. Tamu gedung mengenali seragam, jabatan, dan orang-orang yang selama ini hanya mereka lihat saat acara resmi satuan.
Rombongan Rendra terdiri dari tiga mobil keluarga dan satu minibus sewaan. Di pintu aula samping, dekorasi bunga plastik tampak miring karena dipasang terburu-buru.
Perbedaannya terlalu jelas untuk disembunyikan.
Bu Marni segera meninggikan suara. "Laras sengaja memilih tempat ini untuk pamer kepada kami. Baru jadi istri mayor sudah tidak tahu diri."
Pintu mobil hitam terbuka.
Bram turun, mengitari bagian depan mobil, lalu membukakan pintu untuk Laras. Telapak tangannya terulur tanpa memaksa. Laras meletakkan ujung jari di sana agar kain kebayanya tidak tersangkut ketika turun.
Begitu berdiri, ia melihat Rendra.
Lelaki itu mengenakan pakaian pengantin dengan bunga di dada. Namun alih-alih menatap Vania, matanya mengikuti setiap gerakan Laras.
"Cantik sekali," bisik seorang tamu.
"Itu mantan istrinya dr. Rendra, kan? Yang katanya tidak punya apa-apa?"
"Sekarang jadi istri Mayor Bram. Tamu-tamunya juga bukan orang sembarangan."
Wajah Vania menegang.
Dalam kehidupan lamanya, adegan ini tidak ada. Laras seharusnya datang sebagai perempuan kalah, bukan turun dari mobil pengantin dengan seorang mayor memegang tangannya.
"Mbak Laras," panggil Vania manis, cukup keras agar semua orang mendengar. "Kebetulan sekali. Mau memberi selamat kepada kami?"
Rendra tampak hendak maju, tetapi Bram bergeser setengah langkah dan berdiri di sisi Laras.
Laras menatap papan acara di pintu. Nama dirinya dan Bram tertulis di aula utama. Nama Rendra dan Vania berada pada penunjuk aula samping.
"Saya datang untuk resepsi saya sendiri," jawab Laras.
Bu Marni mendengus. "Jangan pura-pura. Kamu pasti sengaja ingin melihat pernikahan Rendra. Baru beberapa hari cerai sudah menikah lagi. Perempuan baik mana yang begitu?"
Suara ibu-ibu di teras mulai ramai. Beberapa ponsel terangkat. Laras mengenali pola lama: Bu Marni menyerang di depan orang banyak agar dirinya malu dan menunduk.
Bedanya, hari ini Laras tidak berdiri sendirian dengan koper tergeletak di lantai.
Ia mengangkat buku nikah dari tas kecilnya.
"Pernikahan saya sah, dicatat, dan dilakukan atas persetujuan dua orang dewasa. Saya tidak merebut pasangan siapa pun. Saya juga tidak memesan gedung setelah melihat undangan orang lain."
Tatapan orang-orang beralih kepada Vania.
Pengelola gedung yang panik ikut berkata, "Benar, Bu. Pihak Mayor Bram memesan aula utama lebih dulu. Pesanan aula samping masuk beberapa hari kemudian."
Vania kehilangan senyum selama sepersekian detik.
Bu Marni buru-buru menyahut, "Kami juga tidak butuh pesta kalian. Ayo, Rendra. Tamu kita menunggu."
Namun ia masih berdiri di tempat, menatap panjangnya rombongan Laras. Iri dan penyesalan bergantian muncul di wajahnya.
"Kalau begitu masuklah ke pesta kalian," kata Laras. "Saya nggak sudi datang ke pesta kalian, apalagi mengganggunya."
Seorang pekerja peternakan gagal menahan tawa. Beberapa tamu lain ikut tersenyum.
Rendra akhirnya melangkah maju. "Laras, tidak perlu bicara kasar kepada Mama. Apa pun yang terjadi, dia pernah menjadi mertuamu."
"Dan sekarang bukan lagi."
"Aku cuma mengingatkanmu."
"Istriku tidak membutuhkan peringatan darimu."
Bram mengucapkannya dengan datar.
Satu kata itu, `istriku`, membuat halaman terasa lebih sunyi. Rendra menatap cincin pada tangan Laras, lalu kepada tangan Bram yang berada di dekat punggung istrinya tanpa menyentuh.
Bram menghadap Bu Marni. "Saya tidak mencampuri pesta Ibu. Sebagai gantinya, jangan pernah mengganggu istri saya lagi. Jangan datang ke rumah kami, jangan paksa dia meminum apa pun, dan jangan gunakan grup WhatsApp untuk menyebarkan tuduhan."
"Kamu mengancam saya?" Bu Marni membusungkan dada.
"Saya menetapkan batas. Kalau batas itu dilanggar, kami simpan bukti dan gunakan jalur hukum serta satuan."
Ratih berdiri di sisi lain Laras. "Anak saya tidak suka banyak bicara, Bu Marni. Jadi sebaiknya dengarkan saat dia bicara."
Bu Marni membuka mulut, tetapi dua perwira senior sudah berhenti di belakang Bram. Mereka tidak ikut campur, hanya menunggu rombongan bergerak. Kehadiran mereka cukup membuat suaranya menghilang.
Vania tidak mau membiarkan percakapan berakhir seperti itu. Ia menggenggam buket lebih erat lalu tersenyum kepada Laras.
"Yang penting kita sama-sama bahagia, Mbak. Aku dan Mas Rendra ingin segera punya anak. Semoga Mbak juga bisa menerima kalau pernikahan baru ini tetap tidak memberi keturunan."
Serangan itu dibungkus ucapan baik, tetapi semua orang mendengar maksudnya.
Rendra justru menegang. Rahasia tentang tubuhnya terasa seperti duri yang menekan dari dalam jas pengantin. Bu Marni tidak menyadarinya dan mengangguk penuh kemenangan.
"Betul. Rumah tangga tanpa anak itu sepi."
Laras memandang mereka bergantian. Dahulu, kata-kata semacam itu mampu membuatnya bersembunyi di kamar dan menghitung hari subur sambil menyalahkan diri sendiri. Sekarang ia hanya melihat tiga orang yang membutuhkan rahim seorang perempuan untuk membuktikan harga diri mereka.
"Anak bukan piala untuk memenangkan pertengkaran," katanya. "Dan tubuh perempuan bukan bahan hinaan di depan umum."
Bram menambahkan, "Saya menikahi Laras karena dia Laras. Bukan karena fungsi tubuh yang ingin diuji orang lain."
Ratih mengangkat dagu. "Saya juga menerima Laras sebagai anak, bukan mesin cucu."
Suara setuju terdengar dari beberapa tamu perempuan. Seorang perawat rumah sakit yang menghadiri pesta Rendra bahkan berbisik kepada temannya, cukup keras untuk terekam ponsel di dekatnya.
"Waktu di lobi, Bu Marni memang memaki Laras soal anak. dr. Rendra malah mendorong istrinya sampai jatuh."
"Serius?"
"Saya lihat sendiri. Vania juga ada di sana."
Bisikan itu menyebar lebih cepat daripada musik dari dalam gedung. Beberapa tamu yang semula mengira Laras sengaja merebut perhatian mulai menatap pihak Rendra dengan jijik.
Rendra mendekati perawat tersebut. "Jangan menyebarkan cerita yang tidak lengkap."
"Saya hanya mengatakan yang saya lihat, Dok."
"Aku mendorongnya karena dia menyerang Vania."
"Lalu kenapa setelah itu Ibu Anda masih menghinanya di depan pasien?"
Rendra tidak punya jawaban yang membuatnya terlihat baik.
Vania mencoba menggandeng lengannya. "Mas, kita masuk saja. Tidak perlu meladeni."
Namun Rendra menarik lengannya tanpa sadar. Gerakan kecil itu dilihat Vania dan membuat wajahnya semakin pucat. Pada hari pernikahan mereka sendiri, lelaki itu lebih sibuk menjelaskan tindakannya kepada mantan istri daripada menenangkan pengantin baru.
Laras tidak menunggu permintaan maaf. Ia berbalik kepada Bram. "Kita masuk?"
"Kita masuk."
Dengan dua kata itu, perhatian Laras kembali kepada suaminya dan tamu mereka. Rendra tidak lagi memiliki tempat dalam arah pandangnya.
Pengelola gedung akhirnya memindahkan mobil catering. Bram memberi jalan kepada mobil Rendra untuk berbelok ke aula samping lebih dulu.
"Kami tidak akan mengambil jalur kalian," katanya. "Silakan."
Sikap itu terdengar sopan, tetapi justru membuat kekalahan Bu Marni semakin jelas. Mereka yang sengaja mengejar tempat dan tanggal Laras kini dipersilakan lewat seperti gangguan kecil.
Rendra masuk kembali ke mobil. Sebelum pintu tertutup, tatapannya bertemu dengan Laras.
Ada penyesalan di sana.
Laras tidak merasakan apa-apa.
Rombongan mereka masuk ke aula utama setelah jalur kosong. Ruangan itu dihias kain putih dan hijau, meja makanan tertata rapi, dan para tamu disambut daftar tempat duduk. Bukan pesta termewah di kota, tetapi semuanya terasa terencana dan hangat.
Pak Sutrisno memberikan hadiah berupa papan nama kayu untuk ruang kerja Laras. Rina memimpin tamu peternakan berfoto bersama. Perwira yang hadir menyelamati Bram tanpa mengabaikan Laras, bahkan beberapa istri anggota satuan meminta nomor kontaknya untuk konsultasi hewan peliharaan.
"Capek?" tanya Bram saat mereka akhirnya duduk sebentar.
"Belum. Mas Bram?"
"Saya hanya bicara empat kalimat di luar."
"Empat kalimat yang membuat semua orang diam."
"Berarti cukup."
Di aula samping, situasinya berbeda.
Bu Marni mengeluh dekorasi terlalu tipis. Beberapa rekan rumah sakit Rendra yang semula hendak duduk lama justru berpindah memberi selamat ke aula utama setelah mengetahui Mayor Bram mengadakan resepsi di sana.
Vania berdiri di pelaminan dengan senyum kaku. Setiap suara tawa dari aula sebelah terdengar seperti ejekan.
"Kenapa makanan belum dikeluarkan?" tanyanya kepada petugas catering.
"Sudah, Mbak. Lauknya baru diturunkan."
Di meja prasmanan, baki ayam bumbu telah dibuka. Uap tipis naik dari bagian atas, tetapi kuah di sudut baki mulai mengental. Seorang tamu mencium aromanya dan mengerutkan hidung.
"Kayaknya sudah lama dimasak," katanya.
"Namanya juga catering murah," sahut temannya. "Makan saja sebelum habis."
Sendok-sendok mulai menyentuh piring.
Tak seorang pun melihat minibus catering yang sejak pagi terparkir di bawah matahari, membawa baki tanpa pendingin memadai.