Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Rumah besar Wijaya yang dulunya hangat dan penuh tawa, kini berubah menjadi tempat yang dingin dan penuh kecurigaan. Pengungkapan pengkhianatan Hadi seharusnya menjadi kemenangan bagi Adrian, tetapi justru membawa masalah baru. Dewan perusahaan mulai mempertanyakan kepemimpinannya. Bagaimana bisa seorang asisten pribadi memanipulasi laporan keuangan selama dua tahun tanpa sepengetahuannya? Pertanyaan-pertanyaan itu menyebar seperti api di antara para pemegang saham.
Adrian duduk di ruang kerjanya dengan kepala tertunduk. Di hadapannya, William dan Elena duduk dengan wajah-wajah cemas. Nathan berdiri di dekat jendela, mengepalkan tangannya menahan amarah. Dan Adeline duduk di pangkuan ibunya, mendengarkan semua suara hati yang berbicara di ruangan itu.
"Apa yang akan kamu lakukan, Adrian?" tanya William dengan suara berat. "Dewan perusahaan sudah meminta pertanggungjawabanmu. Beberapa anggota keluarga juga mulai mempertanyakan kemampuanmu memimpin."
Adrian menghela napas panjang. "Aku sudah mengumpulkan semua bukti tentang Hadi. Aku akan menyampaikannya dalam rapat dewan besok. Mereka akan melihat bahwa aku tidak bersalah."
"Tapi mereka juga akan bertanya mengapa kamu tidak menyadari lebih awal," kata Elena dengan suara lembut. "Mereka akan mencari alasan untuk menurunkanmu."
Adrian menatap istrinya dengan tatapan lelah. "Aku tahu. Aku sudah memikirkan semua kemungkinan. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja."
Di sudut ruangan, Adeline merasakan kegelisahan yang menyebar di antara keluarganya. Suara hati ayahnya penuh dengan ketakutan tersembunyi. Suara hati ibunya dipenuhi kekhawatiran. Suara hati kakeknya bijaksana tetapi lelah. Dan suara hati kakaknya penuh dengan kemarahan yang terpendam.
Namun di tengah semua itu, ada suara lain yang muncul dari kejauhan. Suara Victor.
Rapat dewan besok akan menjadi saat yang sempurna. Aku akan muncul sebagai pahlawan yang menyelamatkan perusahaan. Adrian akan jatuh dan aku akan mengambil alih semuanya. Keluarga itu tidak akan pernah melihat apa yang menimpa mereka.
Adeline menegang. Dia menggenggam erat lengan ibunya dan berbisik, "Bu, Paman Victor merencanakan sesuatu untuk besok. Dia ingin terlihat seperti pahlawan."
Elena menatap putrinya dengan cemas. "Apa maksudmu, Sayang?"
"Dia akan datang ke rapat dewan," lanjut Adeline. "Dia akan berpura-pura membantu Ayah. Tapi sebenarnya dia ingin Ayah jatuh dan dia yang mengambil alih."
Adrian yang mendengar percakapan itu, mengangkat kepalanya. "Kamu yakin, Sayang?"
Adeline mengangguk mantap. "Aku mendengar suara hatinya, Ayah. Dia sangat senang karena dia pikir rencananya akan berhasil."
Keadaan semakin memburuk keesokan harinya. Adrian tiba di kantor pusat untuk menghadiri rapat dewan yang sudah dijadwalkan. William dan Elena ikut mendampingi untuk memberikan dukungan moral. Nathan juga datang, ingin melihat sendiri apa yang akan terjadi. Dan Adeline, tentu saja, tidak mau ketinggalan. Dia ingin mendengar setiap suara hati yang ada di ruangan itu.
Rapat dewan berlangsung di ruang rapat utama yang megah. Para anggota dewan duduk di kursi-kursi besar dengan ekspresi serius. Adrian duduk di kepala meja, mencoba tetap tenang meskipun jantungnya berdebar kencang.
"Tuan Adrian," kata salah satu anggota dewan dengan suara dingin. "Kami telah mendengar tentang manipulasi laporan keuangan yang terjadi di perusahaan ini. Kami ingin tahu bagaimana ini bisa terjadi tanpa sepengetahuan Anda."
Adrian berdiri dan mulai menjelaskan semua yang telah dia temukan. Dia menunjukkan bukti-bukti yang Daniel kumpulkan, menjelaskan bagaimana Hadi telah memanipulasi data selama dua tahun, dan bagaimana dia sendiri baru mengetahuinya baru-baru ini.
Para anggota dewan mendengarkan dengan seksama, tetapi tatapan mereka tetap penuh keraguan. "Ini semua sangat meyakinkan, Tuan Adrian," kata anggota dewan lainnya. "Tetapi pertanyaannya tetap sama. Bagaimana Anda bisa tidak menyadari semua ini selama dua tahun? Ini menunjukkan kurangnya pengawasan dari pihak Anda sendiri."
Adrian merasakan dadanya sesak. Dia tahu pertanyaan itu akan muncul, tetapi tetap saja terasa menyakitkan. "Aku mengakui bahwa aku seharusnya lebih waspada," katanya dengan suara rendah. "Tapi aku telah mengambil tindakan untuk memperbaiki semuanya. Pelaku sudah ditangkap dan sistem pengawasan akan ditingkatkan."
Saat itulah pintu ruang rapat terbuka dan Victor masuk dengan senyum percaya diri. Dia mengenakan jas rapi dan membawa beberapa dokumen.
"Maaf saya terlambat," kata Victor dengan suara ramah. "Saya mendengar ada masalah di perusahaan dan saya ingin membantu. Sebagai anggota keluarga, saya merasa bertanggung jawab untuk ikut menyelesaikan masalah ini."
Para anggota dewan menoleh pada Victor dengan tatapan penuh harapan. Victor telah lama dikenal sebagai pengusaha yang sukses dan berpengalaman. Kehadirannya di saat krisis terlihat seperti angin segar.
"Apa yang bisa Anda tawarkan, Tuan Victor?" tanya salah satu anggota dewan.
Victor tersenyum dan membuka dokumen-dokumennya. "Saya memiliki beberapa ide untuk menyelamatkan perusahaan. Saya juga bersedia membantu mengawasi operasional agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Saya hanya ingin yang terbaik untuk keluarga Wijaya."
Adrian mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia tahu Victor hanya berpura-pura. Tetapi para anggota dewan tampaknya mulai terpengaruh oleh kata-kata manis Victor.
Di sudut ruangan, Adeline duduk di pangkuan ibunya sambil mendengarkan dengan waspada. Suara hati Victor berbicara dengan sangat jelas.
Mereka semua percaya padaku. Lihatlah bagaimana mereka menatapku dengan penuh harapan. Adrian sudah selesai. Setelah hari ini, tidak ada yang akan menganggapnya sebagai pemimpin lagi. Dan aku akan mengambil semua yang menjadi hakku.
Adeline merasakan amarah membara di dadanya. Dia tidak bisa membiarkan Victor merusak semuanya. Gadis kecil itu turun dari pangkuan ibunya dan berjalan ke tengah ruangan.
"Paman Victor," kata Adeline dengan suara keras. Semua orang di ruangan itu diam dan menoleh padanya. "Paman Victor berbohong. Paman tidak ingin membantu. Paman ingin mengambil alih perusahaan dan menghancurkan Ayah."
Victor tersenyum kaku. "Adeline, Sayang, ini bukan tempat untuk bermain. Paman sedang berbicara dengan orang-orang dewasa."
"Aku tidak bermain, Paman," jawab Adeline tegas. "Aku mendengar suara hati Paman. Paman senang karena Paman pikir rencana Paman akan berhasil. Tapi Paman tidak akan berhasil. Karena Ayahku lebih baik dari Paman."
Ruangan itu sunyi. Para anggota dewan saling pandang dengan bingung. Victor berusaha tertawa, tetapi tawanya terdengar palsu.
"Anak kecil memang suka berimajinasi," kata Victor dengan nada meremehkan. "Tuan Adrian, mungkin sebaiknya Anda mengurus putri Anda sebelum dia mengganggu rapat penting ini."
Adrian berdiri dan berjalan mendekati putrinya. Dia menggenggam tangan Adeline dan menatap Victor dengan tatapan tajam. "Putriku tidak pernah berbohong, Victor. Dan aku tidak akan membiarkanmu merusak nama baik keluarganya."
William yang selama ini diam, akhirnya berbicara. "Saya telah mendengar cukup banyak. Victor, Anda datang ke sini dengan maksud buruk. Dan saya, sebagai pendiri perusahaan ini, tidak akan membiarkan Anda menghancurkan apa yang telah saya bangun."
Para anggota dewan terkejut mendengar perkataan William. Pria tua itu masih memiliki pengaruh besar di perusahaan. Jika William mendukung Adrian, maka posisi Adrian aman.
"Ayah," kata Victor dengan suara memohon. "Aku hanya ingin membantu."
"Kamu hanya ingin mengambil alih," potong William tajam. "Dan saya tahu segalanya. Saya tahu tentang rencanamu, tentang Marissa, tentang semua yang telah kamu lakukan untuk menjatuhkan Adrian. Dan saya tidak akan membiarkannya."
Victor tidak bisa berkata-kata lagi. Dia melihat semua orang di ruangan itu menatapnya dengan tatapan curiga. Rencananya telah gagal, sekali lagi, karena seorang gadis kecil yang tidak pernah dia anggap sebagai ancaman.
Adeline berdiri di samping ayahnya dengan kepala tegak. "Aku akan selalu melindungi Ayah," bisiknya pelan. "Tidak ada yang bisa menghentikanku."
Adrian memeluk putrinya erat, air mata bahagia mengalir di pipinya. Dia tidak pernah membayangkan bahwa gadis kecilnya akan menjadi benteng terakhir yang melindunginya dari kehancuran.
Malam itu, ketika mereka pulang ke rumah besar Wijaya, keluarga berkumpul dalam pelukan yang hangat. Mereka telah bertahan dari serangan terburuk Victor. Dan mereka tahu, selama Adeline ada di sisi mereka, tidak ada yang bisa benar-benar menghancurkan keluarga Wijaya.