Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Retak Pertama
Ratri pergi ke makam ibunya sebelum matahari tinggi.
Hari wafat itu masih dua hari lagi. Ia sengaja datang lebih awal agar tidak bertemu wartawan, kerabat palsu, atau orang-orang yang mendadak ingin ikut berduka setelah nama Nyai Ratri menjadi viral.
Wira mengemudi. Ratri meminta ia menunggu di luar pagar makam.
"Saya ingin sendiri."
"Saya tetap dalam jarak panggil."
Ratri membawa air, kain kecil, dan keranjang bunga. Ia membersihkan batu nisan, mencabut rumput di tepinya, lalu duduk di tanah tanpa peduli gaun panjangnya terkena debu.
Nama ibunya terukir sederhana.
Selama bertahun-tahun, orang menyebut perempuan itu tidak terdidik, pembawa malu, dan ibu yang memilih mati karena putrinya. Tidak satu pun dari mereka melihat foto di depan lembaga pendidikan atau catatan tentang pagar yang goyah.
Ratri membaca doa dengan suara pelan. Setelah itu, ia menaburkan bunga dan meletakkan telapak tangan di atas tanah.
Di sebelah makam ada nisan tua yang miring. Ratri ikut membersihkan daun di atasnya, kebiasaan yang diajarkan ibunya ketika mereka masih sering berziarah bersama. Ibunya selalu berkata bahwa doa tidak menjadi lebih kecil hanya karena diberikan kepada orang yang tidak dikenal.
Kenangan itu datang dengan suara, bau tanah basah, dan rasa tangan hangat yang menggenggamnya. Ratri harus berhenti beberapa kali sebelum mampu melanjutkan doa.
"Ma," katanya.
Suaranya terdengar asing karena terlalu lembut.
"Aku menemukan catatan pagar itu. Aku belum tahu siapa yang merusaknya. Aku juga belum tahu siapa yang menghapus laporan. Tapi aku akan tahu."
Angin bergerak di antara pepohonan.
Ratri menunduk.
"Maaf aku terlambat. Tiga tahun ini aku terlalu sibuk membuktikan bahwa aku tidak membunuh Larasati. Aku pikir kalau aku bertahan cukup lama, orang akan bosan memfitnah. Ternyata mereka hanya mencari kata yang lebih kejam."
Air matanya jatuh ke punggung tangan.
Di depan orang lain, Ratri selalu tahu kapan harus diam, kapan memukul balik, dan berapa harga sebuah kesalahan. Di makam itu, ia hanya seorang anak yang merindukan seseorang yang tidak bisa pulang.
"Aku lelah, Ma. Tapi aku tidak akan berhenti. Aku akan mengembalikan nama baikmu."
Ia membiarkan dirinya menangis selama beberapa menit. Setelah itu, ia menyeka wajah, merapikan bunga, dan berdiri kembali sebagai Ratri yang dikenal dunia.
Ia tidak tahu Baskara berada di balik deretan pohon beberapa puluh meter jauhnya.
Pria itu mengikuti dengan mobil lain, lalu berhenti ketika melihat Ratri ingin sendiri. Ia tidak mendekati makam. Ia hanya memastikan tidak ada orang mengganggu.
Seorang reporter infotainment muncul dari sisi belakang dengan kamera kecil. Ia berbisik kepada rekannya melalui telepon, menyebut peluang mendapatkan gambar “perempuan beracun berpura-pura berduka”.
Baskara berdiri di depannya.
"Hapus rekaman."
"Ini tempat umum."
"Makam bukan panggung."
Reporter itu mengenali wajahnya dari video PIK. Keberaniannya langsung surut. Ia menghapus rekaman di depan Baskara, menunjukkan folder sampah, lalu pergi melalui gerbang lain.
Baskara menunggu sampai Ratri meninggalkan area bersama Wira.
Baru setelah itu ia berjalan ke makam.
Ia membawa satu ikat melati putih, bunga yang disukai ibu Ratri. Informasi itu tidak pernah muncul di berita. Bertahun-tahun lalu, ia melihat perempuan itu menanam melati di halaman rumah kecil dan menyelipkan satu kuntum di rambut putrinya.
Baskara meletakkan bunga di samping nisan.
"Maaf saya kembali terlambat," katanya. "Kali ini saya tidak akan meninggalkannya sendirian."
Saat keluar dari gerbang, ia melihat mobil Ratri masih berhenti di ujung jalan.
Ratri berdiri di samping pintu. Pandangannya jatuh pada melati di tangan Baskara yang kini kosong.
"Anda mengikuti saya."
"Aku kebetulan lewat."
"Melewati makam dengan membawa bunga kesukaan ibu saya?"
Baskara tidak bisa menjawab tanpa membuka masa lalu yang belum siap ia jelaskan.
Ratri menatapnya lama. "Masuklah."
"Ke mobilmu?"
"Sebelum saya berubah pikiran."
Untuk pertama kalinya, mereka pulang dari tempat yang menyimpan luka Ratri tanpa ia menyuruh Baskara pergi.
Di dalam mobil, tidak ada percakapan. Namun, diam mereka tidak lagi terasa seperti dinding. Baskara duduk cukup jauh agar tidak memaksanya, dan Ratri membiarkan jarak tersebut tetap ada tanpa menambahnya.
Setelah beberapa kilometer, Baskara meletakkan saputangan bersih di kursi di antara mereka. Ia tidak mengatakan bahwa mata Ratri masih merah.
Ratri melihat saputangan itu, lalu mengambilnya.
"Saya belum memaafkan Anda karena mengikuti."
"Aku tidak meminta maaf."
"Tidak tahu malu."
"Kau sudah sering bilang."
Kali ini, suara Ratri tidak sedingin biasanya.
Malamnya, Reza menelepon melalui jalur aman.
"Bos, kami menemukan teknisi yang menulis laporan pagar."
Ratri berdiri. "Di mana dia?"
"Meninggal empat hari lalu. Polisi setempat mencatat kecelakaan tunggal. Motornya keluar jalur pada jalan yang kering, tanpa bekas pengereman."
"Keluarganya aman?"
"Sedang kami lindungi tanpa menarik perhatian. Ada satu hal lagi. Salinan laporan yang disimpan teknisi hilang dari rumahnya setelah kematian. Perubahan pada arsip gedung memakai pola nomor dan tinta koreksi yang sama dengan lembar perpindahan barang dalam kasus Larasati."
Ratri menatap foto ibunya di meja.
"Orang yang sama?"
"Belum bisa dipastikan. Tapi metode penghapusan jejaknya sama. Seseorang tidak ingin kita meneruskan dua perkara ini."
Tatapan Ratri menjadi dingin.
Dua perempuan mati. Dua berkas diubah. Kini satu saksi tidak sempat bicara.
Seseorang sedang membunuh jalan menuju kebenaran.