Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Tangisan Clarissa

Penolakan mutlak dari Pradipta Group menghantam keluarga Rosma bak hantaman badai yang memporak-porandakan seluruh sisa kesombongan mereka.

Di dalam rumah kontrakan yang mendadak terasa suram, riuh pertengkaran tak lagi terdengar, berganti dengan keputusasaan yang mencekik. Surat tagihan utang dari bank berserakan di atas meja kaca. Hendra terduduk lesu di sudut sofa dengan rambut berantakan, sementara Dion sibuk mengutuki nasibnya yang terancam menjadi gelandangan.

Ibu Rosma melangkah masuk ke dalam kamar belakang dengan mata merah berapi-api. Tanpa mengetuk pintu, ia menyambar pergelangan tangan Clarissa yang sedang duduk melamun di tepi kasur.

"Berdiri kamu, Clarissa! Cepat dandan yang paling cantik!" perintah Rosma dengan suara serak menahan geram.

Clarissa mendongak, menatap ibunya dengan tatapan redup yang kehilangan binar kehidupan. "Dandan untuk apa lagi, Bu? Bukankah Pradipta Group sudah menolak proposal kita?"

"Pradipta Group memang menolak, tapi keluarga kita tidak boleh mati kelaparan!" bentak Rosma seraya melemparkan sehelai gaun malam berwarna merah marun ke atas pangkuan Clarissa. "Hendra berhasil menghubungi Pak Hadi, pengusaha properti senior yang dulu pernah menawarimu pekerjaan. Dia bersedia memberikan pinjaman lima miliar rupiah malam ini juga untuk menutup tunggakan darurat kita!"

Hati Clarissa mendadak mencelos. Nama Pak Hadi bukan nama yang asing. Pria berkepala botak berusia lima puluh tahunan itu dikenal memiliki reputasi buruk terhadap wanita muda.

"Tidak, Bu..." geleng Clarissa cepat, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak mau menemui Pak Hadi. Aku ini wanita berstatus... aku baru saja berpisah dengan Mas Rendy. Aku tidak mau menjual harga diriku!"

"Harga diri?!" jerit Rosma murka, menarik bahu Clarissa hingga gadis itu terlonjak berdiri. "Kamu bicara soal harga diri saat rumah ini mau disita besok pagi?! Kamu mau melihat ibumu tidur di bawah jembatan, hah?! Kalau kamu tidak mau menemui Pak Hadi malam ini, lebih baik kamu keluar dari rumah ini dan jangan pernah panggil aku ibu lagi!"

Ancaman itu menghantam dada Clarissa begitu keras. Dalam himpitan rasa bersalah pada keluarga dan keputusasaan yang tak bertuan, Clarissa akhirnya mengangguk pasrah. Dengan air mata yang menetes pelan membasahi pipi pucatnya, ia mengenakan gaun merah marun tersebut—sebuah gaun yang terasa seperti pakaian hukuman bagi jiwanya yang hancur.

Restoran mewah bernuansa remang di lantai atas sebuah hotel bintang empat menjadi tempat pertemuan itu berlangsung. Denting dentang alat makan dan alunan musik jazz pelan menciptakan atmosfer romantis yang menyiksa batin Clarissa.

Di seberang meja bundar berlapis kain putih, Pak Hadi duduk bersandar dengan perut buncitnya yang menekan kemeja batik sutra mahal. Matanya yang licik menyapu seluruh lekuk tubuh Clarissa yang terbalut gaun marun dengan binar kelaparan yang tak disembunyikan.

"Kamu makin cantik saja setelah berpisah dari pria miskin itu, Clarissa," ujar Pak Hadi dengan suara berat berwibawa palsu, menyosorkan segelas wine bernuansa manis ke hadapan Clarissa. "Ibumu sudah menceritakan semuanya. Lima miliar rupiah itu angka yang kecil bagi saya. Sangat kecil."

Clarissa menunduk rapat, jemarinya meremas kain gaun di pangkuannya. "Terima kasih atas kebaikan Anda, Pak Hadi. Kami... kami sangat membutuhkan bantuan itu untuk menyelesaikan masalah utang keluarga."

Pak Hadi terkekeh pelan, tawa yang terdengar memuakkan di telinga Clarissa. Pria tua itu menggeser posisi duduknya mendekat, memotong jarak di antara mereka.

"Tentu saja saya akan bantu, Cantik," bisik Pak Hadi dengan nada rendah yang sarat akan intensitas tersembunyi. "Tapi kamu tahu betul, di dunia bisnis tidak ada bantuan yang benar-benar gratis."

Sebelum Clarissa sempat merespons, tangan kasar Pak Hadi yang tebal dan agak basah menyusup ke bawah meja. Tanpa rasa malu, jemari pria tua itu mendarat tepat di atas paha mulus Clarissa yang tersingkap sedikit oleh belahan gaun marunnya.

DEG!

Tubuh Clarissa seketika membeku. Rasa jijik yang luar biasa dahsyat menyergap hingga ke ujung kepalanya. Sentuhan tangan Pak Hadi terasa begitu asing, kasar, dan penuh dengan nafsu kepemilikan yang menjijikkan. Tangan pria tua itu mulai bergerak perlahan, mengelus paha Clarissa dengan usapan yang kian berani.

"Temani saya malam ini di kamar atas, Clarissa..." bisik Pak Hadi tepat di samping telinganya, napasnya yang beraroma alkohol mengusap leher Clarissa. "Maka cek lima miliar rupiah akan langsung menjadi milikmu."

Dalam cengkeraman rasa takut dan lecehan itu, memori Clarissa justru berputar liar melemparkannya pada bayangan masa lalu.

Ia teringat sentuhan Rendy. Tangan Rendy yang penuh kapalan akibat kerja keras selalu menyentuh kulitnya dengan kelembutan yang teramat sangat. Saat jemari Rendy mengelus pahanya di bawah selimut kontrakan sempit mereka, tidak pernah ada rasa jijik atau pemaksaan. Sentuhan Rendy selalu dilandasi oleh rasa hormat, kehangatan cinta yang membara, dan perlindungan mutlak yang membuat Clarissa merasa menjadi wanita paling berharga di dunia.

Perbandingan itu menghantam kesadaran Clarissa bagaikan petir. Tangisan yang ditahannya sejak tadi akhirnya pecah.

"Jangan sentuh aku!" jerit Clarissa histeris.

Dengan sisa tenaga dan harga diri yang dimilikinya, Clarissa memberontak. Ia menepis tangan Pak Hadi secara kasar dan berdiri mendadak dari kursinya hingga gelas air di atas meja terguling membasahi taplak putih. Air matanya bercucuran deras membasahi pipinya yang memerah.

Pak Hadi terperanjat, raut wajahnya seketika berubah menjadi murka dan tersinggung. "Kurang ajar! Wanita tidak tahu berterima kasih! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Cuma wanita buangan dari pria melarat yang mendadak sok suci!"

Pak Hadi ikut berdiri, wajahnya yang merah padam dipenuhi amarah. Dengan kasar, tangan tebalnya terulur hendak mencengkeram pergelangan tangan Clarissa untuk menyeretnya kembali duduk.

Namun, sebelum jemari basah Pak Hadi sempat menyentuh kulit Clarissa...

SRET!

Sebuah cengkeraman tangan yang luar biasa kokoh mendadak menyambar pergelangan tangan Pak Hadi dari arah belakang. Cengkeraman itu begitu kuat hingga terdengar bunyi gemeretak halus dari persendian tulang pria tua tersebut.

"AAAKHH!" jerit Pak Hadi kesakitan, tubuh buncitnya terdorong ke belakang saat tangan misterius itu mencengkeramnya dengan tekanan yang sanggup mematahkan tulang.

Clarissa terkesiap pelan, menghentikan tangisnya. Melalui mata yang kabur oleh genangan air mata, ia mendongak menatap sosok tegap yang kini berdiri menjulang di antara dirinya dan Pak Hadi.

Sambungan Bab 14

Sosok tegap itu berdiri kokoh bagaikan dinding baja yang tak tertembus. Pria itu mengenakan setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap dengan jahitan sempurna yang memancarkan kemewahan mutlak. Sinar lampu gantung restoran memantul di atas jam tangan eksklusif yang melingkar di pergelangan tangannya—sebuah penanda kekuasaan yang tak terbantahkan.

Mata Pak Hadi membelalak lebar dalam ringisan kesakitan. "Si-siapa kamu?! Berani-beraninya campur tangan urusanku!" teriaknya dengan suara bergetar, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman tersebut.

Pria itu sama sekali tidak membalas gertakan Pak Hadi. Ia hanya memberikan sedikit tekanan ekstra pada cengkeramannya, membuat Pak Hadi tersungkur berlutut di atas lantai marmer restoran dengan wajah pucat pasi menahan nyeri yang luar biasa.

"Jaga tanganmu sebelum aku memastikan jemarimu tak bisa lagi menyentuh apa pun di kota ini," suara itu mengudara—berat, rendah, dan bergetar penuh ancaman mematikan.

Clarissa menahan napasnya. Jantungnya berdegup kencang, serasa berhenti berdetak di dalam dada. Ia mengenal suara itu. Suara yang selama tiga tahun terakhir selalu menenangankannya di setiap malam-malam dingin.

"Mas... Mas Rendy...?" bisik Clarissa dengan suara serak yang patah-patah.

Rendy perlahan melepaskan cengkeramannya, membiarkan Pak Hadi memegangi pergelangan tangannya yang memar seraya terengah-engah ketakutan. Rendy membalikkan badan secara anggun, memosisikan tubuh tegapnya tepat di hadapan Clarissa.

Di belakang Rendy, dua pengawal berbadan tegap berseragam hitam berdiri siap siaga, sementara Asisten Bagas melangkah mendekat dengan nampan dokumen di tangannya.

Clarissa menatap sosok pria di hadapannya dengan mata membelalak tak percaya. Ini bukan lagi Rendy Pradipta yang dulu mengenakan kaos lusuh, membawa kado minyak kayu cendana yang dilempar ke tempat sampah, atau pria yang diusir di tengah hujan deras tanpa membawa uang sepeser pun.

Pria yang berdiri di hadapannya saat ini adalah seorang penguasa—pimpinan tertinggi Pradipta Group yang memancarkan wibawa dan kekuasaan mutlak.

"Mas Rendy..." tangis Clarissa kembali pecah. Ia melangkah maju satu langkah, hendak menggapai lengan jas Rendy. "Ini benar-benar kamu...?"

Namun Rendy tidak mengulurkan tangannya. Ia berdiri tak bergeming, menatap Clarissa dengan sorot mata yang amat dingin—sebuah tatapan tak bertepi yang memisahkan mereka berdua dalam jarak yang tak akan pernah bisa diseberangi lagi.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!