"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejengkelan Dan Senyum Dibalik Kaca
Pipi Aura makin memanas mendengar permintaan tak masuk akal dari sang CEO. Mencuci jas seharga puluhan juta dengan tangan sendiri? Itu terdengar seperti cobaan baru dalam hidupnya. Namun, menyadari tak ada ruang untuk berdebat dengan Arsenio Pratama, Aura akhirnya memilih untuk mengalah.
"Ba-baik, Pak. Kalau begitu saya kembali ke meja kerja saya dulu," ucap Aura sopan.
Ia membalikkan badan dengan cepat, menggendong kembali ransel besarnya yang kini terasa sama beratnya dengan rasa pasrah di dadanya. Tanpa menoleh lagi, gadis itu melangkah keluar dari ruangan eksekutif yang bernuansa dingin namun selalu berhasil membuat jantungnya berdebar kencang.
Saat pintu kayu raksasa itu tertutup rapat, Aura menghembuskan napas panjang, merapikan blazer abu-abunya sebelum melangkah kembali menyusuri koridor menuju area kubikel divisi analisis data.
Baru saja Aura menginjakkan kaki di divisinya, sebuah tawa renyah nan jahil langsung menyambutnya dari arah meja sebelah.
"Aura! Astaga, Ra..." Rena menahan tawanya sambil menutupi mulut dengan kedua tangan, matanya menatap gemas ke arah ransel besar yang bertengger di punggung Aura. "Kamu mau kerja apa mau mendaki Gunung Rinjani, sih? Gede banget itu tas!"
Aura mendesah pelan, namun tak tahan untuk ikut terkekeh geli melihat ekspresi sahabat barunya itu. Ia segera melepas ranselnya dan menaruhnya di samping bawah meja kerja agar tak makin menjadi pusat perhatian.
"Jangan diejek terus, Rena. Ini... ada barang penting yang harus aku simpan baik-baik," bisik Aura setengah berbisik seraya duduk di kursinya.
"Barang penting apaan? Rahasia banget kelihatannya," goda Rena sambil mengedipkan sebelah matanya. "Tapi jujur ya, unik banget gaya kamu hari ini. Anggun, rapi, tapi gendong ransel anak sekolah."
Tawa renyah Rena perlahan mereda saat melihat Maya melintas di koridor dengan pandangan sinis. Namun Rena hanya menjulurkan lidahnya tipis ke arah Maya tanpa terlihat, membuat Aura tertawa kecil menutupi mulutnya.
Aura menarik napas dalam-dalam, menyalakan layar komputernya, dan mulai memfokuskan pikiran pada tumpukan data pasar finansial. Meski kepalanya masih dipenuhi bayangan Arsen dan tugas 'mencuci jas manual' yang absurd itu, setidaknya kehadiran Rena berhasil membawa kembali keceriaan di pagi harinya.
Aura menatap layar komputernya dengan helaan napas berat. Jemarinya yang menari di atas papan ketik terasa sedikit lebih bertekanan dari biasanya. Setiap kali membayangkan instruksi Arsen agar ia mencuci jas mahal itu menggunakan tangan sendiri, rasa jengkel yang menggelitik langsung memenuhi dadanya.
“Dasar bos aneh! Jas puluhan juta disuruh cuci pakai tangan. Kalau rusak atau menyusut, memangnya dia mau tanggung jawab? Pasti gajiku yang dipotong!” gerutu Aura dalam hati, menyenggol pelan tas ransel di bawah mejanya dengan ujung sepatu.
Sementara itu, beberapa meter di ujung koridor, suasana di dalam ruangan CEO justru berbanding terbalik.
Arsenio Pratama duduk bersandar santai di kursi kulit mewahnya. Pria yang biasanya dipandang kaku, dingin, dan menakutkan oleh seluruh jajaran direksi itu kini menyunggingkan senyum jahil yang enggan pudar dari wajahnya. Ia menyesap kopi hitam buatan Aura yang aromanya masih mengepul hangat. Rasa pahit yang pas dan seduhan yang presisi membuktikan betapa telitinya gadis itu.
Arsen melirik ke arah pintu kayunya, membayangkan kembali ekspresi wajah Aura yang panik, bingung, sekaligus pasrah saat menerima tugas absurd darinya tadi. Kepolosan dan kejujuran respon Aura menjadi warna baru yang sangat menyegarkan di tengah rutinitas bisnisnya yang membosankan.
Pria itu terkekeh pelan, meletakkan cangkir keramiknya di atas meja, lalu kembali memfokuskan pandangan pada dokumen di hadapannya dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari biasanya.