Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Setelah menikmati nasi gorengnya, Tiyas bangkit dari duduknya.
Langkah kakinya membawa tubuhnya melangkah keluar menuju area garasi yang luas.
Ia menghentikan langkah tepat di depan dua kendaraan kesayangan Gio: sebuah mobil sedan mewah dan motor sport gagah yang selama ini selalu dibangga-banggakan pria itu di hadapan teman-temannya.
Tiyas menatap kedua kendaraan itu dengan pandangan dingin.
Dulu, ia sangat bahagia saat memberikan hadiah ulang tahun kepada Gio
Namun kini, benda-benda itu tak lebih dari sekadar simbol kesombongan dan kebohongan yang memuakkan.
"Herman, Riko," panggil Tiyas dengan suara tenang namun berwibawa.
Dua orang pekerja yang sedang merapikan area taman segera menghentikan pekerjaannya dan berjalan mendekat.
"Iya, Nyonya Tiyas?" sahut Herman sopan, merapikan letak topinya.
Tiyas merogoh saku jalannya, mengeluarkan dua set kunci kendaraan, lalu menyerahkannya masing-masing.
Ia memberikan kunci mobil kepada Herman dan kunci motor sport kepada Riko.
"Ini untuk kalian berdua. Bawalah pulang ke kampung," ucap Tiyas tanpa ragu sedikit pun
Herman dan Riko membeku di tempat. Mata mereka terbelalak menatap kunci berlogo mewah di telapak tangan mereka, lalu beralih menatap Tiyas dengan raut tak percaya.
"N—Nyonya yakin?" tanya Herman terbata-bata, tangannya gemetar memegang kunci mobil tersebut.
"Ini, kan mobil dan motor kesayangan Pak Gio."
Tiyas menganggukkan kepalanya dengan yakin. Sebuah senyum tipis yang sarat akan ketegasan terukir di wajahnya.
"Sangat yakin, Herman. Kalian berdua sudah bertahun-tahun bekerja dengan tulus di rumah ini. Anggap saja ini hadiah dan bentuk apresiasi saya atas kerja keras kalian selama ini. Bawa sekarang juga sebelum sore, dan pakai untuk kesejahteraan keluarga kalian di kampung."
Riko menyapu sudut matanya yang mendadak basah.
"Terima kasih banyak, Nyonya. Ya Allah, kami tidak tahu harus membalas kebaikan Nyonya seperti apa."
"Kalian tidak perlu membalas apa pun. Cukup bawa kendaraan ini jauh-jauh dari rumah saya," balas Tiyas lembut, namun ada nada penekanan dingin pada kata 'rumah saya'.
Dari ambang pintu teras, Imelda menyaksikan pemandangan itu sambil bersedekap. Senyum bangga terkembang di wajah sahabatnya itu.
Begitu Herman dan Riko membungkuk berkali-kali menumpahkan rasa terima kasih lalu pergi menyiapkan surat-surat, Imelda melangkah mendekati Tiyas.
"Gila, kamu bener-bener luar biasa, Tiyas!" puji Imelda sambil bertepuk tangan pelan.
"Aku nggak bisa membayangkan bagaimana muka si Gio pas pulang nanti dan nemuin mainan kesayangannya udah lenyap. Pasti mukanya bakal pucat pasi!"
"Ini baru permulaan, Mel," jawab Tiyas pelan sambil menatap garasi yang sudah kosong.
"Dia menggunakan uangku, fasilitas dariku, dan kebaikanku untuk membiayai perselingkuhannya dengan Mia. Setiap hal yang berasal dari rumah ini, yang dia anggap miliknya, akan kuambil kembali satu per satu."
Kemudian ponsel di genggaman Tiyas bergetar singkat. Sebuah notifikasi pesan dari Wildan masuk:
[Bu Tiyas, saya sudah mendapatkan rekaman CCTV villa maupun dikantor dimana mereka melakukan perselingkuhan,"
Tiyas membaca pesan itu, lalu menggeser layar untuk membalasnya:
[Bagus, Wildan. Kumpulkan terus. Jangan ada satu detail pun yang terlewat.]
Tiyas menghela napas panjang, menatap langit pagi Yogyakarta yang mulai cerah.
Dinding rumahnya sedang dicat ulang, barang-barang kenangan pahitnya sedang dimusnahkan, dan selangkah demi selangka.
Ia sedang mempersiapkan kehidupan Gio hingga tak tersisa.
Perang ini memang baru saja dimulai, dan Tiyas tidak akan berhenti sebelum kebenaran berdiri sepenuhnya.
Imelda melirik jam tangannya, lalu menatap Tiyas dengan raut tak tega.
"Nay, aku pamit dulu ya. Harus ngecek rumah makan, kasihan anak-anak dari kemarin sore aku tinggalin begitu aja." ucap Imelda yang harus menuju ke rumah makan miliknya.
"Iya, Mel. Makasih banyak ya buat semuanya," jawab Tiyas tulus.
Imelda memeluk erat tubuh Tiyas, menyalurkan kehangatan dan dukungan seorang sahabat.
"Jangan lupa makan siang, jangan kerja terus," bisiknya penuh perhatian sebelum melepas pelukan.
Tiyas menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis.
"Pasti. Hati-hati di jalan, Mel."
Setelah mobil Imelda menghilang di balik gerbang, suasana rumah terasa begitu hening.
Tiyas berdiri sendirian di tengah ruang keluarga yang sedang dalam proses renovasi.
Suara ketukan kuas dan aroma cat baru membawanya kembali pada kenyataan bahwa hidupnya sedang dirombak total.
Kemudian ia menghubungi Intan, sekretaris pribadinya di kantor.
"Halo, Intan. Hari ini aku off dulu, ya. Alihkan atau atur ulang semua agenda pekerjaanku hari ini," instruksi Tiyas begitu sambungan terhubung.
Di seberang telepon, Intan terdengar sedikit kaget.
"Baik, Bu Tiyas. Tapi, Bu Tiyas mau ke mana? Apa perlu saya antar?"
"Tidak usah, Intan. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku," jawab Tiyas pelan namun mantap, sebelum akhirnya mengakhiri panggilan tersebut.
Tiyas memejamkan matanya rapat-rapat. Hatinya mendadak berdenyut nyeri saat ingatan masa lalu berputar kembali di benaknya.
Ia teringat jelas raut wajah ketat dan tatapan kecewa Papa Joni beberapa tahun lalu.
Saat itu, sang ayah secara tegas tidak menyetujui pernikahannya dengan Gio.
Papa Joni yang berpengalaman luas sudah melihat gelagat tidak baik dari Gio sejak awal, tetapi Tiyas muda yang membuta karena cinta tetap bersikeras melangkah menuju pelaminan.
Setitik air mata lolos membasahi pipinya yang mulus.
"Ayah, maafkan putrimu ini," gumam Tiyas lirih dengan penyesalan yang membuncah di dada.
"Andai dulu aku mendengarkan Nasihatmu."
Ia menarik napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya, lalu berbalik melangkah menuju kamar mandi.
Ia butuh menyegarkan diri sebelum menghadapi orang tuanya—bukan sebagai wanita yang hancur, melainkan sebagai seorang putri yang siap mengakui kesalahannya dan bangkit dari keterpurukan.
Setelah mandi dan memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper, Tiyas menutup koper tersebut dengan mantap.
Langkahnya tegap membawa barang-barangnya ke bagasi mobil. Setelah itu, ia melajukan kendaraannya keluar kota, membelah jalanan menuju Magelang—kota tempat orang tuanya tinggal.
Perjalanan darat yang memakan waktu sekitar satu jam itu akhirnya membawanya sampai di depan sebuah rumah sederhana namun asri yang menyimpan sejuta kenangan masa kecilnya.
Sebelum turun dari mobil, Tiyas menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar di dadanya dan sisa-sisa sesak yang masih mengganjal. Ia melangkah keluar, berjalan pelan mendekati pintu kayu bercat cokelat tua, lalu mengetuknya perlahan.
Tok... tok... tok.
"Assalamu'alaikum, Ayah, Ibu." panggil Tiyas dengan suara bergetar.
Di dalam rumah, sang ibu yang sedang sibuk memasak di dapur seketika terkejut mendengar suara putri kesayangannya—suara yang sudah begitu lama tidak singgah di rumah itu, terutama tanpa kabar kedatangan sebelumnya.
Segera ia mematikan kompor dan melangkah tergesa ke ruang depan.
"Wa'alaikumussalam."
Ibu membuka pintu utama, dan langkahnya langsung terhenti saat mendapati Tiyas berdiri di hadapannya.
Tak lama kemudian, sang ayah menyusul dari ruang tengah dengan wajah penasaran.
Belum sempat kedua orang tuanya berkata apa-apa, Tiyas langsung menjatuhkan diri, duduk bersimpuh di hadapan Ayah dan Ibunya. Pertahanannya seketika runtuh.
"Ayah, Ibu. Tiyas minta maaf. Maafkan Tiyas karena dulu tidak mendengarkan nasihat Ayah."
Isak tangis Tiyas pecah, pundaknya bergetar hebat di atas lantai.
Ibu membuka mulutnya, matanya langsung berkaca-kaca melihat kondisi putrinya.
"Nduk Tiyas? Kamu kenapa, Nak? Ada apa, nduk? Kenampakanmu seperti ini?"
Ayah yang berdiri di samping Ibu tertegun sejenak.
Meski raut wajahnya tampak menyiratkan ketegasan yang dulu selalu ia pegang, sorot matanya menyimpan cinta seorang ayah yang begitu dalam.
Tanpa banyak bertanya lagi, Ayah langsung berlutut pelan, merangkul pundak putrinya.
"Sudah, jangan bersimpuh di lantai seperti ini. Ayo masuk, ceritakan semuanya pada Ayah dan Ibu di dalam," ucap Ayah dengan suara berat namun penuh kehangatan, lalu menuntun Tiyas untuk bangkit dan masuk ke rumah.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘