Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab16
Ryan berjalan pelan menuju para bawahannya.
Tubuhnya masih berlumuran darah, tetesan merah jatuh ke tanah setiap langkahnya, meninggalkan jejak basah yang menyeramkan.
Tarya, Sadel, dan Calvin menatap sosok pemimpin mereka dengan berbagai pikiran yang bergejolak.
‘Gila… Dia benar-benar keluar dengan selamat setelah membunuh 3.000 orang di dalam sana… tubuh ku merasa negeri melihat nya’ Tarya gemetar, matanya sulit berkedip.
‘Monster! Dia bukan manusia… Ryan… siapa sebenarnya kau? Tidak ada orang waras yang bisa melakukan itu sendirian…’ pikir Sadel dengan rahang mengeras.
Sementara Calvin menatap Ryan penuh kekaguman. ‘Pemimpin Ryan… Dia benar-benar luar biasa! Semakin melihatnya, semakin aku ingin mengikutinya sampai mati!’
Tanpa aba-aba, ketiganya berlutut.
“SALAM, PEMIMPIN!!” teriak mereka lantang.
Ryan berhenti tepat di depan mereka, menatap tajam. “Sadel, Tarya, Calvin… Aku ingin bicara dengan kalian.”
Sadel mengangkat kepalanya sedikit. “Apa yang ingin kau katakan, Pemimpin?”
Ryan menghela napas dalam. “Kalian harus tahu… bahwa ada pengkhianat di dalam Kultus iblis ini.”
“APA?!” serentak ketiganya terkejut.
“A-ada pengkhianat?!” Tarya terbelalak, wajahnya tak percaya. “Bagaimana mungkin bisa terjadi?! Jika benar seperti itu, ini tidak bisa di biarkan!”
“Brengsek! Siapa pengkhianatnya?!” Sadel mengepalkan tangan, amarah menggelegak.
“Jika itu benar, kita harus membunuhnya, pemimpin!” Calvin menatap penuh dendam.
Ryan tidak terguncang, wajahnya tetap tenang. “Aku sudah mengetahui siapa pengkhianat itu.”
“Siapa, Pemimpin?!” Tarya hampir menerjang maju. “Biarkan aku yang mengejarnya!”
“Benar! Kita harus menghukum dia seberat-beratnya! Pengkhianat hanya pantas mati!” Sadel menggeram.
Namun Ryan menggeleng pelan. “Untuk sekarang, aku tidak bisa memberitahu kalian.”
Ketiga bawahannya tampak kebingungan.
Ryan lalu melanjutkan, “Tapi aku ingin kalian bekerja sama denganku.”
Calvin maju selangkah. “Bekerja sama Seperti apa, Pemimpin? Aku akan melakukan apa pun jika itu demi menangkap pengkhianat itu.”
Ryan menatap mereka satu per satu. “Kalian harus melaporkan semua yang terjadi di sini kepada Mayor Risman. Katakan bahwa aku tewas bersama seluruh cabang Clan Taring Naga.”
“APA?!” ketiganya terkejut lagi.
“Berbohong tentang… kematianmu?” Tarya terdiam, seakan tak percaya apa yang baru ia dengar.
Sadel menggeleng keras. “Pemimpin, itu… bukankah sama saja dengan pengkhianatan pada Kultus?”
Calvin ikut mengerutkan kening. “Kenapa harus sejauh itu?”
Ryan menatap mereka tajam. “Bodoh… Aku melakukan ini demi kebaikan kita semua. Jika pengkhianat tahu aku masih hidup, rencana kita akan gagal.”
Ketiganya terdiam, mencerna kata-kata itu.
Ryan melanjutkan. “Setelah kalian melaporkan kematianku, aku ingin Leo yang menjadi pemimpin kalian. Berikan jabatan itu padanya, jangan ada yang menentang. Anggap ini hanya untuk sementara, sampai aku menemukan bukti kuat tentang pengkhianat itu.”
Keheningan menyelimuti.
Tarya akhirnya mengepalkan tinjunya. “Meskipun aku tidak suka ide ini… tapi jika itu untuk mengungkap pengkhianat, ayo kita lakukan.”
Sadel mengangguk berat. “Benar. Lagi pula… ini bukan untuk selamanya.”
Calvin menambahkan dengan mantap, “Aku setuju. Kalau begitu, mari kita samakan cerita agar semuanya terlihat meyakinkan.”
Ryan menatap mereka dengan sorot mata tenang. “Terima kasih, karena sudah mempercayai aku. Kalian bertiga adalah teman ku”
Ketiganya terdiam sejenak, lalu tubuh mereka dipenuhi semangat baru.
“TERIMA KASIH, PEMIMPIN!!” teriak mereka bersamaan dengan penuh keyakinan.
Dan malam itu, mereka membuat keputusan besar untuk menyebarkan kabar bohong bahwa Ryan telah mati.
-----------------
Keesokan paginya, langit masih kelabu.
Komandan Risman sedang menatap setumpuk dokumen ketika suara kepakan sayap terdengar di luar jendela.
KOAK! KOAK!
Seekor gagak hitam hinggap di ambang, kakinya terikat sehelai gulungan surat.
Risman bergegas membuka jendela, meraih gulungan itu.
Ia mengenali segel hitam khas pasukan baru.
“Dari Calvin…?” gumamnya heran... ia membuka surat tersebut.
Namun begitu matanya menyapu kalimat pertama, wajahnya langsung berubah.
“Tidak mungkin…?! Ryan… tewas?!”
Tangannya gemetar. Seluruh isi ruangan terasa mencekam.
“Sial!” Risman mendesis marah. “Dia mati… setelah bertarung melawan Tetua dari Cabang Clan Taring Naga?! Bagaimana bisa ini terjadi?! Ryan bukan orang sembarangan… apa dia akan mati semudah itu?!”
Arga datang dengan wajah pucat pasi. “T-tuan… Saya juga baru mendapat kabar… Tetua Qiwel dari Clan Taring Naga tewas dalam pertarungan itu. Dia bukan orang biasa… dia mantan jenderal dari Aliansi Pedang Tujuh Langit. Kalau Ryan bertarung dengannya, masuk akal kalau akhirnya… keduanya saling menghabisi.”
BRAAAAK!!
Komandan Risman menghantamkan kepalan tangannya ke meja batu di depannya.
Meja kokoh itu hancur berkeping-keping seketika, pecahannya beterbangan ke seluruh ruangan.
Wajah Risman pucat, namun matanya menyala penuh penyesalan.
“Sialan!! Aku ceroboh… terlalu ceroboh! Memberikan misi segila itu pada Ryan… dan sekarang… dia mati! Mati karena keputusan bodohku sendiri!”
Arga menunduk, tak berani menatap atasannya yang begitu murka sekaligus terpukul.
“Komandan… apa yang harus kita lakukan sekarang? Pemimpin kelompok tidak boleh kosong terlalu lama. Apakah kita akan memilih pengganti?”
Risman menarik napas berat. “Benar… anak-anak itu tidak boleh bergerak tanpa ada nya pemimpin. Aku sudah menerima saran dari beberapa anggota. Mereka menginginkan Leo yang menjadi pemimpin berikutnya.”
“Baik, Tuan. Saya akan segera mengirim pesan pada Leo.” Arga menunduk hormat, lalu segera keluar.
Sendirian, Risman menatap keluar jendela, pandangannya kosong menembus kabut pagi. ‘Ryan… Aku menaruh harapan padamu. Aku benar-benar percaya kau bisa menumbangkan Cabang Clan Taring Naga. Dan kau melakukannya… tapi dengan harga nyawamu sendiri. Bodoh! Aku seharusnya menunggu sampai kau cukup kuat.’ Sebuah rasa sesal mencengkeram dadanya.
------------
Sementara itu, kabar runtuhnya Cabang Clan Taring Naga menyebar bagai api di padang kering.
Dari pelabuhan hingga dataran tinggi, dari kota besar hingga desa kecil, semua membicarakan hal yang sama.
Malam pembantaian itu segera dicap sebagai perbuatan Kultus Iblis.
“Konon… ribuan anggota Kultus Iblis menyerbu benteng Cabang Taring Naga!” bisik seorang pedagang di pasar.
“Tidak mungkin hanya pasukan biasa… mungkin tangan kanan Raja Kultus Iblis sendiri yang turun tangan,” jawab seorang prajurit bayaran dengan wajah serius.
Spekulasi demi spekulasi muncul, semakin liar.
Semua orang lebih memilih percaya bahwa musuh besar lah yang turun tangan, daripada menerima kenyataan bahwa Cabang Taring Naga dihancurkan hanya oleh satu orang.
-----------
Di markas besar Clan Taring Naga, ruang pertemuan dipenuhi aura kemarahan.
Jack Qow, sang ketua clan, menghantam meja kayu besar di depannya.
BRAAAK!
“Bagaimana ini bisa terjadi?! Bajingan sialan!! Apakah benar… tangan kanan Raja Kultus Iblis yang turun langsung?!” teriak Jack, wajahnya merah padam.
Di sampingnya, seorang pria berotot dengan jubah perang menunduk hormat.
Dialah Asgap, salah satu jenderal Aliansi Pedang Tujuh Langit, sekaligus petinggi clan.
“Ketua… tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal. Di sana ada Tetua Qiwel. Meski usianya sudah lanjut, kekuatan beliau masih di puncak. Namun beliau tewas dengan mengenaskan… Itu berarti lawan yang ia hadapi bukan orang sembarangan. Hanya monster kaliber tangan kanan Raja Kultus Iblis yang sanggup melakukannya.”
Tetua Ramzi, seorang bijak yang sudah lama menjadi penasihat clan, mengangguk perlahan. “Kau benar. Kehilangan satu cabang dalam semalam… akan membuat wajah kita jatuh di hadapan clan-clan lain. Namun jika kita menyatakan ini perbuatan tangan kanan Raja Kultus Iblis, maka setidaknya kehormatan kita bisa terselamatkan. Tidak ada yang akan menuduh kita lengah.”
“Sialan!” Jack mengepalkan tangan hingga urat-uratnya menegang. “Jika benar tangan kanan itu yang melakukannya… Aku bersumpah akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!”
Namun Ramzi segera menimpali, suaranya tenang namun tajam. “Jangan gegabah, Ketua. Kita harus melaporkan ini pada clan-clan lain. Jika Kultus Iblis sudah berani bergerak sejauh ini, bukan tidak mungkin perang besar akan pecah kembali.”
Jack menunduk, matanya menyala penuh dendam. “Baiklah… kalau begitu. Kita persiapkan segalanya. Kultus Iblis sudah beristirahat terlalu lama. Jika mereka menantang perang, Clan Taring Naga tidak akan gentar.”
Keputusan diambil.
Untuk menutupi aib kekalahan mereka, Clan Taring Naga akan menyebarkan kabar bahwa yang menghancurkan cabang mereka adalah tangan kanan Raja Kultus Iblis.
Sebuah kebohongan… yang perlahan akan menyalakan api peperangan di seluruh benua Eryndor.