Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.
Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.
Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.
Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.
Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pintu kayu itu berderit saat menutup, meninggalkan gumaman desa dan pengawasan Marco di luar. Di dalam ruangan kecil yang beraroma lavender dan roti baru panggang itu, kehadiran Dante Moretti terasa cabul. Ia terlalu besar, terlalu mahal, terlalu kelam untuk sebuah rumah yang dibangun di atas kesederhanaan.
Dante tidak duduk. Ia tetap berdiri di tengah ruangan, menyapukan tatapan lambat dan kritis pada dinding kayu berwarna terang, gorden renda yang bertambal, dan mainan-mainan kayu yang berserakan di atas karpet yang telah usang. Setiap detail "kehidupan normal" itu merupakan penghinaan baginya; sebuah bukti bahwa perempuan itu lebih memilih kekurangan daripada berada di sisinya.
Victoria menempatkan dirinya di depan pintu kamar anak-anak, seolah tubuhnya sendiri bisa menghalangi jejak keberadaan mereka. Tangannya gemetar, tapi matanya menyala oleh amarah yang hanya Dante yang tahu cara memicunya.
"Keluar dari rumahku, Dante," ucapnya, dengan suara retak tapi tegas. "Kau sudah menemukan kami. Kau sudah lihat kami masih hidup. Sekarang enyahlah."
Dante berpaling ke arahnya. Ia melepas sarung tangan kulitnya dengan kelambatan yang menjengkelkan lalu melemparkannya ke atas meja makan tempat perempuan itu sarapan setiap pagi bersama si kembar. Ia melangkah mendekat, mempersempit jarak hingga Victoria bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh lelaki itu.
"Rumahmu?" tanyanya, dan suaranya adalah bisikan yang berbahaya. "Ini bukan rumah, Victoria. Ini kebohongan. Ini persembunyian menyedihkan tempat kau menyekap ahli warisku seolah mereka anak seorang nelayan."
"Mereka bahagia di sini!" jeritnya, mendorong dada Dante, dorongan yang tak menggesernya sesenti pun. Rasanya seperti memukul dinding granit. "Mereka punya teman, mereka punya sekolah, mereka punya kedamaian. Sesuatu yang kau bahkan tak tahu cara mengejanya."
Dante mencengkeram pergelangan tangannya dengan kecepatan seekor kucing besar. Ia tidak meremas cukup keras untuk melukainya, tapi cukup untuk mengunci geraknya. Ia menarik perempuan itu mendekat, memaksanya menatap matanya. Kelabu berbadai di tatapannya sarat oleh kepahitan yang tak ia duga akan ia temukan.
"Kenapa?" pertanyaan itu keluar dari bibirnya bagai embusan tersengal. "Kenapa kau merampas mereka dariku, Victoria? Kau membiarkan aku mati dari dalam. Berbulan-bulan aku mencari jasadmu di kamar-kamar mayat, mengira musuh-musuhku sudah menangkapmu. Dan kau… kau ada di sini, melihat mereka tumbuh, mendengar kata-kata pertama mereka, menyimpan tawa mereka hanya untuk dirimu sendiri.
Bagaimana kau bisa sekejam itu?"
Victoria melepaskan tawa yang getir. Ia mencoba melepaskan diri, tapi lelaki itu justru merapatkannya lebih erat ke dadanya. Ia bisa merasakan detak jantung Dante yang tak beraturan menempel pada detak jantungnya sendiri; itulah satu-satunya petunjuk bahwa lelaki dari batu itu masih manusia.
"Kejam? Kau menyebutku kejam?" Victoria menyemburkan kata-katanya langsung ke wajah lelaki itu. "Aku mendengarmu malam itu, Dante. Aku dengar bagaimana kau memerintahkan pembantaian keluargaku. Aku dengar bagaimana lelaki yang tidur di sisiku setiap malam bicara soal melenyapkan nyawa orang seolah sedang mencoret daftar belanjaan."
Matanya berlinang air mata, tapi ia tak membiarkannya jatuh. Harga diri adalah satu-satunya yang tersisa padanya.
"Aku pergi karena tak mau anak-anakku tumbuh menjadi monster sepertimu," putusnya. "Aku tak mau kata pertama mereka adalah 'darah', atau mereka belajar memandang orang seolah mereka sasaran tembak. Aku ingin mereka jadi manusia, Dante. Manusia sungguhan, bukan mesin pembunuh berjas rancangan desainer."
Wajah Dante mengejang. Kebenaran yang diucapkan Victoria menghantamnya lebih keras daripada peluru apa pun. Ia melepaskannya tiba-tiba, seolah kulit perempuan itu membakarnya, lalu mundur selangkah sambil menyisir rambut gelapnya dengan tangan dalam gestur frustrasi yang tulus.
"Aku menjadi apa yang harus kujadi untuk menjaga kita semua tetap selamat," raungnya, meninju dinding. "Semua yang kubangun adalah untukmu! Untuk mereka!"
"Jangan berbohong!" balasnya, mendekat, kehilangan rasa takut di tengah kemurkaan. "Kau melakukannya demi egomu. Kau melakukannya demi takhta. Lihat mereka, Dante. León sudah punya tatapanmu. Cristo sudah menganalisis dunia seolah dunia adalah ancaman. Mereka membawa racunmu di dalam darah, dan aku sudah melewatkan setiap hari selama lima tahun ini mencoba mengencerkannya dengan cinta. Dan sekarang kau datang untuk menuntut mereka seolah mereka piala!"
Mereka terdiam, terengah, hanya terpisah oleh beberapa senti udara yang sarat listrik. Ketegangan di ruangan itu berganti frekuensi. Kini bukan lagi sekadar kebencian; itu daya tarik magnetis dan kelam yang selalu menyatukan mereka. Victoria membenci betapa besar hasratnya pada lelaki itu, membenci bahwa tubuhnya masih mengingat cara lelaki itu memeluknya, dan Dante membenci bahwa melihat perempuan itu dengan rambut acak-acakan dan penuh amarah di sebuah dapur murahan justru membangkitkan kebutuhan yang lebih rakus daripada kuasa itu sendiri.
Dante kembali mempersempit jarak. Kali ini ia tidak mencengkeram pergelangan tangan perempuan itu. Ia menaruh satu tangan di dinding, tepat di samping kepala Victoria, dan tangan yang lain hinggap di pinggangnya, menekannya rapat ke tubuh sang lelaki.
"Kau membenciku," bisiknya, menurunkan pandangan ke bibir perempuan itu. "Kau begitu membenciku hingga terasa sakit."
"Aku menghinamu," koreksinya, meski napasnya menjadi dangkal dan denyut nadinya berpacu secara berkhianat.
"Kalau begitu, kenapa kau gemetar saat kusentuh?" Dante menundukkan kepala, menyapukan hidungnya ke pipi perempuan itu. "Kenapa matamu mencariku bahkan saat kau berteriak menyuruhku pergi?"
Victoria memejamkan mata, melawan gelombang hasrat. Itu pengkhianatan nalurinya sendiri. Ia membenci sang mafia, tapi ia masih mencintai putus asa lelaki yang disembunyikannya di balik topeng.
Dante menciumnya. Itu bukan ciuman lembut; itu tabrakan bertahun-tahun kesepian, amarah, dan kebutuhan.
Victoria membalas dengan intensitas yang sama, melingkarkan lengan ke leher lelaki itu, melepaskan erangan yang separuh protes dan separuh penyerahan.
Sesaat, dinding-dinding kayu itu lenyap dan hanya tinggal mereka berdua: sang raja yang tumbang dan sang ratu dalam pengasingan, terbakar habis dalam kobaran yang mereka sendiri picu.
Dante mengangkatnya lalu mendudukkannya di atas meja dapur yang kecil. Tangannya mencari-cari kulit perempuan itu dengan putus asa, seolah butuh memastikan ini bukan mimpi.
"Kembalilah padaku," pintanya di antara bibir Victoria, suaranya retak oleh hasrat. "Jangan paksa aku membawamu sebagai tawanan. Kembalilah dengan kemauanmu sendiri. Biarkan aku memberi anak-anak itu seluruh dunia."
Victoria mendadak sadar sepenuhnya. Kata-kata "seluruh dunia" itu bagai seember air es. Ia teringat tatapan León di depan mobil; ia teringat ketakutan Cristo. Ia mendorong lelaki itu menjauh, turun dari meja lalu merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar.
"Justru itu masalahnya, Dante," ucapnya, dengan kesedihan yang mendalam. "Duniamu adalah kuburan mewah. Dan aku tidak akan membiarkanmu mengubur anak-anakku di dalamnya."
Dante menatapnya dengan dada bergemuruh. Hasrat itu masih ada, tapi dinginnya sang Capo kembali ke matanya, menyelubungi kerentanan bagai lapisan es.
"Ini bukan lagi pilihan, Victoria," ucapnya, mengambil kembali sarung tangannya. "Orang-orangku sudah memuati mobil. Kau punya sepuluh menit untuk mengambil apa pun yang kau anggap berharga dari tempat ini. Kalau kau tidak siap, aku akan membawamu apa adanya."
"Dan kalau aku melawan?" tantangnya.
Dante berjalan ke arah pintu, tapi berhenti sebelum keluar. Tatapan dinginnya menancap ke tatapan perempuan itu dengan tekad yang final.
"Kalau kau melawan, anak-anak akan melihat bagaimana aku menyeret ibu mereka dengan paksa. Dan seandainya aku jadi kau, aku tak akan mau memberi mereka pelajaran 'logika' seperti itu secepat ini."
Dante keluar dari rumah, meninggalkan Victoria sendirian di dapur. Aroma tubuhnya masih membekas di udara, berbaur dengan melati di kebun kecilnya. Gencatan senjata hasrat itu telah usai. Perang memperebutkan jiwa si kembar baru saja memasuki fasenya yang paling kelam.