"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 Kecurigaan Rhea
Sabtu sore di area food court Kampus Jagatara terasa jauh relatif lebih tenang dibandingkan hari biasa. Tidak ada suara mahasiswa yang berlalu-lalang terburu-buru menuju kelas, tidak ada dering ponsel yang bersahutan, ataupun suara dosen yang sesekali terdengar dari gedung fakultas. Hanya percakapan ringan beberapa mahasiswa yang menghabiskan akhir pekan mereka di kampus.
Di salah satu sudut yang agak tersembunyi, Liora dan Rhea duduk berhadapan dengan tumpukan buku referensi skripsi, beberapa lembar catatan kuliah, dan laptop Liora yang sejak tadi menyala, serta dua gelas es kopi susu yang esnya mulai mencair.
Liora tampak sibuk mengedit draf proposal menggunakan laptopnya. Setidaknya, begitulah seharusnya.
Jari-jarinya memang sesekali bergerak di atas keyboard, tetapi pikirannya sama sekali tak berada di sana. Tatapannya beberapa kali kosong, kemudian tanpa ia sadari sudut bibirnya ikut terangkat membentuk bulan sabit.
Bayangan semalam kembali muncul begitu saja, berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak. Wajahnya memerah mengingat insiden ketika hujan deras di Lantai empat puluh dua gedung Evander Corp itu.
Liora buru-buru menggeleng, berusaha mengusir bayangan itu.
Rhea yang tengah asyik mengunyah kentang goreng, mengernyit bingung melihat tingkah sahabatnya yang sejak tadi tampak tidak fokus dan sesekali tersenyum sendiri.
"Ra," panggil Rhea curiga.
Suara Rhea membuat Liora tersentak. Ia segera kembali menatap layar laptop.
"Hah?"
Rhea menyipitkan mata. "Lu hari ini agak aneh."
Liora berusaha memasang wajah sebiasa mungkin. "Aneh gimana? Gue biasa aja kok."
"Biasa dari mananya?" Rhea menunjuk wajah Liora dengan garpu plastiknya yang masih menggantungkan sepotong kentang goreng.
"Pertama, kacamata lu diisolasi bening gitu engselnya. Kedua, lu dari tadi melamun sambil senyum-senyum sendiri kaya orang abis dapet undian miliaran rupiah."
Rhea meletakkan garpunya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. "Terus sekarang lu kelihatan panik banget cuma gara-gara gue nanya."
Liora menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ada yang lu sembunyiin dari gue ya?"
Wajah Liora tiba-tiba memanas. Ia teringat kembali kejadian semalam, terutama saat Ravian berdiri begitu dekat dengannya bahkan mempebaiki dan memasangkan kembali kacamatanya. Kemudian mengantarnya pulang sampai depan gang rumah.
Hal sederhana. Sangat sederhana.
Namun entah kenapa, justru menjadi sesuatu yang terus menari-nari di kepalanya sejak tadi pagi.
"N-nggak ada kok!". Elaknya cepat. " Ini tuh patah semalam gara-gara kecerobohan gue sendiri."
Rhea mengangkat sebelah alisnya. "Semalam?"
"Iya."
"Lu abis pulang dari mana?"
"Dari... magang."
Jawaban itu keluar begitu saja membuat Rhea semakin menyipitkan mata.
Liora gugup. Ia merasa dirinya seperti terdakwa yang sedang diperiksa polisi.
Demi menghindari tatapan Rhea, ia buru-buru meraih tas ranselnya yang diletakkannya di kursi sebelah untuk mengambil tempat pensil. "Udah, jangan bahas itu."
Namun, karena gerakannya yang terburu-buru dan panik, tas ransel yang resletingnya belum tertutup sempurna itu justru merosot dari pinggir kursi dan terjatuh ke lantai.
Brak!
"Astaga."
Isi tas Liora langsung berserakan di atas lantai ubin. Alat tulis, catatan kuliah, charger laptop, hingga beberapa map dokumen berhamburan keluar dari dalam tas.
Rhea tertawa kecil sambil membungkuk. "Makanya pelan-pelan, Ra."
"Gue bantu."
Liora ikut berjongkok, buru-buru mengumpulkan barang-barangnya. Jantungnya masih agak berdebar karena percakapan sebelumnya.
Namun, saat Rhea hendak mengambil sebuah map tebal berbahan kulit eksklusif berwarna abu-abu gelap, gerakan tangannya mendadak terhenti.
Map itu tampak berbeda dari barang-barang Liora yang lain. Tampilannya terlihat begitu rapi dan mahal. Dan yang paling mencolok adalah di pojok kanan atas map tersebut, tertera stempel merah berlogo tegas yang sangat tidak asing:
OFFICE OF THE CEO - EVANDER CORP CONFIDENTIAL
Rhea mengernyitkan dahi. "Lho? Ini kan map berkas rahasia eksekutif Evander Corp? Kok bisa ada di tas lu, Ra?"
Jantung Liora seolah berhenti berdetak saat itu juga. Ia buru-buru berdiri. "Rhea, jangan dibaca!" jerit Liora panik, buru-buru mencoba merebut map itu.
"Kenapa?" Rasa penasaran membuat Rhea bergerak lebih cepat dari pada peringatan sahabatnya.
"Rhea, serius. Jangan buka!"
Rhea malah semakin curiga. Ia yang penasaran justru dengan cepat membuka sampul depan map tersebut.
Di halaman pertama, sebuah lembar persetujuan anggaran proyek besar terpampang nyata. Beberapa paragraf berisi informasi internal perusahaan tercetak rapi, lengkap dengan nomor dokumen dan tanda klasifikasi rahasia.
Tapi, bukan isi dokumen yang membuat Rhea membeku, melainkan dua tanda tangan di bagian paling bawah.
Tanda tangan pertama: Liora Valeska Arwen (Executive Assistant Intern).
Tanda tangan kedua berada tepat di bawahnya. Bercetak tebal. Tegas. Dan sangat familiar.
Ravian Adhikara Evander - Chief Executive Officer.
Mata Rhea perlahan melebar. Jemarinya yang memegang map mulai gemetar. Ia mengulangi membaca nama itu sekali lagi untuk memastikan ia tidak salah baca. Dua kali. Tiga kali. Seolah huruf-huruf tersebut akan berubah jika ia berkedip.
Tapi.... tidak. Nama itu tetap sama.
Ravian Adhikara Evander.
Perlahan tapi pasti, Rhea mengangkat wajahnya menatap Liora dengan raut syok berat, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
"R-Ravian... Adhikara... Evander?" bisik Rhea memecah keheningan dengan suara bergetar.
Liora membisu.
"Tunggu..." Rhea menatap kembali lembar dokumen tersebut, lalu menatap Liora. "Nama belakang Pak Ravian... Evander?"
Liora memejamkan mata.
Rhea mulai menyatukan kepingan-kepingan informasi yang selama ini terasa tidak masuk akal.
"CEO Evander Corp yang misterius itu..." tatapannya semakin membesar. "... Pak Ravian?"
Liora menunduk
"... Dosen killer kita?"
Keheningan jatuh di antara mereka. Rhea bahkan sampai lupa bernapas selama beberapa detik.
"Ra..." suaranya berubah menjadi bisikan tak percaya. "Pak Ravian dosen kita itu benar-benar CEO Evander Corp?"
Liora menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tak ia sangka rahasia yang selama ini ia jaga ketat akhirnya runtuh hanya karena sebuah tas dengan resleting yang tidak tertutup sempurna.
"Rhea, tolong pelanin suara lu!" Liora buru-buru melihat sekeliling. Untungnya area food court sore itu cukup sepi. Beberapa mahasiswa duduk berjauhan, sibuk dengan laptop dan ponsel masing-masing.
Liora segera menarik tangan Rhea agar duduk kembali.
Rhea masih memegang map itu dengan ekspresi seperti baru menemukan konspirasi terbesar dalam sejarah kampus. Rhea menatap Liora dengan kombinasi rasa tak percaya dan kekaguman yang luar biasa.
"Gila..." Rhea menggeleng pelan. "Ini gila banget, Ra!"
Liora hanya bisa menghela napas panjang. "Mapnya tutup dulu."
Rhea menurut tetapi tidak memindahkan tatapannya dari wajah Liora. "Berarti selama ini lu kerja langsung di bawah Pak Ravian?"
"Iya"
"Dan Pak Ravian yang kita kenal sebagai dosen paling ditakuti se-fakultas..." Rhea menelan ludah. "...ternyata bos besar perusahaan teknologi raksasa di negeri ini"
Liora merapikan kacamata berisolasi beningnya yang melorot. "Makanya gue nggak pernah cerita."
"Tapi kenapa bisa sampai lu yang magang di sana?"
"Ceritanya panjang."
"Dan lu tanda tangan dokumen CEO"
Liora mengangguk pelan.
Rhea reflek menutup mulutnya dengan kedua tangan karena syok berat. "Ya ampun..."
Liora menatap sahabatnya dengan tatapan mengiba. "Gue terikat perjanjian kerahasiaan, Rhea. NDA. Kalau identitas Pak Ravian sebagai CEO sampai bocor di kampus, masa magang gue langsung dibatalkan dan nilai gue juga bisa ikut hancur."
Ekspresi Rhea mendadak berubah. Ia langsung mengunci mulutnya rapat-rapat. "Oke, oke. Gue paham!" Ia memegang kedua bahu Liora dengan raut serius. "Rahasia lu aman seratus persen di gue, Ra. Gue janji nggak akan bilang ke siapa-siapa, termasuk ke Kaivan."
Liora menatapnya lega. "Serius?"
"Iya serius." Rhea mengangkat satu tangannya seolah sedang mengucapkan sumpah.
"Thanks."
Namun, keheningan itu hanya bertahan beberapa detik. Perlahan senyum jahil kembali muncul di wajah Rhea, matanya berkilat jenaka. "Tapi Ra... jujur sama gue." Rhea mendekatkan wajahnya.
Liora langsung curiga. "Jujur apa?"
"Tatapan Pak Ravian ke lu pas di kelas, terus lu bisa kerja langsung di bawah dia..." Rhea menarik kacamata Liora yang engselnya terbalut isolasi bening. "... terus insiden kacamata lu yang diisolasi rapi begini..." senyumnya semakin lebar. "... ada sesuatu kan di antara kalian?"
Wajah Liora tiba-tiba merah padam. "Nggak ada!" Jawabnya terlalu cepat.
"Lu bahkan belum gue tuduh apa-apa."
"Gue serius."
"Iya, iya." Rhea menyandarkan tubuhnya ke kursi, tetapi matanya tak lepas dari Liora, masih menatap dengan penuh selidik. "Terus kenapa muka lu merah?"
Liora menggigit bibir bawahnya, lalu menunduk dalam. Tak sanggup menjawab pertanyaan sahabatnya yang terlalu tepat sasaran itu.