Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak Baru di Tengah Kehangatan
Sinar matahari pagi menembus celah gorden tipis ruang tamu kontrakan sederhana mereka. Aroma harum nasi goreng bumbu rempah dan kopi hitam semerbak memenuhi ruangan kecil tersebut.
Maya melangkah keluar dari kamar mandi dengan setelan kerja formal berwarna krem. Rambutnya yang basah terurai rapi di bahu. Matanya langsung tertuju ke arah meja makan kayu tempat Arka sedang menata cangkir teh hangat.
Pemandangan itu membuat hati Maya hangat. Pria yang semalam berdiri begitu menakutkan di balik kemudi dan sanggup membuat seluruh kerajaan bisnis Surya Wijaya runtuh dalam hitungan jam, kini kembali menjadi sosok suami penyayang yang telaten menyiapkan sarapan untuknya.
"Pagi, Maya," sapa Arka dengan senyum hangat khasnya. "Ayo sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor."
Maya melangkah mendekati meja makan, namun bukannya langsung duduk di kursinya, ia justru berjalan ke belakang tubuh Arka. Dengan gerakan yang penuh keberanian dan kelembutan, Maya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arka dari belakang, menyandarkan pipinya pelan di punggung bidang sang suami.
Arka tersentak pelan. Gerakan tangannya yang sedang memegang teko teh terhenti sejenak. Ia merasakan kehangatan dan ketulusan yang luar biasa dari pelukan istrinya.
"Maya?" panggil Arka pelan dengan nada terkejut yang manis.
"Biarkan seperti ini sebentar saja, Arka," bisik Maya dengan suara sangat halus. "Aku hanya ingin memastikan kalau semua ini bukan mimpi. Bahwa kamu benar-benar ada di sini dan tidak akan meninggalkanku."
Arka melepas teko tehnya, lalu mengusap jemari Maya yang melingkar di perutnya. "Aku tidak akan ke mana mana, Maya. Aku akan selalu ada di sini, menjadi suamimu."
Maya tersenyum di balik punggung Arka. Perlahan ia melepaskan pelukannya, lalu berjalan mengitari meja dan duduk di hadapan Arka dengan wajah yang sedikit merona merah.
"Mulai hari ini," kata Maya seraya mengambil sendok sarapannya, "aku tidak akan pernah mempertanyakan lagi siapa kamu atau latar belakang masa lalumu. Yang aku tahu, kamu adalah pria yang paling aku percayai di dunia ini."
Arka menatap manik mata Maya yang jernih. Ada rasa lega sekaligus rasa bersalah yang sedikit mengetuk hatinya karena belum bisa menyampaikan seluruh identitas puncaknya secara gamblang. Namun, melihat kebahagiaan dan rasa percaya di mata istrinya saat ini, Arka tahu bahwa keputusan untuk menjaga identitasnya tetap tersembunyi demi keselamatan Maya adalah langkah terbaik.
Dua jam kemudian, di Gedung Utama Wibowo Group.
Suasana di kantor pusat Wibowo Group sangat bergairah. Berita penangkapan Surya Wijaya dan penyitaan aset Megah Pratama Group menjadi topik utama di seluruh saluran televisi dan media cetak. Saham Wibowo Group melonjak naik hingga batas tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Maya melangkah menelusuri koridor utama didampingi Arka di sisinya. Setiap karyawan yang berpapasan membungkuk hormat dengan senyum bangga. Tidak ada lagi tatapan meremehkan atau kasak kusuk negatif yang dulu selalu mengiringi langkah mereka.
Namun, saat Maya dan Arka tiba di depan pintu ruang kerja Direktur Utama, seorang pria muda bersetelan jas perak mahal dengan gaya sangat modis tampak berdiri menunggu bersama dua orang pengawal tegap berseragam khusus.
Pria muda itu memiliki paras tampan namun memancarkan keangkuhan yang sangat pekat. Di jarinya melingkar sebuah cincin stempel perak berukir lambang Keluarga Utama Nusantara.
Melihat kedatangan Maya, pria muda itu menyunggingkan senyum tebar pesona yang penuh percaya diri.
"Selamat pagi, Maya," sapa pria muda itu dengan nada suara yang sangat akrab dan santai.
Maya menghentikan langkahnya, keningnya berkerut rapat. "Siapa Anda? Dan bagaimana Anda bisa masuk ke lantai direksi tanpa janji temu?"
Pria muda itu terkekeh pelan, melangkah mendekat seraya merapikan kerah jas peraknya.
"Perkenalkan, aku Dion Nusantara," ujar pria muda itu membanggakan namanya. "Aku adalah sepupu dari keluarga cabang Konsorsium Nusantara Group, sekaligus utusan khusus yang diutus langsung oleh Dewan Direksi Pusat dari ibu kota."
Maya tersentak pelan tatkala mendengar nama belakang pria tersebut. Pria di hadapannya ini adalah anggota keluarga inti dari Konsorsium Nusantara Group!
Arka yang berdiri di samping Maya menyipitkan matanya rapat rapat. Iris matanya berubah menjadi sangat dingin. Ia tentu mengenal Dion—sepupu jauhnya dari cabang keluarga Nusantara yang terkenal serakah, gemar menghamburkan uang, dan selalu berusaha mencari muka di hadapan dewan komisaris pusat.
"Ada keperluan apa utusan dari Dewan Pusat datang ke Wibowo Group?" tanya Maya tegas, mempertahankan ketenangannya.
Dion tersenyum manis, memandang Maya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat vulgar dan tidak sopan.
"Aku datang untuk meninjau Proyek Wibowo Park yang katanya menerima investasi triliunan rupiah dari konsorsium kami," kata Dion dengan gaya angkuh. "Dan setelah melihat langsung keanggunanmu, Maya... aku merasa keputusan dewan pusat untuk berinvestasi di sini sangat tepat. Tapi tentu saja, sebuah proyek sebesar itu tidak bisa dipimpin oleh seorang wanita muda tanpa pendampingan dari pria berdarah murni Nusantara seperti aku."
Maya mengernyitkan alisnya kencang. "Maksud Anda?"
Dion melangkah satu titik mengikis jarak, mengabaikan keberadaan Arka begitu saja.
"Maksudku sangat sederhana, Maya," kata Dion dengan nada menggoda yang memuat kesombongan luar biasa. "Tinggalkan suami montir serabutanmu ini. Batalkan pernikahan konyolmu, dan jadilah wanitaku. Jika kamu bersamaku, bukan hanya Wibowo Group yang akan kuangkat ke puncak, tapi seluruh kekayaan cabang Nusantara Group akan berada di genggamanmu."
Mendengar ajakan bernada penghinaan tersebut, raut wajah Maya seketika berubah menjadi sangat dingin dan murka.
Namun sebelum Maya sempat membalas ucapan kotor tersebut, sebuah suara berat dan dingin memotong udara di koridor tersebut dengan tekanan yang sangat menakutkan.
"Dion," panggil Arka datar.
Arka melangkah maju satu titik, berdiri tepat memblokir posisi Dion dari hadapan Maya. Tinggi tubuh dan lebar bahu Arka yang tegap sepenuhnya menutupi pandangan Dion.
Dion menatap Arka dengan pandangan jijik dan cemoohan yang meluap. "Apa kamu bilang, montir gembel? Kamu berani menyebut namaku tanpa gelar kehormatan?!"
Arka menatap lurus ke dalam mata Dion dengan iris mata yang sarat akan aura Dewa Perang.
"Dalam waktu tiga detik," kata Arka dengan nada suara sangat datar namun sanggup membuat bulu kuduk kedua pengawal Dion berdiri tegak, "bawa kakimu dan pengawalmu keluar dari gedung ini, atau aku akan memastikan keluargamu di ibu kota mencoret namamu dari silsilah Nusantara Group sebelum matahari tenggelam."
itu.