Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Tiri vs Ibu Kota
Bab 18
“Terus lo mau pensiun atau gimana?”
“Ya nggak mungkin dong, lo tau usaha kita sampai titik ini kayak gimana,” sahut Ruby kembali berbaring, kali ini membelakangi Meldy.
“Hah, pusing pala gue. Sumpah hidup lo selama ini ribet sekarang makin ribet. Jadi lapar ‘kan gue.” Meldy menuju dapur mencari makanan yang bisa dinikmati, hanya ada buah dan telur di lemari es, roti dan biskuit gandum. “Ampun gue, isi kulkas lo merana. Gue mau bikin sandwich, mau gak?” teriak Meldy.
“Nggak, buatin juice aja beb.”
“Ngelunjak, sumpah lo makin ngelunjak.”
“Apa sih, gak boleh galak-galak tau nanti jodohnya mampet kayak ing-us.”
“Perumpamaan lo aneh. Btw, hubungan lo sama anak tiri, gimana?”
“Nggak gimana-gimana.”
Terdengar suara juice maker dan kehebohan di dapur lengkap dengan ocehan Meldy.
“Sumpah, nggak kebayang gue. Cewek manja, ribet kayak lo udah jadi ibu aja. Nih, minum … habisin!”
Ruby beranjak duduk menerima gelas dari manajer sekaligus bodyguard dan kadang merangkap supir pribadi.
“Gue gak mau tahu, lusa kita ada pemotretan. Minggu depan ada 3 jadwal dan semua itu nggak bisa dicancel. Ah, iya, pertemuan sama produk jamu. Gue udah approve pertemuan sama mereka ya.”
“Iya bawel.”
“Laki lo kasih izin lo kerja?”
Kali ini Ruby menggeleng, belum pernah bicarakan serius terkait hal ini. “Nantilah gue bicarakan."
“Selama ini image lo aman ya, karena kerjasama kita. Bae-bae lo kena isu scandal, wassalam semua kerjaan. Lah, dia tiduran lagi.”
“Berisik mel, nanti bangunin gue jam 1. Mau jemput anak-anak.”
“Astaga Ruby!!!! Lo sekarang jadi supir?”
***
Nilam kesal dengan sikap Bara, meski selama ini sikapnya memang dingin. Bahkan sejak kakaknya masih hidup. Kematian Naomi bukan sekedar kabar duka, tapi bagi Nilam seolah ada peluang untuk menempati posisi nyonya Barata. Naomi dan Bara sebenarnya dijodohkan, ia tidak melihat kehangatan cinta pada pasangan itu meski sudah memiliki dua anak.
Sayangnya ia sudah menikah saat kata perjodohan itu tercetus diantara dua keluarga, apalagi penampilan Bara begitu sempurna. Tiga tahun lalu ia sudah bercerai dan di usianya yang ke-33 dengan status janda dan pekerjaan yang tidak menjanjikan, sungguh tidak menguntungkan.
“Siapa perempuan itu, kenapa begitu mudah hadir di kehidupan Mas Bara. Hah!” Nilam memukul stir dan mengacak rambutnya. “Aku harus cari cara, untuk dapatkan perhatian mas Bara. Menikah dengan duda dan punya anak bukan sekedar menaklukan sang duda, tapi juga anak-anak dan keluarga besarnya.”
Senyum licik di wajah Nilam. Ia membuka ponsel dan menghubungi seseorang.
“Halo, tante Husnah. Apa kabar?” Bibirnya mencebik. Lawan bicaranya di ujung sana, tidak tahu kalau dia hanya berpura-pura ramah. “Iya tante, sebulan ini aku sibuk ke luar kota. Maklum, single cari nafkah sendiri.”
“Iya, aku sudah dengar anak-anak punya ibu baru. Tante yakin kasih restu mereka? Padahal selama ini aku sangat dekat sama anak-anak, mereka sudah aku anggap anak sendiri tante.”
“Ya sudah, tapi jangan batasi hubungan aku sama anak-anak ya tante.”
Tidak lama panggilan berakhir, Nilam melempar ponsel ke jok di sampingnya. Penasaran siapa perempuan itu. Sampai tante Husnah pun mendukung mas Bara.”
Nilam kembali mengemudikan mobilnya. Tujuannya sekolah anak-anak, Jelita lebih mudah dihasut. Satu jam sebelum sekolah bubar, ia sudah tiba di sana. Bahkan minta izin bertemu dengan bocah itu.
“Tante Nilam,” panggil Jelita lalu berlari menghampiri dan memeluk Nilam. Jelita meyakini wajah Nilam begitu mirip dengan wajah ibunya di foto. “Tante kemana aja, aku kangen.”
“Iya, tante sibuk. Sebenarnya tante ngambek karena ulah papi kamu.”
“Ngambek?” tanya Jelita setelah mengurai pelukannya, Nilam pun menegakkan tubuh karena harus menunduk demi memeluk Jelita. “Oh, iya papi sudah menikah dengan Bunda. Namanya Ruby, bunda Ruby.”
Sial4n, sudah sedekat itu mereka. sampai Jelita panggil dia Bunda.
Nilam berjongkok, tangannya terulur merapikan helaian rambut Jelita dan menyelipkan ke belakang telinga.
“Jelita, kamu tahu kan tante sayang kamu sayang Adly.”
Jelita mengangguk.
“Kamu jangan terlena, tidak mungkin orang baru bisa langsung menerima kalian begitu saja. Kita tidak tahu dia tulus atau nggak. Mana tahu hanya cinta sama papi kalian, tapi tidak bisa menerima kalian.”
“Tapi bunda baik, dia antar aku sama abang. Nanti juga mau jemput. Weekend ini kita mau main.”
“Hah, jangan percaya. Itu Cuma trik dia untuk dekati kalian. Kamu tahu Jelita, wanita itu ibu tiri. Ibu tiri lebih kejam daripada ibu kota. Dia hanya ingin merebut papi kalian. Lihat saja nanti, kalian pasti dibuang apalagi kalau mereka punya anak. Siapa juga mau terima bocah ribet seperti kamu dan anak cacat seperti Adly.”
“Tante ….”
“Hanya tante yang peduli sama kalian.”
Raut wajah Jelita terlihat bingung bahkan dahinya mengernyit selain menghalau terik matahari.
“Ya sudah, jangan dipikirkan. Tenang saja, ada tante. Kamu balik ke kelas, tante tunggu kamu di sini ya. Kita pulang bersama, jangan mau sama ibu tiri. Ingat, ibu tiri itu … jahat!”
Jelita berbalik melangkah meninggalkan Nilam, sempat menoleh ke belakang dan Nilam mengusir dengan menggerakan tangannya.
“Tante tunggu di depan ya!”
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭