[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 : Jamuan
Langkah kaki Wang Yiche menjauh dengan cepat menyusuri koridor utama, meninggalkan Fang Hua yang masih berdiri tenang di dekat lorong paviliun timur. Gadis itu menarik napas panjang, meresapi keheningan yang kembali merayap di sekitar bangunan tua tersebut. Ia tahu kedatangan utusan mendadak dari permaisuri di istana pusat pasti membawa angin badai baru. Di era kekaisaran ini, tidak ada kunjungan dari pihak musuh yang berujung pada kebaikan.
Fang Hua memutuskan untuk berbalik dan kembali ke dalam paviliun. Begitu ia membuka pintu kayu berderit itu, ia mendapati Luo Huanran sudah terjaga dari tidurnya. Gadis berwajah mirip dirinya itu tengah duduk di tepi balai-balai dengan ekspresi cemas, kedua tangannya meremas erat ujung kain selimut.
"Fang Hua... darurat ya? Aku tadi mendengarkan suara langkah kaki dan orang berbicara di luar," ujar Luo Huanran dengan nada suara bergetar pelan, langsung menghampiri saat melihat Fang Hua masuk ke dalam ruangan.
"Tenanglah, tidak ada apa-apa," jawab Fang Hua singkat seraya meletakkan tas ransel kecilnya di atas meja kayu. Ia menarik sebuah kursi reyot dan duduk di hadapan Luo Huanran. "Utusan dari permaisuri istana pusat baru saja datang menemui pangeran. Sepertinya keluarga Jenderal Luo atau pihak musuh di sana mulai gelisah karena kita selamat di hari pertama."
Luo Huanran menelan ludah kasar. Wajahnya tampak semakin pucat. "Permaisuri... itu berarti Selir Qin atau orang-orang yang mendukung pangeran mahkota sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Bagaimana jika mereka tahu kau menggantikanku, lalu mengirim pasukan untuk membunuh kita berdua?"
"Mereka tidak akan tahu selama kita bermain rapi," tukas Fang Hua dengan tatapan penuh keyakinan. Ia menyentuh bahu Luo Huanran pelan untuk meredakan kepanikan gadis itu. "Justru kepanikan mereka membuktikan bahwa rencana kita berjalan di jalur yang benar. Pihak istana pusat mengira mereka sedang menyingkirkan duri, padahal mereka sedang membiarkan racun masuk ke jantung pertahanan mereka sendiri."
Sementara itu, di aula utama Istana Barat, suasana jauh dari kata tenang.
Wang Yiche berdiri tegap di tengah ruangan dengan topeng besi perak yang kembali menutupi separuh wajahnya. Di hadapannya, seorang utusan istana berpakian sutra mewah dengan bordiran benang emas berdiri angkuh, dikelilingi oleh empat pengawal pribadi berpedang tajam.
"Kaisar dan Permaisuri merasa kecewa mendengar laporan bahwa pengantin wanita dari keluarga Luo masih bisa bertahan hidup di tempat terkutuk ini, Yang Mulia Pangeran Kelima," ucap utusan itu dengan nada sinis, sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat yang layak kepada seorang pangeran darah biru. "Permaisuri memerintahkan agar pengantin itu segera diuji kesetiaannya. Jika dia tidak mampu melewati ujian malam ini, maka ia harus disingkirkan demi menjaga nama baik keluarga kekaisaran."
Wang Yiche menyipitkan mata di balik topeng peraknya. Tangan kanannya mengepal erat di samping jubah hitamnya. Ia sangat tahu bahwa ujian yang dimaksud oleh permaisuri bukanlah ujian biasa, melainkan sebuah jebakan mematikan untuk menghabisi nyawa siapa pun yang dikirim ke istana barat.
"Ujian apa yang diinginkan oleh Permaisuri?" tanya Wang Yiche dingin, suaranya menggelegar memenuhi aula yang kosong.
Utusan itu tersenyum licik, lalu melambaikan tangan memberi isyarat kepada pengawalnya untuk meletakkan sebuah kotak kayu berat di atas lantai batu.
"Malam ini, di perjamuan kecil penyambutan, sang pengantin harus membuktikan keberaniannya dengan meminum cawan khusus dari istana pusat," ujar utusan itu penuh ancaman terselubung. "Jika dia menolak atau mati keracunan, itu artinya keluarga Jenderal Luo telah mengirimkan barang cacat, dan pihak istana barat akan menanggung seluruh akibatnya."
Wang Yiche menatap kotak kayu itu lekat-lekat. Sebuah cawan berisi racun perlahan terbayang di benaknya. Ini adalah cara busuk faksi permaisuri untuk menjatuhkan wibawanya sekaligus menghabisi gadis baru yang baru saja menginjakkan kaki di kediamannya.
Namun, alih-alih merasa gentar atau cemas, sudut bibir Wang Yiche di balik topeng besi justru terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin. Ia teringat pada tatapan mata Fang Hua pagi tadi--mata yang penuh keyakinan, tajam, dan sama sekali tidak tersentuh rasa takut.
"Sampaikan kepada Permaisuri," ucap Wang Yiche dengan nada mutlak yang membuat utusan itu merinding seketika. "Istriku bukan seseorang yang bisa dibunuh dengan cara murahan seperti itu. Malam ini, di aula utama, perjamuan akan tetap dilangsungkan sesuai keinginan mereka."
Utusan itu tertegun sejenak, tidak menyangka pangeran buangan tersebut berani menerima tantangan secara terbuka. Dengan gestur kaku, utusan itu membungkuk singkat lalu berpamitan pergi bersama para pengawalnya, meninggalkan aula utama dalam keheningan yang pekat.
Wang Yiche membalikkan tubuhnya, menatap ke arah jendela yang mengarah ke paviliun timur.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️