`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26_Bayangan di Bangsal Isolasi dan Rencana Hitam Lea
...BAB 26_Bayangan di Bangsal Isolasi dan Rencana Hitam Lea...
Sudah dua hari penuh kursi di barisan tengah kelas 11-A Ozawa School dibiarkan kosong melompong.
Bagi `Teo Ozawa`, dua hari ini terasa seperti siksaan tanpa akhir. Rasa penasaran yang awalnya hanya berupa rasa kesal karena diabaikan, kini telah bermutasi menjadi kecemasan luar biasa yang menggerogoti kewarasannya. Gadis beasiswa itu—`Alia`—menghilang tanpa jejak. Tidak ada kabar, tidak ada surat izin sakit, dan nomor ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali.
Di ruang OSIS yang tertutup rapat, Teo membanting ponselnya ke atas meja kaca hingga retak. Ia sudah kehilangan kesabarannya.
`"Cari tahu!"` bentak Teo pada dua orang pengawal bayaran dan anak buah kepercayaannya yang berdiri kaku di hadapannya. `"Aku tidak peduli bagaimana caranya! Lacak nomornya, periksa rumah sewanya, cari tahu di mana keberadaan gadis itu sekarang! Aku mau laporan lengkap dalam waktu satu jam!"`
Anak buah Teo langsung bergerak cepat menggunakan seluruh jaringan koneksi keluarga Ozawa. Dan benar saja, dalam kurun waktu kurang dari satu jam, sebuah informasi mengejutkan mendarat di meja Teo. Sebuah kenyataan yang sukses membuat darah Teo mendadak berdesir ngeri.
Anak buah Teo melaporkan hasil pelacakan administratif rumah sakit jiwa swasta elit di pinggiran kota. Berdasarkan catatan administrasi pasien yang masuk, nama yang terdaftar sebagai pasien rawat inap di bangsal isolasi khusus adalah... `Alia`.
Teo mematung di kursi kebesarannya. Udara di dalam ruang OSIS mendadak terasa hampa, seolah tersedot habis oleh sebuah kenyataan yang sama sekali di luar nalar manusia. Kertas laporan cetak dari anak buah kepercayaannya bergetar pelan di antara jemarinya yang mencengkeram erat.
`Alia... dirawat di rumah sakit jiwa?` batin Teo, dadanya bergemuruh hebat diiringi sensasi dingin merayap di balik tengkuknya.
Pikiran Teo berputar liar, mencoba merangkai kepingan-kepingan puzzle yang berserakan di kepalanya. Selama satu bulan lebih terakhir, gadis bermata kembar dua yang selalu menatapnya dengan penuh kebencian, ketajaman, dan perlawanan tanpa takut itu hadir setiap hari di bangku kelas 11-A. Gadis itu bernapas, berbicara, membalas setiap ejekannya, bahkan tanpa sadar membuat jantung Teo berdegup aneh karena rasa penasaran yang teramat sangat.
Tapi laporan anak buahnya sangat jelas, hitam di atas putih, tanpa celah kesalahan: dokumen administratif dari sebuah rumah sakit jiwa swasta elit di pinggiran kota Jakarta mencatat nama Alia sebagai pasien rawat inap di bangsal isolasi khusus.
Dan yang membuat darah Teo mendadak berdesir ngeri: tanggal masuk pasien itu tercatat sudah satu bulan lebih yang lalu.
`Satu bulan lebih.`
Artinya, gadis yang dirawat di bangsal isolasi rumah sakit jiwa itu sudah berada di sana jauh sebelum 'Alia' yang sekarang muncul di sekolah, duduk di kelasnya, dan mengacaukan seluruh dunianya!
Teo mencengkeram tepi meja kaca hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Bulu kuduknya meremang hebat. Jika gadis yang selama ini mengenakan seragam sekolah, melawan setiap perintahnya, dan memandangnya tajam bukanlah Alia yang asli... lalu siapa sebenarnya gadis yang ada di sekolah selama ini? Apa motif di balik penyamaran gila ini? Dan ke mana perginya Alia yang asli? Pertanyaan-pertanyaan itu menghujam kepala Teo, menciptakan ketakutan asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, suasana tidak kalah panas dan mencekam. Di sebuah kamar suite hotel bintang lima mewah yang terletak di jantung kota Jakarta, seorang pria asing mondar-mandir bagai singa kelaparan di dalam sangkar besi.
`Ethan.` Pria asal Melbourne itu menghentakkan kakinya di atas karpet tebal dengan napas memburu. Sudah satu bulan lebih sejak ia pertama kali kehilangan jejak Lea—waktu yang dihabiskannya dalam bayang-bayang kecurigaan, rasa frustrasi, dan api cemburu yang membakar setiap sel di tubuhnya. Ponsel di tangannya tak pernah berhenti berdering .nada panggil kosong yang tak kunjung dijawab. Ethan masih terjebak di Jakarta, mengurung diri di kamar hotel sambil terus mengerahkan segala cara kotor dan koneksi gelap untuk melacak keberadaan kekasihnya. Dendam kesumat dan kerinduan yang sakit berpadu menjadi satu racun mematikan di dalam dadanya.
Ia tidak peduli berapa banyak uang yang harus ia habiskan atau siapa pun yang menghalangi jalannya; ia harus menemukan Lea hari ini juga.
Kembali ke penthouse mewah berlantai marmer dingin tempat Lea berada.
Hubungan antara Lea dan `Julian` tampak jauh lebih tenang, setidaknya jika dilihat dari permukaan. Julian telah menjelma menjadi sosok pria paling bucin di muka bumi—menempel pada Lea setiap detik, menepati janjinya untuk tidak lagi ikut campur atau merusak rencana balas dendam gadis itu pada keluarga Ozawa. Setiap pagi, milyarder global itu bahkan memasakkan sarapan dan memperlakukan Lea layaknya ratu paling berharga di dunia.
Namun, bagi Lea, ketenangan ini hanyalah ilusi semu yang berjalan di atas kawat berduri. Di balik senyum manisnya, ia tahu waktu terus berjalan mundur.
Siang itu, kesempatan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Saat Julian sedang sibuk menerima panggilan telepon bisnis penting dari para direktur internasional di balkon kaca luar ruang kerja—memunggungi ruangan utama dengan pengamanan ketat—Lea memanfaatkan detik-detik berharga tersebut.
Dengan langkah sepelan bayangan, ia berjalan ke sudut dapur, menarik ponsel lokal keduanya dari dalam saku tersembunyi. Tangannya bergerak cepat di atas layar kaca, mengetik sebuah pesan rahasia yang mempertaruhkan nyawanya sendiri kepada Ethan.
> `Lea: "Ethan. Jangan cari aku secara membabi buta di seluruh Jakarta. Kalau kamu mau kita bicara, datang ke kafe [lokasi rahasia] jam 4 sore ini. Datang sendiri, atau kita benar-benar selesai selamanya."`
Begitu pesan itu terkirim, Lea langsung menghapus riwayat pesannya dalam sekali usap. Jantungnya berdegup kencang, memukul tulang rusuknya dengan keras.
Batin Lea mendengus dingin di balik topeng tenangnya: `Satu bulan lebih aku memegang kendali penuh atas penyamaran ini, mempermainkan Teo Ozawa, dan mengontrol Julian. Sekarang, langkahku tinggal satu: singkirkan Ethan kembali ke Australia sebelum dia membongkar semuanya, hadapi Teo yang mulai mendekati kebenaran, dan pastikan Julian tetap menjadi bonekaku.`
Sebuah permainan catur tingkat tinggi yang sangat mematikan. Satu kesalahan kecil saja—jika Julian berbalik badan dan memergokinya—maka riwayat Ethan, penyamarannya, dan hidupnya akan berakhir seketika di tangan sang singa Australia. Namun Lea adalah seorang ratu strategi, dan ia tidak pernah berniat untuk kalah.