Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Siang hari di lantai 35 berjalan seperti biasa, atau setidaknya begitulah yang dipikirkan oleh Alesia Fiore. Kakinya yang semalam sempat terkilir kini sudah jauh lebih mendingan berkat kompresan hangat dan perban elastis dari Dante.
Mengingat larangan lembur dari sang bos, Alesia memutuskan untuk menyelesaikan semua sisa laporan administrasinya dengan santai.
Karena fokus menatap layar komputer, Alesia tidak sadar tangannya bergerak otomatis mengambil stoples camilan di sudut meja. Ia memasukkan camilan ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan pipi menggembung hingga mengeluarkan suara kriuk-kriuk yang renyah.
Tiba-tiba, suasana lantai 35 yang tadinya bising oleh ketukan papan ketik mendadak senyap seketika. Koridor utama lantai pemasaran seolah dilewati oleh angin es.
Alesia yang sedang asyik mengunyah kerupuk tahu refleks mendongak. Detik itu juga, ia hampir saja tersedak.
Dante Luca Alessio sedang berdiri tegap tepat di depan kubikelnya. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan jas yang disampirkan di lengan, ditemani Rey di belakangnya.
Dalih resminya adalah inspeksi dadakan untuk memantau performa divisi pasca-kenaikan pendapatan. Tapi mata abu-abu Dante sama sekali tidak melihat ke arah papan pengumuman divisi; tatapannya lurus terkunci pada kaki Alesia yang sengaja diselonjorkan di bawah meja, lalu naik ke arah pipi Alesia yang masih kembung penuh camilan.
Melihat bos besarnya datang, Alesia panik. Ia berusaha menelan kerupuk tahu itu bulat-bulat dengan susah payah hingga matanya berkaca-kaca. Dengan gerakan kilat, ia menyembunyikan stoples camilannya di bawah meja dan langsung berdiri tegak, membungkuk kaku.
"Se-selamat siang, Sajangnim!" cicit Alesia, suaranya agak serak karena serpihan kerupuk yang menyumbat tenggorokannya.
Dante menatap Alesia dari ujung kepala sampai ujung kaki, memastikan setelan putih gading yang ia belikan pagi tadi terpasang sempurna. Matanya sempat melirik pergelangan kaki Alesia yang tidak lagi tampak bengkak.
Sudut bibir Dante berkedut tipis menahan tawa melihat sisa remahan tepung yang entah bagaimana menempel di sudut bibir bawah Alesia.
"Inspeksi divisi hari ini menunjukkan performa yang... cukup santai, Nona Fiore. Lanjutkan pekerjaan Anda, dan kurangi suara kunyahan yang mengganggu estetika kantor," ucap Dante datar dengan nada sindiran andalannya sebelum berbalik pergi.
Rey yang berdiri di belakang Dante hanya bisa menutup mulutnya, menahan tawa geli yang luar biasa sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Alesia sebelum menyusul bosnya.
Alesia langsung merosot kembali ke kursinya, menepuk dahinya kesal. 'Sialan, Pak Singa itu sengaja banget cari kesalahan pas aku lagi ngemil!' batunya merutuk.
Roda takdir tampaknya memang hobi menguji kesabaran Alesia. Saat jam makan siang tiba, ia kembali pergi ke kantin bersama Hana dan Min-ji.
Kali ini, Alesia memesan menu sup rumput laut hangat untuk menenangkan lambungnya. Namun, belum juga sup itu mendingin, telinganya kembali menangkap suara-suara sumbang dari meja seberang.
Gerombolan wanita dari divisi sebelah yang kemarin blak-blakan menyindirnya kini kembali berkumpul. Tampaknya mereka masih menyimpan dendam kesumat atas balasan menohok Alesia di kantin beberapa hari lalu. Sengaja mengeraskan suara, salah satu wanita berambut pirang buatan mulai memprovokasi.
"Enak ya yang berhasil cari muka. Dapat bonus terus, dapet penghargaan lagi semalam. Sukses banget deh cari mukanya ke bos baru," sindir wanita itu sambil tertawa sinis dengan teman-temannya.
"Sudah begitu, masih sempat-sempatnya tebar pesona ke cowok lain di lantai dansa. Murahan banget."
Tebar pesona yang mereka maksud tidak lain adalah saat Alesia terpaksa menerima ajakan dansa dari Park So-joon malam tadi.
Mendengar kalimat "murahan" itu, Hana dan Min-ji sudah bersiap berdiri dari kursi mereka dengan mata berapi-api. Namun, kali ini Alesia menahan mereka dengan gerakan tangan yang tegas.
Wajah Alesia berubah dingin. Rasa mulas di perutnya dan rasa muak di hatinya berkolaborasi menjadi energi keberanian yang meledak. Ia meletakkan sumpitnya dengan hentakan pelan, belum sempat menghabiskan makanannya.
Alesia berdiri, melangkah dengan anggun dan tenang menghampiri kerumunan wanita tersebut. Ia berhenti tepat di depan meja mereka, berdiri tegak dengan kedua tangan bersila di dada, menatap langsung ke arah wanita pirang yang menjadi provokator.
"Harus totalitas dong cari mukanya," ucap Alesia dengan nada suara yang teramat santai namun menusuk.
"Lagian, kalian semua kan juga ikut menikmati hasil bonus dari kerja keras tim aku bulan ini. Jadi, mending jangan kebanyakan bacot deh."
Wanita pirang itu tersentak, wajahnya mulai memerah. "Kamu—"
"Dan soal tebar pesona..." Alesia memotong cepat, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya yang sangat angkuh namun menawan.
"Aku gak perlu repot-repot tebar pesona. Karena memang sebelum aku tebar pesona, cowok-cowok itu sudah terpesona duluan dengan aku. Paham?"
Sebelum wanita itu sempat mengeluarkan makian, Alesia dengan tenang membuka dompet kecilnya. Jemarinya menarik selembar uang kertas berwarna hijau 50.000 won lalu meletakkannya dengan suara plak yang cukup keras tepat di atas meja makan mereka.
Alesia tersenyum dengan wajah yang sengaja dibuat-buat prihatin.
"Ini... ambil uang ini. Buat beli pasta gigi baru. Soalnya bau mulutmu dari tadi sampai tercium ke mejaku. Makan siangku jadi gak berselera, perutku sampai mual."
Setelah menjatuhkan bom tersebut, Alesia langsung berbalik pergi begitu saja, menggandeng lengan Hana dan Min-ji yang menahan tawa kemenangan mereka setengah mati.
Di belakang mereka, gerombolan wanita itu hanya bisa mematung dengan wajah merah padam karena malu ditonton oleh seisi kantin.
"Wanita sialan!!!" jerit salah satu dari mereka menahan kesal yang luar biasa.
Tanpa ada yang menyadari, di sudut antrean mesin kopi kantin, Rey berdiri memegang cangkir kopinya. Pria itu menyaksikan seluruh adegan menakjubkan tersebut dari awal hingga akhir dengan mata berbinar kagum.
Begitu kembali ke lantai teratas, Rey langsung melangkah masuk ke dalam ruangan Dante tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena saking tidak sabarnya. Ia meletakkan kopi Dante di meja dan langsung bercerita dengan wajah heboh.
"Pak Dante, Anda harus mendengar ini! Nona Alesia baru saja membuat kehebohan besar di kantin lantai bawah!" seru Rey bersemangat.
Ia menceritakan setiap detail bagaimana Alesia melabrak balik para pembencinya, bahkan menirukan gaya Alesia saat melempar uang 50.000 won untuk membeli pasta gigi.
Dante yang sedang menandatangani berkas sempat menghentikan gerakan pulpennya. Ia mendengarkan cerita Rey dengan saksama.
Setelah Rey selesai berbicara dengan napas terengah-engah, Dante perlahan meletakkan pulpennya. Sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di wajahnya. Mata abu-abunya berkilat penuh kebanggaan.
"Lucu," gumam Dante pendek, suaranya terdengar sangat renyah. "Dia ternyata punya cakar yang cukup tajam jika diganggu."
...----------------...
Waktu terus berputar hingga sore hari tiba. Pukul 15.00 sore, pintu ruang kerja Dante kembali terbuka. Kali ini, ekspresi wajah Rey tampak jauh lebih formal dan sedikit tegang saat melangkah mendekati meja kerja bosnya.
"Maaf mengganggu, Pak Dante," ucap Rey, menurunkan tablet digitalnya.
"Saya baru saja menerima panggilan langsung dari kediaman utama."
Dante mendongak, tatapan matanya langsung berubah serius dan dingin dalam sekejap. Aura santai yang sempat menemaninya sejak siang tadi mendadak menguap. "Ada apa?"
"Ketua..., Tuan Jung Dong-hwan, bersama Nyonya Kim Hae-sook, meminta Anda untuk datang ke rumah utama nanti malam setelah jam kantor selesai," lapor Rey dengan nada bicara yang penuh kehati-hatian.
Hubungan Dante dengan kedua orang tuanya memang selalu dipenuhi dengan ketegangan bisnis dan tuntutan formalitas kelas atas yang melelahkan.
Panggilan ke rumah utama biasanya tidak pernah berarti kabar baik; melainkan tentang aliansi bisnis, perjodohan, atau evaluasi kepemimpinannya di Aetheris Games.
Dante terdiam selama beberapa saat, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras pelan. Akhirnya, ia mengangguk sekali dengan tegas.
"Baik. Jadwalkan keberangkatan setelah pukul enam sore."