Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 - pameran

Indah melirik jam di pergelangan tangannya untuk ke-sekian kali, napasnya terdengar kesal.

"Kok belum sampai juga sih? Katanya nggak akan telat nih..." gumamnya pelan sambil berjalan mondar-mandir di teras.

Mama yang lewat tersenyum melihat wajah cemberut putrinya. "Nak, kamu nunggu siapa? Kok belum berangkat juga?"

"Aku lagi nunggu Daffa, Mah," jawab Indah sambil mendengus pelan.

"Kalian mau pergi bareng ya?"

"Iya, Daffa ngajak aku ke acara pameran. Tapi dari tadi dia belum sampai juga," jelasnya.

Mama terkekeh pelan, menepuk bahu Indah lembut. "Ya sudah, tunggu dulu aja. Udah cantik gini masa cemberut terus, nanti awet muda lho nggak datang-datang," godanya.

Indah tersenyum tipis, tak bisa menahan senyumnya. "Iya, Mama..."

Terdengar suara mesin motor berhenti tepat di depan pagar rumah. Indah langsung menoleh — wajah Daffa terlihat sedikit berantakan, napasnya agak terengah.

"Akhirnya datang juga! Maaf Indah, gue baru sampai... tadi gue ketiduran," ucapnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

Indah mendengus kesal. "Ini udah telat nih! Tidur kayak kebo, bablas banget — udah tahu kita janjian pagi-pagi begini!"

"Iya, maaf ya si bawel... Gue kecapean kemarin jaga shift malam, soalnya," jawab Daffa sambil tersenyum minta maaf.

"Yaudah, ayo berangkat. Tapi awas aja kalau lama-lama!"

Daffa langsung mengambil helm, lalu dengan lembut memakaikan helm itu ke kepala Indah dan mengancingkannya dengan hati-hati.

"Tante, izin ajak Indah pergi sebentar ya!" seru Daffa ke arah Mama yang ada di pintu.

"Iya, Nak Daffa. Hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut!" pesan Mama sambil tersenyum.

"Siap, Tante!"

"Indah berangkat dulu ya, Mah! Dadah!" lambaikan tangan Indah.

Mama berdiri di teras sambil melihat mereka berangkat. "Dalam hati Mama: Kalian ini begitu dekat, saling perhatian... kenapa nggak pacaran aja sih? Malah temenan begini, aneh banget. Pasti suatu hari nanti salah satu dari kalian bakal nyesel kalau yang lain duluan punya pasangan," pikir Mama sambil tersenyum geleng-geleng kepala.

Sepanjang jalan Indah masih memeluk erat pinggang Daffa, mukanya masih cemberut saja.

"Udah dong jangan ngambek lagi, nanti cepat tua lho," bujuk Daffa sambil sesekali melirik ke spion.

"Biarkan saja, pagi-pagi sudah bikin kesel begini," cibir Indah.

"Yaudah maaf ya... jangan ngambek lagi, nanti jadi jelek lho," godanya lembut.

Indah langsung mencubit pelan pinggangnya. "Oh, jadi aku jelek begitu?!"

"Bukan gitu maksudku, Indah — mulai deh sensitif lagi!" Daffa tertawa renyah.

Indah pun tak tahan lagi, senyum tipis merekah di bibirnya. Selalu saja seperti ini — Daffa yang bikin kesal duluan, tapi dia juga yang selalu tahu cara membuatnya tersenyum kembali.

Di balik senyum dan canda itu, hati Daffa berbisik dalam-dalam.

"Semoga kita bisa terus seperti ini ya, Indah... selalu berdua, dekat satu sama lain. Gue akan selalu menemani lu, dalam keadaan apa pun. Gue sayang banget sama lue, lebih dari yang lue tahu. Semoga kita tetap begini terus. Jujur... gue takut banget kehilangan lue. Nggak kebayang betapa hancurnya hidup gue kalau nggak ada lue di sisi gue. lue bukan sekadar sahabat buat gue, Indah. Kamu rumah tempat gue pulang."

Ia menoleh sekilas ke spion, melihat bayangan Indah yang tersenyum di belakangnya. Hatinya berdebar kencang — ingin sekali mengatakannya sekarang juga, tapi ada sedikit rasa takut yang menahannya. Takut kalau semuanya berubah kalau kata-kata itu sudah terucap.

Indah menempelkan pipinya di punggung Daffa, tapi hatinya tiba-tiba berdebar tak menentu.

"Kok nggak biasanya gue kayak gini ya? Jantung rasanya mau copot saja... Aneh banget. Mungkin cuma perasaan gue saja kali ya. Atau karena udara pagi ini segar banget sampai bikin hati ikut berdebar juga," pikirnya mencoba menenangkan diri, tak sadar bahwa debaran itu adalah tanda — hari ini tak akan berjalan seperti hari-hari biasanya.

Sesampainya di lokasi, mata Indah berbinar melihat deretan karya yang dipajang. Lukisan-lukisan arsitektur ternama berdiri gagah di sana — desain bangunan yang megah, goresan yang penuh makna, semuanya terlihat begitu indah dan unik.

"Wah... bagus banget!" seru Indah takjub sambil berjalan mengelilingi ruangan.

Ia berhenti di salah satu lukisan favoritnya, lalu menoleh ke arah Daffa sambil mengangkat ponselnya.

"Daffa, sini kita foto berdua dulu!" ajaknya ceria.

Daffa tersenyum lebar, berdiri tepat di samping Indah.

"Cekrek!" Suara kamera terdengar, menangkap senyum bahagia mereka berdua di depan karya yang indah itu.

Suasana hati Indah begitu damai dan menyenangkan. Ia memang sangat suka mengabadikan momen dalam foto-foto, dan pameran ini benar-benar menjadi tempat favorit barunya hari ini. Daffa yang melihat Indah tersenyum bahagia, hatinya ikut meleleh — pemandangan terindah hari ini bukanlah lukisan-lukisan di sana, melainkan senyum di wajah Indah.

Indah melirik Daffa yang berdiri di dekatnya, lalu tersenyum sendiri dalam hati.

"Tumben banget sekelas Daffa mau datang ke acara pameran yang ramai begini. Kan dia orangnya introvert, biasanya kalau ada keramaian dia lebih suka menghindar. Tapi tidak apa-apa lah... aku senang banget dia mau repot-repot menemaniku ke tempat yang aku suka. Rasanya berharga banget dia berusaha mengerti aku."

Ia menatap punggung Daffa yang sedang berdiri agak jauh, sedikit canggung di tengah keramaian, namun tetap di sana — menemaninya.

Indah menatap punggung Daffa yang sedang menunggunya, pikirannya perlahan mulai berkecamuk.

"Daffa itu... dia selalu memperhatikanku, bahkan hal sekecil ini saja dia tahu aku suka pameran seperti ini. Selama ini dia selalu ingat hal-hal kecil tentangku yang kadang aku sendiri saja lupa," gumamnya pelan dalam hati.

Pikiran tentang ucapan mamanya tadi kembali terlintas.

"Apakah benar kata Mama... kalau Daffa sebenarnya punya perasaan lebih padaku? Tapi tidak mungkin banget. Dia pernah bilang kan kalau tipenya bukan cewek sepertiku. Kami cuma sahabat, kan? Pasti aku saja yang terlalu berharap. Jangan sampai aku salah paham dan merusak persahabatan kita," pikirnya gelisah, lalu menggeleng pelan mencoba menepis pikiran itu.

Daffa tersenyum sambil menunjuk ke arah lorong yang lebih sepi di sana.

"Yuk, kita lihat-lihat yang di sana juga, Indah. Kata pandunya ada lukisan yang paling bagus dipajang di ujung sana."

"Iya, ayuk," jawabku sambil berjalan bersamanya menuju lorong itu.

Langkahku terhenti tiba-tiba. Tidak jauh dari kami, di sudut ruangan yang agak terpisah, aku melihat seseorang yang kukenal sedang berdiri berbicara dengan beberapa orang yang terlihat penting — mengenakan setelan rapi dan tampak berwibawa.

Itu Rizki.

Ternyata benar saja — pameran ini diselenggarakan oleh perusahaan Rizki. Perusahaannya yang bekerja sama mengadakan acara besar ini. Tak heran dia ada di sini, terlihat begitu berwibawa sedang berbincang dengan para tamu penting.

Hatiku berdebar tak menentu. Dunia rasanya sempit sekali.

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!