Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30. Lisna Masuk Kuliah Diantar Sama Arga

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti jalanan saat aku melangkah keluar pagar rumah. Udara terasa sejuk dan segar, namun yang membuat jantungku berdebar kencang bukanlah udara pagi, melainkan sosok yang sedang berdiri di samping mobil berwarna hitam pekat yang terparkir rapi di pinggir jalan. Saat melihatku keluar, ia menutup pintu pengemudi dengan lembut, lalu menatapku dengan senyum yang begitu hangat dan menenangkan — Arga.

"Pagi, Lisna," sapanya pelan namun terdengar begitu jelas di keheningan pagi itu. "Aku kebetulan lewat dan sempat melihatmu bersiap. Naiklah, aku antarkan sampai gerbang kampus."

Aku tertegun sejenak, tak menyangka ia akan datang menjemputku. "Tapi... Kak, kalau ada yang melihat bagaimana?" tanyaku pelan, meski hatiku sangat ingin menerima tawarannya.

Arga membukakan pintu penumpang depan untukku, lalu berkata dengan tenang, "Jangan khawatir. Aku datang lebih awal, dan aku akan menurunkanmu di pintu masuk yang agak sepi. Tak ada yang akan curiga. Lagipula... aku tak tenang kalau kau harus berjalan cukup jauh di pagi hari yang masih sepi seperti ini."

Aku masuk ke dalam mobil, duduk di sampingnya. Ruangan itu terasa nyaman dan hangat, aromanya begitu akrab dan menenangkan. Saat ia melajukan mobil dengan tenang dan hati-hati, kami melewati jalanan yang perlahan mulai ramai. Namun di dalam mobil, suasana begitu damai, seakan waktu berjalan lebih lambat di sini.

"Bagaimana perasaanmu hari ini? Sudah benar-benar pulih kan?" tanyanya sambil sesekali melirik ke arahku, matanya penuh perhatian.

"Sudah jauh lebih baik, Kak. Terima kasih sudah khawatir," jawabku dengan tulus. "Dan terima kasih... sudah mengantarku. Sebenarnya aku takut merepotkanmu."

Arga tersenyum tipis, matanya kembali menatap lurus ke depan. "Mengantarkanmu ke tempat yang seharusnya kau tuju itu bukan merepotkan, Lisna. Itu justru hal yang seharusnya kulakukan. Setiap kali aku bisa memastikan kau sampai dengan selamat, hatiku merasa tenang. Tak peduli seberapa kecil kesempatannya, aku ingin selalu ada untukmu."

Sepanjang perjalanan, kami berbicara tentang banyak hal — tentang pelajaran yang akan datang, tentang rencana minggu ini, tentang hal-hal kecil yang kami sukai. Berbicara dengannya terasa begitu mudah dan alami, seakan kami sudah saling mengenal sejak lama sekali. Tak ada kecanggungan, tak ada keraguan. Hanya rasa nyaman yang tumbuh perlahan di antara kami.

Namun semakin mendekati gerbang kampus, jantungku semakin berdebar kencang. Bukan karena takut, melainkan karena kesadaran bahwa sebentar lagi kami harus kembali menjadi sosok yang berbeda di mata orang lain. Ia adalah dosen, aku adalah mahasiswi. Dan di sini, di tempat ini, kami harus menjaga batas itu tetap teguh.

Arga seakan merasakan kegelisahanku. Ia memperlambat laju mobil saat mendekati pintu masuk samping yang biasanya sepi. "Tenang saja, Lisna. Aku menurunkanmu di sini. Jalan menuju gedung fakultas dari sini agak teduh dan sepi, jadi kau bisa berjalan dengan nyaman."

Ia memarkir mobil di tempat yang agak tersembunyi di balik pepohonan rindang. Sebelum aku turun, ia menatapku lekat-lekat, seakan ingin menyampaikan sesuatu yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. "Hati-hati di dalam ya. Tetaplah semangat seperti biasanya. Dan ingat... walau kita tak bisa berjalan berdampingan di depan orang banyak, hatiku selalu berjalan di sampingmu setiap langkah yang kau ambil."

Kata-katanya membuat mataku terasa hangat. "Terima kasih, Kak. Terima kasih sudah mengantarku. Hati-hati juga di jalan."

Aku turun dari mobil, menutup pintu dengan pelan. Sebelum melangkah pergi, aku menoleh sekali lagi. Arga masih duduk di sana, tersenyum lembut padaku, memberi isyarat agar aku segera masuk ke dalam. Aku melambaikan tangan kecil, lalu berbalik berjalan menuju gedung fakultas dengan langkah yang begitu ringan dan penuh semangat. Di belakangku, mobil itu perlahan bergerak pergi, menyusul ke tempat parkir yang lain.

Saat berjalan melewati lorong-lorong kampus, setiap orang yang kutemui menyapaku dengan ramah. Mereka tak tahu siapa yang mengantarku pagi ini. Mereka tak tahu bahwa di dalam mobil itu, aku merasa begitu dicintai dan begitu dilindungi. Dan justru karena itulah, perjalanan pagi itu terasa begitu istimewa — karena ia dilakukan diam-diam, tanpa pamer, tanpa diketahui siapa pun, namun penuh dengan ketulusan yang luar biasa.

Saat aku masuk ke dalam kelas beberapa menit kemudian, Arga sudah berdiri di depan meja dosen seperti biasa. Wajahnya kembali tenang dan profesional, namun saat ia menatapku sekilas, ada kilatan hangat di matanya yang hanya aku yang tahu artinya. Sebuah sapaan tanpa kata yang mengatakan: Kau sudah sampai dengan selamat. Syukurlah.

Pagi itu, aku menyadari satu hal yang sangat berharga. Bahwa cinta sejati tak selalu harus terlihat oleh dunia. Kadang ia hadir dalam perjalanan pagi yang tenang, dalam perhatian yang diam-diam, dan dalam janji yang tak perlu diucapkan keras-keras — bahwa selama ia bisa, ia akan selalu ada untukku, walau hanya dengan mengantarku sampai ke gerbang tempat kami harus berpisah sementara waktu.

Dan di dalam hatiku, aku berjanji — suatu hari nanti, saat semuanya sudah boleh diketahui semua orang, aku akan berjalan masuk ke kampus bersamanya, berdampingan, tanpa perlu bersembunyi, tanpa perlu turun di pintu yang sepi. Kami akan berjalan bersama dengan bangga, karena kami telah melewati masa-masa menyembunyikan ini dengan kesabaran dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Dan hari itu... akan tiba. Aku yakin sepenuh hatiku.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!