Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Aliansi Dendam
Rambutnya acak-acakan, seragamnya kotor, dan wajahnya dipenuhi memar bekas pukulan ayahnya sendiri semalam.
Perusahaan tambang ayahnya resmi dinyatakan bangkrut pagi ini karena semua kontrak diputus oleh jaringan bisnis Kakek Herman.
Rumah mewahnya disegel bank, mobil-mobilnya disita, dan kini dia resmi menjadi gelandangan.
"Semuanya gara-gara gembel sialan itu," racau Kevin dengan suara cadel akibat mabuk.
"Bayu... aku bersumpah akan membunuhmu... aku akan membakar senyum sombongmu itu," kutuk Kevin sambil membanting gelas kaca ke lantai hingga hancur berantakan.
Prang.
Pemilik bar hanya melirik sinis, terlalu malas mengusir remaja mabuk yang sudah membayar sewa mejanya.
Tap... tap... tap...
Suara langkah kaki yang sangat ringan dan nyaris tidak terdengar mendekati meja Kevin.
Seseorang duduk di kursi kayu tepat di seberang Kevin.
Kevin menyipitkan matanya yang merah, menatap sosok pria tua berpakaian serba hitam dan berwajah penuh luka sayatan mengerikan.
Mata pria tua itu buta sebelah, namun mata kirinya yang tersisa memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
"Kau terlihat sangat menyedihkan, anak muda," ucap pria tua itu dengan suara serak yang terdengar seperti gesekan batu.
"Siapa lo?! Pergi sana, gue nggak punya uang buat pengemis!" bentak Kevin sambil mengayunkan tangannya dengan kasar.
Grep.
Pria tua itu menangkap pergelangan tangan kanan Kevin dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.
Kekuatan cengkeramannya membuat tulang Kevin berderak pelan.
"Akh! Lepasin! Sakit, dasar gila!" jerit Kevin berusaha menarik tangannya.
Namun pria tua itu tidak melepaskannya.
Dia meraba titik saraf di bawah ketiak Kevin, tempat di mana Bayu pernah menusukkan jarinya beberapa hari yang lalu.
Mata kiri pria tua itu mendadak melebar, wajahnya yang penuh bekas luka menegang kaget.
"Bekas energi ini... aliran chi yang merusak saraf otot secara presisi."
"Ini adalah teknik totok nadi dari aliran Tabib Dewa," gumam pria tua itu dengan suara bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.
Pria tua itu bernama Ki Darmo, seorang praktisi bela diri dan ahli racun yang pernah diusir dan dihancurkan oleh guru dari garis keturunan Tabib Dewa puluhan tahun yang lalu.
Dia telah bersembunyi di kota ini selama belasan tahun, menunggu kesempatan untuk membalas dendam pada siapa pun yang mewarisi ilmu tersebut.
Ki Darmo melepaskan tangan Kevin, menatap remaja mabuk itu dengan senyum seringai yang mengerikan.
"Siapa yang melakukan ini pada lenganmu?" tanya Ki Darmo dingin.
Kevin mengusap lengannya yang masih berdenyut sakit.
Rasa mabuknya sedikit menghilang karena ketakutan melihat wajah menyeramkan pria di depannya.
"Namanya Bayu... dia cuma murid miskin di sekolahku, tapi tiba-tiba dia jago berkelahi dan tahu kelemahan ototku," jawab Kevin terbata-bata.
Ki Darmo tertawa pelan, tawanya terdengar sangat kering dan menyeramkan.
"Tabib Dewa ternyata belum punah, dan pewarisnya bersembunyi di kota ini."
Ki Darmo menatap Kevin lekat-lekat, melihat lautan kebencian dan dendam di mata remaja yang baru saja kehilangan segalanya itu.
"Kau membencinya? Kau ingin melihatnya berlutut dan mati perlahan di depan matamu?" tawar Ki Darmo.
Kevin langsung mengangguk dengan cepat, air matanya menetes bercampur ingus.
"Aku rela memberikan jiwaku asalkan anak sialan itu mati tersiksa!" teriak Kevin putus asa.
"Bagus."
Ki Darmo merogoh kantong jubah hitamnya, mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna ungu pekat yang memancarkan aura dingin berbisa.
"Aku akan mengajarimu cara menghancurkan tulang dan saraf."
"Makan pil racun tulang ini, kau akan merasakan sakit yang luar biasa selama tiga hari."
"Tapi setelah itu, tubuhmu akan kebal terhadap rasa sakit dan kekuatan ototmu akan berlipat ganda untuk sementara waktu."
Ki Darmo meletakkan pil itu di atas meja kayu yang basah oleh tumpahan minuman.
"Jadilah murid sementaraku, dan kita akan merobek jantung Bayu bersama-sama."
Tanpa berpikir dua kali, Kevin langsung menyambar pil ungu itu dan menelannya.
Dia tidak peduli lagi pada rasa sakit atau harga diri.
Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah darah dan kematian Bayu.
...
Di waktu yang sama, di dalam ruang kelas tiga belas IPA.
Pelajaran matematika sedang berlangsung, namun pikiran Bayu sama sekali tidak tertuju pada angka-angka di papan tulis.
Ting.
Ponsel di saku celananya bergetar pelan.
Bayu diam-diam memeriksa layar ponselnya di bawah meja.
Pesan dari perbankan masuk, menginformasikan adanya transferan uang sebesar seratus juta rupiah dari rekening Siska.
Diikuti dengan pesan teks dari janda cantik itu.
"Pak Surya menangis bahagia pagi ini. Dia minta didaftarkan sebagai pasien VIP pertamamu, sayang."
Bayu tersenyum miring membaca kata panggilan di akhir pesan tersebut.
Siska benar-benar sudah terjatuh terlalu dalam ke dalam pesonanya.
Namun, kabar tentang Pak Surya ini adalah langkah besar bagi Bayu.
Koneksi dengan konglomerat papan atas adalah perisai pelindung yang lebih kuat dari senjata apa pun di dunia modern ini.
Saat Bayu sedang menyeringai menatap layar ponselnya, sebuah kertas kecil tiba-tiba dilempar dari meja sebelah dan jatuh tepat di pangkuannya.
Bayu menoleh, melihat Natasha sedang membuang muka ke arah jendela dengan pipi yang sedikit merona merah.
Bayu mengambil kertas yang dilipat kecil itu dan membukanya.
Tulisan tangan yang sangat rapi dan wangi parfum vanila menyambut indra penciumannya.
"Terima kasih sudah membelaku dari Pak Baskoro kemarin. Sebagai gantinya, maukah kau makan siang bersamaku di atap sekolah istirahat nanti? Jangan geer, aku cuma mau membalas budi."
Bayu membaca pesan singkat itu dengan tatapan geli.
Gengsi gadis primadona ini memang sangat tinggi, tapi pertahanannya jelas sudah mulai hancur sedikit demi sedikit.
Aura pemikat giok yang terus menyebar tanpa sadar setiap kali mereka berada di ruang yang sama telah membuat Natasha kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.
Bayu mengambil penanya, menuliskan satu kata balasan di bawah pesan tersebut, lalu melemparnya kembali ke meja Natasha dengan gerakan santai.
Natasha buru-buru menangkap kertas itu dan membukanya dengan jantung berdebar kencang.
Di sana, di bawah tulisan panjangnya, Bayu hanya membalas dengan tulisan singkat yang membuat darah Natasha berdesir panas.
"Baiklah dan aku suka daging yang lembut."
Natasha meremas kertas itu, wajahnya semerah kepiting rebus menahan rasa malu dan senang yang bercampur aduk.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, diam-diam menatap wajah Bayu dari samping yang terlihat sangat tampan saat sedang fokus menatap ke depan.
"Sialan, kenapa dada ini tidak mau berhenti berdebar kalau melihat wajahnya?" batin Natasha merutuki dirinya sendiri.
Bayu menyadari tatapan curi-curi pandang dari Natasha, tapi dia pura-pura tidak tahu.
Membiarkan hasrat dan rasa penasaran menumpuk adalah cara terbaik untuk menaklukkan wanita tipe tsundere seperti putri Ketua Yayasan ini.
Jam istirahat pun akhirnya berbunyi, menandakan babak baru bagi interaksi mereka berdua di atap sekolah yang sepi.