Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Bab 7: Darah Elf, Gemuruh di Antara Rak Tua, dan Gejolak Kekuatan Baru
Keheningan malam yang hangat dan pekat di Distrik Bawah perlahan-lahan menguap saat langkah kaki Wiliam dan Anya membawa mereka kembali ke area luar kediaman utama keluarga Pendragon. Angin malam yang berembus pelan memainkan jubah serta gaun festival mereka, membawa aroma sisa-sisa kemeriahan pasar malam yang kini tertinggal di belakang. Cahaya rembulan perak memantul redup di atas permukaan dinding batu mansion yang berdiri megah dan membisu di balik pepohonan rindang.
Tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun, mereka berdua menyelinap masuk melalui selasar balkon lantai dua yang terhubung langsung dengan kamar Wiliam. Tirai sutra tipis bertiup perlahan disapu angin malam saat Wiliam mendorong pintu kaca, membiarkan kegelapan kamar tidur melingkupi mereka kembali. Di dalam ruangan yang remang itu, kehangatan dari festival, gelak tawa di depan kios gulali, dan riuh keramaian rakyat jelata seolah-olah enggan beranjak dari benak mereka.
Anya melepaskan boneka naga perak raksasanya dan meletakkannya dengan hati-hati di atas kursi kayu di dekat meja belajar. Ia berbalik, menatap Wiliam yang sedang mengunci pintu balkon.
"Wiliam," panggil Anya pelan, suaranya jernih memecah keheningan malam.
Wiliam menoleh, menatap sosok gadis Elf itu di bawah remang cahaya bulan. "Ya?"
Anya mengambil sebuah botol kristal kecil yang bening dari dalam jubah ruang rahasianya. Botol itu diukir dengan simbol-simbol pelindung purba. Tanpa ragu sedikit pun, Anya memanggil sebilah belati tipis berpendar cahaya kosmik ke tangan kanannya. Sebelum Wiliam sempat mencegah atau bertanya, Anya menggoreskan ujung belati itu ke permukaan kulit jari telunjuk kiri miliknya sendiri.
Sret.
Cairan murni berwarna keemasan yang memancarkan pendar energi lembut dan wangi bunga lavender perlahan mengalir keluar. Anya mengarahkan ujung jarinya ke atas mulut botol kristal, membiarkan beberapa tetes darah Elf murni menetes masuk secara sempurna. Begitu cairan itu terisi beberapa tetes di dasar botol, Anya memusatkan sedikit sihir pemulihan alami. Dalam sekejap mata, goresan di jarinya menutup rapat kembali tanpa menyisakan bekas luka sedikit pun.
Anya menutup botol kristal itu rapat-rapat, lalu mengulurkannya ke arah Wiliam dengan ukiran senyuman hangat di wajah cantiknya. "Ini. Darah murni dari seorang Elf, langsung dari salah satu Pilar Dunia. Sesuai dengan janji dan kesepakatan kita di pasar malam tadi."
Wiliam menerima botol kristal dingin itu dengan hati-hati. Ia menatap pendar cairan keemasan di dalamnya dengan rasa takjub yang disembunyikan rapat-rapat di balik tatapan mata merahnya. "Darah dari entitas Level 20... Jeck pasti akan terperangah melihat ini. Terima kasih, Anya. Ini akan mengubah seluruh struktur pedang dan topeng baruku nanti."
"Tentu saja," sahut Anya riang seraya menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung dan memiringkan kepalanya. "Tapi ingat, senjata hebat itu hanya wadah. Penentu utamanya tetaplah teknik dan pemahamanmu sendiri. Omong-omong... karena kita masih memiliki waktu sebelum fajar, bisakah kau menjelaskan lagi bagian kompresi ritme napas pada Pernapasan Pedang?"
Wiliam menatap Anya sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia melepas baju kimononya dan menyisakan pakaian dalam yang longgar, kemudian duduk bersila di atas karpet tebal di tengah ruangan. Anya ikut melipat kakinya, duduk bersila tepat di hadapan Wiliam dengan pendar mata biru yang penuh rasa ingin tahu.
"Dengar baik-baik," kata Wiliam seraya mengangkat satu tangannya. "Sihir biasa hanya mengalirkan mana di luar tubuh atau melalui pembuluh sihir khusus untuk membentuk formula. Tapi Pernapasan Pedang memaksa mana masuk ke dalam rongga paru-paru bersama udara, lalu menekannya hingga menyatu dengan sel darah merah. Saat kau menarik napas, kau tidak hanya mengisi oksigen, tetapi memadatkan mana ke dalam sirkulasi darahmu hingga seluruh serat otot fisikmu bergetar di frekuensi yang sama."
Anya mendengarkan setiap patah kata Wiliam dengan sangat tekun. Sebagai seorang peneliti sihir ulung dan master elemental, otaknya yang jenius bekerja cepat menyerap konsep tersebut. "Jadi... jika aku mengombinasikan siklus tarikan napas empat detik dengan pemadatan elemen kosmik, ototku tidak akan kelelahan meskipun aku mengayunkan pedang ratusan kali?"
"Tepat," jawab Wiliam seraya menunjuk ke dada Anya. "Tetapi kuncinya ada pada pelepasan napas. Saat kau menghembuskan napas, seluruh energi yang terkumpul di dalam otot harus diproyeksikan keluar melalui ujung bilah pedang secara mendadak. Itu yang menciptakan gelombang tebasan yang mampu memotong pelindung mana musuh."
Anya mengangguk-angguk paham, mencatat setiap detail instruksi itu di dalam benaknya. Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam untuk berdiskusi, saling melemparkan argumen teknis tentang struktur fisik dan teori manipulasi mana, hingga perlahan-lahan rasa lelah dari aktivitas seharian mulai menguasai tubuh mereka.
Ketika kelopak mata Anya mulai terasa berat dan uap dingin fajar mulai merayap di balik jendela, Anya berdiri dan berganti pakaian menggunakan gaun tidur sutra putih yang longgar dan sangat lembut. Tanpa banyak bicara atau merasa canggung, Anya melangkah menuju tempat tidur empuk milik Wiliam, lalu berbaring di atasnya.
Wiliam menyusul naik ke atas kasur, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua dari hembusan angin pagi. Kali ini, tidak ada lagi rasa ragu, panik, atau batasan kaku di antara mereka. Wiliam merengkuh tubuh hangat dan ramping milik Anya ke dalam dekapannya, melingkarkan lengan tegapnya di pinggang gadis Elf itu secara alami.
Anya tersenyum tipis dalam remang kegelapan, menyandarkan tubuhnya sepenuhnya, membenamkan wajah cantiknya yang mulus di dalam dada bidang Wiliam. Ia menghirup aroma khas pemuda itu yang menenangkan—campuran antara uap besi dan aroma malam—seraya melingkarkan kedua tangan mungilnya di punggung Wiliam. Dalam dekapan hangat yang saling mengunci dan penuh rasa aman tersebut, dua jiwa yang selama ini memikul beban berat dan isolasi dunia akhirnya tertidur lelap hingga fajar menyingsing di ufuk timur.
Matahari pagi perlahan naik, memancarkan sinar keemasan yang menembus celah-celah jendela kamar. Namun, kedamaian di kamar tidur itu terganggu oleh gemuruh roda-roda kereta kencana dan langkah kaki bersenjata yang berkumpul di halaman depan kediaman Pendragon.
Kereta kencana megah bertirai perak dan berhiaskan lambang kerajaan Elf telah menanti di batas luar jembatan batu mansion. Jajaran pelayan bergaun biru dan pengawal berzirah perak berkilau berdiri berbaris rapi, menunggu sang Wanita Suci untuk kembali ke markas diplomatik utama.
Di dekat jembatan batu mansion, Wiliam berdiri mendampingi keluarganya. Ayah Wiliam, Julius, dan Hector berdiri membungkuk sopan memberikan penghormatan resmi. Namun fokus pandangan Anya hanya tertuju pada satu orang: Wiliam Pendragon yang berdiri kaku di barisan belakang dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celananya.
Anya melangkah mendekati Wiliam, mengabaikan tatapan heran dari keluarga Pendragon lainnya. Raut kekecewaan dan berat hati terpancar jelas dari garis wajah Anya. Sebagai seorang pilar dunia, tugas dan kewajiban menuntutnya untuk segera kembali mengurus kekacauan perbatasan dan sekte gelap yang kian merajalela.
"Aku harus pergi sekarang, Wiliam," bisik Anya pelan saat berdiri tepat di hadapan pemuda itu. Tangan mulusnya terangkat, meraba pipi kanan Wiliam dengan sentuhan yang sangat lembut. "Urusan di dewan pilar dan kerajaan Elf sudah menumpuk."
Wiliam menatap mata biru Anya yang bening. Di dalam benaknya, ada rasa penyesalan yang samar namun mendalam—ia menyesali betapa singkatnya waktu yang bisa ia habiskan bersama Anya, betapa cepatnya momen-momen hangat di pasar malam tadi menguap digantikan oleh realitas kehidupan mereka masing-masing. Namun, untuk menjaga penyamarannya di depan keluarga Pendragon, Wiliam menetralkan raut wajahnya menjadi datar.
"Tentu. Tugasmu sebagai Wanita Suci jauh lebih penting," kata Wiliam dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh Anya. "Jaga dirimu di jalan."
Anya mendekatkan wajahnya sedikit, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi. "Jangan merindukanku terlalu dalam, Hantu Topeng. Kita akan segera bertemu lagi."
"Siapa yang merindukanmu?" sahut Wiliam datar, meski tatapan matanya terus mengekor kepergian Anya saat gadis Elf itu berbalik dan melangkah anggun naik ke atas kereta kencana.
Pintu kereta ditutup rapat, dan derap langkah kuda sihir mulai terdengar menjauh. Wiliam berdiri membisu di halaman mansion, menatap roda kereta kencana itu hingga benar-benar menghilang di balik bukit dan debu jalanan. Di dalam hatinya, sebuah kekosongan kecil mendadak merayap—sebuah perasaan terasing yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Kembali ke Akademi Sihir Kerajaan, kehidupan sehari-hari Wiliam kembali berputar pada porosnya yang membosankan. Namun, suasana di koridor-koridor utama akademi pagi itu terasa jauh lebih bising dan ramai dari biasanya. Di berbagai sudut hall, di dekat tangga batu, hingga di kantin utama, kelompok-kelompok murid berkumpul membicarakan satu topik hangat yang menyebar cepat.
"Hei, kau dengar rumor terbaru tidak?" bisik seorang murid kelas tiga berambut pirang di dekat loker kayu.
"Soal apa? Soal kunjungan Wanita Suci kemarin?" sahut temannya.
"Bukan! Soal Hantu Topeng!" tegas siswa pertama dengan suara berbisik yang antusias. "Sudah dua malam berturut-turut ini Hantu Topeng sama sekali tidak beraksi di Distrik Bawah! Padahal biasanya setiap malam selalu ada bangsawan korup atau sekte penyembah iblis yang diberantas olehnya!"
"Benar juga!" timpal murid lain yang ikut berkumpul. "Apakah dia terluka parah saat bertarung melawan iblis di hutan semalam? Atau jangan-jangan dia sudah ditangkap secara rahasia oleh pasukan Ksatria Suci Kerajaan?"
"Mungkin saja dia mati! Sihir kegelapan kan sangat berbahaya untuk tubuh penggunanya!"
Wiliam berjalan melintasi kerumunan murid yang sibuk berspekulasi itu dengan langkah santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan tas sekolahnya disampirkan miring di bahu. Ia mendengar setiap patah kata dan teori konyol mereka tanpa mengubah sedikit pun raut wajahnya yang mengantuk.
"Oi! Wil! Di sini!" teriak sebuah suara familiar dari arah taman tengah.
Wiliam menoleh dan melihat Leo dan Reno sedang duduk di atas meja kayu di bawah pohon rindang. Leo melambaikan tangannya kencang, sementara Reno sibuk mengunyah roti lapis cokelat dengan kedua pipi menggembung.
Wiliam melangkah menghampiri kedua teman dekatnya itu dan melempar tasnya ke atas meja. "Kalian heboh sekali pagi-pagi begini."
"Bagaimana tidak heboh?!" seru Leo seraya menepuk bahu Wiliam kencang. "Seluruh akademi sedang membicarakan Hantu Topeng yang mendadak hilang! Tapi persetan dengan Hantu Topeng, yang paling penting adalah... bagaimana rasanya tinggal seatap dengan Nona Anastasia selama dua hari, Wil?!"
Reno menelan rotinya kencang-kencang lalu ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. "Iya, Wil! Ceritakan pada kami! Apakah dia benar-benar secantik dewi saat makan pagi? Apakah dia pernah menyapa namamu lagi?!"
Wiliam duduk di bangku kayu, menyandarkan punggungnya seraya mengusap tengkuknya. "Dia hanya tamu biasa yang menyukai ketenangan mansion kami. Kami bahkan tidak saling bicara kecuali saat jamuan makan."
"Ah, kau ini benar-benar tidak berguna!" keluh Leo seraya menyandarkan tubuhnya kembali dengan raut kecewa. "Jika aku yang berada di posisimu, aku pasti sudah meminta tanda tangan di atas bajuku setiap sepuluh menit sekali!"
"Sudahlah, Leo. Wiliam kan memang pembawaannya kaku begitu," kata Reno seraya membagi dua roti lapisnya dan menyodorkan separuhnya ke Wiliam. "Ini, Wil. Roti cokelat ekstra mentega. Kau kelihatan kurang tidur tadi pagi."
"Terima kasih," kata Wiliam, menerima roti itu dan mulai mengunyahnya pelan.
Namun, ketenangan mereka bertiga tidak bertahan lama. Kehidupan sekolah Wiliam bersama Leo dan Reno memang selalu diwarnai oleh aksi-aksi konyol dan kenakalan khas remaja yang sering kali berujung masalah.
Siang harinya, saat jam pelajaran sihir terapan yang diampu oleh Profesor Balthazar—seorang penyihir tua bertubuh kekar dengan sifat pemarah dan disiplin tinggi—Leo mencetuskan ide konyol untuk meracik bom ramuan peledak kecil menggunakan bubuk belerang dan kristal angin bawah tanah di meja laboratorium mereka.
"Leo, jangan racik itu di sini," tegur Wiliam datar dari sampingnya. "Formula yang kau pakai itu tidak stabil. Reaksinya bisa memicu ledakan tekanan udara."
"Tenang saja, Wil! Aku sudah menghitung ukurannya!" sahut Leo penuh percaya diri seraya mencampurkan cairan biru ke dalam mangkuk kristal. "Ini hanya akan mengeluarkan asap warna-warni untuk mengejutkan anak-anak kelas sebelah!"
"Leo... warnanya berubah jadi merah pekat..." kata Reno dengan suara bergetar, pelan-pelan melangkah mundur ke belakang meja.
"Eh? Merah?" Leo membelalak.
DUAARRR!
Sebuah ledakan udara bercampur asap hitam pekat yang berbau busuk meletus hebat dari meja laboratorium mereka! Asap busuk itu membumbung tinggi, memenuhi seluruh ruangan kelas, memicu batuk-batuk histeris dari puluhan murid lainnya dan membuat seluruh jendela laboratorium pecah berantakan!
Ketika asap hitam perlahan memudar, Profesor Balthazar berdiri kaku di depan papan tulis dengan wajah yang kini tertutupi jelaga hitam tebal, janggut tuanya terbakar sedikit di ujungnya, dan matanya berkilat-kilat memancarkan murka tiada tara.
"LEO! RENO! WILIAM!" raung Profesor Balthazar hingga suaranya menggetarkan kaca-kaca jendela yang menyisa. "BERANINYA KALIAN MENGHANCURKAN LABORATORIUMKU! HUKUMAN DENGAN HUKUMAN BERSIH-BERSIH PERPUSTAKAAN UTAMA SELAMA TIGA HARI PENUH!"
Sore harinya, perpustakaan utama Akademi Kerajaan berdiri sunyi dan megah. Bangunan tiga lantai itu memiliki ribuan rak kayu jati raksasa yang menjulang tinggi hingga ke atap, memuat puluhan ribu gulungan sihir dan buku-buku antik. Aroma kertas tua dan debu menyelimuti udara.
Wiliam, Leo, dan Reno berdiri di tengah hall perpustakaan seraya memegang sapu, kain lap, dan ember berisi air sabun.
"Ini semua gara-gara ide konyolmu, Leo!" gerutu Reno seraya meratapi telapak tangannya yang mulai pegal. "Perpustakaan ini luasnya hampir seluas lapangan bola! Bagaimana bisa kita membersihkan semuanya sebelum malam?!"
"Mana aku tahu kalau bubuk belerangnya bakal bereaksi begitu!" bela Leo seraya menggaruk kepalanya yang masih berdebu. "Lagipula Wiliam juga ikut dihukum padahal dia cuma berdiri di sebelahku!"
Wiliam menghela napas panjang seraya memutar-mutar gagang sapunya. "Sudahlah. Makin banyak kalian mengeluh, makin lama tempat ini selesai. Aku akan membersihkan lorong paling belakang di lantai dasar. Kalian urus area tengah dan rak sains."
"Baiklah, Wil..." desah Leo pasrah.
Wiliam melangkah meninggalkan kedua temannya, berjalan menyusuri lorong-lorong rak kayu yang remang dan dingin menuju area paling belakang perpustakaan—sebuah sudut gelap yang terisolasi, jarang dikunjungi murid karena hanya memuat buku-buku sejarah kuno dan arsip hukum yang membosankan.
Wiliam mulai menyapu debu-debu tebal di lantai batu dengan gerakan yang sangat tenang dan teratur. Di sudut yang sunyi ini, ia bisa sedikit bersantai dari kepalsuan sekolah, membiarkan pikirannya kembali memproses detail Pernapasan Pedang dan rahasia bahan-bahan senjata barunya.
Namun, sekitar dua puluh menit kemudian, ketenangan di sudut belakang itu terganggu oleh suara benturan keras dan gelak tawa mengejek yang bergema samar dari arah lorong tengah.
BRAK!
"Ups! Tanganku licin sekali! Hahaha!"
Suara derak ember plastik yang terguling dan tumpahan air yang membentur lantai batu terdengar sangat jelas di telinga sensitif Wiliam. Wiliam menghentikan gerakan sapunya, matanya memicing pelan ke arah kegelapan lorong.
Di area tengah perpustakaan, Reno sedang terduduk kaku di lantai yang kini tergenang air sabun yang keruh. Buku-buku arsip yang baru saja ia rapikan dari rak bawah kini basah kuyup dan kotor oleh injakan sepatu boot tebal.
Di depan Reno, berdiri tiga orang siswa berandalan kelas atas dari tingkat tiga. Pemimpin mereka adalah Julian, seorang bangsawan muda bertubuh tinggi besar dari keluarga Count yang terkenal arogan, lengkap dengan seragam akademi yang rapi dan cincin bermata batu sihir di jemarinya. Di kiri dan kanannya, berdiri dua orang pengikutnya yang bertubuh kekar seraya bersedekap dada.
"A-Apa-apaan kalian ini?!" seru Reno dengan suara bergetar, matanya menatap buku-buku basah di lantai dengan raut panik. "Buku-buku ini harus dikembalikan dalam keadaan bersih! Kenapa kalian menendang emberku?!"
Julian tertawa mengejek, menepuk-nepuk pakaian mewahnya dengan gaya sombong. "Oh, maaf ya, Serangga. Aku tidak melihat ada ember di bawah sana. Lagipula, tugas sampah seperti kalian memang cuma untuk membersihkan kotoran orang lain, kan?"
"Julian! Jaga mulutmu!" teriakan kencang bergema dari balik rak sebelah.
Leo berlari menghampiri dengan wajah merah padam oleh amarah. Ia memasang badan di depan Reno, mengepalkan kedua tangannya kencang-kencang. "Kalian sengaja, kan?! Bersihkan air ini dan minta maaf pada Reno sekarang juga!"
Julian menatap Leo dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan hina yang sangat pekat. "Minta maaf? Pada seorang murid rakyat biasa kelas bawah seperti dia? Dan dari seorang calon Count sepertiku? Kau bermimpi terlalu tinggi, Leo."
"Kau—!" Leo meledak emosi, melangkah maju dan melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Julian.
Namun, perbedaan tingkat kekuatan fisik dan penguat mana di antara mereka sangatlah jauh. Julian adalah seorang petarung Level 8 yang telah dilatih secara intensif oleh ksatria keluarga, sementara Leo hanyalah siswa biasa di Level 4 yang mengandalkan sihir dasar.
Greb!
Tangan kekar pengikut Julian dengan mudah mencengkeram pergelangan tangan Leo di udara. Pengikut lainnya melangkah cepat, melayangkan tendangan keras yang mendarat telak di perut Leo!
BUGH!
"Argh!" Leo mengerang kesakitan, tubuhnya terlempar ke belakang dan menghantam rak kayu hingga beberapa buku tebal jatuh menimpa tubuhnya.
"Leo!" jerit Reno panik, mencoba bangkit untuk membantu temannya.
Namun Julian melangkah maju dan menginjak dada Reno dengan sepatu boot tebalnya, menekan pemuda itu kembali menghantam lantai batu yang basah. Julian membungkuk, menatap Reno dengan pendar mana angin yang menyelimuti jemarinya.
"Dengar ya, Sampah," bisik Julian dingin seraya menepuk-nepuk pipi Reno dengan telapak tangannya yang keras. "Kalian berdua itu cuma benalu di akademi ini. Berada di ruangan yang sama dengan kami saja sudah merupakan sebuah penghinaan. Jangan pernah berani menaikkan suaramu di depanku lagi!"
BUGH! BUGH!
Pengikut Julian kembali menendang rusuk Leo yang sedang berusaha merayap bangun, menyiksa dan menganiaya kedua pemuda itu tanpa ampun di antara lorong-lorong rak buku yang sepi.
Wiliam, yang baru saja melangkah keluar dari lorong belakang seraya membawa kemoceng dan sapu kayu, menghentikan langkah kakinya tepat di persimpangan lorong. Pandangan matanya mendarat pada pemandangan di depannya: Reno yang terbatuk-batuk di bawah injakan kaki Julian, dan Leo yang tersungkur bersimbah darah di bibirnya di bawah tendangan para pengikut berandalan itu.
Suara langkah kaki Wiliam yang berdentang pelan di atas lantai batu menarik perhatian mereka.
Julian menoleh, memiringkan kepalanya dan menyunggingkan tawa meremehkan saat melihat siapa yang datang. Ia melepaskan pijakan kakinya dari dada Reno, lalu berdiri tegap seraya melipat tangannya.
"Oho! Lihat siapa yang akhirnya berani menunjukkan hidungnya!" ejek Julian dengan nada suara yang melengking sombong. "Si Tuan Muda Gagal dari keluarga Pendragon! Si Wiliam yang terkenal tak berguna!"
Julian melangkah beberapa langkah mendekati Wiliam, menunjuk Wiliam dengan telunjuknya yang dihiasi cincin emas. "Kenapa, Wiliam? Kau mau berpura-pura menjadi pahlawan untuk kedua teman sampahmu ini? Hahaha! Sungguh menyedihkan! Seorang Pendragon yang tidak punya bakat sihir, tidak punya aura tempur, dan hanya bisa menjadi sampah kelas bawah!"
Wiliam berdiri membisu. Kata-kata Julian yang menyebutnya sebagai 'produk gagal' atau 'pria tak berguna dari keluarga Pendragon' sama sekali tidak memicu amarahnya. Sejak kecil, Wiliam sudah terbiasa mendengar ejekan semacam itu dari saudaranya, dari para bangsawan, dan dari orang-orang yang hanya menilai kekuatan dari tingkat Level permukaan. Baginya, cemoohan tentang dirinya sendiri hanyalah angin berlalu yang tak bernilai.
Namun, Julian yang merasa ejekannya tidak mendapat reaksi yang memuaskan, meludah ke lantai di dekat kaki Leo dan melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih kejam.
"Memang benar kata orang-orang di ibu kota," tawa Julian menggelegar, "keluarga Pendragon melahirkan seorang anak cacat! Seorang bangsawan bodoh yang lebih memilih berteman dengan sampah-sampah tak berguna seperti Leo dan Reno! Orang-orang gagal memang selalu berkumpul dengan sesama sampah kotor!"
Deg.
Di dalam dada Wiliam, sesuatu yang sangat dingin dan sangat gelap mendadak pecah.
Pandangan mata Wiliam yang tadinya redup dan mengantuk seketika berubah. Bagi Wiliam, Leo dan Reno bukan sekadar teman sekelas. Di dunia yang penuh dengan konspirasi, kepalsuan keluarga, dan pengkhianatan politik, Leo dan Reno adalah dua orang yang menerima Wiliam apa adanya tanpa memedulikan nama besar Pendragon atau tingkat kekuatannya. Mereka adalah tempat di mana Wiliam bisa menjadi seorang remaja biasa.
Dan menyebut kedua sahabatnya sebagai 'sampah' adalah sebuah kesalahan paling fatal yang pernah dilakukan oleh Julian sepanjang hidupnya.
BOMMMMMMM!
Tanpa ada tanda-tanda awal, tanpa ada lingkaran sihir atau rafal mantra, sebuah gelombang tekanan aura kegelapan yang sangat pekat, masif, dan begitu membunuh meledak keluar secara liar dari tubuh Wiliam!
KREEEEK! BAM! BAM!
Daya dorong aura tersebut begitu dahsyat hingga seluruh bangunan perpustakaan bergetar hebat! Ribuan buku dari lantai satu hingga lantai tiga terlempar keluar dari raknya, membentur langit-langit sebelum jatuh melayang di udara! Lantai batu granit tebal di bawah pijakan kaki Wiliam retak melingkar, menjalar cepat bagaikan jaring laba-laba ke seluruh penjuru ruangan! Rak-rak kayu raksasa bergoyang keras dengan bunyi derak yang memekik telinga, seolah-olah hendak roboh dihantam gempa bumi!
Julian dan kedua pengikutnya membeku total. Tawa sombong di wajah Julian terhapus seketika, berganti dengan raut wajah yang memucat pasi bagaikan mayat yang sudah dikubur bertahun-tahun. Sensasi membunuh yang begitu dingin, begitu murni, dan begitu pekat mencekik leher mereka hingga paru-paru mereka terasa terbakar karena kekurangan udara.
"A-Apa ini...?! Tekanan mana apa ini...?! G-Gempa bumi?!" jerit salah satu pengikut Julian histeris seraya memegangi kepalanya dan jatuh berlutut ke lantai.
"T-Tidak... ini bukan gempa... ini aura... AURA MANA?!" raung Julian dengan suara bergetar hebat, matanya melotot tak percaya menatap sosok Wiliam yang kini diselimuti oleh kabut hitam pekat yang bergerak-gerak bagaikan lidah api kegelapan.
Wiliam mengangkat kakinya, mengambil satu langkah kecil ke depan.
Swoosh.
Ruang di antara mereka seolah terlipat secara paksa. Dalam sekejap mata—tanpa ada jejak gerakan fisik yang bisa ditangkap oleh mata telanjang—tubuh Wiliam sudah menghilang dari tempatnya berdiri dan kini mendadak berada tepat di depan wajah Julian dengan jarak kurang dari dua sentimeter!
Julian terperanjat kaget hingga nafasnya tersengal, tubuhnya kaku tak mampu bergerak sedikit pun.
Wiliam mendongak perlahan. Ilusi sihir mata yang selama ini menyembunyikan identitas aslinya retak dan hancur berkeping-keping. Warna mata hitam biasanya menguap total, berganti menjadi warna merah darah murni yang menyala terang di dalam kegelapan lorong. Dan tak berhenti di sana—akibat gejolak emosi murni dan kemurkaan yang meledak di dalam jiwanya, pupil mata merah Wiliam bergetar hebat, memicu evolusi mendadak pada struktur sihir matanya!
Pola-pola ukiran hitam rumit berbentuk lingkaran bertingkat dan jaring ikatan esensi muncul berputar di sekitar pupil mata merah Wiliam—sebuah evolusi mata sihir Eye of the Void tingkat tinggi yang hanya bisa dicapai oleh praktisi kegelapan sejati!
Wiliam menatap lurus ke dalam pupil mata Julian yang bergetar ketakutan.
"Bisa kau ulangi..." suara Wiliam bergema rendah, dalam, dan bergema ganda di dalam kepala Julian—suara asli milik sang Hantu Topeng yang biasa mencabut nyawa para penjahat di kegelapan malam. "...apa yang baru saja kau katakan tentang teman-temanku?"
Julian merasa seluruh organ dalamnya seperti dicengkeram oleh tangan raksasa tak kasat mata. Keringat dingin mengalir deras membasahi seluruh tubuhnya, kakinya lemas bagaikan jeli. "A-Aku... aku..."
Wiliam tidak menunggu jawaban. Ia mengangkat tangan kanannya secara perlahan, menyilangkan satu jari telunjuknya ke arah bawah.
BRAK!
Satu isyarat tekanan gravitasi kegelapan tak kasat mata menghantam Julian dan kedua pengikutnya dari atas! Tubuh ketiga berandalan itu terhempas keras, menempel telungkup di atas lantai batu yang retak. Wajah Julian tertekan kencang ke lantai, dada dan punggungnya ditindih oleh beban seberat tonan batu yang membuat tulang-tulang mereka berderak kencang!
"AARRGHHH!" raung Julian dan kedua pengikutnya kesakitan, air mata dan keringat bercampur di wajah mereka.
Wiliam berdiri kaku di atas mereka, menatap ketiga bangsawan itu dari atas dengan pandangan mata merah berpola yang tanpa rasa kasihan sedikit pun.
"Cepat minta maaf pada Leo dan Reno," perintah Wiliam dingin, setiap kata yang diucapkannya membawa aura eksekusi yang nyata. "Minta maaf dengan tulus sekarang juga. Jika tidak... aku akan mengirim kalian bertiga ke dewa kematian detik ini juga tanpa ada yang tahu."
Julian merasakan niat membunuh di dalam suara Wiliam bukan sekadar gertakan kosong. Pemuda di hadapannya ini benar-benar sanggup meremukkan kepala mereka bertiga dalam hitungan milidetik tanpa berkedip!
"AMPUUNN! KAMI MOHON AMPUN!" jerit Julian histeris seraya berusaha menggerakkan kepalanya di atas lantai. "LEO! RENO! MAAFKAN KAMI! KAMI SALAH! KAMI MOHON MAAFKAN KAMI! JANGAN BUNUH KAMI!"
"MAAFKAN KAMI! KAMI SAMPAHNYA! KAMI YANG SAMPAH!" raung kedua pengikut Julian ikut menangis histeris, rasa sombong dan kebangsawanan mereka hancur lebur tanpa sisa di bawah ketakutan murni akan kematian.
Wiliam menatap ketakutan di mata mereka selama beberapa detik yang terasa bagaikan siksaan keabadian bagi ketiga berandalan tersebut. Setelah memastikan pelajaran itu terukir abadi di dalam jiwa mereka, Wiliam memberikan ancaman terakhirnya dengan suara yang menusuk tulang.
"Ingat kata-kataku baik-baik," bisik Wiliam pelan. "Jika kalian memang masih memiliki keinginan untuk hidup lebih panjang di akademi ini... jangan pernah sekali-kali mengganggu, menyenggol, atau menyebut teman-temanku lagi. Jika aku mendengar kalian menyentuh mereka satu kali lagi... bukan hanya kalian, tapi seluruh garis keturunan keluarga bangsawan kalian akan kuhapus dari benua ini."
"KAMI JANJI! KAMI BERJANJI DEMI DEWA! KAMI TIDAK AKAN BERANI LAGI!" ratap Julian seraya mengangguk-anggukkan kepalanya kencang di tanah.
Wiliam melepaskan tekanan jari tangannya.
Swoosh.
Tekanan gravitasi dan aura membunuh yang mengerikan itu menguap seketika dari udara perpustakaan, mengembalikan aliran oksigen yang normal.
Julian dan kedua pengikutnya merangkak bangun dengan tubuh gemetaran hebat, wajah mereka dipenuhi air mata dan ingus. Tanpa berani menoleh atau memandang wajah Wiliam sedikit pun, ketiga berandalan itu berlari kencang ketakutan, tersandung-sandung menabrak rak buku sebelum akhirnya keluar dari pintu perpustakaan seolah-olah sedang dikejar oleh raja iblis dari neraka terkecil.
Keheningan yang sangat kental kembali mencengkeram perpustakaan utama yang kini berantakan hebat.
Wiliam menghela napas panjang. Ia memejamkan matanya sejenak, menetralkan emosi gejolak jiwanya. Ketika ia membuka matanya kembali, pola-pola ukiran hitam di pupil matanya perlahan memudar, dan warna mata merah menyalanya kembali tertutupi oleh lapisan ilusi sihir biasa, mengembalikan penampilannya menjadi murid biasa berambut hitam.
Wiliam berbalik, menatap ke arah Leo dan Reno.
Kedua sahabatnya itu masih terduduk kaku di lantai yang basah, menatap Wiliam dengan mata membelalak lebar, mulut terbuka penuh, dan raut wajah shock berat yang sangat tidak dipercayai. Merekasampai lupa akan rasa sakit di tubuh mereka sendiri.
"W-Wil..." bisik Leo dengan suara gemetaran yang hampir tidak keluar dari tenggorokannya. "Kau... kau... aura apa tadi itu?!"
Reno memegangi dadanya, menunjuk Wiliam dengan jari yang bergetar kencang. "M-Mata merah itu... pola di matamu... dan kau meretakkan lantai granit hanya dengan menunjuk jari?! Wiliam! Siapa kau sebenarnya?!"
Wiliam tidak langsung menjawab pertanyaan mereka. Ia melangkah tenang ke tengah ruangan, lalu mengangkat tangan kanannya ke udara. Mana kegelapan yang sangat halus dan teratur mengalir keluar dari telapak tangannya, membentuk gelombang pusaran angin hitam yang lembut.
Dengan satu kibasan tangan Wiliam, pusaran sihir kegelapan itu menyapu ke seluruh penjuru perpustakaan. Ribuan buku yang beterbangan di udara terangkat secara melayang yang teratur, terbang kembali ke raknya masing-masing secara rapi. Ember yang terguling berdiri kembali, tumpahan air sabun di lantai terserap dan menguap tanpa bekas, dan retakan-retakan jaring laba-laba pada lantai batu granit merapat kembali, menyatu rapat seolah-olah tidak pernah ada gempa yang terjadi sebelumnya.
Penguasaan manipulasi sihir kegelapan tingkat tinggi yang begitu indah, halus, dan sempurna itu diperagakan Wiliam dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Setelah seluruh perpustakaan kembali bersih dan rapi seperti sediakala, Wiliam berjalan mendekati Leo dan Reno. Ia berlutut di hadapan kedua temannya, mengulurkan kedua tangannya dan menyalurkan sedikit mana pemulihan yang hangat ke dalam dada mereka, menyembuhkan memar dan rasa sakit akibat pukulan Julian dalam sekedip mata.
Leo memegang dadanya yang tidak lagi terasa sakit, lalu menatap Wiliam dengan pandangan yang bercampur antara rasa takjub, takut, dan bingung yang luar biasa. "Wiliam... kau... kekuatan ini... ini bukan Level 4! Ini bahkan jauh di atas Level 10! Kenapa kau menyembunyikan ini dari semua orang?!"
"Dan sihir kegelapan itu..." bisik Reno dengan mata berbinar-binar penuh kesadaran yang mendadak muncul di otaknya. "...sihir kegelapan murni... teknik manipulasi tanpa mantra... mata merah darah... W-Wiliam... jangan-jangan kau..."
Wiliam menatap kedua sahabatnya dengan senyuman tipis—sebuah senyuman tulus yang sangat jarang ia tunjukkan di sekolah.
"Ya," kata Wiliam pelan, suaranya jujur tanpa ada kebohongan lagi. "Aku adalah Hantu Topeng yang sedang dicari-cari oleh orang-orang di luar sana."
"BGST!" jerit Leo seraya menutupi mulutnya sendiri kencang-kencang, matanya hampir keluar dari rongganya. "KAU HANTU TOPENG?! SAHABATKU YANG KERJAANNYA TIDUR DI KELAS BALTHAZAR ADALAH PENGEKSEKUSI MALAM YANG DITAKUTI SELURUH BENUA?!"
Reno memegangi kepalanya seraya berguling konyol di lantai. "Gila! Ini gila! Aku berteman dengan legenda hidup! Pantesan kau tidak takut saat Julian datang tadi!"
Wiliam terkekeh pelan, menepuk bahu mereka berdua untuk menenangkan kepanikan mereka. "Aku menyembunyikan identitasku karena aku hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang tenang bersama kalian. Jadi, bisakah kalian bertiga menjaga rahasia ini demi aku?"
Leo dan Reno saling memandang sejenak, lalu mendadak berdiri dan merangkul leher Wiliam kencang-kencang.
"Tentu saja kami akan megarahasiakannya, Bodoh!" seru Leo dengan tawa bangga yang membuncah. "Kau baru saja menyelamatkan kami dan menghajar bangsawan sombong itu! Kau adalah sahabat terbaik kami, Wiliam!"
"Tapi ingat ya!" tambah Reno gembira. "Sebagai gantinya, kau harus sering-sering mentraktir kami roti cokelat di kantin menggunakan uang hasil jarahan penjahatmu!"
Wiliam tersenyum hangat, menganggukkan kepalanya. "Deal."
Malam harinya, setelah menyelesaikan hukuman dan memastikan Leo serta Reno pulang dengan selamat, Wiliam mengenakan jubah hitam serba longgar dan menyelinap keluar dari kawasan akademi menuju Distrik Bawah.
Di dalam bengkel pandai besi milik Jeck yang panas dan berbau uap besi, Wiliam meletakkan seluruh bahan-bahan langka yang telah ia kumpulkan di atas meja kayu tebal: Bongkahan Logam Kehampaan Purba dari ruang penyimpanan harta keluarga Pendragon, Kristal Mana Hitam, dan botol kristal berisi beberapa tetes Darah Elf murni dari Anya.
Jeck, sang master blacksmith ras Dwarf, melangkah mendekati meja tersebut. Mata kecilnya membelalak lebar, janggut merah tebalnya bergetar kencang saat ia menyentuh permukaan Logam Kehampaan Purba dan mencium aroma keemasan dari Darah Elf.
"Demi leluhur para pencipta besi...!" raung Jeck dengan suara bergetar penuh takjub. "Batu Kehampaan Purba?! Dan Darah Elf murni dari seorang pilar dunia?! Dari mana kau mendapatkan bahan-bahan tingkat dewa seperti ini, Hantu Topeng?!"
Wiliam bersandar pada tiang kayu bengkel seraya melipat tangannya. "Kau tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkannya, Jeck. Yang penting, bahan-bahannya sudah lengkap. Bisakah kau menemparkan pedang dan topeng baruku sekarang?"
Jeck tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggetarkan atap seng bengkel. Ia menggulung lengan bajunya dan mengangkat palu besi raksasanya dengan pendar gairah seorang pengrajin sejati. "Bisa?! Ini akan menjadi mahakarya terbaik dalam sejarah hidupku! Pedang ramping ini tidak hanya akan memotong pelindung mana musuh, tapi akan membelah esensi sihir itu sendiri! Datanglah kembali dalam tiga hari, Wiliam!"
"Aku pegang janjimu," kata Wiliam seraya berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Wiliam menyelinap kembali ke kamar tidur mansionnya melalui jalan balkon. Suasana mansion sudah sangat hening, seluruh penghuni dan pengawal telah tertidur lelap.
Wiliam tidak membuang waktu lagi. Ia melepas jubah luar dan sepatu jalannya, lalu melangkah ke tengah ruangan dan duduk bersila di atas karpet tebal di bawah naungan sinar rembulan yang menembus jendela.
Malam itu, tidak ada gangguan dari siapa pun. Tidak ada tugas akademi, tidak ada jamuan formal, dan tidak ada ancaman musuh. Wiliam memejamkan kedua matanya rapat-rapat, mengatur ritme pernapasan fisik murni menggunakan fondasi Pernapasan Pedang Kegelapan.
Fuuuuh... Haaaah...
Tarikan dan hembusan napasnya berputar secara teratur. Di dalam ruang spiritual dan saluran darah Wiliam, lautan mana hitam pekat yang telah memadat secara sempurna di puncak Level 12 mulai bergolak hebat. Pengalaman pertarungan melawan Bangsawan Iblis, inspirasi integrasi teknik dari Anya, serta pemicuan evolusi mata sihir di perpustakaan tadi sore telah membuat fondasi kekuatannya matang secara melimpah.
Wiliam memompa seluruh sirkulasi darahnya, menekan mana kegelapan murni hingga ke inti jiwanya.
BOM!
Sebuah dentuman gaib bergema di dalam tubuh Wiliam. Penghalang batas kapasitas kekuatan di dalam dirinya retak dan hancur berkeping-keping! Inti mananya berekspansi pesat dalam sekedip mata, menyerap seluruh energi spiritual kegelapan di sekitar kamar tidur untuk mengisi kapasitas wadah barunya.
Kabut hitam pekat berpendar membungkus seluruh tubuh Wiliam, memancarkan aura ketenangan dan kedalaman yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Otot-otot fisiknya memadat, jalur sihirnya melebar dua kali lipat, dan persepsi inderanya menajam hingga sanggup mendengar rintik embun yang jatuh di daun taman luar.
Wiliam membuka kedua matanya perlahan. Pendar mata merah menyalanya berkilat tajam di kegelapan sebelum akhirnya kembali redup secara stabil.
Wiliam menatap kedua telapak tangannya sendiri seraya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa puas.
Hambatan Level 12 telah terlampaui secara sempurna. Wiliam Pendragon resmi menerobos masuk dan mengijakkan kakinya di Level 13—sebuah tingkatan baru yang siap membawanya menembus kegelapan benua dan menghadapi konspirasi para iblis yang kian mendekat.