"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMAINAN SANG MUSUH
Suara derit ban mobil membelah keheningan gudang tua yang terbengkalai. Tiga mobil SUV berbingkai baja menghantam gerbang besi hingga roboh, menciptakan suara dentuman menggelegar yang mengejutkan belasan anak buah musuh di area luar.
Sebelum para penjaga sempat menyambar senjata mereka, pintu mobil terbuka dan rombongan pengawal terlatih Haidar langsung memuntahkan timah panas. Suara tembakan saling bersahutan menggema di udara. Pertempuran sengit pecah seketika di halaman gudang.
Haidar keluar dari mobil dengan tenang di tengah hujan peluru. Dengan gerakan cepat dan presisi tinggi, senjata di tangannya menyalak, merobohkan dua pria kekar yang mencoba menghalangi jalannya. Sorot matanya sedingin es—tiada ampun bagi siapa pun yang berani menyentuh orang-orang yang dilindunginya.
"Amankan area luar! Sisa personel ikut aku masuk!" perintah Haidar tegas, langkah boot kulitnya menginjak ceceran selongsong peluru yang berserakan di lantai beton.
Dalam hitungan menit, area luar berhasil dikuasai sepenuhnya. Haidar menendang pintu kayu besar di bagian dalam gudang hingga jebol.
Di tengah ruangan yang remang dan berdebu, tampak orang tua Elara terikat di kursi kayu dengan mulut terbungkam kain. Di samping mereka, berdiri pria paruh baya berkulit gelap dengan bekas luka gores di pipinya—pria yang tak asing bagi Haidar, pimpinan dari kelompok musuh bebuyutannya.
"Akhirnya kau datang juga, Haidar," kekeh pria itu dengan tawa hambar, menempelkan moncong pistolnya tepat di pelipis ayah Elara. "Aku tahu, menyerang keluarga kecilmu adalah cara paling ampuh untuk memancing sang bos besar keluar dari sarangnya."
Melihat mertuanya yang ketakutan dengan tubuh gemetar, rahang Haidar makin mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.
"Turunkan senjatamu, Kenji," desis Haidar dengan suara rendah penuh ancaman membunuh. "Kau menyentuh sehelai rambut pun dari mereka, kupastikan kau tidak akan keluar dari ruangan ini dalam keadaan bernapas."
"Ohhh, Tuan Haidar..." ucap Kenji di sela tawanya yang terdengar hambar dan menggema di dinding-dinding beton yang dingin. Pria itu menyeringai lebar, sengaja menekan ujung pistolnya lebih dalam ke pelipis ayah Elara yang hanya bisa memejamkan mata dengan tubuh gemetar hebat.
"Sejak kapan kamu peduli dengan kematian seseorang?" lanjut Kenji dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Di mana Haidar sang monster berdarah dingin yang kukenal? Apakah wanita kecil yang kau nikahi itu telah membuatmu menjadi sesosok pria lemah yang sentimental?"
Haidar sama sekali tak bergeming. Tatapannya lurus, menusuk tajam seolah sanggup mengoyak tenggorokan Kenji di tempat. Kehadiran pengawal-pengawal terlatih di belakang Haidar membuat situasi di dalam gudang tua itu seperti bom waktu yang siap meledak.
"Jangan pernah membawa-bawa istriku ke dalam urusan kita, Kenji," balas Haidar dengan suara rendah nan berwibawa, namun di dalamnya tersembunyi aura kepemimpinan yang amat menekan. "Kau tahu persis aturan di dunia bawah tanah. Urusanmu adalah denganku, bukan dengan orang tua yang tak tahu apa-apa ini."
"Aturan?" Kenji tertawa makin keras, raut wajahnya berubah menjadi penuh kegilaan. "Kau menghancurkan seluruh jalur bisnisku di wilayah timur, Haidar! Kau membakar habis pasokanku! Jadi jangan bicarakan aturan padaku saat kau sendiri yang menghancurkan hidupku!"
Ibu Elara terisak dalam bungkamannya, air mata ketakutan membasahi kain yang menutup mulutnya. Melihat itu, fokus Haidar terbagi—ia harus memastikan keselamatan kedua mertuanya tanpa membuat Kenji menarik pelatuk karena panik.
"Lepaskan mereka, dan aku akan memberimu jalan keluar dari kota ini hidup-hidup," tawar Haidar dingin, menyembunyikan jemarinya yang mulai memberi kode isyarat khusus pada penembak jitu miliknya di celah atap gudang. "Ini penawaran terakhirku."