Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Tangan Arini membeku seketika begitu juga tubuhnya yang menegang mendengar perkataan Rayhan yang begitu tidak pernah dia duga.
"Kamu bilang apa barusan?". Tanyanya pelan memastikan telinganya tidak salah dengar.
Rayhan langsung berubah gugup, matanya bergerak-gerak tidak tentu arah, entah mengapa saat dia akan mengatakannya lagi seperti ada yang tersangkut di tenggorokannya
"Katakan apa yang baru saja kamu ucapkan tadi?". Tanyanya lagi dengan datar dan dingin.
"Aku hanya ingin mengulanginya lagi, kita kembali seperti dulu, kamu mau". Cicitnya pelan.
Suaranya nyaris tak terdengar, hanya seperti bisikan lirih yang betul-betul dia dengar tapi mampu didengar baik oleh Arini.
Arini langsung terkekeh sumbang, bahkan matanya nyaris berkaca-kaca.
"Kau meminta kembali setelah semuanya hancur berantakan tanpa sisa?". Jawabnya dengan dingin.
"Kau ingin mengulang kembali setelah kamu menghancurkan aku tanpa bisa kembali?".
Rayhan semakin menunduk mendengar kalimat pelan, menusuk dan dingin dari Arini itu.
Dia sangat sadar apa yang terjadi diantara mereka dan semuanya itu bermula darinya, 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk bisa memaafkan dirinya yang terus menerus memberi luka pada Arini selama ini.
"Maaf".
Hanya itu kata yang bisa dia keluarkan, suaranya terasa tercekat di tenggorokan tanpa bisa dia keluarkan.
Rasa bersalah kian menghantam tanpa bisa dia kendalikan dan semuanya seakan sia-sia.
"Menurutmu kata maafmu itu bisa mengembalikan keadaan seperti semula?".
Arini berusaha menarik oksigen sebanyak mungkin, walau dia berusaha untuk menyangkal, dalam hatinya nama Rayhan masih bertahta manis disana tanpa tergeser tapi begitu mengingat Luk yang dia beri membuatnya mengeras kembali
"Apa kata maafmu itu bisa menyembuhkan luka yang kamu berikan kepadaku selama 6 tahun ini tuan Rayhan?".
Arini langsung memalingkan wajahnya, dia tidak ingin Rayhan melihat airmatanya jatuh kembali, dia ingin Rayhan tahu jika dia bisa mencintai sedalam itu dulu sekarang dia juga bisa membencinya sedalam luka yang dia torehkan.
"Aku tahu maafku tidak akan bisa menghapus dan mengulang segalanya Arini, aku menyesali segala yang terjadi dan begitu juga Dnegan perbuatanku padamu, tak ada yang bisa kukatakan selain kata maaf untuk bisa mendeskripsikan betapa menyesalnya aku telah membuang berlian untuk manusia binatang seperti Sahira, aku sungguh menyesal".
Airmata Rayhan akhirnya jatuh, dia jelas mengingat bagaimana dia harus kehilangan segalanya karena mahluk seperti Sahira, betapa bodohnya dia.
Arini tertawa kencang, bukan tawa bahagia melainkan tawa penuh kesakitan dan juga kepasrahan.
Suaranya bergetar karena marah, sakit dan kecewa dan juga emosi.
"Pergilah, aku tidak butuh kamu lagi Rayhan, perasaan yang ku punya untukmu selama 6 tahun sudah kau hancurkan tanpa sisa, yang ada hanya menyesal dan merasa bodoh karena menyia-nyiakan hidup untuk orang yang bahkan tidak pantas aku cintai".
Degh..
Perkataan Arini melumpuhkan saraf Rayhan sejenak, airmatanya mengalir deras mendengar perkataan mutlak dari Arini yang begitu terasa menyakitkan bak belati yang menusuk jantungnya.
"Rin, apa tidak ada sama sekali kesempatan untuk aku?, aku ingin memperbaiki semua yang aku rusak Rin, aku tidak minta kamu memaafkan aku sekarang tapi aku hanya minta beri aku kesempatan untuk berjuang, tolong beri aku kesempatan sekali saja".
Arini menggeleng pelan, dia telah menghapus airmatanya dan kini berbalik menatap Rayhan Dnegan kelelahan yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Maaf Ray, semua sudah habis tanpa sisa".
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.