Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sesampainya di dalam kamar, Keira menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Lebih baik ia merenung seorang diri di sini daripada tetap berada di ruangan yang seakan penuh kasih sayang namun tak pernah menyisakan sedikit pun untuknya.
"Orang tua yang begitu egois," keluhnya pelan. "Selalu ingin kehendaknya dipenuhi, namun tak pernah sekalipun mencoba memahami hati anaknya."
Ia memejamkan mata, menahan rasa perih yang kembali menyergap dadanya. "Untuk apa memiliki saudara? Mereka hanya melindungi dan memanjakan Keyna. Kapan giliranku? Mereka tak pernah sekalipun berdiri di sisiku. Kehadiranku seolah tak pernah berarti bagi siapa pun."
Ia pun tersadar kembali bahwa bagi keluarga ini, ia mungkin bukanlah saudara. Ia hanyalah orang asing yang kebetulan lahir di hari yang sama bersama putri kesayangan mereka.
Perutnya tiba-tiba terasa melilit hebat. Keira meringis menahan nyeri yang begitu menyiksa. Ia lupa bahwa ia menderita sakit maag yang sering kambuh jika perutnya kosong terlalu lama.
"Seandainya Keyna yang berada di tempatku..." gumamnya getir. "Pasti seluruh rumah akan gempar khawatir."
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Seluruh penghuni rumah telah terlelap dalam tidurnya. Keira melangkah keluar kamar menuju dapur dengan langkah gontai.
Rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi karena sejak siang tadi ia belum menelan sepotong makanan pun. Tak ada satu pun anggota keluarganya yang mengingatkannya untuk makan, atau sekadar menyisakan tempat baginya di meja makan.
Ia membuka lemari pendingin, namun yang tersisa hanyalah bahan makanan mentah. Di lemari lain pun tak ditemukan sisa hidangan yang dapat langsung disantap. Hati kecilnya terasa semakin perih. Sungguh kejam, tak ada satu pun yang tersisa untuknya.
Terpaksa Keira mengambil sepotong roti yang tersimpan di atas meja. Dua lembar roti kering itulah yang menjadi santapan malamnya.
"Sedang apa kau di sini?"
Suara tiba-tiba terdengar dari arah pintu dapur. Keira menoleh dan melihat Arya berdiri di sana dengan gelas di tangannya. Gadis itu tampak haus dan turun untuk mengambil minum.
"Makan," jawab Keira singkat. Ia tak lagi terkejut atau berusaha menyembunyikan apa pun. Keterasingan yang ia rasakan setiap hari telah membuatnya terbiasa dengan pandangan-pandangan seperti itu.
Arya hanya diam. Ia melihat adiknya itu menyantap roti kering di tengah malam sendirian, namun tak sepatah kata pun meluncur dari bibirnya. Tak ada pertanyaan, tak ada pelukan hangat. Ia hanya memperhatikan punggung Keira yang perlahan menjauh kembali menuju kamarnya.
***
Pagi berikutnya, Keira bangun lebih awal dari biasanya. Ia mengambil bekal yang telah disiapkan Bibi lalu berangkat ke sekolah lebih awal agar tak perlu berpapasan dengan keluarganya yang baru saja pulang. Kehadirannya seolah tak pernah diharapkan di rumah itu.
Sesampainya di sekolah, kelas mulai ramai. Keira duduk di tempatnya yang biasa, menatap ke luar jendela tanpa minat pada percakapan riuh teman-temannya. Dinda pun telah tiba dan sibuk mengobrol dengan yang lain, seakan tak menyadari keberadaan Keira di sebelahnya.
"Hei, Ra! Kau diundang ke pesta ulang tahun Amel, bukan?" tanya Dinda tiba-tiba sambil menoleh ke arahnya.
Keira menggeleng pelan. "Aku tak diundang."
"Masa begitu? Bukankah satu kelas seharusnya diundang semua?" Dinda pun beranjak menuju bangku Amel untuk memastikan kebenaran ucapan Keira.
"Katanya memang satu kelas akan diundang," ucap Dinda kembali dengan wajah bingung.
Amel yang mendengar itu pun menoleh dengan nada tak peduli. "Keira? Biarlah saja dia tak datang. Aku tak suka orang sepertinya."
"Berarti kau tak menyukainya, Amel?" tanya seorang teman lain.
"Begitulah kira-kira," jawab Amel santai.
"Mengapa begitu?" tanya yang lain kembali.
"Tak ada alasan khusus," jawab Amel singkat.
Keira yang mendengar semuanya hanya diam tenang. Ia sudah terbiasa mendengar kata-kata yang menyakitkan sejak lama. Namun Bagas, seorang pemuda pendiam yang duduk tak jauh dari sana, akhirnya bersuara lembut. "Seharusnya semua teman sekelas diundang. Tak pantas membeda-bedakan seperti itu."
Amel pun akhirnya menyetujui dengan nada yang tak tulus sama sekali. "Baiklah, aku undang saja. Namun jangan sampai ia mempermalukanku dengan penampilannya yang lusuh dan tak terawat."