Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Berani Menginginkan Perempuanku?
Pintu ruang VIP ditutup.
Keenan melirik bekas cakaran berdarah di wajah Codet, lalu berbicara pelan kepada Livia yang berdiri di belakang pria itu.
"Kemarilah."
Livia bangkit. Ia melewati beberapa pria berwajah kaku dan berjalan patuh ke arah Keenan.
Ia tahu benar bahwa setiap orang memiliki lawan yang mampu menaklukkannya. Lagi pula, jika harus memilih antara bajingan tampan yang berbahaya dan bajingan botak yang menjijikkan, siapa pun pasti memilih yang pertama.
Livia duduk di samping Keenan dan segera menjelaskan sebelum pria itu bertanya.
"Tuan Keenan, aku tidak tahu kau berada di dalam. Aku juga tidak sengaja menerobos masuk. Semua karena dia!"
Ia menunjuk Codet.
"Dia ingin merabaku dan mengambil keuntungan dariku. Dia juga bilang akan melakukan... itu kepadaku."
Seusai berbicara, Livia menyilangkan tangan untuk melindungi dada. Dengan hati-hati, ia mengamati perubahan wajah Keenan.
Pria itu terlihat cukup tenang. Ia menyesap minuman tanpa terburu-buru, tetapi ada hawa berbahaya yang bersembunyi di antara alisnya.
Melihat Livia masih mampu mengadu, Keenan menyimpulkan gadis itu belum benar-benar terluka. Ia menekan gejolak dalam hatinya dan bertanya datar, "Kau ingin aku melakukan apa?"
Alis Codet berkedut. Sebelum Livia sempat menjawab, ia maju dengan marah.
"Dasar perempuan tidak tahu diri! Dengan wajah seperti itu, seharusnya kau bersyukur aku mau menyentuhmu. Berani sekali kau—"
Baru dua langkah, suara kokangan pistol Tegar langsung terdengar.
Reza tersenyum kepada Codet.
"Kalau kau masih ingin kesepakatan yang baru kita bicarakan berlaku, sebaiknya jaga mulutmu."
Codet mengatupkan rahang.
Ia merupakan orang nomor tiga di Geng Kayu Hijau. Pemimpin mereka adalah Wendra, yang biasa dipanggil Bos Wendra oleh orang-orang jalanan.
Tadi malam, Keenan memotong telinga Malik. Namun alih-alih membalas dendam, Bos Wendra justru mengirim mereka untuk merendahkan diri dan menawarkan perdamaian.
Codet sudah menahan amarah sejak semalam.
Sekarang, ketika ia hanya ingin mempermainkan seorang gadis buruk rupa, anak buah Keenan malah menodongkan senjata ke kepalanya.
Keenan hanyalah pemuda asing berusia dua puluhan. Apa haknya bersikap begitu sombong di Kota Kayan?
Bos Wendra mungkin takut, tetapi Codet tidak.
Ia mengusap kepala botaknya. Sikap tunduk yang diperlihatkan sebelumnya lenyap dan suaranya menjadi tidak sabar.
"Aku menginginkan perempuan itu. Tuan Keenan, jawab saja. Kau akan memberikannya atau tidak?"
Jantung Livia tersentak.
Codet sebenarnya bukan tertarik kepadanya. Pria itu hanya ingin merebut kembali harga dirinya.
Jelas bahwa ia tidak terlalu takut kepada Keenan. Jika Keenan melindungi Livia dan menolak menyerahkannya, perundingan damai dengan Geng Kayu Hijau kemungkinan besar akan hancur.
Livia tidak cukup percaya diri untuk mengira satu penghangat tangan dan sebuket bunga membuat nilainya lebih tinggi daripada kesepakatan tersebut.
Terlebih lagi, ia mengetahui rahasia Keenan membuang mayat.
Ini adalah kesempatan sempurna bagi pria itu untuk menyingkirkannya tanpa mengotori tangan sendiri.
Semakin dipikirkan, semakin ketakutan Livia. Pupilnya bergetar. Tanpa sadar, ia mencengkeram lengan Keenan yang kuat dan merapat ke sisinya.
Keenan menoleh dan melihat ketakutan di matanya. Seolah menemukan sesuatu yang menghibur, sudut mata pria itu terangkat.
Tangan besarnya berbalik menangkap pergelangan Livia, lalu menariknya masuk ke pelukan.
"Ah!"
Livia kehilangan keseimbangan. Seluruh wajahnya terbenam di dada Keenan yang panas dan kokoh.
Entah karena terlalu banyak minum atau sekadar merasa gerah, beberapa kancing kemeja Keenan sudah terbuka. Ketika Livia jatuh ke arahnya, bibir lembutnya tepat menempel di sisi kiri dada pria itu dan meninggalkan bekas lipstik merah.
Aroma tajam Keenan langsung memenuhi inderanya.
Livia hendak bangun, tetapi satu tangan Keenan menahan belakang kepalanya dan memaksanya kembali menempel.
Cup.
Bekas lipstik kedua muncul.
Livia tak bisa berkata-kata. Bahkan dalam situasi seperti ini, pria tersebut masih sempat menggodanya dengan cara yang keterlaluan.
Keenan mengangkat mata ke arah Codet. Cahaya dingin yang menusuk keluar dari dasar matanya dan seakan membekukan udara.
Ia mencibir.
"Perempuanku, kau pikir dirimu layak menyentuhnya?"
Codet sama sekali tidak menduga jawaban tersebut.
Sejak perundingan dimulai, Keenan selalu menunjukkan sikap dingin dan tak tertarik kepada perempuan. Bahkan tak ada satu pun pendamping wanita di ruang VIP, membuat suasananya terasa membosankan.
Codet sempat mengira Keenan terlalu pemilih. Mungkin ia membenci perempuan klub yang dianggap murahan, atau menyimpan seorang wanita luar biasa cantik di rumah.
Namun melihat keadaan sekarang, ternyata bukan seleranya yang terlalu tinggi.
Selera pria itu justru sangat aneh. Ia menyukai perempuan buruk rupa.
Andai tahu sejak awal, Codet tak akan melirik Livia. Menyentuh sehelai rambutnya pun ia enggan.
Sayangnya, tantangan telanjur diucapkan. Jika mundur sekarang, harga diri Geng Kayu Hijau akan hilang karena dirinya.
"Kau sudah melihat ketulusan kami," kata Codet sambil menjilat gigi depan. "Tapi sampai sekarang kau belum memberi balasan apa pun. Kerja sama harus menguntungkan kedua pihak. Aku hanya meminta perempuanmu menemaniku satu malam. Jangan bilang kau tidak rela?"
"Tepat sekali."
Keenan tersenyum tipis. Ia meletakkan gelas ke meja hingga menimbulkan bunyi denting kecil.
"Aku tidak rela."
Nada suaranya datar, tetapi tekanan dalam tatapannya jatuh seperti beban berat.
Tegar dan Reza langsung memasang wajah serius. Keduanya mengeratkan genggaman pada senjata dan siap bergerak.
Para pengikut Codet bukan orang biasa. Melihat suasana semakin tegang, mereka merasa tak ada gunanya lagi memohon perdamaian. Sekalian saja mereka membalas dendam untuk Malik.
Satu demi satu, tangan mereka bergerak ke pinggang.
Tit! Tit! Tit!
Ponsel Codet mendadak berdering dan memecah keheningan yang menyesakkan.
Ia melihat nama penelepon, lalu menjawab dengan suara ditekan.
"Bos Wendra."
Entah apa yang disampaikan dari seberang. Sorot mata Codet menjadi semakin suram, tetapi ia terpaksa menelan penghinaan dan terus mengangguk.
"Saya mengerti. Saya mengerti, Bos. Tenang saja."
Setelah panggilan berakhir, Codet mengatupkan gigi dan melambaikan tangan kepada anak buahnya.
"Simpan senjata!"
Ia maju, membungkuk, lalu menuangkan dua gelas minuman untuk dirinya dan Keenan.
Codet mengangkat salah satunya dan menyodorkan ke depan. Keenan sama sekali tidak memberi muka. Ia tidak menerima dan tidak pula berbicara.
Codet terpaksa meletakkan gelas tersebut, kemudian memasang senyum meminta maaf.
"Tadi saya tidak sopan. Saya harap Tuan Keenan tidak memperhitungkan kesalahan orang kecil seperti saya. Anggap minuman ini sebagai permintaan maaf. Saya habiskan, Tuan bebas melakukan apa saja."
Ia mendongak dan menghabiskan isinya dalam beberapa tegukan. Setelah itu, gelas diletakkan keras di atas meja kaca hingga permukaannya bergetar.
Codet berbalik hendak pergi.
"Berhenti."
Anak buahnya baru menyentuh gagang pintu ketika suara Keenan terdengar santai dari belakang.
Mata pria itu jatuh pada tangan kanan Codet—tangan yang sebelumnya hendak menyentuh Livia dan melempar tubuh gadis itu ke lantai.
"Kau boleh pergi. Tapi tinggalkan tangan itu."
"Apa maksudmu?"
Kesabaran Codet akhirnya putus. Ia berbalik sambil menyeringai marah dan menunjuk Keenan.
"Kau benar-benar mengira dirimu penguasa? Ini Kota Kayan, wilayah kami! Aku sudah lama ingin menghabisimu—Aaah!"
"Bang Codet!"
Sebuah peluru menembus udara dari pistol Tegar.
Tangan kanan Codet tersentak hebat. Darah menyembur dan langsung membasahi lengan baju serta ujung jemarinya.
Daya hantam peluru membuat pergelangan tangannya terpelintir. Rasa sakit yang luar biasa mengubah seluruh wajahnya menjadi mengerikan.
Ia terhuyung beberapa langkah dan nyaris jatuh. Anak buah di belakang buru-buru menopangnya.
Bau darah segera memenuhi ruangan dan bercampur dengan suasana yang sudah menekan.
Napas Codet menjadi berat serta terputus-putus. Jeritannya menggema lama di telinga semua orang.