Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Tenggorokan Estella terasa amat terbakar, seolah-olah dilapisi pasir panas yang mengeringkan tiap hembusan napasnya. Di dalam keremangan kamar rawat yang dingin itu, dahaga yang menyiksa memaksanya untuk bergerak.
Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap nakas kecil di samping tempat tidurnya. Di sana berdiri sebuah gelas kaca berisi air bening. Hanya selangkah dari jangkauannya, namun terasa begitu jauh bagi tubuhnya yang hancur.
Estella menelan ludah yang mengganjal sakit. Dengan bibir gemetaran dan air mata yang masih basah di pipinya, ia mencoba menegakkan punggungnya.
"Ughh!"
Baru saja tubuhnya terangkat beberapa senti dari ranjang, sensasi jahitan di punggung dan pahanya serasa ditarik paksa hingga robek kembali. Rasa sakit membakar meledak di seluruh sarafnya, membuat napasnya terputus seketika. Air matanya mengalir makin deras, namun dahaganya jauh lebih menyiksa.
Dengan jemari yang gemetaran hebat dan kaku, Estella memaksakan tangannya terjulur ke arah nakas. Ia menggerakkan ujung jarinya, mencoba menggapai dinding gelas tersebut.
TAP.
Ujung jarinya menyenggol bibir gelas. Namun, karena tenaganya yang tersisa sangat minim dan matanya berkunang-kunang, dorongan jemarinya justru membuat gelas kaca itu tergelincir dari tepi nakas!
PRANGGGGG!
Suara pecahan kaca yang nyaring memecah kesunyian malam, bergema keras di seluruh sudut ruangan. Serpihan kaca dan genangan air membentang berserakan di atas lantai marmer yang dingin.
Dada Estella kempas-kempis oleh rasa panik dan kesakitan yang luar biasa. Jemarinya yang gagal menggapai gelas terkulai lemas di udara. Rasa frustrasi, kesepian, dan penderitaan fisik yang tak tertahankan menumpuk di dadanya hingga meledak.
Huaaa Mamaaa! jerit Estella dalam hatinya yang hancur, terisak-isak hebat tanpa suara karena lehernya terlalu kering untuk memekik.
Gue kenapa apes banget sih, ya Tuhan?! omel Estella di dalam benaknya dengan tangisan yang kian menjadi. Udah disiksa, dipukuli, hampir mati, sekarang cuma mau minum air putih aja gelasnya malah pecah! Badan gue sakit semua, punggung gue kayak mau copot, gak ada siapa-siapa lagi yang peduli sama gue di sini!
Di tengah rentetan tangisan dan omelan batinnya yang pilu—
KLIK.
Gagang pintu kamar rawat bergerak turun. Suara engsel pintu yang terbuka perlahan terdengar begitu nyaring dan mengintimidasi di dalam ruangan yang sunyi tersebut.
Isak tangis Estella seketika terhenti. Tubuhnya membeku kaku di atas ranjang.
Sesosok pria berbalut kemeja hitam melangkah masuk. Cahaya redup dari lorong rumah sakit menerpa separuh wajah tampannya yang dingin tanpa ekspresi. Iris mata sehitam jelaga itu langsung mengunci sosok Estella yang terbaring lemah.
Lucian Voss.
Melihat kehadiran pria itu, bukan rasa lega yang menghampiri Estella, melainkan teror murni yang teramat dahsyat.
Trauma kekerasan yang ia alami dalam beberapa hari terakhir—ingatan tentang pisau lipat yang menggores pipinya, laras pistol yang menekan jantungnya, aroma darah di hutan, hingga cambukan bergerigi yang merobek kulitnya—mendadak berkelebat hebat di dalam kepala Estella. Semua teror itu berakar dan bermuara pada satu nama: sang Vex Noir.
Napas Estella mendadak menjadi pendek-pendek dan tidak teratur. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga monitor medis di samping ranjangnya memancarkan bunyi bip-bip-bip yang kian cepat dan nyaring.
Estella mencoba menyembunyikan tubuhnya, secara refleks menarik selimut tipis hingga menutupi dadanya dengan jemari yang tremor parah. Ia menyandarkan punggungnya serapat mungkin ke kepala ranjang, mengabaikan rasa sakit membakar di lukanya. Tatapan matanya membelalak lebar, dipenuhi rasa takut yang nyata saat memperhatikan setiap inci pergerakan Lucian yang melangkah mendekat.
Gadis yang biasanya penuh racotan konyol, godaan nekat, dan cengiran tanpa beban itu kini lenyap sepenuhnya. Yang tersisa di atas ranjang hanyalah seorang gadis yang teramat rapuh, ketakutan setengah mati, dan gemetaran hebat di hadapan sang eksekutor mautnya.
"Kau..."
Suara deep voice Lucian mengalun rendah, bergema tipis di antara bunyi monoton monitor detak jantung yang masih terengah kencang. Pria itu menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan tempat tidur, menatap genangan air dan pecahan kaca yang berserakan di atas lantai marmer, lalu mengalihkan iris mata sehitam jelaganya pada wajah pucat Estella.
Raut ketakutan di wajah gadis itu terlalu jelas. Tubuh Estella yang membeku seraya meremas selimut erat-erat membuat dada Lucian menegang tipis.
Melihat tatapan dingin sang Vex Noir tertuju pada pecahan gelas yang berserakan, panik di kepala Estella melipatganda. Di dalam pikirannya yang dipenuhi trauma, ia membayangkan Lucian akan marah besar, menganggapnya tidak berguna, atau lebih buruk lagi—menghukumnya karena membuat kekacauan.
"A-aku... aku gak sengaja!" potong Estella terbata-bata. Suaranya amat parau, pecah, dan penuh getaran ketakutan murni. Air matanya kembali meluncur deras menelusuri pipinya yang lebam. "Maaf... maafin aku, Lucian! Gelasnya kepleset... aku cuma haus, tapi aku bakal bersihin sekarang! Sumpah, aku bersihin sekarang juga!"
Dengan panik yang membabi buta, Estella mengabaikan rasa sakit membakar di punggung dan pahanya. Ia menyibakkan selimut tipis itu dengan tangan gemetaran, lalu mencoba memutar tubuhnya untuk turun dari tempat tidur.
"Jangan marah... aku bersihin..." bisik Estella komat-kamit bagaikan orang linglung, pikirannya hanya terfokus untuk membuktikan bahwa ia adalah 'babu penurut' agar tidak disiksa lagi.
Kaki telanjang Estella yang masih penuh garis luka memar mulai terjulur ke luar tepi ranjang. Tanpa menyadari letak bahaya di bawahnya, telapak kaki rapuh itu perlahan bergerak turun—tepat mengarah ke atas pecahan kaca tajam yang mencuat di lantai!
Mata Lucian membelalak seribu detik lebih cepat.
SRET!
"Diam di tempatmu!" desis Lucian amat dalam, mutlak, dan sarat akan penekanan yang membekukan darah.
Suara dingin itu meluncur cepat di udara bagaikan vonis yang tak boleh dibantah satu milimeter pun. Sebelum telapak kaki Estella sempat menyentuh dan menginjak serpihan kaca tajam tersebut, tangan jangkung Lucian sudah bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram lembut namun tegas kedua bahu Estella, menahan tubuh ringkih gadis itu agar tidak meluncur turun lebih jauh dari tempat tidur.
Aura di sekitar Lucian menggelap seketika, namun kali ini bukan berisi niat membunuh pada Estella, melainkan rasa frustrasi dan kepanikan tak bersuara melihat betapa nekat dan rapuhnya gadis di depannya ini.
Estella membeku seketika di dalam cengkeraman tangan Lucian. Hembusan napas pria itu terasa begitu dekat di wajahnya, hangat namun menakutkan. Estella memejamkan matanya erat-erat, menahan napas seraya menyembunyikan kepalanya, bersiap menerima amukan atau hukuman dari sang eksekutor dingin.