Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Siang itu, matahari terik menyinari pekarangan luas sebuah kediaman bergaya modern-tropis di kawasan elit Jakarta Selatan. Rumah itu megah, berdiri kokoh dengan dinding-dinding kaca besar dan taman asri yang tertata rapi. Namun, bagi siapa pun yang mengenal sejarahnya, rumah ini bukanlah sekadar bangunan beton. Ini adalah monumen cinta. Setiap sudut desainnya, pemilihan warna cat dinding, hingga tata letak furniturnya dulu dirancang khusus oleh Gema bersama almarhumah Kirana untuk menyambut masa depan bahagia yang terenggut takdir.

​Pintu utama yang terbuat dari kayu jati tebal terbuka perlahan. Langkah kaki Gema terdengar tergesa-gesa memecah keheningan rumah besar tersebut. Jas hitamnya sudah ia lepas, tersampir begitu saja di lengannya, sementara dasinya sudah agak dilonggarkan. Wajah pria itu menyiratkan perpaduan antara rasa tidak percaya, bingung, sekaligus kebahagiaan yang membuncah.

​Beberapa jam lalu, saat Gema sedang memimpin rapat penting di kantornya, ponselnya bergetar menampilkan nama yang selama satu bulan ini terasa begitu jauh Alana.

​Dalam pesan singkat itu, Alana meminta Gema untuk pulang ke rumah siang ini. Gema yang terkejut sempat membujuknya melalui telepon agar mereka bertemu di restoran atau kafe favorit Alana saja, berpikir bahwa suasana di luar akan lebih rileks dan santai. Namun, Alana menolak halus dan menetapkan keputusan. mereka harus bicara di rumah ini, saat suasana sedang sepi karena Tania sedang ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah hingga sore hari.

​Gema mengedarkan pandangannya ke ruang tamu utama. Di sana, di atas sofa kulit berwarna krem yang menghadap langsung ke arah kolam renang, Alana sudah duduk anggun.

​Alana mengenakan gamis simpel berwarna dusty rose dengan khimar senada. Posisinya begitu tenang, kedua tangannya terlipat rapi di atas pangkuan. Di atas meja kaca di depannya, tersaji dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis. Wajahnya begitu bersih dari emosi tidak ada amarah, tidak ada kebingungan, dan tidak ada lagi pandangan terluka. Yang tersisa hanyalah kedamaian yang teramat dingin dan mutlak.

​Gema melangkah mendekat, mencoba menyunggingkan senyum terbaiknya meski dadanya berdegup kencang karena firasat asing yang mendadak menyerang ilusinya.

​"Alana..." sapa Gema hangat, suaranya agak parau. "Kamu... kamu sudah lama sampai rumah? Maaf ya, tadi jalanan dari kantor lumayan agak macet."

​Alana mendongak, menyambut kedatangan suaminya dengan anggukan kecil yang sangat sopan. "Tidak apa-apa, Mas. Saya juga baru sampai sekitar dua puluh menit yang lalu."

​Gema menarik napas lega, lalu mengambil posisi duduk di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Alana. Tempat duduk mereka dipisahkan oleh meja kaca tipis, namun rasanya seperti dipisahkan oleh jurang pemisah yang tak bertepi.

​Gema menatap wajah istrinya lekat-lekat, mencoba mencari celah untuk mencairkan suasana. "Jujur, saya kaget waktu kamu kirim pesan minta saya pulang jam segini. Tapi... saya senang sekali, Alana. Satu bulan ini kita tidak pernah duduk berdua seperti ini. Saya senang kamu memilih rumah ini daripada kafe."

​Gema memajukan tubuhnya sedikit, pandangannya begitu hangat dan penuh harapan. "Ada apa, Alana? Apa ada hal penting yang mau kamu bicarakan soal toko, Tania, atau... soal kita?"

​Alana menatap pria di depannya. Pria yang selama enam tahun ini menyandang status sebagai suaminya. Pria yang secara fisik hidup serumah dengannya, tetapi hatinya mendiami ruang kosong yang tak pernah bisa dijangkau oleh Alana.

​Alana menarik napas dalam-dalam, menyerap hawa sejuk dari pendingin ruangan, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Tidak ada getaran pada jemarinya, tidak ada gejolak emosi di dadanya. Pelajaran dari kajian Ustadzah Asma tadi pagi telah membasuh seluruh keraguan yang pernah menyiksa batunya.

​"Mas Gema," panggil Alana lirih, namun suaranya terdengar sangat jernih memecah kesunyian ruang tamu yang luas itu.

​"Iya, Alana?" sahut Gema cepat, matanya berbinar menantikan kalimat selanjutnya.

​Alana menatap lurus tepat ke dalam manik mata Gema, lalu berucap dengan satu hembusan napas yang tenang.

​"Mari kita cerai, Mas."

​Suara detik jam dinding besar di sudut ruang tamu mendadak terdengar bagaikan dentuman keras.

​Dunia Gema seolah runtuh dan berhenti berputar detik itu juga. Udara di sekitarnya mendadak hilang, menyisakan kekosongan yang mencekik tenggorokannya. Senyum hangat di wajah Gema membeku seketika. Binar bahagia di matanya runtuh perlahan, berganti dengan riak ketakutan dan kebingungan yang luar biasa besar.

​Gema tertawa kecil sebuah tawa renyah yang dipaksakan untuk menutupi gemetar di seluruh tubuhnya.

​"A-Alana... kamu... kamu bicara apa sih?" tanya Gema dengan suara yang mendadak menjadi sangat serak. "Kamu lagi becanda, kan? Atau... kamu lagi capek banget karena urusan toko kue dan acara pengajian kemarin?"

​Gema memajukan tubuhnya, meraih cangkir teh yang ada di meja dengan tangan yang kentara sekali gemetar, lalu meletakkannya kembali tanpa meminumnya.

​"Kalau kamu capek, kamu istirahat ya," cerocos Gema panik, suaranya kian tidak teratur. "Jangan ngomong hal-hal aneh seperti ini. Saya tahu satu bulan ini saya banyak salah, saya tahu keluarga saya kemarin bikin kamu tidak nyaman di acara pengajian, tapi kita bisa perbaiki semuanya, Alana. Kita bisa"

​"Saya tidak sedang bercanda, Mas Gema," potong Alana pelan. Ketenangan suaranya bertolak belakang secara ekstrem dengan kepanikan yang membakar Gema. "Saya bicara dalam keadaan yang sangat sadar, tenang, dan tanpa ada emosi sedikit pun."

​Gema membeku. Ia menatap mata Alana, mencari sedikit saja keraguan atau gertakan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah sebuah ketetapan hati yang sudah bulat bagaikan karang di tengah lautan.

​"Kenapa, Alana?!" seru Gema akhirnya, kepanikannya pecah menjadi bentakan frustrasi yang menahan tangis. "Kenapa tiba-tiba kamu minta cerai?! Kenapa harus di rumah ini?!"

​Gema menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan megah itu dengan tatapan liar. "Satu bulan ini saya sudah menahan diri, Alana! Saya turuti kemauan kamu untuk patuh pada jarak yang kamu buat! Saya minta maaf atas kesalahan saya di Lumiere Bakehouse, saya berusaha untuk tidak mengganggu kamu! Tapi kenapa balasannya seperti ini?."

​Alana tidak terkejut oleh reaksi emosional Gema. Ia tetap duduk tegak, mendengarkan bentakan suaminya dengan kesabaran yang luar biasa.

​"Justru karena ini rumah kalian, Mas," jawab Alana santai namun menghantam ulu hati Gema. "Saya sengaja memilih rumah ini, karena di rumah inilah semuanya dimulai, dan di rumah inilah semuanya harus diakhiri secara jujur."

​Alana mengedarkan pandangannya mengelilingi ruang tamu berarsitektur mewah tersebut.

​"Mas Gema ingat?" tutur Alana lirih. "Rumah ini dirancang dengan penuh cinta oleh Mas dan almarhumah Mbak Kirana. Setiap sudutnya, cat dindingnya, susunan perabotannya... semuanya dipenuhi oleh bayang-bayang kebahagiaan kalian yang terenggut oleh takdir."

​Alana kembali menatap Gema yang kini tertunduk dengan dada kempot-kempis menahan sesak.

​"Selama enam tahun saya tinggal di sini, Mas," lanjut Alana, "saya selalu merasa seperti penyusup. Saya merasa seperti orang asing yang masuk ke dalam kuil kenangan milik orang lain. Rumah ini terlalu penuh dengan Mbak Kirana, sampai-sampai tidak pernah ada ruang sekecil apa pun untuk keberadaan seorang Alana."

​"Alana, itu tidak benar..." bisik Gema terengah-engah, menggelengkan kepalanya keras-keras. "Itu dulu... sekarang rumah ini rumah kita! Rumah kamu dan Tania juga."

​"Bukan, Mas. Mas tidak perlu berbohong pada diri sendiri," sahut Alana lembut. "Bahkan sampai detik ini, foto Mbak Kirana masih tersimpan di ruang kerja Mas. Cara Mas menatap saya, cara keluarga Mas menilai saya... semuanya selalu berpatokan pada Mbak Kirana. Mas menikahi saya enam tahun lalu bukan karena Mas mencintai Alana, tetapi karena Mas butuh pengasuh untuk Tania dan wujud dari kepatuhan pada wasiat almarhumah."

​Gema memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Penyesalan yang bertubi-tubi bagaikan jarum-jarum tajam yang menancap di otaknya.

​"Saya akui saya salah di masa lalu, Alana!" jerit Gema pilu, air mata akhirnya menetes basah di pipinya. "Saya strictly dingin sama kamu, saya mengabaikan perasaan kamu selama bertahun-tahun! Saya buta! Saya bodoh! Tapi satu bulan ini... setelah kejadian di toko kue kamu, saya benar-benar sadar! Saya sadar kalau saya butuh kamu, Alana! Saya mencintai kamu! Tolong... beri saya kesempatan untuk menebus enam tahun kesalahan saya."

​Gema bangkit dari duduknya, berlutut di lantai marmer yang dingin di depan sofa tempat Alana duduk. Pria pengusaha yang dipandang tinggi oleh banyak orang itu kini bersimpuh, meraih kedua tangan Alana dan menggenggamnya erat-erat dengan tubuh bergetar hebat.

​"Tolong, Alana..." mohon Gema dengan tumpahan air mata. "Jangan tinggalkan saya. Tolong beri saya satu saja kesempatan untuk jadi suami yang baik buat kamu. Kita perbaiki dari awal. Kita penuhi rumah ini dengan kenangan kita, bukan kenangan masa lalu lagi. Tolong..."

​Alana menatap jemari Gema yang memegang tangannya. Dulu, beberapa tahun lalu, melihat Gema menangis dan memohon seperti ini mungkin akan membuat hati Alana luluh dan merasa iba. Dulu, ia akan melakukan apa saja demi mendapatkan secercah perhatian dari pria ini.

​Namun hari ini... Alana tidak merasakan apa-apa. Tidak ada desir kebahagiaan karena penyesalan suaminya, tidak ada pula rasa kasihan. Hatinya datar. Benar-benar mati rasa.

​Dengan perlahan dan sangat lembut, Alana menarik kedua tangannya dari genggaman Gema. Pria itu menatap Alana dengan pandangan hancur saat jemarinya kini hanya menggenggam udara kosong.

​"Mas Gema..." ucap Alana penuh ketenangan. "Penyesalan Mas datang di waktu yang salah. Penyesalan Mas datang ketika rasa cinta di dalam hati saya sudah habis sehabis-habisnya."

​Alana memiringkan kepalanya sedikit, menatap suaminya dengan binar mata yang jernih.

​"Enam tahun saya bertahan dalam kedinginan rumah ini. Enam tahun saya berusaha keras menjadi istri yang sempurna, menjadi ibu yang baik untuk Tania, dan berharap suatu hari Mas bisa melihat saya sebagai Alana bukan sebagai bayangan Mbak Kirana," tutur Alana tanpa ada nada dendam. "Tapi di setiap proses itu, Mas sendiri yang menghancurkan rasa cinta saya perlahan-lahan. Lewat keabaian Mas, lewat sikap dingin Mas, dan lewat pembiaran Mas saat keluarga Mas merendahkan saya."

​"Saya sudah berubah, Alana... demi Allah saya sudah berubah..." isak Gema di bawah sana.

​"Mas tidak berubah," sahut Alana jujur. "Mas hanya merasa kehilangan tumpuan yang selama ini Mas anggap akan selalu ada di belakang Mas. Mas terbiasa melihat saya selalu ada di rumah ini, siap melayani Mas tanpa menuntut. Saat saya menarik diri dan berhenti peduli, Mas panik karena kehilangan kenyamanan itu, bukan karena benar-benar mencintai saya sebagai seorang wanita."

​Kata-kata Alana menghantam kebanggaan Gema hingga tak tersisa. Setiap kalimat yang diucapkan Alana begitu membakar karena semuanya adalah kebenaran telanjang yang selama ini coba ditutupi Gema dari nuraninya sendiri.

​"Bagaimana dengan Tania, Alana?!" seru Gema, menggunakan kartu terakhir yang ia miliki demi menahan istrinya. "Kamu memikirkan Tania?! Bagaimana perasaan Tania kalau kita bercerai?! Tania butuh kamu, Alana! Kamu mau memisahkan Tania dari kamu?."

​Alana terdiam sejenak. Sorot matanya meredup melukiskan kepedihan yang amat dalam. Tania adalah anak yang ia rawat dengan seluruh jiwanya sejak masih balita, namun Alana juga sadar akan realita pahit di sekeliling mereka.

​"Soal Tania..." bisik Alana pelan. "Saya tidak akan pernah memutus kasih sayang saya untuk Tania. Tapi Mas harus sadar, soal hak asuh anak... ini bukan cuma tentang Mas dan saya. Tania punya Oma dan Opa dari pihak Mas, dan dia juga punya Oma dan Opa dari pihak saya. Bicara soal hak asuh di tengah keluarga besar kita yang seperti ini hanya akan memicu drama dan perebutan yang melukai Tania."

​Alana menatap Gema lurus-lurus. "Maka dari itu, untuk masalah hak asuh dan bagaimana ke depannya, biarlah nanti dibicarakan baik-baik secara dingin oleh keluarga. Biarkan pengacara yang mengatur jalurnya secara sah."

​"Lalu kamu mau ke mana, Alana?!" tanya Gema panik saat melihat Alana menyampirkan tas tangannya. "Kamu tidak ikut jemput Tania ke sekolah?."

​"Tidak, Mas," jawab Alana mantap. "Untuk sementara waktu... saya memilih untuk pergi sendiri. Saya butuh ruang untuk menghilang dan menyembuhkan jiwa saya yang sudah terlalu lama berdarah di rumah ini."

​Gema terbelalak, hatinya teremas hancur. "Kamu... kamu mau pergi menghilang dari saya? Dari Tania?."

​"Saya pergi demi kebaikan saya sendiri, Mas Gema," tegas Alana. "Kalau saya tetap ada di sekitar Tania saat ini, keluarga Mas dan keluarga saya hanya akan memanfaatkan Tania untuk menekan saya kembali ke rumah ini. Saya butuh tenang. Setelah proses hukum dan perceraian kita selesai, baru saya akan menemui Tania kembali sebagai sosok Alana yang baru, yang sudah utuh dan bahagia."

​Alana meraih sebuah amplop cokelat tebal yang tertata rapi di atas meja, lalu menggesernya ke hadapan Gema.

​"Ini draf gugatan perceraian dari pengacara saya. Saya tidak menuntut harta gono-gini apa pun dari rumah ini atau kekayaan Mas Gema. Toko kue saya sudah lebih dari cukup untuk menopang hidup saya. Saya minta kita selesaikan ini secara damai."

​Alana berdiri dari duduknya. Ia merapikan pakaiannya, berdiri tegak tanpa ada sedikit pun keraguan di raut wajahnya.

​"Terima kasih untuk enam tahun ini, Mas Gema," ucap Alana penuh ketulisan tanpa sisa kebencian. "Saya sudah memaafkan semua kesalahan Mas di masa lalu, dan saya berharap Mas juga memaafkan kekurangan saya."

​"Alana... tolong jangan pergi... Alana!" cicit Gema lirih, mencoba meraih ujung gamis Alana saat wanita itu melangkah melewatinya.

​Namun Alana terus berjalan. Ia melangkah keluar dari ruang tamu megah itu, melewati pintu utama rumah, dan melangkah ke luar pagar tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Langkah kakinya terasa begitu ringan, menyerap sensasi kebebasan mutlak yang belum pernah ia rasakan selama enam tahun terakhir.

​Ia meninggalkan rumah itu. Ia meninggalkan Gema yang tersisa sendirian berlutut di lantai marmer menangis meraung dalam penyesalan terlambat, terkurung di dalam rumah mewahnya yang kini mendadak menjadi sangat dingin, hampa, dan tak berpenghuni.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!