Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak di Dunia Zink
Aku terseok-seok masuk ke kamar mandi.
Membasuh lukaku yang perih.
Mengolesnya dengan anti septik.
Mengikat lukaku dengan perban seadanya.
Aku turun ke lantai bawah untuk makan.
"Tolong bawakan satu porsi makanan dan roti ini keatas, aku akan makan lagi malam nanti karena berkerja" ucapku pada pelayan.
"Baik" kata pelayan.
Aku menguatkan langkah kaki agar tidak dicurigai.
Aku naik ke atas, memegang gagang tangga yang melingkar naik gemetaran. Kakiku sakit air mataku keluar.
Aku masuk ke kamar paman.
Membongkar baju lama paman.
Kupikir ini pas untuk tubuhnya.
**
Makanan diantar datang, aku membuka pintu perlahan.
" Taruhlah di meja", ucapku sambil sibuk membaca buku.
Pelayan keluar.
Aku mengunci pintu.
"Keluarlah" ucapku.
Raja Yuko yang tadi mengenakan pakaian kerajaan canggung menggunakan kaos hitam polos dan celana training warna abu-abu milik pamanku waktu muda.
"Makan... " kataku
Di meja tersedia steak, nasi, dan roti-roti beberapa camilan manis serta satu teko es jeruk.
Raja Yuko menatapku dengan tegas.
"Makanan itu aman, tidak ada racun" ucapku.
Raja Yuko menikmati makanan itu.
Juga sepertinya menikmati es jeruknya.
Aku meneguk obat anti nyeri yang kuambil dari koper, beruntungnya aku selalu membawa obat untuk jaga-jaga.
Raja Yuko mengambil pedangnya yang dia sembunyikan di samping lemari.
"Bagaimana, kekuatanmu sudah pulih? " tanyanya mendekat.
"Belum... " ucapku
"Untuk malam ini tidak bisa, aku masih banyak terluka" kataku lagi.
"Jadi apa benar kamu tabib? "
tanyanya lagi padaku.
"Ya, di dunia kami tabib adalah dokter"
Besok kau kuajak ke tempatku berkerja.
"Setelah kekuatanku pulih kita kembali ke Duniamu seperti janjiku"
"Kalau kau main-main aku akan membunuhmu" ucapnya.
Aku diam mengangguk.
Pedangnya yang berkilau mengacamku.
Aku berpindah tidur di sofa sementara dia tidur di kasur.
**
Aku dan Raja Yuko memiliki perjanjian sebelumnya, dia mengijinkan aku untuk makan dengan perjanjian aku tidak boleh kabur.
"Kalau kamu berani melarikan diri, dengan pedang ini aku potong kepalamu" kata Raja Yuko.
"Ini adalah tempatku, mana mungkin aku lari. Pelayanku akan datang mereka akan curiga aku dikamar terus"
Raja Yuko melepas ikatanku.
Dengan hati-hati aku menggeser pedang yang dihunuskan untuk mengancamku dengan jari.
Raja Yuko menatapku dan meletakan ujung pedangnya ke lantai.
Aku mulai pelan mengumpulkan sarung bantal yang isinya berhamburan.
Tiba-tiba dia membantuku.
Mungkin dia kasihan melihatku terluka.
"Aku membersihkan diri dulu, dan turun untuk makan.
Nanti aku akan minta makanan di bawa ke kamarku".
Yuko mengawasiku, dengan tatapan tajam dan kulit seputih salju, aura dingin menyelimutiku.
**
Sudah pagi, sinarnya menyilaukan mata.
Aku mandi.
Sementara Raja Yuko sedang mandi aku meminjam kembali setelan jas paman yang ada di lemari.
Ukurannya Pas di tubuh Raja Yuko.
Paman waktu muda tinggi dan tubuhnya ideal.
Jas paman juga jas yang mahal selalu terawat baik.
"Ini bajunya... Aku taruh di depan pintu, aku duluan ke bawah. Nanti susul lah aku." kataku
Aku melihat situasi pelayan sepi.
Aku menunggu di tangga kami masuk seolah dari ruang tamu.
"Rekanku datang" kataku mengunjungi pantry.
"Siapkan makanan"
Pelayan patuh menyiapkan makanan.
"Aku akan keluar dengan mobil kakek, bisa pinjam kuncinya" pintaku
Pelayan menunjukan tempat kunci dan kami turun kebawah untuk melihat mobil peninggalan kakek.
Aku ambil kunci Rolls-Royce abu-abu gelap, mobil itu memang sering digunakan kakek membawaku sejak kecil.
Mobil yang sangat terawat.
Kami melaju meninggalkan kediaman Kakek.
**
Kami menuju rumah yang jaraknya 5 Km dari rumah kakek.
Tiba disana aku perkenalkan Yuko adalah temanku yang baru datang dari luar negeri.
Kuambil mobil sport merahku, mengganti mobil kakek dengan mobilku sendiri.
"Kenapa teleponmu tidak bisa dihubungi" kata Ibu.
"HPku batrainya mati, chargenya ketinggalan" ucapku bohong.
Aku mengambil handphone yang ada di mobil.
"Ibu hubungi nomorku ini saja, kami terburu-buru ke rumah sakit" ucapku.
Kutinggalkan Ibu dengan wajah yang masih penuh curiga.
**
"IIni tempat pengobatan kami, banyak orang sakit di sini dan aku memerlukan bunga itu untuk menyembuhkan mereka" kataku sambil berjalan di samping Yuko.
Yuko memperhatikan sekeliling, sementara beberapa tenaga kesehatan bingung melihatku datang saat cuti dan aku terluka.
Aku mengambil beberapa obat di apotik, membersihkan luka di kakiku di ruangan kerjaku.
"Sekarang kamu percaya" kataku
"Tapi pencuri tetaplah pencuri" ucap Raja Yuko menatapku.
"Baiklah, bagaimana kamu bisa menjamin keselamatanku kalau kita kembali?" tanyaku
"Kau harus membuktikan ucapanmu setelah kita kembali, atau aku yang akan membunuhmu ucapnya" tatapannya yang dingin membuatku takut.
Dia tidak segan untuk membunuhku itu bukan ancaman main-main.
**
Kaki dan luka-lukaku membaik.
Aku dan Raja Yuko menginap di kediaman kakek dan ini sudah hari ketiga.
Besok cutiku habis.
Pelayan tidak banyak bertanya.
Yuko tidur di kamar tamu.
"Tok.. Tok.. Tok.. " ketukan pintu kulirik jam 11 malam.
Kubuka pintu perlahan.
Dia mendorongku sampai tubuhku menempel ke dinding. "Kapan kita kembali ke duniaku?"
"Baiklah.. Kita bisa melakukannya sekarang, bayangkan dimana kita akan tiba akan kubantu membuka jalan kita"
Kugerakan kugerakan jariku membuka gerbang ke dunia lain.
Kami tiba di sebuah kamar bernuansa emas, corak abstrak.
Kamar itu diterangi lilin berwarna merah.
"Aku akan kembali" ucapku.
Ketika aku melentikan jari membuka gerbang.
Aku di sekap.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Mayanza" ucapku perlahan dalam sekapan.
"Bawa dia...!!!" perintah Raja.
"Tidakkkkk.... " Aku berontak tapi tidak berdaya.
Aku di bohongi.
Lama dalam sekapan dan berjalan jauh..
Akhirnya, sekapanku di lepas.
Aku sudah di dalam penjara.
Diawal aku dan Raja Yuko sudah membuat perjanjian jika aku bisa membawa dia kembali aku akan diperbolehkan pulang.
"Dasar pembohong!" gumamku.
Penjara ini terbuat dari kayu... Lantainya keras dari tanah, aku di ikat dengan rantai.
Ada jerami yang dibuat menjadi kasur disampingku.
Aku berbaring menyandarkan kepala.
Aku menangis menyesal.
Andai saja aku tidak percaya dengan ucapan Raja Yuko.
Padahal dia melihat sendiri apa yang aku lakukan, aku hanya mengambil bunga itu sebagai obat membantu orang lain.
Tiba-tiba ada cahaya yang lebih terang.
Beberapa Tentara masuk membawa obor.
"Keluar!!" bentak tentara, aku duduk.
Dikeluarkan dari penjara.
Tanganku masih di rantai.
Kiri kananku pengawal.
mengiring aku ke suatu tempat masih di bagian Istana.
Aku dibawa ke ruangan, ada bak mandi besar dari kayu dan beberapa dayang menumpahkan air panas ke dalam bak.
"Nona, mandi dulu" kata salah satu dayang.
"Mengambil kesempatan aku merapalkan mantra" ternyata tidak bisa.
Apa yang terjadi dengan ruangan ini.
Apakah sudah di segel?
Akhirnya aku menurut saja untuk mandi.
Pakaianku di siapkan, Jubah panjang berwarna kuning emas.
Rambutku di sanggul layaknya putri dengan hiasan konde berwarna senada.
dan kesempatan aku mengambil pisau bedahku di saku baju yang aku bawa tadi kuselipkan di lengan baju panjangku.
Aku berjalan melintasi lorong mengikuti langkah pengawal di ikuti dua orang dayang.
Aku menuju Aula kerajaan.
Disana sudah duduk rapi pejabat kerajaan dengan jamuannya.
"Silahkan... " kata Raja Yuko ketika aku masuk.
Dia duduk di singgasananya yang megah dengan ukiran-ukiran kuno bermotifkan naga dan sisi-sisi singgasana terdapat lilitan akar dan bentuk bunga teratai berbahan emas.
Aku duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Tatapan mata para pejabat kerajaan memandangku curiga.
"Wanita ini bernama Mayanza.
Dia adalah tabib.
Aku menghilang beberapa hari untuk pergi bersamanya ke suatu tempat yang jauh."
Raja Yuko memperkenalkanku.
Aku menunduk tidak bicara.
Lalu wanita bergaun hitam panjang itu melihatku.
"Kalau dia seorang tabib apakah dia menggunakan teratai yang dicuri itu untuk pengobatan, paduka? " tanyanya
"Mayanza, ini Swanzi dia Tabib istana" Raja memperkenalkan.
Aku hanya memperhatikan.
Swanzi seorang wanita dengan pakaian hitam, menggunakan hiasan rambut kristal hitam, lipstik hitam dan cat kuku hitam.
Tidak lebih seperti penampilan dukun umpatku dalam hati.
Swanzi menatapku tajam.
"Kau harus memberi tahu manfaat yang kamu ketahui dalam meracik bunga teratai emas kepada Swanzi, kalau tidak.
Kamu tidak akan diampuni dan tidak boleh pulang"
Aku mengambil kesimpulan mereka tidak tau manfaat dari teratai emas.
Aku hanya mengangguk pelan.
"Kapan dimulai?" aku menjawab lantang.
Dayang yang menuangkan teh hijau ke selokiku gemetaran.
"Kamu tidak sabar untuk pulang?" Raja Yuko berjalan mendekatiku.
menendang meja saji di hadapanku.
"Segera!!! " bentaknya.
Sebelum pengawal menyeretku keluar aula.
Aku berbisik di telinganya "Pembohong! "
Raja Yuko melotot marah ketika aku berkata begitu.
**
Ternyata dari seorang dayang yang menemaniku di kamar aku tau.
Swanzi adalah putri tabib Zhi
Dia dulunya hanya dayang istana biasa.
Tapi Swanzi mempunyai kekuatan gaib.
Dalam Hati, pantas berpakaian seperti dukun.
Tidak mirip seperti tabib.
Ternyata di Istana hanya orang yang berkekuatan besar yang bisa menggunakan warna emas dan hitam.
Tabib Zhi adalah satu-satunya tabib yang banyak menyembuhkan orang waktu perang di Dunia Zink.
Sementara sekarang ini Raja Yuko adalah Raja Yuko ke VIII.
Sebelumnya Raja Yuko ke VII meninggal karena tewas di peperangan.
Dunia Zink kehilangan tabib Zhi.
mereka mencari keberadaan Tabib Zhi sejak lama digantikan oleh Swanzi anaknya.
Tabib Zhi tidak meninggalkan jejak apapun dalam ilmu pengobatannya.
Teratai emas merupakan tanaman kerajaan sama persis yang kubaca di buku tua, tanaman itu di tanam semenjak Raja Yuko ke II.
Rakyat kerajaan Zink banyak yang mati dan kelaparan, juga terkena wabah penyakit mematikan.
Selama tidak menemukan catatan dari Tabib Zhi.
Istana tidak tau khasiat dan cara pengobatan dengan teratai emas.
**
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...
𝙰𝚙𝚊𝚔𝚊𝚑 𝚋𝚞𝚔𝚞 𝚝𝚞𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚌𝚊𝚝𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚃𝚊𝚋𝚒𝚋 𝚉𝚑𝚒?
𝙳𝚊𝚛𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊 𝚔𝚊𝚔𝚎𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚖𝚞𝚔𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊?
𝚃𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚙𝚊𝚛𝚝 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊...