Indonesia
NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. Melawan Sekte Pedang Langit

Matahari pagi di Gunung Hua hari kedua naik lebih cepat dari biasanya, seolah langit sendiri tidak sabar untuk melihat darah kembali tumpah di arena batu putih, dan angin yang bertiup dari puncak membawa serta aroma dupa dari Kuil Tao dan juga bau samar logam yang selalu mengikuti turnamen besar, sebuah bau yang membuat para pendekar muda menjadi bersemangat sekaligus membuat para Tetua mengerutkan dahi karena mereka tahu bahwa tidak peduli seberapa indah aturan yang dibuat, pada akhirnya turnamen ini tetap akan memakan korban.

Berita tentang kemenangan Tang Hyun di hari pertama sudah menyebar ke seluruh kamp dalam satu malam, bukan karena pertarungannya indah atau karena tekniknya luar biasa, tetapi justru karena caranya yang terlalu kotor, terlalu cepat, dan terlalu membuat orang merasa jijik, sehingga sekarang ketika namanya disebut di papan pengumuman, bisikan-bisikan langsung terdengar dari setiap sudut, "Itu dia, anak Klan Tang yang pakai racun," "Katanya dia bisa buat orang lumpuh cuma dengan napasnya," "Hati-hati, jangan sampai kena sentuhannya."

Dan hari ini, lawannya bukan lagi murid dari sekte kecil yang bisa dipatahkan mentalnya hanya dengan tiga jarum, melainkan Lee Cheon-ho, murid inti dari Sekte Pedang Langit, salah satu dari Lima Sekte Besar Ortodoks yang terkenal karena teknik pedangnya yang cepat seperti petir dan lurus seperti kehendak langit, seorang pemuda berusia sembilan belas tahun yang sudah mencapai tahap Alam Pemurnian Qi dan yang namanya sudah masuk dalam daftar "Sepuluh Naga Muda" yang akan menjadi pemimpin dunia murim dalam dua puluh tahun ke depan.

Pertandingan Tang Hyun dijadwalkan di Arena Pertama, arena utama, dan itu berarti seluruh orang penting di turnamen ini akan menonton, termasuk Pemimpin Aliansi Murim, Ketua Sekte Gunung Hua, dan tentu saja, Tiga Bunga Kecantikan Jianghu yang duduk di barisan depan tribun VIP dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Baek Seolhwa menatap ke arena dengan mata dingin, seolah dia sedang menilai apakah pertarungan ini layak untuk menghabiskan waktunya.

Nangong Yeon menutup mulutnya dengan kipas dan tersenyum, karena dia memang suka melihat pertarungan berdarah.

Dan Tang So-yeon duduk dengan tenang, tetapi jari-jarinya mengetuk pelan sandaran kursi, sebuah kebiasaan kecil yang hanya muncul ketika dia benar-benar tertarik pada sesuatu.

Tang Hyun berjalan menuju arena dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, jubah ungu gelapnya berkibar tertiup angin gunung, dan di tangannya dia tidak membawa kipas kali ini, melainkan hanya dua kantong kecil di pinggangnya dan sebuah jarum panjang yang disembunyikan di dalam lengan bajunya, karena dia tahu bahwa melawan Sekte Pedang Langit, senjata jarak jauh tidak akan berguna, dia harus masuk ke jarak dekat, dan jarak dekat berarti dia harus siap mati.

Lee Cheon-ho sudah menunggu di tengah arena, berdiri dengan pedang panjangnya menancap di tanah, jubah biru langitnya bersih tanpa satu noda pun, dan wajahnya tampan dengan senyum percaya diri yang membuat banyak murid perempuan di tribun menjerit kecil, karena inilah tipe pahlawan yang mereka baca di novel-novel silat.

"Jadi kau anak Klan Tang yang terkenal itu," kata Lee Cheon-ho ketika Tang Hyun berhenti tiga langkah di depannya, suaranya keras dan jelas, "aku sudah mendengar tentangmu. Katanya kau menang kemarin dengan cara yang memalukan."

Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepala sedikit sebagai salam, karena di Klan Tang mereka diajarkan bahwa berbicara sebelum bertarung hanya akan membuang tenaga.

"Tenang saja," lanjut Lee Cheon-ho sambil mencabut pedangnya, dan cahaya matahari memantul di bilah pedang itu membuatnya tampak seperti seberkas petir, "aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan mematahkan kedua tanganmu agar kau tidak bisa lagi main kotor dengan racun-racunmu itu."

Wasit mengangkat tangannya, dan seluruh arena menjadi hening, bahkan angin pun seolah berhenti bertiup, karena semua orang tahu bahwa ini bukan lagi pertandingan biasa, ini adalah pertarungan antara kehormatan ortodoks dan kelicikan Klan Tang, antara cahaya dan racun.

"Mulailah!" teriak wasit.

Kata itu belum selesai diucapkan, Lee Cheon-ho sudah menghilang dari tempatnya dan muncul di depan Tang Hyun dengan kecepatan yang tidak manusiawi, pedangnya menebas ke arah leher dengan jurus "Petir Pembelah Langit", sebuah teknik yang bisa membelah batu besar menjadi dua.

Namun Tang Hyun sudah menduganya, karena dia sudah mempelajari gerakan Sekte Pedang Langit selama tiga malam terakhir tanpa tidur, sehingga tubuhnya berguling ke samping tepat pada waktunya, dan pedang itu hanya menggores bahu kirinya, meninggalkan luka panjang yang langsung mengeluarkan darah hitam.

Darah itu menetes ke tanah, dan di tempat darah itu jatuh, rumput langsung layu dan menghitam, membuat beberapa penonton di baris depan berteriak kaget.

"Racun?" Lee Cheon-ho mengerutkan kening, "Beraninya kau menggunakan racun di arena!"

"Aturan tidak melarangnya," jawab Tang Hyun pelan sambil berdiri dan menyeka darah dari bahunya dengan punggung tangan, dan darah itu langsung membuat kain jubahnya berlubang, "selain itu, kau yang menyerang lebih dulu."

Lee Cheon-ho mendengus dan kembali menyerang, kali ini dengan serangkaian tebasan cepat yang disebut "Seratus Tebasan Langit", dan setiap tebasan meninggalkan bekas di udara seperti garis cahaya, memaksa Tang Hyun untuk terus menghindar, melompat, dan berguling di tanah, karena jika satu saja tebasan itu mengenai, tubuhnya akan terbelah.

Namun setiap kali Tang Hyun menghindar, dia juga melemparkan sesuatu, bisa berupa bubuk halus yang tidak terlihat, bisa berupa jarum kecil yang bersiul di udara, dan bisa berupa darahnya sendiri yang dia percikkan dengan sengaja, karena sejak dia mempelajari Teknik Racun Darah Sembilan Bunga, darahnya sendiri sudah menjadi senjata paling mematikan.

Lima menit berlalu, dan keringat mulai membasahi dahi Lee Cheon-ho, karena dia menyadari bahwa tidak peduli seberapa cepat dia, dia tidak bisa menyentuh lawannya, dan yang lebih buruk, dia mulai merasa pusing, pandangannya sedikit kabur, dan napasnya menjadi lebih berat.

"Apa yang kau lakukan?" geramnya sambil menahan pedangnya.

"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Tang Hyun sambil berdiri di tepi arena, napasnya juga berat, tetapi matanya tetap jernih, "aku hanya membuatmu bernapas di udara yang sama denganku terlalu lama."

Baru pada saat itulah Lee Cheon-ho menyadari bahwa kabut tipis berwarna ungu pucat sudah menyelimuti arena sejak beberapa menit lalu, kabut yang berasal dari pori-pori Tang Hyun sendiri, sebuah racun yang dia keluarkan secara perlahan setiap kali dia mengeluarkan tenaga, sebuah racun yang tidak mematikan, tetapi cukup untuk membuat refleks seseorang melambat setengah ketukan.

Itu curang, itu kotor, dan itu membuat seluruh tribun ortodoks bersorak marah, "Curang! Itu melanggar semangat turnamen!"

Namun Pemimpin Aliansi Murim hanya mengangkat tangan untuk menenangkan, "Aturan tidak dilanggar. Lanjutkan."

Mendengar itu, Lee Cheon-ho menjadi marah besar, dan dengan raungan dia mengaktifkan teknik terkuatnya, "Pedang Langit Kesembilan: Hukuman dari Atas", dan langit di atas arena tiba-tiba menjadi gelap, awan berkumpul, dan pedang di tangannya bersinar terang seperti matahari kecil.

Semua orang tahu bahwa jika jurus ini dilepaskan, setengah arena akan hancur.

Tang Hyun melihat itu dan tahu bahwa dia tidak bisa menghindar, karena jaraknya terlalu dekat dan kecepatannya tidak akan cukup, sehingga dia melakukan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan, dia menggigit ujung lidahnya sendiri sampai berdarah, lalu meludahkan darah itu ke depan dan berteriak di dalam hati, "Aktifkan."

Darah itu meledak di udara menjadi kabut merah pekat yang bercampur dengan kabut ungunya, dan ketika pedang Lee Cheon-ho jatuh, kabut itu menyambutnya, menetralkan sebagian besar kekuatannya, dan meskipun begitu, sisa tenaga dari tebasan itu tetap menghantam dada Tang Hyun dan membuatnya terpental sejauh sepuluh meter, menabrak dinding batu arena dan memuntahkan darah.

Seluruh arena terdiam, karena mereka pikir pertarungan sudah selesai.

Namun dari balik debu, sebuah suara pelan terdengar, batuk, lalu langkah kaki.

Tang Hyun berdiri lagi, tubuhnya penuh luka, jubahnya robek, dan darah mengalir dari sudut mulutnya, tetapi matanya masih menyala, dan di tangannya sekarang ada jarum panjang yang ujungnya berwarna hitam.

"Belum selesai," katanya dengan suara serak.

Lee Cheon-ho yang juga terdampak oleh racunnya sendiri terhuyah-huyah, lututnya gemetar, dan dia mencoba mengangkat pedangnya lagi, tetapi tangannya terlalu lambat.

Tang Hyun bergerak, bukan dengan kecepatan, tetapi dengan kepastian, dia berjalan lurus ke arah Lee Cheon-ho, mengabaikan semua serangan pedang yang dilemparkan ke arahnya karena tubuhnya sudah terlalu kebal untuk pedang biasa, dan ketika dia sudah berada satu langkah di depan lawannya, dia menusukkan jarum itu ke titik bahu Lee Cheon-ho.

"Racun Pembeku Darah," bisiknya, "kau tidak akan bisa menggerakkan lengan kananmu selama seminggu."

Lee Cheon-ho terjatuh berlutut, pedangnya jatuh ke tanah dengan suara nyaring, dan dia menatap Tang Hyun dengan mata penuh kebencian dan juga... ketakutan.

"Aku... aku menyerah..." katanya akhirnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Wasit segera berlari dan mengangkat tangan Tang Hyun, "Pemenang! Tang Hyun dari Klan Tang!"

Sorakan tidak terdengar, yang ada hanya keheningan yang berat, karena semua orang baru saja menyaksikan seorang murid Klan Tang mengalahkan murid inti Sekte Pedang Langit, bukan dengan kekuatan, tetapi dengan kesabaran, racun, dan kemauan untuk menyakiti dirinya sendiri.

Tang Hyun turun dari arena dengan langkah terhuyah-huyah, dan begitu dia sampai di belakang panggung, dia langsung muntah darah dan jatuh berlutut, karena efek samping dari memaksa darahnya menjadi kabut terlalu besar, dan jika bukan karena pil yang diberikan Tang So-yeon dua hari lalu, dia mungkin sudah mati di sana.

Tang Ling berlari dan menopangnya, "Bodoh! Kenapa kau memaksakan diri sejauh itu!"

Tang Hyun hanya tersenyum lemah, "Karena... kalau aku tidak melakukan itu, aku akan kalah. Dan aku... aku sudah muak kalah."

Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar mendekat, dan Tang So-yeon muncul, wajahnya tetap datar, tetapi ada sesuatu yang berbeda di matanya ketika dia melihat kondisi Tang Hyun.

"Kau bodoh," katanya singkat, lalu dia berjongkok dan memeriksa nadi Tang Hyun, "darahmu hampir mendidih. Kalau kau melakukan itu sekali lagi, kau benar-benar akan mati."

Tang Hyun ingin menjawab, ingin mengatakan terima kasih, tetapi dia terlalu lelah, sehingga yang bisa dia lakukan hanyalah mengangguk pelan.

Tang So-yeon mengeluarkan pil dari kantongnya dan memasukkannya ke mulut Tang Hyun, lalu dia menggendongnya dengan mudah, meskipun Tang Hyun adalah laki-laki dewasa, dan membawanya kembali ke penginapan Klan Tang di depan mata ratusan orang yang menonton dengan mulut terbuka.

Berita itu menyebar lebih cepat dari api, "Nona Tang So-yeon menggendong murid luarnya", "Klan Tang punya monster baru", "Anak itu berbahaya, jangan pernah melawannya sendirian."

Malam itu, Tang Hyun demam tinggi, dan dia bermimpi tentang hujan di Kaifeng lagi, tentang pedang yang menembus punggungnya, tetapi kali ini di akhir mimpi, ada tangan yang menggenggam tangannya, tangan yang hangat dan tidak melepaskannya.

Ketika dia bangun, fajar sudah menyingsing, dan di meja samping tempat tidurnya ada secangkir teh hangat dan selembar kertas dengan tulisan tangan Tang So-yeon: "Istirahat tiga hari. Pertandinganmu berikutnya ditunda. Jangan mati."

Tang Hyun memegang kertas itu erat-erat, dan untuk pertama kalinya sejak dia bereinkarnasi, dia tertawa, pelan, tetapi tulus.

Karena dia tahu, dia sudah tidak sendirian lagi.

Di luar, rumor tentang "Anak Racun Klan Tang" sudah menyebar ke seluruh Gunung Hua, dan nama Tang Hyun sekarang disebut bersamaan dengan nama-nama besar lainnya di daftar turnamen.

Dan perang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!