Indonesia
NovelToon NovelToon
Secrets Of A Broken Family

Secrets Of A Broken Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The destruction will begin

Ruang kerja Reno di lantai dua terasa jauh lebih senyap dari biasanya. Jam dinding marmer di sudut ruangan menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi lampu-lampu di luar jendela langit masih berpendar tajam, menciptakan garis-garis cahaya yang menembus tirai kaca vertikal.

Di atas meja kayu jati yang biasanya tampak rapi, kini berserakan map-map tebal berlogo merah—tanda bahaya dari departemen audit internal. Laporan keuangan kuartal ini bukan sekadar lampu kuning, itu adalah sirene merah berdarah. Arus kas macet total, beberapa tagihan vendor besar sudah jatuh tempo selama berbulan-bulan, dan yang paling mengerikan, bank penanggung pinjaman korporasi baru saja melayangkan surat peringatan pertama terkait potensi gagal bayar.

Reno memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Kepalanya terasa berat, seolah dihantam beban berton-ton. Perusahaan logistik dan distribusi yang ia bangun dari nol bersama mendiang sang istri pertama, yang dinamai dengan keringat dan pertumpahan darah masa mudanya, kini berada di ambang jurang kebangkrutan. Padahal, dalam ingatannya, grafik perusahaan selalu menunjukkan tren positif. Kontrak-kontrak baru terus berdatangan, dan operasional tampak berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Pintu ruang kerja berderit pelan. Belva, istri keduanya, melangkah masuk dengan anggun. Ia mengenakan blus sutra berwarna gading yang kontras dengan rambut panjangnya yang tergerai rapi. Di tangannya, sebuah nampan kecil berisi secangkir teh chamomile hangat tersaji dengan sempurna, aromanya langsung menguar menenangkan ruangan yang tegang.

"Belum tidur, Mas?" suara Belva terdengar lembut, hampir seperti beludru, menembus keheningan malam.

"Aku lihat lampu ruang kerjamu masih menyala dari kamar. Kamu terlalu memforsir diri."

Reno mendongak. Menatap wanita yang telah menemaninya selama lima tahun terakhir. Belva bukan hanya pendamping hidupnya, sejak lima tahun lalu, atas kesepakatan bersama untuk memperkuat manajemen internal, Reno mempercayakan seluruh kendali atas portofolio saham, investasi strategis, dan pengelolaan keuangan utama perusahaan kepada istri keduanya, Belva memiliki latar belakang pendidikan akuntansi dan keuangan, dan selama ini, kinerjanya sangat luar biasa. Atau setidaknya, itulah yang selalu Reno pikirkan.

"Belva, duduklah," kata Reno dengan suara serak, menunjuk kursi di seberang mejanya.

Belva meletakkan cangkir teh tersebut dengan hati-hati. Ia duduk dengan postur tubuh yang tenang, senyum tipis menghiasi bibirnya, menunjukkan kepedulian yang tulus—atau sebuah topeng yang terpasang dengan sangat sempurna.

"Ada apa, Mas? Wajahmu pucat sekali. Ceritakan padaku, ada masalah apa lagi dengan proyek di Surabaya?" tanya Belva, suaranya terdengar begitu perhatian.

Reno menarik napas panjang, mencoba meredakan gemetar di ujung jemarinya. Ia menyodorkan map merah paling tebal ke hadapan istrinya. Map yang berisi laporan audit independen terbaru.

"Bukan soal proyek Surabaya, Bel," ucap Reno tajam, matanya menatap lekat-lekat manik mata istrinya. "Perusahaan kita... kita sedang dalam krisis besar. Krisis keuangan yang sangat parah."

Belva tidak langsung membuka map tersebut. Alisnya sedikit bertaut, menciptakan kerutan kecil di dahinya yang justru membuatnya tampak semakin khawatir. "Krisis? Maksudmu bagaimana, Mas? Bukankah cadangan kas kita masih aman untuk enam bulan ke depan? Aku selalu memantau likuiditas perusahaan setiap minggu."

"Itu dia masalahnya!" Reno meninggikan suaranya sedikit, tidak kuasa menahan frustrasi yang membuncah di dadanya. Ia berdiri dari kursi, berjalan mondar-mandir di dekat jendela kaca besar.

"Laporan ini bilang sebaliknya, Bel! Kas kita kosong. Rekening operasional utama hampir tak menyisakan saldo yang cukup untuk menggaji karyawan bulan depan. Utang jatuh tempo menumpuk di mana-mana. Aku sudah bertanya ke bagian keuangan, dan mereka bilang semua kebijakan transfer besar, restrukturisasi aset, dan otorisasi dana darurat langsung berada di bawah kendalimu. Kamu yang memegang kendali penuh atas semua itu!"

Suasana di dalam ruangan mendadak membeku. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Belva perlahan menundukkan pandangannya ke arah map merah di depannya. Jemarinya yang terawat menyentuh sampul map tersebut, membukanya dengan gerakan yang sangat terukur. Halaman demi halaman ia balik dengan tenang, seolah angka-angka merah kerugian dan defisit ratusan miliar rupiah itu adalah hal biasa yang sering ia lihat setiap hari.

"Mas..." Belva memulai dengan nada bicara yang sangat terukur, tenang, dan sama sekali tidak menunjukkan kepanikan. "Kamu tahu kan, situasi makroekonomi kita sedang tidak stabil? Suku bunga naik, biaya logistik melonjak akibat kenaikan harga bahan bakar, dan klien-klien besar kita sering menunda pembayaran hingga sembilan puluh hari. Ini akumulasi dari tekanan pasar, bukan karena salah kelola."

"Jangan bohongi aku dengan alasan makroekonomi, Bel!" sentak Reno, suaranya bergetar karena amarah dan keputusasaan. Ia kembali menghadap istrinya, menatap wanita itu dengan sorot mata menuntut jawaban yang jujur.

"Tekanan pasar tidak mungkin membuat likuiditas perusahaan lenyap dalam semalam tanpa jejak! Ada aliran dana keluar yang masif ke rekening-rekening sekunder yang bahkan tidak tercatat di pembukuan operasional utama. Dan semua itu memerlukan verifikasi serta tanda tangan otorisasi darimu!"

Jantung Belva berdetak sedikit lebih cepat, namun wajahnya tetap terkontrol dengan sempurna. Selama berbulan-bulan, ia telah merancang skenario ini dengan presisi seorang ahli bedah.

Setiap celah hukum ditutup, setiap jejak transaksi dialihkan melalui jaringan akun penampung berlapis yang menggunakan nama-nama samaran dan perusahaan cangkang di luar negeri. Uang-uang itu tidak menguap, uang itu berpindah tempat secara sistematis ke rekening pribadi rahasianya—rekening tersembunyi yang kini berisi akumulasi dana korporasi senilai ratusan miliar rupiah, cukup untuk menghidupkan beberapa generasi keturunannya tanpa perlu bekerja lagi.

Namun, di luar, Belva justru menampilkan ekspresi wanita yang terluka. Bola matanya mulai berkaca-kaca, manik matanya memantulkan kekecewaan yang mendalam.

"Mas... kamu mencurigaiku?" bisik Belva, suaranya sedikit bergetar, menampilkan kerapuhan seorang istri yang merasa tidak dihargai oleh suami yang dicintainya.

"Setelah semua yang aku lakukan untuk perusahaan ini? Setelah semua malam-malam panjang yang aku habiskan untuk menyelamatkan neraca keuangan kita dari kebangkrutan yang lebih awal?"

Reno tertegun sejenak. Melihat mata istrinya yang mulai berkaca-kaca membuat pertahanan emosionalnya goyah. Rasa bersalah tiba-tiba menyergap hatinya. Apakah ia terlalu gegabah? Apakah tekanan ini membuat paranoia dan merusak akal sehatnya hingga menuduh orang terdekat yang paling ia percayai?

"B-bukan begitu maksudku, Bel..." suara Reno melunak, ia mendekati meja dan mencengkeram tepi kayu jati tersebut.

"Aku hanya... aku bingung. Aku panik. Sebagai orang yang memegang kendali penuh atas keuangan, tentu saja aku harus bertanya padamu. Kenapa kita bisa sampai di titik serendah ini tanpa ada peringatan dini darimu?"

Belva mengangkat wajahnya. Setetes air mata jatuh dengan sempurna di pipinya, menambah kesan ketulusan yang palsu. Ia berdiri, lalu melangkah pelan mendekati Reno, meletakkan kedua tangannya di dada suaminya yang bidang.

"Mas, dengarkan aku," ucap Belva dengan nada penuh kelembutan yang menghanyutkan.

"Aku juga terpukul melihat kondisi ini. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menutupi lubang-lubang besar di keuangan kita agar kamu tidak stres. Aku memutar otak setiap hari, mencari pinjaman sana-sini, mengalihkan dana dari pos-pos tertentu untuk menambal operasional yang hampir kolaps. Kalaupun ada keputusan yang terlihat ekstrem, itu semua aku lakukan demi menyelamatkan perusahaan kesayanganmu."

Belva mendesah pelan, menyeka sudut matanya dengan ujung jarinya. "Tapi kalau kamu sekarang justru curiga padaku... kalau kamu menganggap aku adalah sumber masalahnya... hancur rasanya hatiku, Mas. Aku tidak tahu apa-apa soal aliran dana aneh yang kamu maksud. Mungkin ada sistem internal kita yang diretas, atau ada staf bagian keuangan bawah yang bermain curang di belakang kita tanpa sepengetahuan kita."

Reno terdiam. Ia memeluk istrinya, mendekap tubuh wanita itu erat-erat di dadanya. Ia merasa bersalah karena sempat memikirkan hal-hal buruk tentang wanita yang selama ini berdiri di sampingnya melalui masa-masa susah maupun senang.

"Maafkan aku, Bel... maafkan aku," bisik Reno penuh penyesalan, membelai rambut istrinya dengan lembut. "Aku terlalu stres. Beban ini terlalu berat."

Di dalam dekapan suaminya, wajah Belva sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin dan penuh kemenangan. Pelukannya semakin erat, bukan karena cinta, melainkan cengkeraman seorang predator yang memastikan mangsanya tetap berada di dalam perangkap yang ia buat sendiri.

Sementara Reno terus bergulat dengan rasa bersalahnya di dalam pelukan itu, ia tidak pernah menyadari bahwa di balik kelembutan suara dan air mata palsu istrinya, Belva sedang menikmati detik-detik kehancuran total dari kerajaan bisnis yang dibangun suaminya—sementara saldo di rekening rahasia pribadinya terus bertambah dengan aman, jauh dari jangkauan hukum maupun kecurigaan siapa pun.

...----------------...

Malam semakin larut, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam rumah mewah bergaya modern minimalis itu. Di dalam kamar tidur utama yang luas, suasana berubah drastis begitu pintu tertutup rapat. Topeng kerapuhan dan air mata yang tadi dikenakan Belva seketika luntur, tergantikan oleh ekspresi dingin, kaku, dan tatapan penuh kecemasan. Jantungnya berdegup kencang tidak beraturan. Seluruh ketenangannya di hadapan sang suami tadi hanyalah akting tingkat tinggi untuk menutupi kepanikan luar biasa yang kini mulai merayapi setiap jengkal sarafnya.

Belva berjalan mondar-mandir di atas karpet tebal berwarna abu-abu, jemarinya yang dihiasi kuteks rapi mencengkeram erat ponsel pintar berwarna hitam legam milik pribadinya. Ia merasa ada sesuatu yang salah.

Laporan audit independen yang jatuh ke tangan Reno bukanlah sesuatu yang bisa diakses dengan mudah oleh sembarangan orang. Dokumen itu sangat rahasia, hanya tersimpan di dalam brankas digital dengan enkripsi tingkat tinggi yang kodenya hanya diketahui oleh dirinya sendiri—dan segelintir orang kepercayaan di lingkaran gelapnya.

Tidak mungkin Reno menemukannya secara kebetulan, batin Belva, napasnya mulai memburu. Pasti ada seseorang yang membocorkan ini semua. Seseorang yang tahu persis ke mana aliran dana perusahaan itu bermuara.

Tanpa berpikir panjang, Belva segera mencari sebuah nomor kontak di ponselnya yang disamarkan dengan nama samaran Pak Budi Toko. Ia menekan tombol panggil, mondar-mandir di samping ranjang besar sambil menggigit kuku ibu jarinya dengan gelisah.

Panggilan itu tersambung setelah nada dering ketiga.

"Halo? Ada apa malam-malam menelepon?" suara berat seorang pria paruh baya terdengar di seberang sana, mencerminkan ketidaksenangan karena dihubungi di waktu istirahat.

"Dengar, penjarahan ini dalam bahaya!" bisik Belva penuh penekanan, suaranya bergetar antara amarah dan rasa takut yang mendalam.

"Reno baru saja mendapatkan laporan audit internal yang lengkap. Dia tahu kalau kas perusahaan kosong dan aliran dana masif dipindahkan. Seseorang telah membocorkan informasi ini kepadanya!"

Di ujung telepon, pria yang dipanggil Pak Budi itu terdiam sejenak, suaranya berubah serius. "Itu tidak mungkin, Nyonya Belva. Semua sistem pengalihan dana kita buat berlapis menggunakan perusahaan cangkang di luar negeri. Tidak ada jejak digital yang bisa dilacak langsung dari dalam kantor, kecuali..."

"Kecuali apa?!" sentak Belva tidak sabar.

"Kecuali ada dokumen fisik atau data internal yang sengaja disalin atau dicuri secara langsung oleh seseorang yang memiliki akses ke ruangan Anda, atau... seseorang yang mendengar percakapan kita beberapa waktu lalu."

Panggilan itu ditutup sepihak oleh Belva dengan tangan yang gemetar hebat. Ponsel mahalnya nyaris terlepas dari genggaman. Peringatan dari orang suruhannya itu berputar-putar di dalam kepalanya, memicu reaksi berantai di dalam memorinya. Otaknya bekerja keras, menelusuri kembali setiap detik dalam beberapa hari terakhir, mencari celah siapa dalang di balik petaka ini.

Dan tiba-tiba, sebuah kilasan ingatan menghantam benaknya bagaikan sambaran petir di siang bolong.

Napas Belva mendadak tercekat. Matanya membelalak lebar menatap kosong ke arah pantulan wajahnya sendiri di cermin rias yang besar.

Aera. Ya, Aera. Anak kandung suaminya.

Beberapa hari yang lalu, di sebuah kafe sudut kota yang remang-remang dan tenang, Belva tidak sengaja berpapasan dengan gadis itu. Saat itu, Aera menatapnya dengan sorot mata yang bukan lagi mencerminkan kebencian remaja biasa, melainkan tatapan penuh kebencian yang dingin, tajam, dan sarat akan ancaman nyata.

Dalam pertemuan singkat dan menegangkan di kafe tersebut, Aera sempat melontarkan kalimat yang kala itu dianggap angin lalu oleh Belva karena dianggap hanya gertakan anak muda yang stres.

Aera dengan jelas mengatakan bahwa ia tahu apa yang sedang dilakukan oleh ibu tirinya di belakang sang ayah. Gadis itu dengan berani mengancam akan membongkar seluruh kasus korupsi, penggelapan dana, dan skema busuk yang merampok kekayaan perusahaan ayahnya sendiri.

Belva langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak mempercayai apa yang baru saja ia sadari.

"Tidak... tidak mungkin," gumam Belva panik, ia menjatuhkan dirinya ke tepi tempat tidur, kedua tangannya memegang kepalanya yang terasa mau pecah.

"Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa anak seumuran Aera tahu soal keuangan perusahaan? Dia hanyalah seorang gadis muda yang kesehariannya hanya tahu soal kuliah, buku, dan novel-novel remajanya! Anak sekecil itu tidak akan mengerti hal sampai sejauh itu!"

Bagi Belva, dunia keuangan korporasi, reksa dana, likuiditas, dan pencucian uang melalui jaringan internasional adalah hal yang sangat rumit—sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang profesional yang berpengalaman di dunia bisnis selama bertahun-tahun. Aera sama sekali tidak memiliki latar belakang akuntansi atau manajemen bisnis. Gadis itu sama sekali tidak tahu menahu soal neraca keuangan, rugi laba, ataupun kode-kode otorisasi perbankan.

Lantas, bagaimana mungkin seorang anak yang dianggapnya masih mentah dan naif bisa meruntuhkan benteng pertahanan yang sudah ia bangun dengan begitu rapi dan teliti selama bertahun-tahun?

Ketakutan yang luar biasa kini mencengkeram dada Belva, membuatnya merasa terpojok di kamarnya sendiri. Jika benar Aera yang membocorkan semua dokumen itu kepada Reno, itu berarti ancaman gadis di kafe itu bukan sekadar gertakan kosong. Aera pasti memiliki bukti kuat atau setidaknya, ia memiliki seseorang yang membantunya menyelidiki kebusukan Belva dari balik layar.

Belva berdiri perlahan, langkah kakinya terasa berat saat ia berjalan mendekati jendela kamar yang menghadap ke arah taman belakang rumah. Kilatan petir di luar sana menerangi wajahnya yang pucat pasi. Pertahanan dirinya mulai runtuh. Jika Reno mengetahui bahwa istrinya sendiri adalah dalang di balik kebangkrutan perusahaan yang berujung pada pengurasan seluruh harta keluarga, maka bukan hanya pernikahan mereka yang akan hancur lebur, tetapi hidupnya di dalam jeruji besi penjara akan menantinya.

Kini, musuh terbesar Belva bukanlah lagi krisis ekonomi atau auditor independen, melainkan anak tiri yang selama ini dianggapnya remeh. Aera. Dan Belva tahu pasti, ia harus segera mengambil langkah preventif sebelum gadis itu membongkar semuanya lebih jauh kepada suaminya.

Belva kembali berjalan cepat menuju meja rias, meraih ponselnya dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Pikirannya kini bergeser dari rasa panik menjadi kecurigaan yang tajam.

Ia mulai menyadari bahwa ia sedang menghadapi musuh yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar anak tirinya yang sedang marah.

Siapa? Siapa yang tega menusukku dari belakang? tanya Belva pada dirinya sendiri, manik matanya menyipit penuh amarah.

Apakah salah satu orang kepercayaan di kantor yang berkhianat? Apakah ada staf keuangan internal yang selama ini berpura-pura setia, namun diam-diam mengumpulkan bukti kejahatannya untuk diberikan kepada Aera? Ataukah... ada seseorang dari masa lalunya, atau bahkan musuh bisnis Reno yang sengaja memanfaatkan Aera sebagai pion catur untuk menghancurkan keluarganya dari dalam? Semua kemungkinan itu berkelebat di kepala Belva, menciptakan paranoia yang luar biasa. Ia merasa setiap bayangan di sudut kamar tidur itu sedang mengawasinya, bersiap menerkam kapan saja kebohongannya terbongkar sepenuhnya.

Tanpa membuang waktu lagi, Belva membuka kunci ponselnya. Ia tidak lagi menghubungi nomor samaran yang tadi ia hubungi. Kali ini, ia mencari kontak lain—seorang pria bernama Darma, mantan penyelidik swasta yang kini bekerja sebagai orang bayaran khusus untuk menangani urusan-urusan kotor, penguntitan, dan pembersihan jejak korporasi milik Belva.

Panggilan itu berdering cukup lama sebelum akhirnya diangkat di nada dering keempat.

"Halo, Nyonya Belva? Ini sudah jam dua pagi. Ada urusan mendesak apa sampai Anda menelepon jam segini?" suara parau dan malas-malasan dari Darma terdengar di ujung sambungan, menandakan pria itu baru saja terbangun dari tidurnya.

"Darma, bangun! Dengar baik-baik, situasi kita sedang di ambang kehancuran!" bisik Belva dengan nada tajam, berusaha menahan agar suaranya tidak berteriak membangunkan Reno yang mungkin masih terjaga di ruang kerja.

"Reno sudah memegang laporan audit lengkap soal perusahaan. Dan aku yakin seratus persen... ada seseorang yang sengaja membocorkan dokumen itu."

Di ujung sana, helaan napas berat terdengar, dan suara gesekan kain menandakan Darma mulai mengubah posisinya menjadi duduk. Nada malasnya seketika lenyap, digantikan oleh kesigapan seorang profesional kriminal.

"Maksud Anda, ada kebocoran dari internal? Bukankah kita sudah menutup semua celah dan melenyapkan arsip fisik di kantor?" tanya Darma, suaranya kini terdengar serius dan penuh perhitungan.

"Bukan sekadar kebocoran biasa, Darma!" balas Belva, giginya bergemeretak menahan emosi. "Beberapa hari lalu, anak kandung Reno, Aera, mendatangi dan mengancamku. Dia tahu soal kasus korupsi uang perusahaan. Masalahnya, anak sekecil itu tidak mungkin tahu apa-apa tentang laporan keuangan, apalagi memiliki dokumen audit rahasia itu secara mandiri!"

Darma terdiam sejenak di seberang telepon. Otaknya langsung menganalisis informasi krusial tersebut. "Jadi... Anda menduga Nona Aera tidak bekerja sendirian?"

"Tentu saja dia tidak sendiri!" tukas Belva cepat.

"Aera itu bodoh dalam urusan bisnis. Pasti ada dalang di balik semua ini. Seseorang sengaja mendekati Aera, meracuni pikiran anak itu, memberinya dokumen-dokumen rahasia milikku, dan menggunakan anak itu sebagai tameng untuk menjatuhkanku di depan Reno!"

"Masuk akal," gumam Darma pelan, terdengar suara ketukan jari di atas meja dari ujung telepon.

"Seorang remaja tidak akan tahu cara menyusun strategi penjatuhan korporasi tanpa ada seseorang yang memiliki akses dan pemahaman mendalam tentang celah hukum kita yang membimbingnya dari balik layar. Orang itu paham betul kelemahan Anda, Nyonya."

"Itu sebabnya aku meneleponmu malam ini," ujar Belva dengan tatapan mata yang semakin menggelap, penuh tekad yang kejam.

"Aku ingin kamu bergerak cepat mulai detik ini juga. Cari tahu siapa dalang di balik Aera. Cari tahu siapa orang yang sudah berani bermain-main di belakangku, menyelidiki aliran dana kita, dan memberikan dokumen itu kepada anak tiri sialan tersebut."

"Baik, Nyonya. Saya akan menggerakkan orang-orang saya untuk memantau gerak-gerik Aera mulai besok pagi. Kita akan lacak siapa saja orang yang sering menemuinya, siapa yang berdiskusi dengannya, atau pihak mana saja yang mencoba menggali informasi tentang perusahaan Tuan Reno akhir-akhir ini," jawab Darma dengan nada datar namun penuh keyakinan.

"Bagus," kata Belva dingin. "Cari tahu semuanya, Darma. Sekecil apa pun informasinya, laporkan padaku secepatnya. Jika ada orang yang mencoba menghancurkan duniaku, aku pastikan orang itu tidak akan bisa melihat matahari terbit keesokan harinya."

Klik.

Belva menutup sambungan telepon secara sepihak. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja rias dengan tangan yang perlahan-lahan berhenti gemetar, digantikan oleh aura dingin dan penuh perhitungan. Rasa takut yang sempat melumpuhkannya tadi kini telah bermutasi menjadi amarah yang membara.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Senyuman tipis dan sinis terukir di bibirnya. Siapa pun dalang di balik Aera—entah itu orang dalam perusahaan, mantan rekan bisnis yang dendam, atau siapapun itu—Belva bertekad akan menemukan orang tersebut terlebih dahulu sebelum mereka sempat menghancurkan seluruh jerih payah dan kekayaan yang sudah ia curi dari keluarga Reno.

Pertandingan baru saja dimulai, dan Belva sama sekali tidak berniat untuk kalah.

1
Amora
bagus
Amora
selalu aku pantau terus ceritanya
Amora
yaampun Thor pantesan aku tungguin gak up terus pdhal ganti kesini xixixi🤭
Aisyah Suyuti
good
Its_sellaaf
Hallo, ini sebenarnya kelanjutan ulang cerita sebelumnya, di judul pertama aku yaa aku ubah di awal karena cerita yang sebelumnya susah buat aku delete. Jadi aku bikin ulang lagi aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!