### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup yang Tidak Ke Mana-Mana
# BAB 1
## Hidup yang Tidak Ke Mana-Mana
Hujan turun sejak sore. Bukan hujan deras yang membuat orang berlari mencari tempat berteduh, melainkan hujan kecil yang menyebalkan. Airnya cukup untuk membasahi jalan, cukup untuk membuat pakaian lembap, tetapi tidak cukup deras untuk berhenti dalam waktu singkat.
Reyhan berdiri di depan jendela kamar kosnya sambil memandangi lampu-lampu kendaraan di jalan.
Sudah hampir tiga puluh menit dia berdiri di sana. Tangannya memegang gelas kopi instan yang sudah dingin.
“Besok harus bayar kos.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Reyhan menghela napas panjang.
Di atas meja terdapat sebuah laptop tua dengan layar yang sudah memiliki garis hitam di bagian kiri. Di sampingnya ada dua lembar tagihan, sebuah dompet tipis, dan ponsel dengan layar retak.
Dia membuka dompet. Dua lembar uang seratus ribuan, tiga lembar lima puluh ribuan, dan beberapa uang receh.
Reyhan menghitungnya sekali lagi. Tiga ratus lima puluh tujuh ribu rupiah dia tertawa kecil.
“Hebat.”
Besok uang kos harus dibayar empat ratus ribu. Artinya, dia masih kekurangan empat puluh tiga ribu. Masalahnya, bukan hanya uang kos. Ada tagihan listrik, ada cicilan laptop, ada biaya makan.
Dan tentu saja ada kebutuhan sehari-hari yang entah kenapa selalu muncul tanpa pernah mau menunggu kondisi keuangan seseorang membaik.
Reyhan menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Usianya dua puluh lima tahun. Seharusnya pada usia seperti ini seseorang sudah memiliki arah hidup yang jelas. Setidaknya begitu yang sering dia lihat di media sosial.
Temannya membeli mobil, teman kuliahnya menikah, teman yang lain bekerja di perusahaan besar dengan jabatan yang terdengar keren.
Sementara dirinya?
Bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil dengan gaji pas-pasan. Pekerjaannya tidak buruk hanya saja tidak ada masa depan yang terasa jelas.
Setiap pagi datang pukul delapan. Duduk di depan komputer memasukkan data, membuat laporan, menerima omelan atasan. Pulang pukul lima kemudian mengulang semuanya keesokan hari.
Senin sampai Jumat kadang Sabtu. Begitu terus selama hampir tiga tahun. Yang berubah hanya tanggal di kalender.
Reyhan mengambil ponselnya. Sebuah pesan dari grup teman kuliah muncul.
**Dimas:**
*Bro, minggu depan gue naik jabatan.*
Disusul foto dirinya mengenakan pakaian formal. Reyhan tersenyum dia ikut senang benar-benar senang namun setelah menekan tombol suka, perasaan kosong kembali muncul.
Dia membuka aplikasi rekening.
Saldo: Rp 500.00
Reyhan menatap angka tersebut beberapa detik. Kemudian mematikan layar.
“Kenapa hidup gue begini-begini saja?”
Tidak ada jawaban hanya suara hujan. Malam semakin larut Reyhan akhirnya mandi, makan mi instan terakhir yang tersisa, lalu berbaring di kasur tipisnya.
Besok pagi dia harus bekerja seperti biasa.
Dia memejamkan mata. Namun sebelum benar-benar tertidur, pikirannya kembali berputar.
Kalau begini terus sampai umur tiga puluh?
Bagaimana kalau sampai umur empat puluh?
Apakah dia masih akan menjadi orang yang sama?
Pertanyaan itu membuat matanya terbuka kembali.
Reyhan menatap langit-langit kamar. “Aku harus berubah.”
Kalimat itu terdengar meyakinkan. Sayangnya, dia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.
Pukul 05.47.
Alarm berbunyi. Reyhan memukul ponselnya alarm mati. Lima menit kemudian alarm berbunyi lagi dia mematikannya.
Lima menit kemudian...
“BANGUN!”
Reyhan terlonjak dia melihat jam.
07.13.
“MATI GUE!”
Dia langsung bangkit dari kasur. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, Reyhan sudah mengenakan kemeja kusut, celana hitam, sepatu, dan tas kerja.
Sarapan?. Tidak sempat. Mandi?. Sempat, tetapi hanya karena dia takut rekan kerjanya pingsan kalau mencium bau badannya.
Dia berlari keluar kos. Hujan semalam meninggalkan jalan yang basah.
Reyhan mengejar angkot sambil berlari. “Bang! Tunggu!”
Angkot itu tetap berjalan.
“Bang!”
Tidak berhenti.
Reyhan berhenti sambil terengah-engah. “Bagus.”
Hari bahkan belum dimulai dan sudah menyebalkan. Akhirnya dia memesan ojek daring. Saldo dompet digitalnya hanya tersisa 500 perak.
Biaya perjalanan tujuh belas ribu.
Reyhan menatap angka itu cukup lama. “Kalau besok hujan lagi, gue jalan kaki.”
Pukul 08.26.
Reyhan masuk kantor. Atasannya sudah berdiri di dekat mejanya.
“Reyhan.”
“Iya, Pak.”
“Laporan kemarin mana?”
Reyhan terdiam dia lupa. “Maaf, Pak. Saya selesaikan sekarang.”
“Atasan saya minta sebelum jam sepuluh.”
“Iya, Pak.”
Atasannya pergi. Reyhan duduk komputer dinyalakan satu per satu file dibuka. Dua jam kemudian laporan selesai. Tidak ada pujian, tidak ada penghargaan, tidak ada perubahan. Hanya pekerjaan berikutnya.
Hari berlalu seperti biasanya. Pukul lima sore, Reyhan pulang, pukul enam, makan, pukul tujuh, mencuci pakaian, pukul delapan, menghitung uang, pukul sembilan, memandangi langit-langit, dan pukul sepuluh...
Dia kembali bertanya pada dirinya sendiri.
“Apa cuma ini?”
Tangannya menggenggam ponsel. Reyhan membuka situs lowongan kerja. Puluhan pekerjaan muncul. Marketing, sales, admin, customer service, operator, supervisor.
Dia membaca satu per satu. Sebagian membutuhkan pengalaman, sebagian menawarkan gaji lebih besar, sebagian meminta kemampuan yang tidak dia miliki.
Reyhan menghela napas. Dia menutup semuanya.
“Besok aja.”
Kalimat yang sama selalu besok.
Pukul 23.58.
Reyhan hampir tertidur ketika tiba-tiba layar ponselnya menyala. Bukan notifikasi WhatsApp, bukan pesan, bukan email.
Layar ponselnya berubah menjadi hitam. Kemudian muncul sebuah tulisan biru terang.
Reyhan langsung duduk. “Apa-apaan?”
Tulisan itu bergerak. Satu baris, dua baris.
Kemudian sebuah kotak transparan muncul di depan matanya. Bukan di layar ponsel tapi di udara.
Reyhan membeku. Sebuah panel holografik berwarna biru menggantung tepat di depan wajahnya. Dia mengucek mata panel itu masih ada.
Dia mencubit lengannya. “Aduh!”
Sakit berarti bukan mimpi.
Tulisan di panel berubah.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Reyhan tidak bergerak. Beberapa detik berlalu kemudian muncul tulisan berikutnya.
**[Selamat datang, Host.]**
**[Apakah Anda bersedia mengubah kehidupan Anda?]**
Reyhan menelan ludah.
“Kalau ini prank, sumpah gue laporin.”
Panel itu tidak menjawab. Sebaliknya, muncul tiga pilihan.
**[YA]**
**[TIDAK]**
**[SAYA TIDAK PERCAYA]**
Reyhan menatap pilihan terakhir. Tangannya terangkat dia hampir menekan tombol tersebut.
Namun berhenti.
Selama bertahun-tahun dia menginginkan sesuatu yang bisa mengubah hidupnya. Sesuatu yang memberinya kesempatan, sesuatu yang membuat hidupnya tidak lagi berjalan di tempat. Sekarang sesuatu itu benar-benar muncul.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Reyhan merasakan sesuatu yang hampir dia lupakan. Yaitu harapan.
Dia tersenyum tipis. “Kalau ini mimpi...”
Jarinya bergerak menuju pilihan pertama.
“...gue mau mimpi ini sedikit lebih lama.”
**[YA]**
Panel berubah. Suara elektronik terdengar di dalam kepalanya.
**[Konfirmasi diterima.]**
**[Sistem Karir Mingguan terhubung dengan Host.]**
**[Setiap tujuh hari, Host akan menerima satu karier.]**
**[Setiap karier memiliki misi khusus.]**
**[Misi harus diselesaikan dalam waktu tujuh hari.]**
**[Kegagalan akan memberikan konsekuensi.]**
Reyhan mulai tersenyum. Namun senyumnya hilang ketika satu kalimat terakhir muncul.
**[Karier pertama sedang ditentukan...]**
Tulisan itu berkedip.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Kemudian muncul tulisan besar berwarna merah.
**[KARIER MINGGU PERTAMA: KURIR.]**
Reyhan terdiam. “...Kurir?”
Panel berikutnya muncul.
**[Misi Utama: Selesaikan 100 pengantaran dalam 7 hari.]**
**[Misi Tambahan: Tidak boleh menerima satu pun komplain pelanggan.]**
**[Reward: Rp50.000.000 + Skill Navigasi Lv.1.]**
Reyhan menatap angka hadiah itu.
Lima puluh juta rupiah.
Lima puluh juta.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia melihat sebuah angka yang terasa seperti pintu keluar dari kehidupan lamanya.
Kemudian muncul satu kalimat terakhir.
**[Waktu persiapan: 7 jam 42 menit.]**
Reyhan perlahan turun dari tempat tidur. Dia mengambil jaket, wajahnya berubah serius.
“Kalau begitu...” Dia membuka pintu kamar.
“Besok gue jadi kurir.”
Dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun hidupnya...
Reyhan tidak menunggu hari esok untuk mengubah hidupnya.
**Dia mengejar hari esok lebih dulu.**