Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Sebelum Jadi Istrimu, Aku Sudah Bernoda

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:73.8k
Nilai: 5
Nama Author: bunda Qamariah

"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."

Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.

Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.

Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.

Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Peringatan Terakhir

Setelah bertemu dengan pria itu, Humaira langsung pulang ke rumah. Ia menyelipkan kartu nama Alva di dalam tasnya tanpa berniat sedikit pun untuk membaca atau sekadar melihatnya kembali.

Sesampainya di rumah, Humaira bergegas menyembunyikan jas mewah milik Alva agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Saat melangkah masuk ke dalam kamar, ia melihat Zidan yang sepertinya juga baru saja pulang dari tempat kerja.

"Kau dari mana?" tanya pria itu. Suaranya terdengar dingin, seperti biasanya, kalau dia telat pulang.

"Maaf, aku terlambat," sahut Humaira, lagi-lagi mengulangi alasan yang sama.

"Aku tidak bertanya kau terlambat atau tidak. Aku bertanya, kau dari mana?" sergah Zidan.

Humaira menatap Zidan, lalu perlahan melangkah mendekatinya. Ia merogoh tas dan mengeluarkan sesuatu.

"Kapan Anda akan mengurus perceraian kita?" tanya Humaira pada Zidan, menyimpan surat cerai yang dia keluarkan

dari tasnya, tepat di hadapan pria itu.

Mata Zidan seketika bergemuruh, menahan emosi yang mendadak membakar dadanya.

"Ini sudah terlalu lama Anda menundanya," lanjut Humaira. "Dan juga... kenapa Anda memindahkan adik saya ke ruang VIP? Saya takut tidak akan mampu membayarnya kelak."

"Sudah kubilang, aku tidak memintamu untuk membayarnya!" potong Zidan.

"Tidak. Saya sudah bilang, saya tidak ingin berutang pada siapa pun. Jadi tolong, mari kita urus perceraian ini segera," tegas Humaira.

Zidan terdiam. Tangannya yang baru saja mengendurkan ikatan dasi di leher terhenti, merasa tidak terima dengan desakan Humaira yang dinilainya sungguh tak bersahabat.

"Kenapa kau terlalu terburu-buru ingin bercerai?!" Ia menatap Humaira dengan tatapan membara.

"Kalau begitu, pilih di antara kami!" Ucap Humaira tegas. "Pilih antara aku... atau Tante Melodi! Lepaskan salah satu dari kami!"

DEG!

Zidan lagi-lagi bungkam, setiap kali Humaira memberikannya pertanyaan yang sama. Bibirnya terkatup rapat, tak mampu menjawab tantangan itu.

Melihat reaksi pria tersebut, Humaira tersenyum miris.

Ia sudah tahu jawabannya. Sampai kapan pun, Zidan tidak akan pernah memilih dirinya.

"Saya sudah tahu jawabannya." Humaira pergi dari hadapan Zidan, masuk kedalam kamar mandi.

Zidan menatap ke arah cermin yang memantulkan bayangan wajahnya. Pria itu benar-benar frustrasi.

Humaira terus mendesaknya untuk segera mengurus perceraian, sementara Melodi di sisi lain juga tak henti-hentinya menuntut hal yang sama.

Zidan sendiri bingung dengan perasaannya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dan merasa sama sekali tidak bisa memilih.

Dikuasai emosi, Zidan merasa harus segera keluar untuk menenangkan diri. Tanpa membuang waktu, ia menyambar kunci mobil lalu pergi meninggalkan rumah.

Di perjalanan, ia menghubungi sahabatnya, Davin, dan mengajaknya untuk bertemu di sebuah bar.

Sesampainya di sana, Zidan langsung menghampiri Davin yang sudah menunggunya di salah satu sudut meja.

"Ada apa dengan dokter kita satu ini? Biasanya cuma sibuk, sibuk, dan sibuk, sampai tidak pernah ada waktu ke sini. Tapi tiba-tiba malam ini malah mengajak nongkrong. Apa ada masalah, Pak Dokter?" tanya Davin setengah bercanda, melihat wajah sahabatnya yang tampak sangat frustrasi.

Zidan menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa. Aku cuma butuh ketenangan saja."

"Ya sudah kalau begitu. Mau minum apa? Aku pesankan alkohol buat kamu ya?" ujar Davin terkekeh, masih bermaksud bergurau.

"Boleh juga," jawab Zidan singkat.

Davin kaget, tawanya mereda, "Ayolah, aku cuma bercanda. Aku tidak pernah melihatmu menyentuh minuman seperti itu."

"Aku sedang kacau," potong Zidan berat.

Davin menghela napas panjang melihat kekacauan di mata sahabatnya itu. "Baiklah, kita minum sedikit saja."

Davin memanggil pelayan dan memesan minuman beralkohol dengan botol ukuran kecil—hanya sekadar untuk meredakan beban pikiran Zidan.

Namun begitu gelas pertama tandas, Zidan seolah kehilangan kendali. Ia terus memenuhkannya kembali, minum, minum, dan minum tanpa henti.

"Ayolah, Zidan! Jangan minum seperti itu. Ini tidak baik untukmu, lagipula selama ini kamu tidak pernah minum. Aku takut tubuhmu tidak kuat," tegur Davin, mencoba menahan tangan Zidan.

"Pesan satu botol lagi... aku masih ingin minum," gumam Zidan. Kepalanya mulai bereaksi luar biasa dan melayang akibat pengaruh alkohol.

Tiba-tiba, ponsel Davin yang tergeletak di meja berdering.

"Aku keluar sebentar ya, mau angkat telepon dulu," pamit Davin seraya berdiri melangkah ke area yang lebih tenang.

Sepeninggal Davin, Zidan hanya menimang-nimang gelas di tangannya.

Tiba-tiba, seorang pria asing duduk di sebelah Zidan dan meletakkan sebotol minuman beralkohol tepat di hadapannya.

"Ini kalau kau masih mau," ujar pria itu santai.

Zidan menoleh. Dalam remang cahaya bar, pandangannya samar-samar melihat wajah di sebelahnya. Wajah itu terasa tidak asing—seperti pernah ia lihat.

Namun, efek alkohol yang baru pertama kali menyentuh tubuhnya membuat kesadaran Zidan berada di titik terendah. Ia tidak mampu mengingat siapa pria itu, yang jelas ia tahu sosok di sebelahnya bukan Davin.

Pria itu menatap Zidan intens. Zidan yang merasa diperhatikan membalas tatapan itu dengan tatapan tajam meski matanya sudah berat.

"Kau mau apa?" tanya Zidan dengan suara serak.

"Aku mau istrimu," jawab pria itu jujur dan tenang.

Raut wajah Zidan seketika mengeras. Dikuasai emosi dan kepala yang oleng, ia menyambar dan menarik kasar kerah baju pria di hadapannya.

"Apa maksudmu?!" bentak Zidan.

Pria itu sama sekali tidak panik. Ia tetap tenang dan berkata, "Aku cuma bilang, kau bisa memilih istrimu atau kekasihmu. Kalau kau memilih kekasihmu, maka aku yang akan mengambil istrimu. Tapi, kalau kau melepaskan kekasihmu dan memilih istrimu, itu adalah pilihan paling tepat dalam hidupmu. Karena kau telah memilih berlian dan membuang batu kerikil." Pria itu tampak tersenyum penuh arti.

Zidan melepaskan cengkeramannya pada kerah baju pria itu dengan kasar.

Pria itu merapikan kembali pakaiannya yang agak kusut, lalu menyunggingkan senyum tipis.

"Kau menyukai istriku?" Tanya Zidan menahan amarah.

"Tidak. Tapi dia menarik... seorang wanita tangguh yang tegar. Kalau aku jadi kau, akan kujadikan diriku tempat pulang ternyamannya. Akan ku ukir senyuman hangat di wajah dinginnya." ujar pria itu, lalu perlahan berdiri.

Ia menatap Zidan yang terkulai menahan efek alkohol dan rasa panas di dadanya.

"Aku hanya ingin menyadarkanmu. Dibandingkan kekasihmu, istrimu jauh lebih bernilai di atas segalanya. Jangan sampai kau salah pilih." lanjutnya seraya menepuk bahu Zidan pelan.

Pria itu mencondongkan sedikit badan tegaknya pada Zidan, berbisik tegas sebelum melangkah pergi.

"Tapi... kalau kau melepaskannya... dia milikku." Bisik pria itu, lalu bergegas pergi.

DEG!

Zidan tertegun, mendengar peringatan menohok pria itu.

1
Nar Sih
😭😭😭sedih bundaa ...kok arumi putus tgh jln pdhl lgi seru,,nyaa😭😭
bunda Qamariah: sebenarnya bisa di lanjutin sayangg. tapi kalau mau Revisi ulang, astaghfirullahalazim 🤧 butuh tenaga ekstra 🤧
total 1 replies
Syakirah Dzaky
Yah Allah syg skali Thor , lagi seru2nya harus berhenti😭, di saat lagi cinta secinta2nya tiba2 harus berakhir, rasanya sakit tau g 😭 Aku slalu menanti karya2mu bunda dan sukses slalu 🤲🤲 berharap Azhar bisa di lanjutin
bunda Qamariah: iya syang. maaf ya, karena harus berhenti di tengah jalan. soalnya lagi mumet kalau mau Revisi dari no🤧


jangan lupa mampir di karya baru aku ya, say. udah terbit kok
total 1 replies
Syakirah Dzaky
Akhirnya Humairah dan Alva bahagia menanti calon bayi untk kesempurnaan keluarga mereka , dan buat Zidan yeah Akhirnya ketemu jodohnya juga . Ditunggu yah toh novel baru nya , jgn lama2 loh🤭
Aysah Meta: Sesuai kak,dengan sifat zidan yg ha ho haa hooo🤭🤭 pintar tapi bodoh🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
Nar Sih
mau bangettt bunda lanjut kisah zidan dan gadis kribo penjual ikan nya pasti seruu dan lucuu🙏🥰🥰
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya terbongkar juga semua kebusukan melodi😏
Jamayah Tambi
Setelah gabis masa nifas nikahkan Davin dan Melidi.Dulu bukan main kamu anak betanak menghina Humaira dan Yanti.Mengatakan perempuan jalang,murahan ,pelacur dan anak haram.
bunda Qamariah: betul itu say🤧
total 1 replies
Jamayah Tambi
Kesian kan.
Jamayah Tambi
Bapak dah masukbpenjara,ni mak saudara pulak.Apa mau
Jamayah Tambi
Ni Alva tak cerita lagi kejalangan Melodi
Jamayah Tambi
Rasakan Melidi.Ingat nak makukan Humaira,kau sendiri yg malu
Jamayah Tambi
Lambat,banyak drama
Jamayah Tambi
Ah tak sabarnya nak malu
Jamayah Tambi
Kau tak sadar diri Melidi.Dah berapa bulan menjadi isteri Zidan masih belum di sentuh.Kalau Alce mengeluarkan gambae2 lucahmu dgn selingkuhan mu siapa yg lebih malu
Jamayah Tambi
Apa lagi ulah dan rancangan Melidi
bunda n3
dan yg paling menyakitkan itu dikhianati orang terdekat kita
bunda n3
Humaira hamil sepertinya
Nar Sih
ahir nya semua terbongkar ,zidannn....malang nya nasib mu yaa..semoga stlh ini kmu dpt kan kebagiaan mu nanti
Syakirah Dzaky
Kasian Zidan , aku bisa merasakan betapa sakit dan hancur nya dia😭 . terimakasih thor akhirnya kau update juga
bunda Qamariah: sama2 say🫰
total 1 replies
Jamayah Tambi
Jawab Alva.
Jamayah Tambi
Lepas ni jangan nak cemburu buta.Ramai yg antin di luar sana mau merampas Alva .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!