Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Dari balik kepulan debu tebal, Genta melangkah masuk dengan sangat santai seolah dia baru saja membuka pintu geser otomatis di pusat perbelanjaan.
"S-siapa kau? Uhuk! Tolong jangan mendekat!" rintih gadis itu mencoba mundur, namun seluruh persendian tubuhnya sudah sepenuhnya lumpuh.
"Tutup mulutmu dan jangan banyak bergerak jika kau masih ingin melihat matahari terbit besok pagi," ucap Genta dengan nada sangat dingin.
Genta berjongkok di samping gadis itu dan langsung merobek sedikit bagian bahu gaun sutra putihnya tanpa ragu sedikitpun.
"A-apa yang kau lakukan?! Dasar pria mesum!" jerit gadis itu dengan sisa tenaganya, wajahnya memerah karena paduan rasa malu dan amarah.
Genta sama sekali tidak mempedulikan makian dan tuduhan konyol itu.
Dia mengeluarkan dua batang jarum emas dari balik jasnya dan menancapkannya tepat di dua titik saraf rahasia di bahu gadis itu.
Jleb! Jleb!
Arrrgh!
gadis itu memekik tertahan saat merasakan sengatan panas yang luar biasa menusuk aliran darah meridiannya.
Namun sedetik kemudian, rasa sesak yang mencekik dadanya langsung menghilang seketika seolah ditiup angin kencang.
Warna keunguan di kulit gadis itu perlahan memudar, digantikan oleh keringat hitam kental yang keluar berbau menyengat dari pori-pori bahunya.
Gadis itu mengambil napas panjang berkali-kali, menatap Genta dengan pandangan yang luar biasa terkejut sekaligus takjub.
"Kau... kau baru saja membalikkan aliran meridianku dan memaksa racun itu keluar lewat pori-pori kulit?" tanya gadis itu tidak percaya dengan apa yang baru dialaminya.
"Teknik tingkat dewa macam apa itu? Bahkan guru besarku tidak mungkin bisa melakukannya dalam waktu kurang dari lima detik!"
Genta mencabut kembali kedua jarum emasnya dan menyimpannya dengan sangat rapi ke dalam saku dalam jasnya.
"Teknik itu bernama tutup mulut dan ucapkan terima kasih pada penolongmu," sindir Genta sambil berdiri dan membersihkan debu di celananya dengan santai.
Gadis itu terdiam menahan malu, dia segera merapikan kembali pakaian sutranya menutupi bahunya.
Dia bangkit berdiri dengan tubuh yang masih sedikit gemetar dan menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah Genta sebagai tanda hormat yang sangat tulus.
"Maafkan kelancanganku tadi Tuan, namaku Sekar Arum dari Sekte Teratai Putih."
"Terima kasih telah menyelamatkan nyawaku dari kecerobohanku sendiri malam ini, aku berutang nyawa padamu."
Genta mengangkat alisnya sedikit saat mendengar nama sekte pengasingan yang disebut oleh gadis itu.
"Sekte Teratai Putih? Kudengar sekte kalian sudah mengasingkan diri dari dunia luar selama puluhan tahun di puncak gunung es, kenapa repot-repot turun gunung sekarang?" tanya Genta penasaran.
Sekar menatap Genta dengan sorot mata yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan yang tidak bisa disembunyikan.
"Guru besarku terkena racun kutukan purba yang sangat langka, dan penawarnya hanya ada di dalam gudang harta Aliansi Medis Gelap."
"Satu-satunya cara kami mendapatkan penawar itu secara damai adalah dengan memenangkan Turnamen Tabib Kematian ini."
Genta mengangguk paham mendengar penjelasan itu, cerita klise pengorbanan murid seperti ini sudah sangat sering dia dengar dari kakek gurunya dulu.
"Kalau begitu kau harus berjuang jauh lebih keras dari ini Nona Sekar, karena ujian penyaringan konyol ini murni hanya pemanasan saja."
Tepat saat Genta menyelesaikan kalimatnya, suara pengumuman dari pengeras suara asrama bergema memecah malam yang berantakan itu.
"Perhatian kepada seluruh peserta, waktu ujian penyaringan pertama telah resmi ditutup."
"Bagi peserta yang masih sadar dan sanggup berdiri di atas kedua kakinya, silakan keluar menuju lobi utama asrama sekarang juga."
Klak! Klak! Klak!
Pintu-pintu kamar asrama yang tadinya terkunci kini otomatis terbuka dengan sendirinya secara serentak membuka jalan keluar.
"Mari kita lihat wajah-wajah terkejut dari para panitia aliansi itu saat melihat kita berdua masih hidup," ajak Genta tersenyum sinis melangkah keluar dari lubang dinding kamarnya.
Sekar mengangguk patuh dan segera mengikuti langkah pemuda misterius yang luar biasa dominan ini dari belakang.
Saat mereka tiba di lobi asrama di lantai dasar, pemandangan yang tersaji benar-benar sangat menyedihkan dan memalukan.
Dari total tiga ratus peserta elit yang mendaftar penuh kesombongan siang tadi, kini hanya tersisa kurang dari lima puluh orang yang mampu berdiri tegak di lobi.
Sisanya sedang digotong keluar secara kasar oleh petugas medis panitia dalam keadaan pingsan dan mulut berbusa parah.
Di depan lobi, berdiri tiga orang tetua berpakaian jubah hitam dengan wajah yang memancarkan arogansi tak terbatas.
Mereka adalah panitia pengawas tingkat tinggi dari Aliansi Medis Gelap yang sengaja merancang ujian malam ini.
"Hanya lima puluh orang yang bertahan? Kualitas tabib daerah tahun ini benar-benar menurun drastis dan mengecewakan," cibir salah satu tetua berjanggut panjang dengan nada menghina.
Namun mata tua bangka itu mendadak terbelalak lebar saat melihat Genta dan Sekar melangkah sangat santai menuju barisan peserta yang tersisa.
"Bagaimana mungkin pemuda udik dari selatan itu sama sekali tidak terlihat pucat atau keracunan sedikitpun?!" batin tetua itu sangat terkejut hingga urat lehernya menonjol.
"Bahkan gadis dari Sekte Teratai Putih itu terlihat sangat segar bugar, padahal kamera pengawas jelas-jelas menunjukkan dia sudah hampir mati dua belas menit yang lalu!"
Genta menyadari tatapan penuh kebingungan itu dan balas menatap ketiga tetua panitia itu dengan senyuman meremehkan yang sangat menantang.
"Kenapa menatapku seperti melihat hantu Tuan-tuan panitia? Apakah kalian kecewa berat karena gas racun murahan kalian tidak mempan sama sekali padaku?" tantang Genta tanpa basa-basi di depan umum.
Ketiga tetua itu langsung menggertakkan gigi menahan marah hingga rahang mereka berbunyi, namun mereka tidak berani bertindak gegabah karena turnamen ini memiliki aturan baku.
"Jangan sombong dulu anak muda yang tidak tahu aturan, ujian malam ini hanyalah trik kecil untuk membuang sampah-sampah tidak berguna dari asrama kami."
"Besok pagi, Turnamen Tabib Kematian yang sesungguhnya baru akan dimulai di arena utama dan di situlah nyawa kalian benar-benar dipertaruhkan."
Tetua berjanggut itu menatap lurus ke arah Genta dengan sorot mata yang penuh dengan niat membunuh yang tidak lagi ditutupi.
"Kita lihat saja besok apakah mulut besarmu itu bisa menyelamatkan nyawamu dari ujian mematikan kami yang selanjutnya."
Genta tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya bosan, dia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh gertakan murahan dari petinggi aliansi tersebut.
Dia sudah sepenuhnya siap untuk menghancurkan panggung ini besok pagi dan meruntuhkan kesombongan Aliansi Medis Gelap hingga ke akar-akarnya tanpa sisa.