Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 23 - Menemuiku Sendiri
Setelah Nadine duduk di ruang tengah tadi, mansion kembali dipenuhi kesibukan. Karena ukuran mansion yang begitu luas, beberapa ruangan di dalamnya memiliki akses dan koridor yang berbeda sehingga orang-orang yang datang dari sisi lain tidak selalu akan berpapasan dengan penghuni mansion.
Hal itulah yang membuat Nadine sama sekali tidak mengetahui bahwa pada saat yang bersamaan, di bagian lain mansion beberapa orang baru saja tiba untuk menemui Ashlyn.
Dua orang memasuki ruangan yang telah disiapkan khusus untuk proses belajar Ashlyn. Mereka adalah dokter yang sebelumnya sudah dipilih Ethan untuk menangani kondisi Ashlyn, serta seorang psikiater yang akan membantu memahami perkembangan mental dan cara berpikir gadis tersebut.
Ethan sudah berada di sana. Ia duduk dekat dengan Ashlyn, memperhatikan setiap gerakan gadis ini dengan saksama. Sementara Ashlyn duduk dengan wajah penuh rasa ingin tahu, kedua matanya bergantian memandang orang-orang yang ada di hadapannya.
"Jadi mereka guru Ashlyn?" tanya Ashlyn polos, juga menoleh ke arah sang jenderal.
Ethan mengangguk. "Iya."
Ashlyn langsung tersenyum. "Kalau Ashlyn belajar dengan baik, nanti Ashlyn jadi pintar?"
"Tentu."
Ashlyn tampak semakin bersemangat. Ia bahkan duduk lebih tegak. "Ashlyn akan belajar."
Psikiater yang berada di hadapan mereka tersenyum lembut. Ia sudah mendapatkan gambaran mengenai kondisi Ashlyn dari informasi yang diberikan Ethan sebelumnya. Namun melihat langsung cara gadis itu berinteraksi membuatnya semakin memahami bahwa proses yang akan mereka jalani memang tidak sederhana.
"Jenderal," ucap dokter tersebut kemudian, "kami sudah mempelajari informasi yang Anda berikan. Untuk membantu Nona Ashlyn berkembang, sebaiknya kita tidak langsung memberikan pelajaran yang terlalu sulit."
Ethan mengangguk.
"Kita perlu memulainya dari dasar." Dokter itu kemudian menjelaskan dengan tenang. Ashlyn perlu diperkenalkan kembali pada banyak hal yang seharusnya sudah ia kuasai sejak kecil. Membaca, menulis, mengenali angka, menggambar, mengenali bentuk dan warna, hingga berbagai permainan sederhana yang dapat membantu melatih koordinasi serta kemampuan motoriknya.
Bukan karena Ashlyn tidak mampu. Namun karena selama bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang memberinya kesempatan untuk belajar dengan benar.
"Kalau begitu lakukan semuanya," ucap Ethan akhirnya. "Aku tidak peduli berapa lama prosesnya, aku hanya ingin dia pulih." Tatapan Ethan kemudian beralih kepada Ashlyn.
Gadis itu sedang memperhatikan pensil warna yang diletakkan di atas meja dengan mata berbinar.
Ethan melihat pemandangan tersebut cukup lama.
"Aku ingin dia bisa hidup seperti orang lain," lanjut Ethan. "Dia harus bisa memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Bisa membaca, menulis, mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, dan memahami perasaannya sendiri."
Psikiater mengangguk perlahan. "Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Jenderal."
Ashlyn yang tidak sepenuhnya memahami pembicaraan tersebut justru mengangkat wajahnya.
"Suamiku."
Ethan menoleh. "Hm?"
"Ashlyn boleh menggambar?"
Ethan menatap meja yang sudah dipenuhi kertas dan pensil warna. "Boleh."
Senyum Ashlyn langsung merekah. "Kalau Ashlyn menggambar dengan bagus, Suami senang kan?"
"Iya."
Ashlyn segera mengambil satu pensil warna. "Kalau begitu Ashlyn akan menggambar."
Ethan mengangguk tipis. Di dalam hati, Ethan sudah mengambil keputusan. Ia akan membantu Ashlyn mendapatkan kembali kehidupan yang selama ini dirampas darinya. Tidak akan ada lagi orang yang akan menyebutnya gadis bodoh.
Sementara itu di ruang tengah mansion, Nadine mulai kehilangan kesabarannya.
Ketika akhirnya pelayan datang membawa jawaban, Nadine sempat mengira Ethan sedang berada dalam sebuah urusan penting. Namun ternyata jawabannya justru membuat darah Nadine terasa naik ke kepala.
"Jenderal Ethan sedang menemani Nona Ashlyn belajar."
Nadine menatap pelayan tersebut dengan tajam.
"Belajar?"
"Benar, Nona."
"Sudah berapa lama?"
Pelayan itu tampak gugup. "Kurang lebih sejak lima belas menit lalu."
Nadine tercengang mendengar jawaban tersebut. "Jadi aku menunggu di sini, sementara dia menemani wanita itu belajar?"
Pelayan tersebut menundukkan kepala.
Nadine menarik napas panjang. Ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang, tetapi perasaannya semakin sulit dikendalikan.
Kemarin Ethan bahkan tidak mau memberinya waktu. Hari ini ketika Nadine datang langsung ke mansion, Ethan justru memilih menghabiskan waktunya bersama wanita asing itu.
Wanita yang mengaku sebagai istrinya itu.
Nadine kemudian mengangkat wajah. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Si-silakan, Nona."
Tatapan Nadine menjadi semakin tajam. "Benarkah wanita itu istrinya Ethan?"
Pelayan tersebut langsung membeku, pertanyaan itu akhirnya datang juga. Sementara Ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Sejak awal keberadaan Ashlyn memang menjadi sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami para pelayan. Namun setelah melihat sendiri bagaimana jenderal Ethan memperlakukan gadis itu, mereka tahu bahwa Ashlyn bukan sekadar tamu biasa.
Nadine menunggu. "Jawab aku."
Pelayan itu menelan ludah. "Saya..."
"Benarkah?" ulang Nadine, kali ini lebih tegas.
Pelayan itu menundukkan kepala lebih dalam. "Saya tidak mengetahui status pernikahan mereka secara resmi, Nona."
Jawaban tersebut membuat alis Nadine terangkat. "Tidak tahu?"
"Benar."
"Jadi kalian semua membiarkan seorang wanita tinggal di mansion ini, berada di dekat Ethan, bahkan memanggilnya suami tanpa mengetahui apakah mereka benar-benar menikah?"
Pelayan itu semakin gugup. "Kami hanya menjalankan perintah Jenderal."
Nadine terdiam, justru jawaban itu membuat pikirannya semakin kacau. Ethan memang tidak pernah mengumumkan pernikahan, namun jelas Ethan juga tidak pernah melarang Ashlyn memanggilnya suami.
Dan sekarang Ethan bahkan sedang mendampingi wanita itu belajar. Nadine mengepalkan tangannya di atas pangkuan.
"Aku akan tetap menunggu Ethan di sini," putus Nadine.
Pelayan itu mengangguk cepat. "Baik, Nona. Saya akan menyampaikan kepada Jenderal bahwa Anda menunggunya."
"Jangan."
Pelayan itu berhenti.
Nadine mengangkat wajahnya dengan tatapan penuh keyakinan, bahwa ia masih memiliki harapan. Bagaimanapun juga, Nadine belum mendapatkan jawaban langsung dari Ethan tentang wanita itu.
Dan selama Ethan sendiri belum mengatakan bahwa wanita itu benar-benar istrinya, Nadine tidak akan mempercayainya begitu saja.
Nadine hanya akan menganggap wanita itu adalah sesuatu yang tak penting. "Sekarang Ethan sedang sibuk, nanti dia pasti akan menemuiku sendiri." Nadine kembali tersenyum.
"Baik, Nona."